Dosen di Indonesia tentu memiliki kebutuhan untuk memahami bagaimana cara mengembangkan materi kuliah menjadi buku ajar. Sebab, buku ajar yang disusun dosen tentunya berisi materi perkuliahan sesuai RPS yang telah disusun.
Buku ajar ini kemudian bisa dijadikan pegangan mahasiswa selain modul, diktat, dan bahan ajar jenis lainnya. Namun, teknik memaparkan materi pembelajaran menjadi buku ajar yang terbit secara nasional tentu tidak asal-asalan. Jadi, seperti apa tata caranya? Berikut informasinya.
Mengutip dari buku Strategi Penulisan Buku Ajar karya Muhammad Rijalus Sholihin (2024), menurut Sanjaya (2011) buku ajar adalah buku yang digunakan sebagai pedoman dalam kegiatan belajar mengajar, memuat materi pembelajaran, metode pengajaran, serta alat evaluasi untuk mengukur pemahaman mahamahasiswa.
Buku ajar menjadi salah satu jenis buku ilmiah yang ditulis oleh dosen dan didasarkan pada RPS (Rencana Pembelajaran Semester). Menyusun buku ajar sama artinya sebagai implementasi tata cara mengembangkan materi kuliah. Yakni menjadi buku ajar itu sendiri.
Lalu, kenapa materi kuliah perlu dikembangkan menjadi buku ajar? Berikut beberapa alasannya:
Materi perkuliahan tidak hanya disampaikan melalui slide presentasi atau penjelasan lisan dosen. Mahasiswa juga membutuhkan bahan ajar yang dapat dijadikan pegangan selama mengikuti proses pembelajaran. Oleh karena itu, buku ajar menjadi salah satu media penting yang dikembangkan dosen untuk membantu mahasiswa memahami materi kuliah dengan lebih sistematis dan mudah dipelajari.
Mahasiswa akan lebih mudah memahami materi perkuliahan jika didukung dengan bahan ajar sebagai pegangan, seperti modul, diktat, atau buku ajar. Oleh karena itu, dosen perlu mengembangkan materi kuliah menjadi buku ajar agar mahasiswa memiliki referensi yang membantu mereka memahami, mengingat, dan mempraktikkan materi pembelajaran dengan lebih baik.
Dosen perlu mengembangkan materi kuliah menjadi buku ajar karena dapat mendukung pembelajaran mandiri mahasiswa. Buku ajar biasanya menyajikan materi secara lengkap, dilengkapi grafik, tabel, serta latihan soal yang membantu mahasiswa belajar di luar jam perkuliahan dan menguji pemahaman materi dengan lebih baik.
Dosen perlu mengembangkan materi kuliah menjadi buku ajar karena dapat meningkatkan mutu perkuliahan. Buku ajar menjadi sumber belajar tambahan bagi mahasiswa selain penjelasan dosen dan slide presentasi, sehingga membantu mereka memahami materi dengan lebih baik dan berdampak positif pada hasil akademik.
Mengembangkan materi kuliah menjadi buku ajar membantu menyajikan materi secara lebih terstruktur dan lengkap. Buku ajar tidak hanya memuat penjelasan konsep, tetapi juga contoh kasus dan latihan soal yang membantu mahasiswa menguji pemahaman serta menguasai materi perkuliahan dengan lebih baik.
Mengembangkan materi kuliah menjadi buku ajar juga memungkinkan bahan ajar diakses lebih luas. Jika diterbitkan secara nasional, buku ajar dapat diakui Ditjen Dikti sebagai bagian dari BKD dan PAK dosen. Selain itu, buku ajar dapat digunakan oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi sebagai referensi pembelajaran yang terstruktur.
Mengembangkan materi kuliah menjadi buku ajar juga membantu menyediakan bahan bacaan dan referensi ilmiah yang kredibel bagi mahasiswa. Buku ajar yang ditulis oleh dosen sebagai pakar di bidangnya dapat digunakan tidak hanya untuk perkuliahan, tetapi juga sebagai rujukan dalam penulisan karya ilmiah dan penelitian.
Memahami cara mengembangkan materi kuliah menjadi buku ajar juga merupakan bagian dari tugas akademik dosen. Buku ajar termasuk bahan ajar yang dikembangkan dosen dan jika disusun serta diterbitkan sesuai standar Ditjen Dikti, dapat diakui dalam BKD sehingga membantu dosen memenuhi beban kerja minimal 12 SKS per semester. Selain itu, penerbitan buku ajar juga memberikan tambahan angka kredit yang mendukung kenaikan jabatan akademik dosen.
Mengembangkan materi kuliah menjadi buku ajar juga dapat meningkatkan kesejahteraan dosen. Setelah buku ajar diterbitkan dan terjual, dosen sebagai penulis berhak menerima royalti dari penerbit, sehingga buku ajar dapat menjadi salah satu sumber pendapatan pasif.
Baca juga: Buku Ajar: Manfaat, Contoh, Jenis dan Cara Menulis
Dalam tata cara mengembangkan materi kuliah menjadi buku ajar. Tentunya tidak hanya berisi tahapan pengembangan materi kuliah tersebut. Namun, juga mencakup tahap persiapan sebelum pengembangan materi dilakukan.
Persiapan yang matang akan menjadikan proses pengembangan materi perkuliahan lebih mudah dan efisien. Adapun bentuk-bentuk persiapan yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:
Langkah pertama dalam mengembangkan materi kuliah menjadi buku ajar adalah menyusun RPS berdasarkan kurikulum yang berlaku di perguruan tinggi, yaitu kurikulum OBE. RPS menjadi dasar penyusunan buku ajar karena memuat struktur dan materi perkuliahan yang kemudian dikembangkan menjadi naskah buku ajar.
Persiapan kedua dalam cara mengembangkan materi kuliah menjadi buku ajar adalah menyusun kerangka. Buku ajar secara umum memiliki struktur seperti buku ilmiah jenis lainnya. Misalnya buku monograf dan referensi.
Biasanya perguruan tinggi akan menerbitkan buku panduan penulisan buku ajar. Salah satu informasi di dalamnya adalah struktur buku ajar itu sendiri. Silahkan dibaca dan diikuti, sebab struktur ini bisa berbeda dengan perguruan tinggi lain.
Baca juga: Template Modul Pembelajaran dan Tips Membuatnya
Persiapan ketiga, mencari dan mengumpulkan referensi. Meskipun buku ajar disusun berdasarkan RPS. Bukan berarti materi disajikan dengan hanya mengandalkan informasi dari RPS tersebut. Sebab dijamin terbatas.
Maka untuk memastikan materi dipaparkan secara lengkap, detail, dan mendalam dibutuhkan referensi tambahan. Dosen perlu mencari, mengumpulkan, dan memilih referensi yang tepat. Yakni yang relevan, publikasi terkini, dan juga dijamin kredibel. Referensi bisa dari prosiding, jurnal, buku ilmiah, dan lain sebagainya.
Persiapan keempat adalah menyusun jadwal menulis. Dosen di Indonesia rata-rata memiliki kesibukan tinggi. Sebab aktivitas tri dharma memang menyita banyak sumber daya yang dimiliki oleh dosen. Maka menyusun jadwal menjadi bagian dari pra penulisan buku ajar.
Setelah jadwal tersusun menyesuaikan agenda keseharian, maka tentu wajib dipatuhi. Tujuannya agar dosen bisa menulis naskah konsisten dan buku ajar segera selesai serta siap diterbitkan.
Persiapan berikutnya adalah menyiapkan visualisasi data dan ilustrasi untuk melengkapi naskah buku ajar. Buku ajar akan lebih menarik dan mudah dipahami mahasiswa jika ditambahkan elemen-elemen pendukung tersebut.
Silahkan mulai menentukan dari awal visualisasi data jenis apa yang akan digunakan, dibuat dengan aplikasi apa, dan nantinya akan masuk di bab berapa atau halaman berapa. Jika dibutuhkan gambar ilustrasi, maka perlu disiapkan juga dari awal. Supaya saat proses menulis naskah, bisa langsung dimasukan ke dalamnya.
Persiapan berikutnya adalah persiapan semua kebutuhan menulis naskah buku ajar. Misalnya menentukan dan menyiapkan aplikasi olah kata yang akan digunakan, aplikasi manajemen referensi, dan perangkat elektronik.
Saat ini menulis naskah buku ajar dilakukan dengan perangkat elektronik. Baik itu dengan tablet, laptop, PC, dan perangkat lainnya. Jadi, pastikan disiapkan dan dipastikan berfungsi baik agar menunjang kelancaran penulisan naskah.
Persiapan lainnya adalah menyiapkan kebutuhan penyuntingan dan review. Para dosen bisa melakukan editing dan penyuntingan mandiri. Kemudian disusul dengan meminta rekan sejawat yang lebih senior untuk membantu proses review.
Hal ini penting untuk mematangkan kualitas naskah secara teknis maupun substansi. Semakin matang naskahnya, semakin mudah diterima penerbit. Sehingga proses penerbitan lebih cepat dan tentunya minim kendala.
Tahap persiapan yang dijelaskan sebelumnya menjadi bagian dari tahap penulisan buku ajar. Namun, agar tahapan dalam tata cara mengembangkan materi kuliah menjadi buku ajar lebih jelas. Berikut keseluruhan tahapan yang akan dilalui dosen:
Sesuai penjelasan sebelumya, buku ajar disusun berdasarkan RPS. Maka tahap pertama dari penyusunannya adalah menyusun RPS itu sendiri. Dosen wajib menyusun RPS di awal semester untuk mata kuliah yang diampu dan sesuai kurikulum yang dijalankan perguruan tinggi.
Setelah RPS selesai disusun, maka dosen memiliki rincians eluruh materi kuliah yang harus dikembangkan menjadi buku ajar. Sebab materi tersebut tercantum di RPS dan sudah tersusun sistematis.
Pada tahap kedua, dosen bisa mulai menyusun kerangka naskah buku ajar. Susunan bab dan subbab menyesuaikan dengan urutan materi di dalam RPS. Sehingga dijamin sistematis dan juga logis. Pengembangan subbab, subsubbab dan seterusnya bisa disesuaikan dengan hasil pengembangan penjelasan materi.
Jika kerangka buku ajar sudah selesai disusun, maka tahap berikutnya adalah mencari referensi ilmiah. Pencarian referensi lebih mudah karena dosen tinggal menyesuaikan dengan susunan struktur di kerangka. Bab pertama berisi materi apa, maka referensi dicari yang relevan. Begitu seterusnya sampai di bab terakhir.
Tahap keempat adalah proses menulis buku ajar itu sendiri. Pada tahap ini, dosen bisa mengikuti jadwal menulis yang disiapkan pada tahap pra penulisan (persiapan). Pastikan konsisten dan tidak masalah meski sedikit. Misalnya satu halaman atau satu paragraf sehari.
Kuncinya adalah konsisten agar buku ajar cepat selesai dan bukannya terbengkalai. Tanpa konsistensi, naskah buku ajar bisa terlupakan dan semakin lama menunda semakin sulit untuk diselesaikan.
Jika naskah buku ajar sudah selesai disusun, tahap berikutnya adalah proses editing dan penyuntingan. Lakukan dulu secara mandiri. Beri jeda beberapa hari agar lebih objektif.
Sehingga bisa mengenali kesalahan dalam naskah dan melakukan perbaikan secara efektif. Jika dibutuhkan, dosen bisa meminta bantuan rekan sejawat melakukan review. Sehingga naskah lebih matang dan kualitasnya lebih baik agar layak terbit.
Tahap akhir dari proses atau cara mengembangkan materi kuliah menjadi buku ajar adalah penerbitan. Naskah yang sudah selesai bisa dilengkapi dan dosen bisa memilih penerbit yang sesuai. Yakni penerbit buku ilmiah kredibel.
Setelah menemukan penerbit yang sesuai, maka bisa segera mengirimkan naskah sesuai kebijakan penerbit tersebut. Pada tahap ini naskah akan melewati proses editing, penyuntingan, dan review. Sehingga ada proses revisi dan perlu diikuti dosen dengan baik agar penerbitan berjalan lancar. \
Baca juga: Jasa Penerbitan Buku Terbaik, ber ISBN dan Anggota IKAPI
Selain perlu memahami apa saja tahapan dalam tata cara mengembangkan materi kuliah menjadi buku ajar. Dosen tentu perlu memahami berbagai kesalahan umum dan menyiapkan antisipasi untuk menghindarinya. Berikut beberapa kesalahan umum penulisan buku ajar yang harus dihindari para dosen:
Kesalahan-kesalahan tersebut tentu perlu dihindari untuk menunjang kelancaran penulisan buku ajar. Sehingga memudahkan dan mempercepat penyusunan naskah. Kemudian bisa segera diterbitkan untuk bisa masuk ke laporan BKD.
Referensi:
Saat menulis naskah buku ilmiah, dosen sering menghadapi kendala dalam menentukan format penulisan yang sesuai…
Menulis buku ajar memang menjadi kebutuhan penting bagi dosen. Selain sebagai bentuk tanggung jawab profesional…
Menyusun dan menerbitkan bunga rampai (book chapter) menjadi salah satu kewajiban akademik bagi dosen di…
Sebelum memutuskan untuk membeli sebuah buku, pembaca biasanya akan mencari resensi buku tersebut. Resensi sendiri…
Penerbit Deepublish bekerja sama dengan DuniaDosen.com sukses menyelenggarakan Webinar Dosen Indonesia bertema "Publikasi dan Penilaian…
Tahukah Anda, bahwa terdapat jenis terbitan atau buku yang tidak dapat diberikan ISBN oleh Perpustakaan…