Menunjang penerapan kurikulum OBE di perguruan tinggi, tentunya meningkatkan kebutuhan buku ajar yang relevan. Sehingga para dosen perlu mempersiapkan bagaimana cara menyusun buku ajar berbasis OBE.
Dimana tentunya akan ada beberapa perbedaan dengan proses penyusunan buku ajar berbasis kurikulum sebelumnya. Kurikulum OBE akan menjadi dasar acuan dalam penyusunan naskah buku ajar yang bersumber dari RPS. Lalu, seperti apa langkah-langkahnya? Berikut informasinya.
Memahami tata cara menyusun buku ajar berbasis OBE, tentu dimulai dengan memahami definisi dua hal. Yakni definisi dari buku ajar dan juga definisi dari kurikulum OBE itu sendiri. Dimana membantu dalam proses penyusunannya.
Buku ajar adalah buku pegangan untuk suatu mata kuliah yang ditulis dan disusun oleh pakar bidang terkait dan memenuhi kaidah buku teks serta diterbitkan secara resmi dan disebarluaskan. Sehingga sering juga disebut dengan istilah buku teks.
Buku ini disusun oleh dosen yang mengampu mata kuliah tertentu di sebuah perguruan tinggi. Sehingga buku ajar yang disusun relevan dengan mata kuliah tersebut. Kemudian ditujukan untuk kalangan mahasiswa sebagai pegangan mengikuti perkuliahan dan melakukan pembelajaran mandiri. Sumber utamanya adalah dari RPS.
Kurikulum OBE (Outcome Based Education) adalah suatu pendekatan pendidikan yang menekankan pada keberlanjutan proses pembelajaran secara inovatif, interaktif, dan efektif, serta berorientasi pada capaian pembelajaran berbasis profil lulusan.
Secara sederhana, kurikulum OBE bisa dipahami sebagai sebuah sistem penyelenggaraan pendidikan tinggi yang berfokus pada hasil (outcomes) dalam bentuk kompetensi yang dikuasai oleh mahasiswa atau lulusan perguruan tinggi.
Pada kurikulum sebelumnya, lulusan perguruan tinggi didorong untuk memahami ilmu pengetahuan secara teori. Sementara di dalam kurikulum OBE, mahasiswa didorong untuk menguasai sejumlah kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri. Sehingga setelah lulus kuliah, diharapkan lebih punya daya saing di dunia kerja.
Adanya penerapan kurikulum OBE di ruang lingkup pendidikan tinggi Indonesia. Tentunya memberi kebutuhan media pembelajaran yang relevan. Salah satunya lewat buku ajar yang disusun dosen untuk menjadi pegangan mahasiswa mengikuti perkuliahan.
Buku ajar yang disusun dengan dasar kurikulum OBE tentunya memiliki perbedaan dengan buku ajar yang disusun berdasarkan kurikulum sebelumnya. Berikut beberapa perbedaan dan ciri khasnya:
Ciri atau karakteristik khas buku ajar berbasis OBE yang pertama adalah disusun dengan perancangan mundur. Jika buku ajar dengan kurikulum sebelumnya disusun dari daftar materi pembelajaran. Kemudian diurutkan sesuai alur logika keilmuan.
Maka di dalam buku ajar berbasis OBE disusun berdasarkan CPL (Capaian Pembelajaran Lulusan). Dimana CPL ini adalah outcomes atau hasil pembelajaran utama yang harus diusahakan untuk dicapai oleh para mahasiswa.
Jadi, dari CPL kemudian dosen akan menjabarkannya menjadi materi-materi yang relevan. Jika CPL berbentuk kompetensi untuk mendirikan bisnis sendiri. Maka materi-materi di dalam buku ajar harus mendukung mahasiswa untuk mampu mendirikan bisnis sendiri. Jadi, ditetapkan tujuan akhir dulu baru diikuti materi pembelajaran yang relevan. Bukan sebaliknya.
Ciri khas kedua dari buku ajar yang disusun berdasarkan kurikulum OBE adalah isi buku yang mendorong mahasiswa melakukan simulasi. Artinya, isi dari naskah buku ajar bukan hanya kumpulan materi (ilmu teori).
Akan tetapi materi yang diikuti dengan dorongan atau bahkan perintah agar mahasiswa menerapkan materi tersebut secara langsung. Sehingga ada praktek langsung untuk membuktikan materi tersebut bisa diterapkan dan mampu diterapkan oleh mahasiswa.
Misalnya, di dalam latihan soal di akhir bab buku ajar meminta mahasiswa untuk mendirikan bisnis sendiri, membuat karya tulis ilmiah, dan sebagainya. Sehingga bukan kumpulan soal yang dijawab dengan memilih pilihan jawaban (pilihan ganda) atau esai dengan jawaban harus sama dengan penjelasan di awal bab.
Ciri khas yang ketiga dari buku ajar yang disusun dengan kurikulum OBE adalah menggunakan gaya bahasa komunikatif. Buku ajar memiliki target pembaca dari kalangan mahasiswa.
Mahasiswa cenderung tidak bisa dipaksa belajar dan memahami materi perkuliahan jika dijelaskan dengan bahasa formal, kaku, dan terlalu banyak istilah ilmiah. Sehingga gaya bahasa yang digunakan harus umum digunakan dalam komunikasi sehari-hari.
Contoh, dibanding menyusun kalimat formal seperti “pelaku usaha memiliki tuntutan menguasai kompetensi inovasi, manajemen risiko, dan orientasi pasar”. Maka bisa diubah ke gaya bahasa lebih sederhana menjadi “pelaku usaha memiliki kebutuhan untuk mampu menghasilkan ide segar, berani menerima resiko, dan membaca tren pasar”.
Secara umum, isi dari buku ajar tidak hanya materi perkuliahan yang akan diterima mahasiswa dari dosen. Namun juga latihan soal. Sehingga sekaligus ada bagian untuk menilai dan menguji tingkat pemahaman materi.
Pada saat menerapkan cara menyusun buku ajar berbasis OBE. Maka fokus utamanya pada kompetensi mahasiswa tersebut. Maka isi dari buku ajar idealnya dibuat fleksibel. Artinya, mampu memberi keleluasaan bagi mahasiswa untuk memahami materi dan berani mempraktekan teori tersebut.
Misalnya pada bagian latihan soal, diisi dengan soal yang membuat mahasiswa praktek langsung, membuat proyek, membuat portofolio, mengikuti kegiatan magang, dan sebagainya. Sehingga bukan latihan soal yang jawaban antara satu mahasiswa dengan lainnya seragam alias sama.
Berhubung buku ajar akan menjadi pegangan mahasiswa dalam pembelajaran. Maka tentu penyusunannya harus relevan dengan kurikulum OBE. Berikut penjelasan mengenai tata cara menyusun buku ajar berbasis OBE:
Langkah yang pertama, tentu saja perlu menyusun RPS berbasis kurikulum OBE terlebih dahulu. Sesuai penjelasan sebelumnya, buku ajar disusun dengan sumber utama RPS yang disusun dosen di awal semester.
RPS ini akan mencantumkan CPL, CPMK, Sub-CPMK, dan detail lain yang menjadi panduan pelaksanaan perkuliahan. Jadi, RPS harus disusun dulu baru kemudian dosen bisa menyusun naskah buku ajar.
Langkah yang kedua, dosen perlu menyusun rancangan struktur buku ajar yang mengacu pada CPMK di dalam RPS berbasis OBE. CPMK di dalam RPS biasanya ada beberapa. Intinya, jumlah dari CPMK cukup banyak.
Masing-masing CPMK akan mencantumkan secara jelas mengenai hasil akhir pembelajaran dari suatu materi. Setiap materi perkuliahan akan memiliki CPMK tersendiri.
Maka dosen perlu menyusun rancangan struktur buku yang menjelaskan materi tersebut. Kemudian memastikan seluruh materi mendukung tercapainya CPMK yang sudah ditetapkan saat menyusun RPS berbasis OBE.
Tahap yang ketiga dalam tata cara menyusun buku ajar berbasis OBE adalah menentukan metode pembelajaran. Dalam OBE, metode pembelajaran harus menjadikan mahasiswa sebagai pusat. Bukan dosen yang menjadi pusat.
Ada banyak metode pembelajaran yang menjadikan mahasiswa sebagai pusat pembelajaran. Contohnya metode pembelajaran berbasis proyek, metode pembelajaran berbasis masalah, diskusi kelompok, dan sejenisnya.
Secara umum, metode pembelajaran juga sudah ditetapkan pada saat menyusun RPS. Sehingga saat ada kebutuhan untuk mengganti metode yang dinilai lebih ideal dengan karakteristik materi. Pada tahap ini bisa dilakukan oleh dosen.
Materi-materi perkuliahan atau pembelajaran yang sudah ditetapkan di dalam RPS. Kemudian menjadi materi-materi yang akan dikembangkan di dalam naskah buku ajar berbasis OBE.
Pada tahap berikutnya, adalah mengembangkan atau menjelaskan materi tersebut di dalam naskah buku ajar. Tentunya dalam tahap ini, dosen membutuhkan data-data dari berbagai referensi kredibel, relevan, dan terkini.
Materi yang disampaikan, tentunya juga menyesuaikan dengan karakteristik kurikulum OBE. Yakni berfokus pada kompetensi mahasiswa. Sehingga tidak hanya berisi teori, melainkan juga ada contoh kasus (studi kasus), analogi sederhana, dan sebagainya. Dimana bisa memudahkan mahasiswa memahami materi tersebut.
Pada proses pengembangan materi di dalam naskah, juga dianjurkan untuk menambahkan fitur pendukung. Misalnya menambahkan ilustrasi, infografis, dan konten penunjang lain agar materi lebih mudah dipahami maupun dipraktekan oleh mahasiswa.
Bagian berikutnya setelah materi dijabarkan di dalam naskah buku ajar adalah menyusun latihan soal. Sesuai dengan ciri khas dari kurikulum OBE yang berbasis kompetensi. Maka latihan soal yang dibuat juga demikian.
Hal ini sejalan dengan penjelasan sebelumnya, dimana latihan soal pada kurikulum OBE tidak bisa hanya latihan tertulis dan jawaban semua mahasiswa sama. Melainkan harus dibuat fleksibel agar sesuai dengan tingkat pemahaman dan penguasaan kompetensi masing-masing.
Maka latihan soal yang dibuat perlu dipastikan mampu menguji kompetensi dari mahasiswa. Misalnya soal berisi perintah untuk menyusun karya tulis ilmiah, perintah menyusun daftar pustaka dengan APA Style, perintah membuat desain packaging produk (untuk mahasiswa jurusan desain grafis), dan sejenisnya.
Jika proses penyusunan naskah buku ajar selesai, mulai dari mengembangkan materi yang disampaikan ke pembaca, melengkapi dengan fitur pendukung, kemudian latihan soal atau latihan evaluasi semua bab.
Maka tahap berikutnya di dalam tata cara menyusun buku ajar berbasis OBE adalah melakukan editing dan penyuntingan mandiri. Pada tahap ini, dosen bis membaca ulang naskah buku ajar, menganalisis ada tidaknya kesalahan, dan melakukan koreksi.
Hal ini dilakukan untuk mengatasi adanya kesalahan dan kekeliruan tertentu. Mulai dari struktur kalimat dan paragraf, tanda baca, panjang pendek kalimat, kesalahan ketik (typo), dan sebagainya. Disusul juga dengan merapikan naskah, sehingga meningkatkan keterbacaannya.
Usai melakukan editing dan penyuntingan mandiri, maka tahap akhir dari penyusunan buku ajar berbasis OBE adalah menerbitkannya. Pada tahap ini, dosen perlu mencari dan memilih penerbit yang tepat.
Yakni penerbit yang memang sudah berpengalaman menerbitkan buku ilmiah. Sekaligus penerbit resmi yang salah satunya ditunjukan dengan menjadi anggota IKAPI.
Tujuannya agar buku ajar bisa terbit sesuai standar yang ada sekaligus memenuhi standar dari Ditjen Dikti. Misalnya terbit dengan ISBN, terbit dalam ukuran UNESCO, dan lain sebagainya.
Setelah memilih penerbit yang tepat, maka tinggal mengirimkan naskah sesuai kebijakan penerbit tersebut. Apakah lewat email, lewat website penerbit, atau lainnya. Pada tahap ini, dosen akan mengikuti seluruh arahan penerbit. Baik ada tidaknya revisi, melengkapi naskah dengan halaman tertentu, dll.
Menerapkan tata cara menyusun buku ajar berbasis OBE di atas tentu akan sangat membantu. Sehingga memahami alurnya bagaimana dan membuat prosesnya lebih efektif sekaligus efisien.
Meningkatkan penghasilan kini semakin mudah berkat adanya berbagai sumber penghasilan tambahan dari Hp. Artinya, handphone…
Jenis variabel dalam penelitian sangat beragam. Jika dilihat dari aspek hubungan antarvariabel maka salah satu…
Melakukan parafrasa sendiri saat memasukan kutipan pada karya ilmiah memang tidak selalu mudah. Oleh sebab…
Salah satu kendala ketika melakukan parafrasa dengan platform AI adalah keliru dalam menyusun prompt AI…
Salah satu bab atau bagian di dalam karya tulis ilmiah adalah kajian teori (landasan teori).…
Pendidikan tinggi di Indonesia mulai menerapkan kurikulum baru, yakni kurikulum OBE (Outcome Based Education). Adanya…