Dalam menjalankan tugas akademik, dosen di Indonesia tentunya akan menulis buku ilmiah. Baik itu buku referensi atau monograf, bisa juga buku ajar. Hanya saja, tidak sedikit dosen yang masih bingung harus menulis buku ilmiah yang mana.
Hal ini tentunya bisa menjadi sandungan untuk menulis dan memiliki publikasi ilmiah berbentuk buku. Jadi, sangat penting bagi dosen untuk memahami perbedaan antara buku monograf dan referensi. Serta memahami detail penting lainnya. Berikut informasinya.
Hal pertama untuk dibahas adalah alasan kenapa masih banyak dosen bingung menentukan buku ilmiah yang harus disusun. Kebanyakan bingung menentukan antara buku referensi atau monograf.
Hal ini terjadi bukan tanpa alasan, terdapat beberapa hal yang menjadi penyebabnya. Diantaranya adalah:
Kesulitan dalam menentukan jenis buku ilmiah mana untuk ditulis, sering disebabkan karena dosen belum mengenal semua jenis buku ilmiah. Jika buku ilmiah ditulis sesuai hasil penelitian, maka ada 2 jenis. Yakni monograf dan referensi. Jika berisi materi perkuliahan sesuai RPS, maka menulis buku ajar.
Sebab kedua, karena dosen masih belum bisa membedakan antara buku referensi dengan buku monograf. Meski sama-sama buku ilmiah dan isinya sesuai hasil penelitian. Namun, keduanya tetap menjadi buku ilmiah yang berbeda jenis. Jika perbedaan ini tidak diketahui, maka bisa saling tertukar.
Sebab ketiga, karena kinerja penelitian dosen belum optimal. Sehingga masih fokus mencapai luaran wajib yang umumnya publikasi di jurnal ilmiah. Jadi, sebelum kinerja penelitian bisa kontinyu biasanya dosen belum mulai menulis buku. Jika dipaksa, dosen akan kebingungan harus menulis referensi atau monograf.
Sebab keempat, karena masih banyak dosen yang belum optimal keterampilan menulis buku. Sehingga kesulitan harus menulis dari mana. Hal ini akan meningkatkan kesulitan untuk menentukan menulis buku monograf atau referensi.
Bagi dosen yang sampai saat ini masih kesulitan membedakan buku referensi atau monograf. Maka berikut tabel berisi rincian perbedaan keduanya dari beberapa aspek secara umum:
| Aspek Pembeda | Buku Referensi | Buku Monograf |
| Substansi Pembahasan | Membahas beberapa topik sesuai hasil penelitian dosen. | Fokus membahas 1 topik sesuai hasil penelitian dosen dan dibahas secara mendalam. |
| Fitur Tambahan pada Substansi Pembahasan | Terdapat peta keilmuan, studi kasus, dan ilustrasi. | Terdapat peta keilmuan. |
Melalui tabel tersebut, tentunya bisa menjadi acuan untuk membedakan buku referensi atau monograf. Jadi, dosen bisa lebih mudah menentukan idealnya menyusun naskah buku referensi atau justru buku monograf.
Selain memiliki sejumlah perbedaan, buku referensi dan juga monograf memiliki beberapa persamaan. Diantaranya adalah:
Baca juga: 3 Perbedaan Buku Monograf dan Referensi & Persamaannya
Secara definisi, buku monograf adalah tulisan ilmiah dalam bentuk buku yang substansi pembahasannya hanya pada satu topik dalam satu bidang ilmu kompetensi dosen selaku penulis buku monograf tersebut.
Sedangkan buku referensi adalah tulisan ilmiah dalam bentuk buku yang substansi pembahasannya fokus pada satu bidang ilmu sehingga membahas beberapa topik sekaligus.
Jadi, jika dosen masih bingung harus menulis buku referensi atau monograf. Maka solusinya adalah memahami betul kegiatan penelitian yang sudah dilakukan apa saja. Jika masih terbatas, maka menulis buku referensi bisa dijadikan pilihan.
Sebab, dosen bisa berkolaborasi dengan dosen lain. Sehingga menyatukan hasil penelitian masing-masing dengan topik yang berkaitan di bidang keilmuan yang sama. Dosen pun lebih mudah menyusun naskah, karena tidak terbebani dengan jumlah halaman besar.
Dosen bisa fokus pada hasil penelitian yang didapatkan. Sisa halaman lainnya menjadi tanggung jawab dosen lain yang sepakat berkolaborasi dalam penyusunan buku referensi. Pembahasan juga tidak harus mendalam sebagaimana saat menyusun buku monograf.
Sebaliknya, jika dosen sudah melakukan penelitian yang cukup banyak. Kemudian bisa fokus di topik yang sama dan menguasai topik tersebut. Maka hasil dari beberapa penelitian bisa meningkatkan kedalaman pembahasan topik.
Pada kondisi ini, dosen ideal menulis buku monograf. Sebab isinya fokus pada 1 topik yang dikuasai dosen dan dibahas secara mendalam. Masing-masing dosen tentunya memiliki kondisi tersendiri. Sehingga akan ada yang cocok menulis referensi, ada juga yang lebih cocok menulis buku monograf.
Jika dosen masih merasa bingung harus menentukan buku referensi atau monograf. Maka berikut beberapa solusi yang bisa dilakukan:
Solusi pertama dalam menentukan pilihan, adalah mempertimbangkan kemampuan diri sendiri dalam memaparkan topik. Jika dosen sudah mampu memaparkan suatu topik secara mendalam, maka buku monograf bisa dipilih.
Begitu juga jika sebaliknya. Pada saat dosen masih kesulitan memperdalam penjabaran topik. Maka buku referensi menjadi pilihan lebih aman. Sebab bisa berkolaborasi dan dosen fokus pada topik yang dikuasai dan membahasnya sesuai pemahaman yang dimiliki.
Solusi kedua, dosen bisa memperhatikan riwayat publikasi buku ilmiah sebelumnya. Jika sebelumnya sudah menerbitkan buku referensi, maka bisa beralih ke buku monograf. Begitu juga sebaliknya. Sehingga dosen bisa menerbitkan berbagai jenis buku ilmiah. Hal ini bisa meningkatkan reputasi akademik dosen.
Solusi ketiga dalam menentukan antara buku referensi atau monograf adalah melihat kebutuhan institusi maupun mahasiswa. Jika institusi sudah terlalu banyak punya riwayat publikasi buku referensi. Maka dosen bisa fokus menerbitkan buku monograf. Jika mahasiswa membutuhkan buku referensi, maka dosen bisa menyesuaikan.
Solusi keempat adalah melihat potensi berkolaborasi. Secara umum, buku referensi maupun monograf bisa ditulis sendiri oleh dosen sebagai penulis tunggal maupun berkolaborasi.
Hanya saja di beberapa penerbit meminta buku referensi hasil kolaborasi. Jadi, jika kondisi memungkinkan untuk berkolaborasi dosen bisa mengutamakan buku referensi. Begitu juga sebaliknya.
Solusi berikutnya adalah menggunakan jasa profesional, khususnya konsultasi menulis. Sehingga mendapat panduan dan bantuan untuk memilih antara buku referensi atau buku monograf.
Sebagai rekomendasi, bisa mengakses layanan konsultasi menulis gratis dari Penerbit Deepublish. Detailnya bisa mengunjungi tautan berikut https://penerbitdeepublish.com/konsultasi-menulis-penerbit-buku/.
Melalui beberapa cara tersebut, tentunya bisa membantu dosen tepat menentukan pilihan. Apapun pilihannya, menulis buku referensi atau monograf sama baiknya. Sebab sama-sama menjadi bentuk penyebarluasan hasil penelitian dosen.
Karena belum memahami jenis buku ilmiah secara menyeluruh dan belum bisa membedakan keduanya. Selain itu, keterbatasan pengalaman menulis buku dan belum optimalnya kegiatan penelitian juga membuat dosen ragu menentukan pilihan.
Kuncinya ada pada kedalaman pembahasan. Jika pembahasan masih terbatas atau ingin menggabungkan beberapa topik, buku referensi lebih tepat. Jika sudah fokus pada satu topik dan mampu dibahas secara mendalam, maka monograf menjadi pilihan yang ideal.
Jika penelitian masih terbatas, buku referensi bisa menjadi solusi karena memungkinkan kolaborasi dengan dosen lain untuk menggabungkan beberapa hasil penelitian dalam satu bidang.
Karena keduanya memiliki nilai akademik yang sama (hingga 40 poin) dan sama-sama mendukung publikasi ilmiah serta pengembangan karier dosen.
Referensi:
Mengakses layanan kerjasama institusional (kerjasama perguruan tinggi) merupakan strategi penting untuk meningkatkan kinerja dan reputasi…
Kerjasama institusional atau kerjasama perguruan tinggi adalah kegiatan kerjasama antara perguruan tinggi dengan pihak eksternal…
Selain mengubah hasil penelitian menjadi buku. Dosen di Indonesia juga akan rutin mengubah hasil Pengabdian…
Dosen di Indonesia tentunya perlu memahami hubungan antara publikasi dan reputasi akademik. Keduanya sama-sama penting…
Dalam kenaikan jenjang jabatan akademik, dosen wajib memenuhi AK Kumulatif melalui Angka Kredit Prestasi dosen…
Angka kredit dosen adalah satuan nilai dalam bentuk per poin untuk setiap kinerja akademik dosen.…