Information

4 Perbedaan Sumber Belajar dan Bahan Ajar

Pernahkah Anda mendengar istilah sumber belajar dan bahan ajar? Sekilas, kedua istilah ini terdengar sama atau tanpa perbedaan. Tidak heran, banyak yang kemudian menganggap keduanya sama. Hanya istilah penyebutan saja yang berbeda. 

Padahal, sumber belajar berbeda dengan bahan ajar. Semua bahan ajar termasuk dalam sumber belajar. Namun, tidak semua jenis dan bentuk sumber belajar masuk dalam kategori bahan ajar yang dikembangkan dosen. Jadi, apa perbedaannya? Berikut informasinya.

Perbedaan Sumber Belajar dan Bahan Ajar di Perguruan Tinggi

Melalui penjelasan di atas, maka bisa dipahami bahwa sumber belajar dan bahan ajar adalah berbeda satu sama lain. Bahan ajar bagian dari sumber belajar. Namun, tidak semua sumber belajar adalah bahan ajar. Lalu, apa perbedaan keduanya? Berikut penjelasannya: 

1. Sifat dan Cakupan

    Hal pertama yang membedakan antara sumber belajar dengan bahan ajar adalah sifat dan cakupannya. Secara umum, sumber belajar sifatnya lebih umum atau general. Sehingga cakupannya lebih luas dibandingkan dengan bahan ajar. 

    Bahan ajar, kebalikannya. Bersifat khusus dan spesifik. Sehingga cakupannya lebih terbatas. Misalnya, buku termasuk sumber belajar. Bahan ajar cetak juga mencakup buku dan dijabarkan lagi secara spesifik menjadi buku ajar, monograf, referensi kamus, ensiklopedia, dll. 

    Jika semua buku termasuk sumber belajar, maka belum tentu semua buku bisa digunakan sebagai bahan ajar. Misalnya, buku berbentuk novel. Novel yang diterbitkan bisa menjadi sumber belajar bagi pembacanya. Namun, novel tidak bisa digunakan dosen dan mahasiswa untuk menunjang pembelajaran. 

    2. Isi

      Melalui penjelasan terkait definisi dan jenis-jenis sumber belajar dan bahan ajar. Maka bisa juga diketahui perbedaan kedua, yakni dari segi isi. Isi dari sumber belajar bersifat umum, sehingga lebih beragam dan kompleks. 

      Berbeda dengan bahan ajar, setiap jenis dan bentuk bahan ajar membahas materi spesifik. Sehingga isinya konten edukasi untuk menunjang pembelajaran formal di sekolah maupun perguruan tinggi. 

      Sumber belajar tidak melulu berisi konten edukasi, bisa juga dalam bentuk hiburan, berita suatu peristiwa, kisah fiksi yang menginspirasi, dan sebagainya. Contoh, film aksi (action) dibuat sebagai hiburan. Namun, film tersebut juga mengandung pesan moral yang memberi ilmu, wawasan, dan cara pandang berbeda pada penonton. 

      Sementara isi dari bahan ajar berbentuk materi pembelajaran. Pada ruang lingkup perguruan tinggi, bahan ajar dikembangkan dosen mengikuti RPS. Sehingga materi di dalamnya ditujukan untuk mata kuliah tertentu. Isi di dalamnya juga fakta bukan fiksi, dengan tujuan utama mengedukasi bukan menghibur atau tujuan lainnya. 

      3. Penyusun

        Hal ketiga yang membedakan sumber belajar dan bahan ajar adalah penyusun atau pembuatnya. Secara umum, sumber belajar bisa dibuat, disediakan, maupun disusun siapa saja. Tidak harus menjadi ahli di suatu bidang keilmuan. 

        Lain halnya dengan bahan ajar, yang harus disusun oleh ahlinya. Sehingga mayoritas disusun dan dikembangkan oleh pendidik, baik itu guru maupun dosen. Sebab memang isi di dalamnya adalah data atau fakta dan ditujukan untuk menunjang kegiatan pembelajaran. Khususnya pembelajaran formal. 

        Inilah alasan tidak semua orang bisa mengembangkan bahan ajar. Hanya bisa dilakukan oleh pendidik yang menjadi ahli suatu bidang. Sekaligus memiliki kompetensi untuk menyelenggarakan pembelajaran dan pendidikan. Termasuk kompetensi mengembangkan bahan ajar. 

        4. Fungsi

          Hal terakhir yang membedakan antara sumber belajar dan bahan ajar adalah fungsinya. Secara umum, sumber belajar memiliki fungsi yang beragam. Misalnya berfungsi sebagai sumber informasi, referensi atau rujukan, dan inspirasi. 

          Namun, fungsi dari bahan ajar lebih spesifik lagi dan krusial sehingga membuatnya wajib ada. Yakni digunakan langsung dalam kegiatan pembelajaran. Baik sebagai pegangan dosen, pegangan mahasiswa, untuk pembelajaran mandiri, maupun pembelajaran di kelas daring dan luring, dan sebagainya. 

          Bahan ajar berperan dan berkontribusi langsung dalam proses pembelajaran. Misalnya memastikan pembelajaran berjalan lancar, mahasiswa memahami materi, mendukung pembelajaran ulang secara mandiri selepas jam kuliah, dan sebagainya. 

          Baca juga:

          Hubungan Dosen dengan Sumber Belajar dan Bahan Ajar

          Membahas mengenai sumber belajar dan bahan ajar, tentu dekat dengan profesi dosen. Sebab dosen menjadi pengguna sumber belajar dan sekaligus mengembangkan bahan ajar untuk menunjang perkuliahan. Berikut penjelasan lebih detail: 

          1. Dosen Pengguna dan Kurator Sumber Belajar

            Sumber belajar belum memungkinkan untuk digunakan langsung dalam pembelajaran di perguruan tinggi. Maka peran dosen krusial disini. Yakni sebagai pengguna dan kurator sumber belajar. 

            Dosen akan menganalisis berbagai sumber belajar dan menentukan mana yang digunakan untuk pembelajaran. Baik dijadikan bahan ajar, referensi dalam menyusun modul atau buku ajar, dan sebagainya. 

            2. Dosen Berkewajiban Mengembangkan Bahan Ajar

              Dalam BKD (Beban Kerja Dosen), salah satu bentuk pelaksanaan tugas pendidikan dan pengajaran dosen adalah mengembangkan bahan ajar. Dosen berkewajiban menyusun bahan ajar yang relevan dengan mata kuliah yang diampu. Baik itu modul, buku ajar, handout, dll. 

              Bahan ajar yang dikembangkan dosen termasuk dalam salah satu jenis sumber belajar. Hanya saja, sudah dipastikan dosen bisa digunakan dalam pembelajaran. Sehingga menggunakan sumber belajar dan mengembangkan bahan ajar, termasuk bentuk pelaksanaan tugas akademik dan membantu dosen memenuhi BKD. 

              3. Sumber Belajar dan Bahan Ajar Menunjang BKD dan Karir Dosen

                Melalui penjelasan sebelumnya, bisa dipahami bahwa sumber belajar dan bahan ajar membantu dosen memenuhi BKD. Sebab, sumber belajar membantu menambah referensi untuk pengembangan bahan ajar. 

                Sehingga pembahasan lebih kaya, mendalam, dan juga mudah dipahami mahasiswa. Bahan ajar masuk dalam BKD, sehingga ikut menambah poin angka kredit untuk kebutuhan jenjang karir akademik dosen. 

                Melalui penjelasan tersebut, maka bisa dipahami bahwa sumber belajar dan bahan ajar adalah dua hal berbeda. Namun, di lingkungan perguruan tinggi keduanya penting untuk diakses, dimanfaatkan, dan dikembangkan oleh dosen untuk menunjang pembelajaran. 

                Seringkali bahan ajar dalam bentuk cetak jauh lebih memudahkan mahasiswa dalam memahami materi perkuliahan secara terstruktur dan fokus. Oleh karena itu, dosen perlu menyediakan bahan ajar cetak yang rapi, lengkap, dan mudah diakses mahasiswa.

                Jika Anda ingin menerbitkan buku ajar, modul, atau referensi perkuliahan, Anda dapat mencetak dan menerbitkannya melalui Penerbit Deepublish. Daftar menjadi penulis buku di Penerbit Deepublish melalui laman resmi: https://penerbitdeepublish.com/features/daftar-menjadi-penulis-buku/.

                Karimatun Nisa

                Recent Posts

                7 Pilihan Cara Menghasilkan Uang Selama Ramadan

                Memasuki bulan Ramadan, tentu mendapati pengeluaran semakin membengkak. Bisa karena kebutuhan menyiapkan makanan dan minuman…

                1 hari ago

                Strategi Manajemen Waktu untuk Dosen Selama Ramadan

                Cermat dalam manajemen waktu selama Ramadan bisa membantu dosen tetap produktif dalam tri dharma. Sekaligus…

                2 hari ago

                Siapa saja yang Wajib Melakukan Pengisian BKD di SISTER?

                Kewajiban dosen di Indonesia, bukan hanya menjalankan tri dharma dan tugas tambahan. Akan tetapi juga…

                6 hari ago

                Jenis Publikasi Ilmiah untuk Beasiswa LPDP

                Pendanaan dalam program Beasiswa LPDP mencakup dana pendidikan dan dana penunjang. Salah satu komponen dalam…

                7 hari ago

                20 Daftar Istilah dalam Publikasi Ilmiah di Jurnal yang Harus Diketahui

                Pada saat mencari jurnal untuk tujuan publikasi ilmiah, maka akan membaca informasi di website pengelola…

                1 minggu ago

                P-ISSN dan E-ISSN: Pengertian, Perbedaan, dan Cara Ceknya

                Pernahkah Anda mendengar atau melihat langsung teks P-ISSN dan E-ISSN? P-ISSN maupun E-ISSN tentu familiar…

                1 minggu ago