Systematic Literature Review (SLR) merupakan salah satu jenis dari proses literature review atau kajian pustaka. Literature review sendiri adalah kegiatan sistematis untuk mengumpulkan dan mensintesis hasil-hasil penelitian.
Literature review kemudian terbagi menjadi beberapa jenis. Secara garis besar, terbagi dalam 2 jenis dengan metode atau pendekatan yang berbeda. Yakni Narrative Review dan Systematic Literature Review (SLR).
Jadi, SLR adalah kegiatan mengumpulkan, menganalisis, dan mensintesis seluruh literatur yang relevan dengan pertanyaan penelitian tertentu yang dilakukan secara sistematis dan terstruktur.
Sehingga membentuk kerangka kegiatan literature review yang jelas dan peneliti atau penulis akan mengikuti pola tersebut. Metode ini membantu melakukan literature review dengan rapi karena dilakukan tahap demi tahap. Seluruh tahapan disusun dari awal, diikuti, dan dipatuhi oleh peneliti.
Penelitian menggunakan teknik Systematic Literature Review menawarkan kelebihan, di antaranya prosedur yang jelas, lebih objektif, cakupan literatur luas, mudah diverifikasi, dan dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang spesifik. Meskipun demikian, dibalik kelebihannya Systematic Literature Review (SLR) masih terdapat kekurangan yang perlu peneliti ketahui. Berikut penjelasan lengkapnya.
Ibarat kata bijak tak ada gading yang tak retak, semua metode literature review juga belum ada yang sempurna. Hal ini juga berlaku pada Systematic Literature Review (SLR) yang memang masih memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Adapun kekurangannya antara lain:
SLR membuat peneliti perlu mencari berbagai jenis dan sumber literatur ilmiah kredibel. Pada akhirnya ada lebih banyak publikasi ilmiah perlu dibaca, dipahami, dan dianalisis, lalu ditarik kesimpulan.
Banyaknya jumlah literatur yang dibaca, tentu prosesnya memakan waktu yang panjang. Pada penelitian tertentu yang tidak didukung sumber daya waktu sampai biaya yang terbatas. SLR menjadi sulit dan bahkan tidak memungkinkan untuk digunakan.
Literature review dengan metode SLR akan melibatkan literatur skala besar. Sehingga ada banyak bentuk publikasi ilmiah perlu dibaca dan dianalisis. Selain memakan waktu lebih panjang.
Tidak semua literatur tersebut bisa diakses gratis, sehingga butuh dana yang juga besar. Akses ke berbagai sumber juga membutuhkan energi lebih. Selain itu, semakin banyak literatur yang digunakan kadang rentan terjadi redudansi.
Misalnya membaca hasil penelitian yang sama pada jurnal dan buku ilmiah. Hal ini tentu memperpanjang proses literature review. Padahal topik dan hasil pembahasannya sama.
Kekurangan berikutnya dari Systematic Literature Review (SLR) adalah berhadapan dengan kualitas penelitian yang bervariasi. Setiap penelitian tentu memiliki keterbatasan masing-masing. Sehingga memiliki kelemahan tersendiri.
Ada penelitian yang mampu melibatkan sampel skala besar, ada yang sebaliknya. Begitu juga dengan aspek lain. Pada akhirnya akan sangat mempengaruhi kualitas penelitian tersebut.
Penelitian dengan kualitas kurang baik (rendah) bisa jadi bertentangan dengan hasil penelitian dengan kualitas lebih baik. Namun, sama-sama dipublikasikan di media kredibel. Padahal saling melemahkan, sehingga memicu kebingungan bagi peneliti saat menerapkan SLR.
Kelemahan lain yang dimiliki SLR adalah kebutuhan untuk dilakukan analisis yang kompleks. Sebab membaca berbagai hasil penelitian dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Tentu butuh dianalisis satu per satu dan proses lebih panjang. Sehingga prosesnya rumit dan kompleks.
Kekurangan SLR berikutnya adalah rentan berhadapan dengan bias publikasi. Bias publikasi dapat terjadi karena hasil penelitian tertentu lebih mudah diterima media publikasi seperti jurnal dibanding hasil penelitian lainnya.
Misalnya, hasil penelitian yang cenderung positif seperti adanya temuan baru, perubahan signifikan, dan sejenisnya cenderung mudah diterima media publikasi seperti jurnal. Namun, sebaliknya pada hasil penelitian yang negatif. Misalnya hasil kurang signifikan, tidak berhasil menghasilkan temuan baru, dll.
Contoh lain, hasil penelitian yang dipublikasikan dalam bahasa Inggris lebih mudah diterima jurnal. Sebab mampu menjaring lebih banyak pembaca. Padahal, hasil penelitian tidak positif dan selain dalam bahasa Inggris bisa jadi punya kualitas baik. Hal ini akan membuat SLR menjadi bias karena berhadapan dengan bias publikasi.
Perlu diketahui bahwa metode Systematic Literature Review (SLR) kini tidak lagi direkomendasikan sebagai syarat utama pengajuan kenaikan jabatan fungsional dosen. Hal ini disebabkan oleh tingginya potensi bias dan lemahnya unsur kebaruan (novelty) yang dihasilkan; mengingat SLR pada dasarnya hanya membedah materi yang sudah ada untuk menemukan celah penelitian (research gap), bukan menghasilkan temuan orisinal dari data primer.
Padahal, esensi penelitian akademik menuntut adanya pembaruan yang berkelanjutan secara berkala. Sebagai alternatif yang lebih efektif dan memiliki bobot poin yang jelas, dosen disarankan untuk beralih pada publikasi buku. Salah satu opsinya adalah melakukan konversi Karya Tulis Ilmiah (KTI) menjadi buku referensi atau buku ajar melalui penerbit profesional seperti Deepublish.
Penerbit Deepublish memiliki layanan konversi Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang dirancang khusus untuk mengubah naskah penelitian dosen menjadi format buku standar terbit yang siap dipublikasikan. Dengan penyesuaian format yang presisi, naskah karya ilmiah milik dosen diubah menjadi buku referensi atau buku ajar yang lebih kredibel dan memiliki nilai poin kredit yang tinggi.
Oleh karena itu, jangan biarkan draf penelitian Anda ditolak hanya karena salah memilih metode publikasi. Hindari risiko kegagalan pengajuan jabatan fungsional dengan mengubah hasil riset menjadi karya yang lebih bernilai.
Segera konversi Karya Tulis Ilmiah (KTI) Anda menjadi buku berkualitas bersama tenaga profesional. Manfaatkan proses yang mudah, cepat, dan sesuai standar akademik melalui Layanan Konversi KTI Penerbit Deepublish. Wujudkan kenaikan jabatan fungsional Anda sekarang juga dengan karya nyata yang abadi!
Dalam kegiatan penelitian, tentunya akan ada fenomena gap dan research gap. Keduanya sama-sama penting, fenomena…
Meningkatkan penghasilan kini semakin mudah berkat adanya berbagai sumber penghasilan tambahan dari Hp. Artinya, handphone…
Jenis variabel dalam penelitian sangat beragam. Jika dilihat dari aspek hubungan antarvariabel maka salah satu…
Melakukan parafrasa sendiri saat memasukan kutipan pada karya ilmiah memang tidak selalu mudah. Oleh sebab…
Salah satu kendala ketika melakukan parafrasa dengan platform AI adalah keliru dalam menyusun prompt AI…
Salah satu bab atau bagian di dalam karya tulis ilmiah adalah kajian teori (landasan teori).…