Kerja Sama

Kerjasama Workshop Kampus untuk Atasi Kendala Menulis Dosen, Begini Cara Penyelenggaraannya

Setiap perguruan tinggi di Indonesia tentu memiliki dosen dengan kendala dan permasalahan masing-masing dalam menjalankan tri dharma. Dosen senior dengan dosen pemula tentu memiliki kebutuhan, kinerja, dan kompetensi berbeda. Termasuk adanya kendala menulis dosen tersebut. 

Dosen senior bisa lebih kompeten menjalankan tri dharma dan menghasilkan beragam publikasi ilmiah. Hal ini sejalan dengan pengalaman panjang selama masa pengabdian. Namun, hal ini tidak selalu dijumpai pada dosen pemula. 

Memahami kondisi ini, maka kebutuhan dan kendala menulis yang dihadapi para dosen juga berbeda. Dalam upaya perguruan tinggi mendukung semua dosen produktif berkarya dan menghasilkan publikasi ilmiah. Maka semua program pengembangan kompetensi harus relevan. 

Kecenderungan Kendala Menulis KTI pada Dosen Senior

Menulis KTI dan mengurus publikasinya, tentu menjadi agenda akademik rutin para dosen di Indonesia. Dosen senior di suatu perguruan tinggi biasanya tidak selalu produktif menghasilkan publikasi ilmiah. 

Hal ini terjadi karena memang ada sejumlah kendala menulis dosen senior. Salah satunya, kesulitan untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi yang berkembang pesat. Dosen yang sudah terbiasa  menulis KTI menggunakan suatu aplikasi. 

Kemudian ada aplikasi baru dengan teknologi lebih terkini atau canggih. Kadang sudah merasa ada beban untuk belajar lagi dari nol. Sehingga mengandalkan aplikasi lama dan bisa jadi kurang relevan untuk penulisan dan publikasi ilmiah saat ini. 

MIsalnya hanya menulis KTI dengan Ms Word. Padahal sudah ada Google Documents yang sifatnya daring. Keunggulannya lebih banyak, salah satunya mendukung kolaborasi dengan penulis lain secara real time mengandalkan jaringan internet. 

Dalam kondisi ini, dosen senior tentunya membutuhkan dampingan dan program pelatihan yang harus benar-benar relevan. Yakni memperkenalkan teknologi terkini dengan cara yang tepat dan membantu mereka menggunakannya secara optimal. 

Kecenderungan Kendala Menulis KTI pada Dosen Pemula

Tidak hanya dosen senior yang menghadapi kendala menulis KTI. Kendala menulis dosen pemula juga tidak kalah kompleks. Dosen pemula rata-rata masih berusia muda dan sudah sangat terbiasa mengikuti perkembangan teknologi. 

Pada saat teknologi AI sudah mulai hangat diperbincangkan. Dosen pemula ini bisa saja sudah sering menggunakannya, terlebih untuk keseharian di luar kegiatan akademik. Selain itu, juga familiar untuk menggunakan aplikasi baru dan lebih mudah beradaptasi mempelajari serta menguasainya. 

Hanya saja, dosen pemula masih berhadapan dengan kompetensi yang belum mumpuni. Sehingga masih harus tertatih-tatih dalam menjalankan kegiatan tri dharma. Termasuk keterampilan menulis KTI yang belum optimal, sehingga kuantitas dan kualitas publikasi ilmiah yang dihasilkan masih minim. 

Dalam kondisi ini, dosen pemula juga membutuhkan dukungan perguruan tinggi. Salah satunya melalui program pelatihan dan pendampingan. Namun, tidak akan selalu sama dengan kebutuhan dosen yang lebih senior. 

Titik Temu: Satu Tujuan, Dua Jalur Pendampingan

Meskipun kendala menulis dosen senior dengan dosen pemula cenderung ada perbedaan. Namun, keduanya tentu memiliki tujuan yang sama. Yakni sama-sama ingin menghasilkan KTI berkualitas. Disusul dengan produktivitas publikasi ilmiah yang mumpuni. 

Termasuk publikasi ilmiah dalam bentuk buku yang memenuhi ketentuan atau standar Kemdiktisaintek. Mulai dari terbit dengan ISBN, diterbitkan penerbit resmi, dan lain sebagainya. 

Memenuhi standar Kemdiktisaintek menjadi keharusan, agar buku yang diterbitkan tersebut bisa diklaim dalam pelaporan BKD. Kemudian bisa juga menunjang pengembangan karir akademik dosen melalui jabatan akademik (jabatan fungsional). 

Penerbitan buku ilmiah juga menjadi bagian dari kinerja perguruan tinggi yang menaungi dosen. Sehingga mendorong optimasi penilaian akreditasi, posisi klasterisasi, dan mempengaruhi hasil penilaian pemeringkatan institusi di tingkat nasional maupun internasional. 

Mendukung para dosen meningkatkan produktivitas menulis dan menerbitkan buku ilmiah tersebut. Perguruan tinggi bisa menyelenggarakan kegiatan pelatihan dan workshop kepenulisan hingga topik-topik terkait penerbitan (publikasi ilmiah). Kerjasama workshop kampus tentunya meringankan beban penyelenggaraan, karena ada bantuan dari mitra. 

Bekerjasama dengan perusahaan penerbit bisa membantu perguruan tinggi menyelenggarakan workshop dan pelatihan yang sesuai. Salah satunya dibuat dengan sistem berjenjang atau bertahap. Sehingga workshop hasil kerjasama tersebut relevan dengan kebutuhan dan membantu mengatasi kendala menulis dosen senior maupun dosen pemula. 

Kenapa Workshop yang Mengakomodasi Keduanya Menguntungkan Institusi?

Menyelenggarakan workshop dengan tema dan topik kepenulisan, tentunya tidak hanya membantu memahami dan mengatasi kendala menulis dosen. Namun, kegiatan ini juga memberikan manfaat bagi perguruan tinggi penyelenggara. 

Manfaat ini yang bisa menjadi alasan kenapa workshop kepenulisan penting untuk diselenggarakan perguruan tinggi. Seperti: 

1. Mendorong Semua Dosen Aktif Menulis dan Menghasilkan Publikasi Berkualitas

Workshop yang diselenggarakan bisa membantu dosen yang dinaungi perguruan tinggi aktif menulis. Disusul dengan keaktifan dalam menghasilkan publikasi ilmiah berkualitas. Khususnya dalam menerbitkan buku ilmiah. 

Manfaat ini dirasakan semua dosen, baik itu dosen senior maupun dosen pemula. Hal ini penting untuk meratakan produktivitas publikasi ilmiah semua dosen. Sehingga tidak hanya berpusat pada dosen senior. 

Produktif menulis dan menerbitkan buku, juga sebaiknya dimiliki dosen pemula. Sebab memiliki peran dalam melanjutkan estafet kinerja akademik dan publikasi ilmiah dari para dosen senior. 

2. Meningkatkan dan Menjaga Produktivitas Publikasi Ilmiah

Workshop kepenulisan yang diselenggarakan perguruan tinggi juga bermanfaat dalam menjaga produktivitas publikasi ilmiah. Sebab dosen senior hingga dosen pemula aktif menulis dan menghasilkan publikasi ilmiah. 

Perguruan tinggi perlu memastikan produktivitas tersebut stabil atau konsisten. Meskipun ada beberapa dosen senior yang sudah memasuki usia pensiun. Sebab produktivitas diteruskan oleh dosen-dosen pemula. 

Melalui workshop, dosen pemula bisa mengembangkan keterampilan menulis. Sekaligus keterampilan mengurus publikasi naskah buku. Workshop yang berkelanjutan akan membantu lebih banyak dosen yang dinaungi memiliki produktivitas yang sama tingginya. 

3. Memastikan Workshop Tepat Sasaran karena Relevan dengan Kondisi dan Kebutuhan Dosen

Workshop kepenulisan yang diselenggarakan perguruan tinggi, idealnya tidak hanya dijalankan sekali waktu. Melainkan dijalankan secara bertahap dan berkelanjutan. Sebab topik di dunia kepenulisan dan publikasi ilmiah terbilang kompleks. 

Tidak semua topik bisa dibahas tuntas dalam satu kali penyelenggaraan. Dalam penulisan buku ilmiah saja, setidaknya ada 4 jenis buku ilmiah (buku ajar, referensi, monograf, dan bunga rampai) perlu dibahas dan praktek langsung dalam workshop. Belum topik lainnya. 

Selain itu, perguruan tinggi juga berhadapan dengan kebutuhan dan kendala berbeda di setiap dosen. Workshop pun sebaiknya diselenggarakan secara bertahap agar menyeluruh sesuai kondisi tersebut. Sehingga semua dosen semakin terampil menulis dan produktivitas menulis dosen lebih optimal. 

Apa yang Bisa Dilakukan Institusi Sebelum Mengadakan Workshop Kepenulisan?

Mengatasi kendala menulis dosen melalui workshop atau pelatihan menulis buku dosen menjadi langkah strategis. Namun, penyelenggaraannya tidak bisa asal-asalan. Dalam bekerjasama dengan pihak eksternal seperti perusahaan penerbit buku pun harus dengan perencanaan matang. 

Jadi, apa saja yang perlu dilakukan dan dipersiapkan perguruan tinggi sebelum menyelenggarakan workshop kepenulisan? Berikut beberapa diantaranya: 

1. Memetakan Kebutuhan para Dosen Terlebih Dahulu

Alasan utama menyelenggarakan workshop kepenulisan adalah membantu para dosen produktif menulis dan menerbitkan buku. Maka workshop tersebut haruslah relevan dengan kebutuhan para dosen. 

Perguruan tinggi perlu memahami apa saja kendala dalam menulis buku yang dialami para dosen. Kemudian, apa saja topik workshop yang diharapkan para dosen untuk diselenggarakan perguruan tinggi. 

Jadi, tahap awal sebelum workshop diselenggarakan adalah memetakan kebutuhan para dosen. Bisa dengan melakukan wawancara ke semua dosen. Jika jumlah dosen terlalu banyak dan butuh metode efisien, bisa menyebar kuesioner atau angket. Sehingga memudahkan pendataan kendala dan kebutuhan dosen. 

2. Memilih Mitra Workshop yang Mendukung Kebutuhan para Dosen

Tahap berikutnya, perguruan tinggi perlu mencari mitra untuk menyelenggarakan workshop. Terutama jika memiliki kendala dalam menyelenggarakannya secara mandiri. 

Misalnya keterbatasan SDM, belum berpengalaman menyelenggarakan workshop, kesulitan memilih narasumber ahli, dan kendala lainnya. Ada banyak penerbit buku dan mitra eksternal lain menawarkan kerjasama workshop kampus. 

Pastikan memilih mitra yang juga mampu mendukung workshop sesuai kebutuhan para dosen yang sudah dipetakan di tahap sebelumnya. Sehingga tidak hanya fokus membantu menyelenggarakan workshop. Namun mewujudkan workshop yang relevan dengan kebutuhan para dosen. 

Baca juga: Mau Workshop Penulisan Buku Ajar? Ajak Deepublish Saja!

3. Menyelenggarakan Workshop Bertahap dan Berkelanjutan

Hal penting berikutnya adalah menyusun rencana strategis dalam menyelenggarakan workshop bertahap. Kemudian juga workshop yang berkelanjutan. 

Jadi, workshop tidak hanya membahas habis banyak topik sesuai kebutuhan atau kendala menulis dosen. Tapi bertahap, agar pembahasan dan praktek bisa mendalam. 

Selain itu, menyusun rencana penyelenggaraan workshop berkelanjutan sangat penting. Sebab regenerasi penulis kampus harus terus didorong. Workshop tahun ini bisa membantu dosen senior dan pemula yang mengabdi. Pada tahun berikutnya, untuk dosen yang baru direkrut. Begitu seterusnya. 

4. Menyiapkan Pendampingan Lanjutan pasca Workshop

Pasca workshop, tidak langsung membuat para dosen ahli dalam menulis dan menerbitkan buku. Dalam menerapkan ilmu dan keterampilan yang didapat dalam workshop tetap ada kendala. 

Maka perguruan tinggi juga perlu menyiapkan jasa pendampingan. Sehingga saat kendala menulis masih dihadapi para dosen, bisa diberikan bantuan memadai untuk segera teratasi. 

Dalam menyediakan pendampingan pasca workshop, perguruan tinggi juga bisa berkolaborasi dengan mitra eksternal. Termasuk dengan mitra yang membantu kerjasama workshop kampus yang diselenggarakan sebelumnya. 

5. Melakukan Evaluasi dan Perbaikan Berkala

Berikutnya, perguruan tinggi perlu menyusun perencanaan untuk kegiatan evaluasi dan perbaikan berkala. Perlu dilakukan pendataan dan monitoring untuk mengetahui dampak positif penyelenggaraan workshop kepenulisan. 

Jika belum efektif meningkatkan dan menjaga produktivitas publikasi buku ilmiah. Maka bisa segera diketahui, dicari tahu penyebabnya, dan menjadi bahan untuk menyelenggarakan workshop yang lebih baik dan lebih sesuai.  

Menyelenggarakan workshop kepenulisan menjadi kebutuhan setiap perguruan tinggi di Indonesia. Sebab menjadi bagian dari memfasilitasi dosen-dosen yang dinaungi dalam mengembangkan kompetensi. Sekaligus menjaga dan meningkatkan kinerja akademik melalui kegiatan publikasi ilmiah. 

Regenerasi penulis kampus akan terus berjalan, sebab tidak ada dosen yang mengabdi seumur hidup. Tidak juga mahasiswa menjadi mahasiswa abadi. Workshop menunjang proses regenerasi tersebut, sehingga mahasiswa dan dosen terus produktif mempublikasikan buku ilmiah berkualitas. 

Memudahkan penyelenggaraan workshop, membangun kerjasama workshop kampus sangat dianjurkan. Sehingga workshop tidak dikerjakan sendiri oleh tim di kampus, tapi dibantu mitra workshop yang tentunya punya pengalaman panjang. 

Bagi Anda yang tengah mencari mitra untuk menyelenggarakan workshop di perguruan tinggi. Maka bisa mengakses Kerjasama Workshop dari Penerbit Deepublish. Informasi lebih rinci mengenai program ini, bisa mengunjungi https://penerbitdeepublish.com/proposal-kerjasama-workshop/ 

FAQ (Frequently Asked Questions)

1. Apakah kebutuhan pelatihan menulis dosen senior dan pemula sama?

Tidak selalu. Meskipun sama-sama bertujuan menghasilkan KTI dan publikasi berkualitas, kebutuhan pendampingannya berbeda sesuai kendala dan kompetensi masing-masing.

2. Apa saja kendala menulis yang dihadapi dosen senior?

Dosen senior dapat mengalami kendala dalam beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan aplikasi yang digunakan untuk menulis maupun mendukung publikasi ilmiah.

3. Apa kendala menulis yang umum dialami dosen pemula?

Dosen pemula umumnya lebih mudah beradaptasi dengan teknologi, tetapi masih dapat menghadapi keterbatasan kompetensi dan keterampilan menulis KTI sehingga produktivitas publikasinya belum optimal.

4. Bagaimana workshop kampus dapat membantu mengatasi kendala menulis dosen?

Workshop dapat memberikan pelatihan dan pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan dosen, termasuk keterampilan menulis dan penerbitan buku ilmiah. Penyelenggaraannya dapat dibuat bertahap agar pembahasan lebih relevan dan mendalam.

5. Mengapa workshop penulisan dosen perlu diselenggarakan secara bertahap?

Karena topik penulisan dan publikasi ilmiah cukup kompleks dan tidak seluruhnya dapat dibahas dalam satu kegiatan. Workshop bertahap memungkinkan perguruan tinggi menyesuaikan materi dengan kebutuhan dosen senior maupun pemula.

Karimatun Nisa

Recent Posts

Memasarkan Buku Melalui Komunitas, Apakah Mungkin? Berikut Penjelasan dan Strateginya

Dalam kegiatan penerbitan buku, kegiatan tersebut tidak berhenti saat buku resmi terbit dan bisa diakses…

2 jam ago

Cek Kesiapan Menyusun Bunga Rampai: 5 Pertanyaan yang Harus Dijawab Sebelum Mulai Menulis

Buku ilmiah yang bisa disusun dan diterbitkan dosen di Indonesia cukup beragam, salah satunya bunga…

3 hari ago

Pengalaman Dr. Nurul Hidayah: Menjaga Kualitas & Orisinalitas Buku Ilmiah Bersama Deepublish

Era digital dan Revolusi Industri 5.0 memberi peluang bagi para penulis untuk terus berkarya. Termasuk…

4 hari ago

ISBN vs E-ISBN vs QRCBN: Mana yang Dibutuhkan Buku Anda?

Dalam mengurus penerbitan naskah buku, para penulis bisa lebih leluasa memilih kode identitas buku tersebut.…

6 hari ago

Penerbit Deepublish Hadirkan Webinar Langkah Praktis Meningkatkan Sinta Score Melalui Publikasi

Penerbit Deepublish sukses menyelenggarakan Webinar “Langkah Praktis Meningkatkan Sinta Score Melalui Publikasi” pada Jumat, 9…

1 minggu ago

Mudah dan Lengkap, Begini Tahapan Layanan Konversi KTI Penerbit Deepublish

Ada banyak sekali jenis karya tulis ilmiah (KTI) yang perlu disusun dan dipublikasikan oleh dosen.…

1 minggu ago