Dalam melaksanakan kegiatan penelitian, penyusunan proposal, dan sebagainya. Dosen maupun mahasiswa dan peneliti akan memasuki tahap penyusunan State of the Art (SOTA). SOTA bisa dikatakan wajib untuk dirumuskan, sebab menjelaskan posisi penelitian yang dilakukan terhadap penelitian terdahulu.
Sehingga menunjukan penelitian berbeda dan tidak mengulang. Sekaligus menunjukan research gap sampai novelty. Jadi, apa itu SOTA dan bagaimana merumuskannya? Berikut informasinya.
Secara umum, State of The Art adalah tingkatan tertinggi dari perkembangan umum, sebagai perangkat, teknik, atau bidang ilmiah yang dicapai pada waktu tertentu. Sehingga menjelaskan perkembangan dari waktu ke waktu dalam kurun tertentu.
Sedangkan dalam konteks penelitian dan penyusunan karya tulis ilmiah, SOTA adalah ringkasan perkembangan penelitian terbaru yang relevan dengan topik yang diteliti untuk menunjukkan apa saja yang diteliti, temuan yang dihasilkan, research gap, dan kebaruan (novelty).
SOTA dirumuskan dalam bentuk teks, baik satu paragraf maupun lebih dan dicantumkan pada karya tulis ilmiah terkait kegiatan penelitian. Mulai dari proposal penelitian, laporan penelitian, sampai publikasi ilmiah yang merupakan luaran penelitian yang dilakukan. Berikut contohnya:
State of The Art (SOTA) sangat penting di dalam kegiatan penelitian yang dilakukan dosen dan siapa saja. Berikut beberapa hal yang menunjukan arti penting keberadaannya dalam penelitian:
SOTA akan menampilkan rangkuman seluruh penelitian terdahulu dengan topik yang sama. Sehingga menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukan memiliki dasar yang kuat. Sebab penelitian terdahulu punya pendekatan yang berbeda.
Sekaligus mempertegas bahwa penelitian yang dilakukan mampu memberi kontribusi baru. Sebab tidak sama persis dengan penelitian terdahulu yang dilakukan dosen maupun peneliti lain.
Selain itu, seluruh penelitian terdahulu dengan data di dalamnya menjadi bagian dari dasar atau acuan penelitian yang dilakukan. Hal ini akan mendukung penjelasan bahwa penelitian yang dilakukan tepat dan layak untuk dijalankan.
Topik yang diteliti mungkin sudah diteliti lebih banyak dosen di masa lalu. Namun, penelitian terkait topik tersebut tidak harus berhenti. Sebab penelitian terdahulu tentu ada beberapa keterbatasan, kekurangan, dan kesenjangan dalam bentuk lainnya.
SOTA membantu dosen menjelaskan posisi penelitian yang dilakukan terhadap penelitian terdahulu. Sebab membantu dosen menjelaskan pendekatan yang digunakan apa dan kenapa berbeda, kontribusinya apa dan kenapa disebut kontribusi baru, dll.
Merumuskan State of The Art (SOTA) dalam penelitian sangat penting untuk membantu menentukan kontribusi baru. Sekaligus membantu dosen dan peneliti menegaskan maupun menjelaskan kontribusi baru yang bisa diberikan.
SOTA merangkum penelitian terdahulu dan temuan-temuan yang dihasilkan. Kemudian diikuti dengan penjelasan research gap dan novelty yang dimiliki. Sehingga rumusan SOTA di dalam proposal penelitian menegaskan bisa memberi kontribusi baru.
SOTA berkaitan erat dengan perumusan research gap dan novelty pada penelitian. Sehingga menjadi bagian penting di dalam proposal sampai publikasi hasil penelitian untuk menjelaskan bahwa penelitian tidak mengulang. Sebab memiliki perbedaan jelas dengan penelitian terdahulu.
SOTA yang dicantumkan di dalam proposal, laporan, dan luaran penelitian juga menjadi sarana untuk menunjukan kredibilitas dosen selaku peneliti. Sebab SOTA tersebut menjelaskan posisi penelitian, research gap, dan novelty.
Sehingga dijamin tidak mengulang dan mampu menghasilkan temuan baru yang memberi kontribusi baru pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Inilah alasan SOTA sangat penting dan mampu mendukung dosen meyakinkan asesor hibah untuk menerima proposal yang diusulkan.
Baca juga: Mengenal Bagaimana Pentingnya Novelty Dalam Tulisan Ilmiah
Membahas mengenai State of The Art (SOTA), tentu tidak bisa dilepaskan dari research gap dan novelty. Sebab ketiganya berkaitan satu sama lain. Penentuan dan perumusan SOTA akan menghasilkan research gap dan disusul novelty.
Tanpa SOTA, maka dosen dan peneliti akan kesulitan menemukan sampai menjelaskan research gap penelitian terdahulu. Sekaligus menjelaskan novelty dari penelitian yang akan atau yang sudah dilaksanakan.
SOTA dirumuskan dosen melalui proses kajian pustaka. Yakni membaca sejumlah publikasi ilmiah dari hasil penelitian terdahulu dengan topik relevan. Kemudian, dosen akan merangkum perkembangan penelitian tersebut.
Baru kemudian menganalisis research gap dari penelitian terdahulu dan disusul menjelaskan novelty. Jadi, SOTA dilakukan di awal baru kemudian bisa dirumuskan research gap dan novelty. Sistematikanya tidak akan berubah.
Lalu, bagaimana cara menyusun atau merumuskan State of The Art (SOTA) di dalam karya tulis ilmiah (misal proposal penelitian)? Dalam prosesnya, dosen akan melewati beberapa tahapan berikut:
Tahap pertama, dosen perlu menentukan topik penelitian yang akan dilakukan. Tahap ini paling awal karena menentukan isi dari SOTA. Yakni merangkum penelitian tentang apa dan dari tahun berapa.
Setelah topik penelitian sudah ditentukan, maka dosen bisa langsung melakukan kajian pustaka. Yakni dimulai dengan mencari publikasi ilmiah dengan topik penelitian yang relevan. Sehingga dosen bisa mengetahui penelitian apa saja yang sudah dilakukan terhadap topik tersebut dan apa saja temuannya.
Setelah melakukan kajian pustaka, dosen akan menemukan perkembangan penelitian topik serupa. Maka di tahap ketiga, dosen perlu merangkum perkembangan penelitian tersebut. Menjelaskan topik utama, pendekatan yang digunakan, dan temuan atau kontribusinya apa.
Rangkuman perkembangan penelitian adalah bagian dari SOTA. Menegaskan SOTA, dosen perlu menjelaskan pendekatan berbeda yang digunakan dan kontribusi hasil penelitiannya apa.
SOTA biasanya dirumuskan dengan menambahkan kata hubung setelah merangkum perkembangan penelitian relevan. Misalnya kata hubung “namun”, “namun demikian”, “tetapi”, “however”, dan sebagainya.
SOTA yang sudah dirumuskan kemudian bisa dibaca ulang dan melakukan koreksi jika diperlukan. Misalnya susunan kosakata, kalimat, tanda baca, dan lain-lain bisa disempurnakan agar mudah dipahami pembaca.
Baca juga: Cara Menemukan Novelty Penelitian, Penulis Wajib Tahu!
Membantu lebih memahami lagi apa itu State of The Art (SOTA). Maka berikut beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan SOTA tersebut:
Jawabannya adalah tidak, akan tetapi keduanya saling berkaitan satu sama lain. Sesuai penjelasan sebelumnya, tahap dari perumusan SOTA salah satunya adalah kajian pustaka atau tinjauan pustaka. Sehingga hasil kajian pustaka dirumuskan dengan menjelaskan teori mendasari penelitian, perkembangan penelitian, dll. Perkembangan penelitian terdahulu inilah yang merupakan bagian dari SOTA.
Jawabannya adalah tidak, sebab SOTA dirumuskan sekali dan bisa dicantumkan di proposal penelitian sampai publikasi hasil penelitian. Misalnya artikel ilmiah diterbitkan di jurnal ilmiah. Sebab SOTA harus konsisten menjelaskan pendekatan berbeda, perkembangan penelitian relevan, dan kontribusi baru yang diberikan.
Referensi:
Jika Anda menulis dan menerbitkan buku, maka tentu perlu memastikan mengajukan Hak Cipta atas buku…
Karya tulis terbagi menjadi 2 jenis utama, yakni karya tulis ilmiah dan nonilmiah. Tahukah Anda,…
Bulan Ramadan tidak hanya diisi dengan kegiatan puasa wajib, tadarus Al-Qur’an, maupun ibadah sunnah lain…
Meski mudah lelah dan letih saat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, produktivitas akademik dosen…
Masihkah Anda bingung dengan perbedaan jurnal dan artikel ilmiah? Bagi beberapa orang, keduanya dianggap hal…
Referensi dan daftar pustaka sering dianggap sama. Padahal keduanya adalah dua hal yang berbeda-beda. Kemudian…