Para dosen tentunya perlu memahami perbandingan dan perbedaan antara akademik branding vs personal branding. Keduanya saling berkaitan satu sama lain. Hanya saja, keduanya menjadi proses branding yang berbeda.
Secara umum, baik akademik maupun personal branding penting untuk dibangun dosen. Hanya saja, jika harus memilih salah satu. Maka dosen perlu memahami mana dulu yang perlu dijadikan prioritas. Berikut informasinya.
Akademik branding vs personal branding dosen menjadi dua hal yang menarik untuk dibahas. Beberapa dosen mungkin menganggap keduanya sama. Akan tetapi, nyatanya adalah dua hal yang berbeda meski berkaitan satu sama lain.
Akademik branding dosen adalah upaya yang dilakukan dosen untuk membangun citra profesional dosen yang berdasarkan kapasitas akademik dan keilmuan. Sehingga hasil dari akademik branding ini, dosen dikenal luas lewat kepakarannya di suatu bidang keilmuan.
Sementara personal branding dosen adalah upaya yang dilakukan dosen untuk membangun citra diri dosen sebagai individu yang dikenal oleh publik, tidak hanya di kampus tapi juga di masyarakat luas.
Melalui personal branding tersebut, dosen akan dikenal masyarakat luas. Bukan hanya masyarakat akademik dan masyarakat ilmiah. Misalnya, dosen dikenal siapa saja bukan hanya kalangan sesama dosen, kalangan peneliti, dan mahasiswa. Melainkan siapa saja dengan berbagai profesi dan latar belakang lainnya.
Baca juga: Cara Membangun Personal Branding Untuk Penulis Sukses
Melalui penjelasan sebelumnya, tentu memberikan gambaran mengenai akademik branding vs personal branding bedanya apa. Supaya lebih jelas dan rinci, berikut detailnya dilihat dari beberapa aspek:
Akademik branding dan personal branding sama-sama dilakukan untuk membangun citra positif di masyarakat. Hanya saja, keduanya memiliki fokus utama yang berbeda. Yakni pada apa yang diinformasikan kepada masyarakat tersebut.
Pada akademik branding, dosen akan menyampaikan informasi mengenai keahlian atau kepakaran dosen di suatu bidang keilmuan. Misalnya dengan mempublikasikan hasil penelitian, menulis buku ilmiah berisi hasil penelitian, dan mempresentasikan hasil penelitian di sebuah seminar atau konferensi ilmiah.
Sementara itu, personal branding fokus untuk menyampaikan informasi terkait kepribadian dosen sebagai individu. Selain menyampaikan kepada publik menekuni profesi dosen dan mengabdi di perguruan tinggi mana.
Dosen juga aktif memperkenalkan diri sebagai edukator dan komunikator. Lewat personal branding tersebut, dosen akan dikenal karakternya yang komunikatif, aktif menyampaikan opini berbasis data, menyampaikan edukasi sesuai bidang keilmuan yang ditekuni, dll.
Misalnya personal branding di media sosial Instagram dengan dosen membuat konten-konten edukasi sesuai keahlian yang ditekuni, menyampaikan opini terkait isu hangat berdasarkan kepakaran yang dimiliki, berinteraksi dengan followers di kolom komentar maupun DM personal, dll.
Aspek kedua yang menjadi pembanding antara akademik branding vs personal branding dosen adalah tujuan yang mendasarinya. Akademik branding memiliki tujuan membangun reputasi ilmiah, rekam jejak akademik lewat publikasi ilmiah, dan sejenisnya.
Lewat rekam jejak kepakaran tersebut, dosen bisa memperluas jaringan untuk membangun potensi kolaborasi di masa mendatang. Sekaligus menunjang perolehan program hibah. Sebab rekam jejak membantu meyakinkan asesor menerima usulan penelitian yang diajukan.
Adapun untuk tujuan personal branding adalah untuk memberikan dampak atau manfaat kepada masyarakat. Melalui kepakaran, ilmu pengetahuan, hasil penelitian, wawasan, dan sebagainya yang dimiliki dosen selama mengabdi sebagai pendidik dan ilmuwan di perguruan tinggi.
Personal branding membantu dosen membangun kepercayaan publik sebagai ahli di suatu bidang. Sehingga ilmu pengetahuan, wawasan, dan kepakaran tersebut bisa digunakan untuk mengedukasi masyarakat lebih luas bukan sekedar mahasiswa. Yakni lewat konten edukasi, kesediaan menjadi narasumber seminar, dll.
Aspek ketiga yang menjadi perbedaan akademik branding vs personal branding dosen adalah target atau sasaran branding tersebut. Akademik branding bertujuan menyampaikan informasi kepakaran dan reputasi akademik dosen.
Informasi ini ditujukan kepada akademisi dan masyarakat ilmiah. Seperti mahasiswa, rekan sejawat, dan peneliti di berbagai lembaga penelitian. Sehingga jaringan akademik dosen berkembang dan menciptakan peluang kolaborasi di masa mendatang.
Sedangkan target dari personal branding dosen adalah masyarakat luas atau masyarakat umum. Sehingga dosen berkesempatan untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan, wawasan, dan kepakarannya untuk membantu masyarakat luas. Misalnya untuk memahami suatu isu, edukasi suatu program pemerintah, dll.
Poin keempat yang membedakan akademik branding vs personal branding dosen adalah bentuk dan output branding tersebut. Akademik branding dilakukan dosen dengan menyebarluaskan hasil penelitian sesuai bidang keilmuan yang ditekuni.
Sehingga dosen membangun rekam jejak kepakaran. Kemudian dikenal sebagai pakar di suatu bidang keilmuan. Output branding tersebut tentunya dalam bentuk publikasi ilmiah. Baik itu di prosiding, jurnal ilmiah, buku ilmiah, artikel populer di media massa, dan sebagainya.
Sedangkan bentuk personal branding dosen adalah konten edukasi yang menarik, informatif, dan memperluas wawasan masyarakat luas. Selain konten edukasi tersebut, bentuk personal branding juga interaksi dosen dengan masyarakat luas. Output dalam personal branding tentu saja konten-konten edukasi.
Aspek terakhir yang menjadi pembeda antara akademik branding vs personal branding dosen adalah media yang digunakan. Akademik branding identik dengan media-media publikasi ilmiah.
Seperti konferensi ilmiah untuk prosiding, jurnal ilmiah, dan penerbit buku ilmiah untuk menerbitkan buku ajar, monograf, dll. Dalam hal ini, dosen juga memanfaatkan media sosial ilmiah seperti Google Scholar, SINTA, Scopus, ResearchGate, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Berbeda dengan personal branding, dosen akan menggunakan sejumlah media sosial untuk berbagi konten edukasi. Seperti Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, blog atau website pribadi, dan lain sebagainya.
Melalui penjabaran akademik branding vs personal branding dosen sebelumnya. Tentu memberi gambaran juga mengenai contoh-contoh dari kedua branding tersebut. Berikut beberapa contoh masing-masing:
Dosen melaksanakan kegiatan penelitian dan menyebarluaskan hasil penelitian tersebut melalui prosiding, jurnal, maupun buku ilmiah. Bisa juga kombinasi dua diantaranya. Seperti publikasi hasil penelitian di jurnal dan diikuti menerbitkan buku monograf, referensi, atau book chapter (bunga rampai).
Dosen membuat dan membagikan konten edukatif di media sosial maupun blog pribadi sesuai bidang keahlian maupun hasil penelitian yang dilakukan. Misalnya membuat konten edukasi terkait suatu isu dan menjadikan publikasi ilmiah dosen berbentuk jurnal sebagai sumber (referensi).
Sebagai contoh lebih spesifik, misalnya dosen memiliki 1 publikasi artikel ilmiah di suatu jurnal tentang Outcome-Based Education (OBE) di SINTA atau Scopus. Dosen kemudian membuat konten untuk Instagram dengan topik “Kenapa Kurikulum OBE bikin mahasiswa lebih siap kerja?”. Informasi pada konten ini didasarkan publikasi di jurnal tersebut.
Melalui penjelasan akademik branding vs personal branding di atas. Maka, mana yang harus dijalankan dosen atau dijadikan prioritas? Pertanyaan ini tentu dimiliki oleh nyaris semua dosen.
Secara umum, akademik branding dan juga personal branding idealnya tidak berdiri sendiri. Melainkan dijalankan beriringan. Artinya, dosen perlu melakukan akademik branding sekaligus personal branding.
Akademik branding menjadi pondasi yang mempublikasikan dan menginformasikan ke publik terkait kepakaran dosen di suatu bidang keilmuan. Sedangkan personal branding meningkatkan dampak kepakaran dosen tersebut.
Seperti contoh sebelumnya, dosen membangun akademik branding dengan mempublikasikan hasil penelitian di prosiding, jurnal, maupun buku ilmiah. Publikasi ilmiah ini kemudian dijadikan dasar untuk personal branding. Yakni referensi dalam membuat konten edukasi ke masyarakat lewat akun media sosial maupun blog pribadi.
Hanya saja, masih sedikit dosen yang memperhatikan personal branding. Faktor penyebabnya beragam. Salah satunya kesibukan akademik yang tinggi. Sehingga tidak memungkinkan bagi dosen membuat konten di media sosial. Dosen pun fokus pada akademik branding untuk menjalankan tugas dan kewajiban akademik.
Jika memungkinkan, dosen tentu perlu membangun akademik branding sekaligus personal branding. Ada banyak cara untuk melakukan keduanya secara beriringan. Berikut penjelasan detailnya:
Akademik branding dosen bisa dibangun dengan melakukan beberapa cara di bawah ini:
Personal branding dosen juga bisa dibangun dengan berbagai cara. Berikut beberapa diantaranya:
Melalui penjelasan akademik branding vs personal branding dosen tersebut. Tentunya bisa dipahami bahwa keduanya sangat penting untuk dijalankan dosen secara beriringan jika memang memungkinkan.
Selain fokus dan konsisten dalam melakukan branding. Dosen juga harus menghindari beberapa kesalahan umum. Seperti fokus publikasi ilmiah tanpa berinteraksi dengan dosen dan peneliti lain, hanya aktif di media sosial tapi tidak menjelaskan profesi dosen yang ditekuni, tidak konsisten di satu topik, dan menyajikan konten berat di media sosial.
Referensi:
Dosen yang profesional tentu akan berusaha untuk mengembangkan karir akademik yang dimiliki. Salah satu strategi…
Setiap dosen di Indonesia tentu perlu memahami alasan kenapa dosen perlu memiliki buku sendiri. Artinya,…
Dosen di Indonesia tentu memiliki kebutuhan untuk memahami bagaimana cara mengembangkan materi kuliah menjadi buku…
Saat menulis naskah buku ilmiah, dosen sering menghadapi kendala dalam menentukan format penulisan yang sesuai…
Menulis buku ajar memang menjadi kebutuhan penting bagi dosen. Selain sebagai bentuk tanggung jawab profesional…
Menyusun dan menerbitkan bunga rampai (book chapter) menjadi salah satu kewajiban akademik bagi dosen di…