Susunan paragraf baru bisa disebut lengkap jika terdiri dari kalimat topik berisi ide pokok dan kalimat pengembang (kalimat penjelas). Kalimat penjelas terdiri dari beberapa di dalam satu paragraf. Sehingga secara kuantitas lebih banyak dibanding kalimat topik.
Karakteristik ini membuat penulis perlu teliti pada saat menyusun dan mengatur urutan setiap kalimat penjelas. Sehingga enak dibaca dan makna dari keseluruhan paragraf bisa dipahami oleh pembaca. Lalu, apa sebenarnya kalimat penjelas? Berikut informasinya.
Dikutip melalui salah satu artikel ilmiah yang terbit di jurnal Juripol (Jurnal Institusi Politeknik Ganesha Medan), paragraf adalah seperangkat atau sekelompok kalimat yang tersusun dari satu kalimat pokok dan beberapa kalimat penjelas.
Kalimat pokok disebut juga dengan kalimat topik, yaitu suatu kalimat yang berisikan masalah atau kesimpulan dari paragraf itu sendiri. Sedangkan kalimat pengembang (kalimat penjelas) adalah suatu kalimat yang berisikan penjelasan masalah yang terdapat di kalimat pokok.
Jadi, kalimat topik akan mencantumkan ide pokok paragraf. Misalnya menjelaskan atau menyebutkan suatu masalah yang menjadi inti pembahasan. Maka masalah ini perlu dijelaskan kepada pembaca. Sehingga di susunlah kalimat penjelas.
Kalimat pengembang atau penjelas di dalam satu paragraf bisa lebih dari satu kalimat. Tergantung pada hasil pengembangan penulis. Dimana pengembangan kalimat topik juga dipengaruhi oleh pemahaman penulis pada topik, ketersediaan data atau referensi, dan faktor lainnya.
Suatu paragraf belum bisa dikatakan paragraf yang baik jika belum berisi kalimat topik dan kalimat penjelas. Jika hanya ada salah satunya, maka paragraf kurang sempurna. Keduanya harus ada untuk bisa menyampaikan informasi jelas dan rinci kepada pembaca.
Memahami bahwa tidak ada paragraf yang tidak memiliki kalimat pengembang. Tentu menegaskan bahwa kalimat jenis ini punya fungsi sangat krusial dalam pembentukan paragraf. Berikut adalah beberapa fungsi umumnya:
Tidak ada paragraf yang hanya tersusun atas kalimat topik. Apalagi, paragraf secara definisi sesuai penjelasan sebelumnya memang harus terdiri dari minimal 1 kalimat topik dan 1 kalimat penjelas.
Fungsi kalimat penjelas adalah untuk menjelaskan kalimat topik. Sehingga lebih jelas, lebih rinci, dan juga bisa dipahami oleh pembaca. Tanpa kalimat penjelas, maka kalimat topik tidak akan bisa dipahami oleh pembaca. Sebab hanya mencantumkan informasi inti tanpa informasi lanjutan.
Fungsi yang kedua, kalimat penjelas membantu menghindari ambiguitas pada paragraf. Artinya, kalimat topik yang tidak diikuti kalimat penjelas akan menimbulkan kebingungan dan keraguan bagi pembaca.
Informasi yang disampaikan di dalam kalimat topik belum lengkap dan hanya sepotong informasi dari keseluruhan informasi di lapangan. Sehingga mengandalkan kalimat topik saja menimbulkan keraguan pembaca untuk mempercayainya.
Inilah alasan kenapa di dalam paragraf perlu disusun atas kalimat topik dan kalimat pengembang atau penjelas. Sehingga informasi inti dijabarkan lebih rinci lagi. Kemudian bisa memberi informasi lengkap dengan makna jelas (tidak ambigu) dan tidak menyebabkan keraguan.
Fungsi ketiga dari kalimat pengembang adalah memberi detail tertentu pada paragraf. Kalimat penjelas bisa berbentuk data valid, opini dari penulis, dan detail lain yang menjelaskan maupun menguatkan kalimat topik.
Setiap kalimat penjelas akan memberikan detail rinci dan spesifik. Kemudian mampu menjadikan paragraf lebih menarik. Sebab tidak hanya menyajikan informasi setengah jalan. Melainkan informasi yang lengkap dari hulu ke hilir.
Fungsi selanjutnya dari kalimat penjelas adalah untuk menguatkan kalimat topik. Terutama kalimat topik yang berisi argumen, pandangan, atau pendapat (opini) dari penulis paragraf tersebut.
Setia argumen yang dicantumkan tentu perlu dijelaskan agar menguatkan argumen tersebut. Kemudian mampu meyakinkan pembaca bahwa argumen tersebut benar dan bisa diandalkan atau dipercaya.
Pada kondisi ini, kalimat penjelas akan menjelaskan sejumlah data valid dari berbagai sumber kredibel. Sehingga menegaskan bahwa argumen pada kalimat topik memiliki dasar yang kuat dan handal. Bukan argumen kosong tanpa bisa diandalkan sama sekali.
Kadang kala, akan mendapati kesulitan untuk mengetahui mana yang kalimat topik dan mana yang kalimat pengembang. Hal ini lumrah, ketika memang menganggap semua kalimat dalam sebuah paragraf adalah sama. Padahal sebenarnya tidak.
Salah satu kunci untuk bisa membedakan mana yang kalimat topik dan kalimat penjelas, adalah pada ciri khas masing-masing. Berikut beberapa ciri khas yang dimiliki kalimat penjelas:
Ciri khas yang pertama, kalimat penjelas bersifat khusus dan lebih spesifik. Sedangkan kalimat topik bersifat umum dan tidak spesifik. Hal ini terjadi, karena ide pokok umumnya berisi hal yang bersifat umum atau general.
Kemudian dijelaskan lebih rinci dan terkonteks lewat beberapa kalimat penjelas. Maka setiap kalimat penjelas punya isi yang spesifik. Kemudian menjadikannya bersifat khusus. Berikut penjelasannya dalam contoh:
Pada contoh tersebut, kalimat penjelas menyampaikan informasi lebih spesifik. Yakni kecelakaan terjadi karena apa. Bukan hanya menjelaskan ada kecelakaan seperti pada kalimat topik.
Ciri kedua, kalimat pengembang tidak bisa berdiri sendiri. Sebab, kembali ke ciri pertama yang dijelaskan sebelumnya. Kalimat ini membantu memberi informasi lebih spesifik untuk menjelaskan kalimat topik. Maka, jika informasi penjelas berdiri sendiri justru paragraf menjadi rancu atau ambigu.
Kalimat penjelas membantu memberikan informasi lebih rinci dan spesifik untuk kalimat topik. Sehingga menjadikan salah satu ciri khasnya adalah berkaitan atau berhubungan langsung dengan kalimat topik tersebut.
Ciri khas ini penting untuk dipahami para penulis. Sekaligus dijadikan panduan dalam menyusun kalimat penjelas. Tujuannya agar kalimat penjelas fokus pada ide pokok di kalimat topik dan tidak keluar dari ide pokok tersebut. Sebab harus terhubung langsung dengan ide pokok.
Ciri khas berikutnya, kalimat penjelas sering bersifat deskriptif. Artinya, kalimat penjelas akan memberi gambaran lebih rinci dari kalimat topik. Sehingga pembaca mampu memahami kalimat topik lewat penggambaran di semua kalimat penjelas.
Selain itu, kalimat penjelas juga kadang bersifat eksplanatori atau menjelaskan. Jadi, kalimat topik perlu dijelaskan lebih jelas, rinci,dan mendalam. Maka kalimat-kalimat penjelas harus mampu menjelaskan kalimat topik tersebut sedetail mungkin.
Kalimat pengembang juga punya ciri khas berupa penggunaan kata hubung (konjungsi). Kata hubung di dalam kalimat ini membantu menghubungkannya dengan kalimat topik. Sehingga sangat umum dijumpai kalimat penjelas dengan kata hubung di dalamnya.
Ciri khas keenam dari kalimat pengembang adalah mengandung berbagai jenis informasi. Baik itu data valid, fakta yang terjadi di lapangan, contoh, opini, dan lain sebagainya.
Semua jenis informasi ini berperan penting menjalankan fungsinya sebagai penyedia penjelasan detail untuk kalimat topik. Selain itu, juga untuk menjalankan fungsinya sebagai penguat argumen di dalam kalimat topik.
Ciri khas lain yang dimiliki kalimat penjelas adalah bisa memperjelas kalimat topik. Dalam kondisi tertentu, kalimat penjelas juga bisa memperluas makna dari kalimat topik yang dicantumkan penulis sebelumnya pada paragraf.
Kalimat penjelas sesuai dengan namanya, akan membantu menjelaskan ide pokok yang bersifat umum di dalam kalimat topik. Selain itu, kalimat topik yang bisa ambigu bisa diperluas maknanya lewat kalimat penjelas. Sehingga menambah wawasan pembaca, bahwa makna dari kalimat topik sangat beragam dan tidak terbatas pada satu hal.
Kalimat pengembang juga diketahui memiliki jenis tersendiri yang didasarkan pada bagaimana model penjelasan yang digunakan. Secara umum, jenisnya terbagi menjadi dua. Berikut penjelasannya:
Kalimat pengembang mayor disebut juga sebagai kalimat pengembang langsung. Kalimat penjelas mayor sendiri adalah kalimat pendukung yang memberikan penjelasan langsung terhadap kalimat utama atau memberikan informasi lebih detail tentang topik kalimat utama.
Jadi, kalimat topik menjadi pembuka suatu paragraf. Kemudian diikuti oleh kalimat penjelas di paragraf yang sama. Penjelasan yang dipaparkan secara langsung. Pembaca tidak perlu berpindah ke paragraf berikutnya atau paragraf lainnya.
Jenis kedua adalah kalimat pengembang minor atau kalimat penjelas minor. Kalimat penjelas minor adalah kalimat penjelas yang fungsinya melengkapi informasi yang disajikan kalimat penjelas mayor.
Umumnya, kalimat penjelas minor akan disusun jika memang dibutuhkan. Salah satunya, jika ada pada kondisi dimana kalimat penjelas mayor belum menjelaskan secara rinci kalimat topik.
Sehingga dibutuhkan penjelasan tambahan dari kalimat penjelas minor. Kalimat penjelas minor akan menjelaskan secara langsung kalimat penjelas mayor bukan menjelaskan kalimat topik.
Jika membahas mengenai kalimat pengembang atau kalimat penjelas. Maka biasanya ada istilah makna kalimat penjelas harus koheren. Koheren sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah berhubungan; bersangkut paut.
Artinya, kalimat penjelas harus memiliki hubungan dan berkaitan erat dengan kalimat topik. Tidak bisa berdiri sendiri dan tidak bisa hanya menjadi pemanis dari kalimat topik dan paragraf keseluruhan. Kalimat penjelas bisa disebut koheren ketika memenuhi ciri-ciri berikut ini:
Kalimat penjelas disebut koheren ketika memiliki relevansi dengan kalimat topik. Artinya, kalimat penjelas mampu memberikan informasi tambahan yang menjelaskan lebih detail maksud dari kalimat topik. Sehingga isi atau inti kalimat penjelas selalu relevan dengan ide pokok pada kalimat topik.
Jika kalimat penjelas tidak relevan dengan ide pokok tersebut. Maka belum bisa disebut koheren dan bahkan belum bisa disebut sebagai kalimat penjelas. Sebab tidak sesuai dengan definisi dan fungsi utamanya. Berikut penjelasan dalam bentuk contoh:
Kalimat penjelas disebut koheren dengan kalimat topik ketika saling terhubung. Artinya, antara kalimat penjelas tersebut dengan kalimat topik saling terhubung satu sama lain. Sehingga tidak bisa berdiri sendiri.
Kalimat topik tidak bisa berdiri sendiri karena informasi terlalu umm. Jika diikuti kalimat penjelas yang tidak ada hubungannya. Maka belum bisa disebut kalimat penjelas. Maka harus ada hubungan dan keterkaitan dan membuatnya tidak bisa menjadi kalimat tunggal.
Jika kalimat penjelas menjadi kalimat tunggal maka akan menjadi kalimat sumbang, makna tidak jelas. Bahkan bisa memicu kalimat yang ambigu. Sehingga tidak bisa berdiri sendiri tanpa ada kalimat topik yang melengkapinya.
Kalimat pengembang atau penjelas yang koheren dengan kalimat topik juga ditandai dengan penggunaan kata hubung atau konjungsi. Sesuai namanya, kata hubung memiliki fungsi utama menghubungkan dua frasa, dua kalimat, maupun dua paragraf.
Berhubung kalimat penjelas punya hubungan dan keterkaitan dengan kalimat topik. Maka untuk menjelaskan hubungan dan keterkaitan tersebut, penulis menambahkan kata hubung yang tepat. Sehingga bisa dipahami oleh para pembaca.
Kalimat penjelas juga dikatakan koheren dengan kalimat topik jika membahas ide pokok yang sama. Sehingga tidak keluar dari ide pokok tersebut atau membahas ide pokok lain.
Oleh sebab itu, ide pokok di dalam kalimat penjelas akan sama persis dengan ide pokok di kalimat topik. Misalnya seperti contoh sebelumnya, jika kalimat topik membahas literasi digital di perguruan tinggi. Maka kalimat penjelas juga akan membahas ide pokok tersebut, bukan hal lain.
Dalam sebuah paragraf, kalimat topik tidak selalu menjadi kalimat pembuka atau kalimat pertama. Hal ini sejalan dengan jenis pengembangan paragraf yang selain deduktif juga induktif.
Oleh sebab itu, membedakan mana yang kalimat topik dan kalimat pengembang bisa berdasarkan ciri-ciri yang dijelaskan sebelumnya. Termasuk juga soal kalimat penjelas yang koheren. Membantu lebih memahami lagi, berikut beberapa contohnya:
Usaha mikro memiliki peran penting dalam perekonomian nasional. Usaha ini mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Selain itu, usaha mikro mendorong pemerataan pendapatan masyarakat. Keberadaan usaha mikro juga memperkuat ketahanan ekonomi di tingkat lokal.
Usaha mikro diketahui mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Selain itu, juga memiliki kemampuan dalam mendorong pemerataan pendapatan masyarakat. Sehingga, usaha mikro memiliki peran penting dalam perekonomian nasional. Sebab keberadaannya mampu memperkuat juga ketahanan ekonomi di tingkat lokal.
Usaha mikro memiliki kemampuan dalam menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Selain itu, usaha skala ini juga mendorong pemerataan pendapatan masyarakat. Keberadaan usaha mikro sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi di tingkat lokal. Dengan demikian, usaha mikro bisa dipahami sebagai usaha yang memiliki peran penting dalam perekonomian nasional.
Melalui beberapa contoh tersebut, tentunya bisa dipahami bahwa kalimat topik bisa ditempatkan dimana saja di dalam suatu paragraf. Selama sifatnya umum dan masih perlu penjelasan tambahan. Sekaligus diikuti penjelasan tambahan dari kalimat lainnya. Maka sudah bisa disebut kalimat topik.
Sebaliknya, jika ada kalimat yang menjelaskan kalimat topik. Kemudian bisa berisi data dari suatu sumber, fakta yang terjadi di lapangan, opini, dan sebagainya. Maka kalimat-kalimat ini masuk ke dalam kategori kalimat penjelas atau kalimat pengembang. Memahami kedua jenis kalimat ini penting sehingga tidak keliru dan bisa menyusunnya dengan baik dan benar.
Mengapa satu sebutan bisa membuat seseorang langsung dikenali, bahkan tanpa menyebut nama aslinya? Dari tokoh…
Pernahkah Anda merasa tulisan terasa kaku atau antar kalimatnya tampak tidak nyambung? Masalah ini biasanya…
Gelar haji sering kita lihat tercantum di depan nama, mulai dari undangan resmi hingga papan…
Mencari buku digital seharusnya tidak memakan waktu lama. Faktanya, banyak orang belum tahu bahwa cara…
Dalam dunia birokrasi, detail kecil sering kali berdampak besar, termasuk dalam penulisan pangkat golongan PNS.…
Dalam dunia akademik dan sains, ketelitian dalam menulis angka sangatlah penting. Salah satu cara yang…