Referensi dan daftar pustaka sering dianggap sama. Padahal keduanya adalah dua hal yang berbeda-beda. Kemudian sama-sama berkaitan dengan penulisan karya tulis ilmiah. Sekaligus wajib ada atau digunakan dalam proses penyusunan karya tulis ilmiah tersebut.
Kerancuan dalam membedakan antara referensi dengan daftar pustaka memiliki definisi yang sama dalam bahasa Inggris. Namun, jika dipahami lebih dalam keduanya tetap berbeda. Berikut informasinya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), referensi adalah sumber acuan (rujukan, petunjuk). Sehingga referensi adalah semua sumber data yang dijadikan acuan atau rujukan dalam penyusunan suatu karya tulis.
Sedangkan daftar pustaka, dalam KBBI adalah daftar yang mencantumkan judul buku, nama pengarang, penerbit, dan sebagainya yang ditempatkan pada bagian akhir suatu karangan atau buku, dan disusun menurut abjad.
Melalui definisi referensi dan daftar pustaka tersebut, maka bisa dipahami bahwa referensi adalah semua sumber data dalam penyusunan karya tulis ilmiah. Sedangkan daftar pustaka adalah sebuah halaman di dalam karya tulis ilmiah yang mencantumkan daftar seluruh referensi (sumber data) yang digunakan penulis.
Kenapa keduanya rancu dan dianggap sama? Dalam bahasa Inggris, terdapat istilah “references” yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya “referensi”. Disusul dengan gaya sitasi APA Style dan beberapa jenis lainnya, menggunakan istilah “References” bukan “Daftar Pustaka”.
Hal ini yang membuat banyak orang mengira keduanya sama, hanya beda istilah penyebutan. Sementara dalam bahasa Indonesia sendiri, referensi dengan daftar pustaka memiliki definisi atau pengertian berbeda.
Melalui definisi di atas, jika dipelajari lebih mendalam lagi maka akan menjumpai beberapa hal yang membedakan referensi dan daftar pustaka. Berikut penjelasannya:
Hal pertama yang membedakan antara referensi dengan daftar pustaka adalah fungsi dan tujuan penggunaan pada karya tulis ilmiah. Referensi sesuai definisinya, memiliki fungsi sebagai sumber data.
Jika penulis ingin menulis topik “perubahan iklim”. Maka perlu memahami topik tersebut dan menjelaskannya di dalam naskah. Penjelasan ini bersumber dari referensi yang digunakan.
Sedangkan fungsi dari daftar pustaka lebih kompleks lagi. Mencakup informasi seluruh referensi yang digunakan penulis, merekomendasikan referensi kepada pembaca, dan untuk menghindari plagiarisme.
Baca juga: Cara Menulis Daftar Pustaka dari Internet atau Website
Poin kedua yang membedakan referensi dan daftar pustaka adalah bentuk penyajian di dalam naskah karya tulis ilmiah. Referensi adalah sumber data dalam penyusunan karya tulis ilmiah tersebut.
Sehingga data ini disajikan dalam bentuk teks yang menjadi isi dari karya tulis ilmiah. Penyajian oleh penulis bisa dalam bentuk kutipan langsung. Bisa juga kutipan tidak langsung, sehingga tidak sama persis dengan teks dari referensi yang digunakan.
Sedangkan bentuk penyajian daftar pustaka adalah berupa daftar yang menjelaskan seluruh referensi yang digunakan penulis. Baik yang isinya dikutip maupun tidak sekedar menambah wawasan dan pemahaman penulis.
Dalam penyusunan daftar pustaka, biasanya menggunakan gaya sitasi tertentu. Setiap gaya sitasi memiliki unsur dan struktur penulisan yang berbeda. Penulis menyesuaikan gaya sitasi yang ditetapkan perguruan tinggi atau penerbit.
Hal ketiga yang membedakan referensi dan daftar pustaka adalah sifat penggunaan atau sifat pencantuman. Referensi maupun daftar pustaka, sekali lagi sama-sama wajib ada dalam penyusunan karya tulis ilmiah.
Bedanya, referensi yang digunakan penulis tidak wajib dikutip dan masuk menjadi isi naskah karya tulis ilmiah. Jika dari 10 referensi yang digunakan, penulis hanya mengutip 2 diantaranya. Maka hal ini sah saja dilakukan.
Sedangkan sifat penggunaan daftar pustaka adalah wajib. Seluruh referensi, baik yang datanya dikutip dan menjadi isi karya tulis ilmiah maupun tidak dikutip wajib masuk halaman daftar pustaka.
Poin keempat yang membedakan antara referensi dan daftar pustaka adalah skala cakupannya. Referensi memiliki skala cakupan yang lebih terbatas. Sebab penulis hanya mencantumkan teks atau bagian dari referensi tersebut sebagian, bukan seluruhnya.
Misalnya hanya mengutip satu atau dua kalimat dari artikel jurnal ilmiah yang dijadikan referensi. Sehingga penulis tidak diwajibkan untuk menulis seluruh isi artikel jurnal ilmiah tersebut.
Sementara skala cakupan dari daftar pustaka lebih besar. Seluruh referensi baik yang dikutip maupun tidak, wajib masuk di dalam halaman daftar pustaka. Hanya saja, daftar ini mencantumkan unsur identitas referensi bukan isi. Misalnya mencantumkan nama penulis, judul, tahun terbit, dll.
Poin terakhir yang membedakan referensi dan daftar pustaka adalah lokasi dimana dicantumkan. Referensi, khusus untuk yang dikutip penulis akan dicantumkan di bagian isi naskah karya tulis ilmiah. Bisa di bab pertama, kedua, dan sebagainya sesuai kebutuhan penulis tersebut.
Sementara daftar pustaka berbentuk halaman khusus yang ditempatkan di akhir naskah karya tulis ilmiah. Sehingga secara lokasi atau letak pencantuman, keduanya berbeda.
Referensi dan daftar pustaka menjadi gambaran kualitas dan kredibilitas karya tulis ilmiah. Sehingga keduanya sangat penting. Dalam pemilihan referensi, seorang penulis karya tulis ilmiah tidak bisa sembarangan. Apalagi referensi menjadi sumber data.
Salah satu kiat agar referensi yang dipilih tepat dan berkualitas, adalah memilih yang memenuhi 3 kriteria dasar berikut:
Kriteria pertama, referensi harus relevan. Artinya referensi yang digunakan harus sesuai dengan topik di dalam naskah karya tulis ilmiah yang disusun. Jika menulis tentang perubahan iklim, maka jangan memakai referensi tentang AI atau topik berseberangan lainnya.
Kriteria kedua, referensi tersebut mutakhir. Artinya, referensi yang digunakan merupakan terbitan baru. Sehingga memastikan data masih segar dan relevan dengan kondisi di masa sekarang. Inilah alasan kenapa di perguruan tinggi, mewajibkan mahasiswa memakai referensi 5-10 tahun terakhir untuk tugas akhir.
Kriteria yang ketiga, referensi tersebut benar. Artinya, referensi memiliki kebenaran yang tinggi dan data di dalamnya fakta bukan opini apalagi karangan hasil imajinasi. Inilah alasan memperhatikan jenis dan sumber referensi didapatkan sangat penting.
Akademisi dianjurkan memprioritaskan referensi kredibel dari jurnal, prosiding, buku, dll. Kemudian menghindari referensi yang dikenal tidak kredibel dan tidak jelas sumbernya. Misalnya artikel di Wikipedia yang bisa ditulis siapa saja dan bukan ahlinya.
Referensi bisa didapatkan dari perpustakaan, database jurnal, database publikasi ilmiah, toko buku online dan offline, sampai rekomendasi jaringan. Baik dari dosen, rekan sesama dosen, rekan sesama mahasiswa, keluarga, dll.
Baca juga: Cara Menulis Referensi dan Daftar Pustaka
Hal penting berikutnya berkaitan dengan referensi dan daftar pustaka adalah kiat menyusun daftar pustaka tersebut. Secara garis besar berikut tahapannya:
Referensi:
Masihkah Anda bingung dengan perbedaan jurnal dan artikel ilmiah? Bagi beberapa orang, keduanya dianggap hal…
Memasuki tahun ajaran baru, para dosen tentu disibukan dengan persiapan aktif menjalankan tri dharma kembali.…
Teliti dalam memilih penerbit novel tentu bukan sekedar formalitas. Sebab ada banyak pilihan penerbit di…
Dosen di Indonesia yang menjalankan penelitian terapan, tentu familiar dengan luaran berbentuk laporan feasibility study…
Penerbit Deepublish resmi menyelenggarakan webinar bertajuk "Strategi Inovasi dan Kreativitas Layanan Perpustakaan Melalui Media Sosial"…
PTN (Perguruan Tinggi Negeri) di Indonesia memiliki 3 bentuk status hukum. Mencakup PTN-BH (Perguruan Tinggi…