Variabel Intervening: Jenis dan Kapan Perlu Digunakan dalam Penelitian 

variable intervening

Jenis variabel dalam penelitian sangat beragam. Jika dilihat dari aspek hubungan antarvariabel maka salah satu jenisnya adalah variabel intervening. Dalam penelitian yang bertujuan mencari tahu hubungan antarvariabel. Maka biasanya variabel jenis ini ditetapkan. 

Sehingga dalam penelitian bisa memunculkan 3 jenis variabel atau bahkan lebih. Namun, sudahkah Anda mengetahui apa itu variabel jenis intervening? Kemudian, kapan kira-kira variabel ini dibutuhkan dalam penelitian yang dilakukan? Berikut informasinya. 

Apa Itu Variabel Intervening dalam Penelitian?

Dikutip melalui Universitas Medan Area, variabel intervening adalah variabel antara yang dipengaruhi oleh variabel bebas tetapi mempengaruhi variabel tergantung. Sehingga variabel jenis ini sering disebut sebagai variabel perantara atau variabel mediator. 

Sebab memang keberadaannya akan membangun hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Variabel ini menjelaskan bagaimana atau mengapa variabel bebas mempengaruhi variabel terikat. 

Variabel jenis intervening tidak selalu bisa diukur. Hanya saja, dampaknya pada variabel terikat bisa dilihat oleh peneliti. Sehingga variabel ini memiliki peran krusial dalam menjembatani kejelasan hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. 

Jika dalam penelitian merasa cukup dengan dua variabel saja. Maka minimal akan ada variabel bebas dan variabel terikat. Namun, ketika peneliti membutuhkan kejelasan hubungan antara dua variabel tersebut. Maka akan ditetapkan variabel intervening. 

Sebagai contoh, peneliti ingin mengetahui hubungan motivasi belajar siswa dengan hasil belajar (nilai ujian, tingkat pemahaman, dll). Dalam penelitian ini, motivasi belajar siswa adalah variabel bebas. Sementara hasil belajar adalah variabel terikat. 

Secara logika, siswa dengan motivasi belajar tinggi akan meningkatkan hasil belajarnya. Hanya saja aktual di lapangan tidak selalu demikian. Maka menunjukan adanya variabel lain yang mempengaruhi hubungan motivasi belajar dengan hasil belajar siswa. 

Misalnya, peneliti memilih variabel “minat belajar”. Maka minat belajar disini adalah variabel jenis intervening. Sebab saat siswa punya motivasi belajar tinggi, maka minat belajarnya ikut tinggi. Jika minat belajarnya tinggi, maka hasil belajarnya juga lebih optimal. 

Minat belajar siswa tidak muncul sendirinya, akan tetapi ada faktor pemicu. Yakni motivasi belajar yang merupakan variabel bebas dalam penelitian. Jadi, variabel jenis intervening memperjelas hubungan variabel bebas dan terikat dalam penelitian tersebut. 

Jenis Variabel Intervening 

Variabel jenis intervening kemudian terbagi menjadi beberapa jenis. Jenis paling utama ada dua jenis variabel. Yakni variabel moderasi dan variabel mediasi. Berikut penjelasannya: 

1. Variabel Mediasi 

Variabel mediasi adalah kondisi ketika variabel jenis intervening bisa menjelaskan secara rinci hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Sehingga variabel jenis intervening menjelaskan bagaimana variabel bebas mempengaruhi variabel terikat. Kemudian bisa diketahui bentuk hubungan keduanya. 

Contohnya seperti contoh sebelumnya. Yakni hubungan antara variabel motivasi belajar dengan minat belajar dan pada akhirnya mempengaruhi hasil belajar. Sehingga di dalam variabel mediasi akan membentuk pola hubungan sebagai berikut: 

  • X → M → Y

Variabel bebas – Variabel intervening – variabel terikat. 

2. Variabel Moderasi 

Jenis kedua adalah variabel moderasi. Yaitu variabel jenis intervening yang dalam penelitian menunjukan bagaimana variabel bebas bisa memperkuat, melemahkan, maupun mengubah arah hubungan ke variabel terikat. 

Variabel moderasi akan membantu peneliti memahami efek atau dampak variabel tersebut ketika berada di tengah-tengah variabel bebas dan terikat. Contohnya: 

  • Variabel bebas: Motivasi belajar siswa 
  • Variabel intervening: Kedisiplinan belajar siswa. 
  • Variabel terikat: Hasil belajar siswa. 

Pada contoh tersebut, siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi tapi tidak disiplin belajar. Maka cenderung menurunkan kualitas hasil belajar. Pada beberapa siswa, motivasi belajar dan kedisiplinan belajar yang tinggi akan meningkatkan kualitas hasil belajar. 

Tujuan Penggunaan Variabel Intervening 

Tidak semua penelitian menggunakan variabel intervening. Dalam hal ini, tentunya dipengaruhi pilihan dan pertimbangan oleh peneliti. Namun, menggunakan variabel jenis ini bisa dipertimbangkan untuk penelitian dengan tujuan tertentu. Diantaranya adalah: 

1. Memperkaya Model Penelitian 

Tujuan yang pertama kenapa peneliti perlu mempertimbangkan penggunaan variabel jenis intervening adalah untuk memperkaya model penelitian. Model penelitian perlu dikembangkan dan disesuaikan dengan topik yang diteliti. 

Pada akhirnya, model penelitian tidak selalu membentuk hubungan variabel sederhana. Ada lebih banyak variabel yang mempengaruhi satu sama lain. Sehingga peneliti perlu memperhatikan lebih dari 2 variabel agar model penelitian tidak sederhana. Sehingga lebih relevan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat 

2. Memahami Hubungan Antarvariabel Penelitian 

Pada beberapa penelitian, tujuan utamanya memang untuk mengetahui hubungan dari beberapa variabel yang diteliti. Keberadaan variabel jenis intervening membantu memperjelas informasi mengenai hubungan tersebut. 

Misalnya seperti contoh sebelumnya, peneliti punya alasan kenapa mempertimbangkan pemakaian variabel “kedisiplinan belajar”, “minat belajar”, dan variabel jenis intervening lainnya. Sebab dengan menambahkan variabel ini, peneliti bisa lebih jelas dalam memahami hubungan dua variabel lain yang diteliti. 

3. Membantu Menguji Teori secara Komprehensif 

Tujuan ketiga kenapa variabel intervening perlu digunakan dalam penelitian adalah ketika ingin menguji teori. Khususnya secara komprehensif (luas, lengkap, rinci, dll). Jika peneliti mendapati suatu teori yang relevan dengan topik yang diteliti. 

Maka menggunakan variabel jenis intervening bisa membantu menguji teori tersebut. Apakah memang teori ini relevan dengan topik yang diteliti, kondisi aktual di lapangan, dan terhadap  faktor lain yang sering diabaikan peneliti lain. 

4. Menguatkan Konteks Hasil Penelitian 

Tujuan lainnya kenapa variabel jenis intervening penting untuk digunakan adalah untuk menguatkan konteks hasil penelitian. Hasil penelitian yang melibatkan dua variabel saja atau jenis variabel yang terbatas. Maka ada kemungkinan kehilangan konteks atau menjadi lemah konteksnya. 

Artinya, bisa jadi dengan hanya melibatkan variabel terbatas tanpa intervening. Maka peneliti hanya fokus pada variabel yang mencakup data statistik (data numerik – berupa angka). Padahal, di lapangan bisa jadi ada faktor lain yang tidak bisa diukur secara statistik. 

Jadi, untuk menguatkan konteks atau memperjelas hasil penelitian dan validitasnya. Peneliti bisa menambahkan variabel jenis intervening. Dimana membantu peneliti ikut memperhatikan variabel selain data dan angka statistik. 

Kelebihan

Penggunaan variabel intervening dalam penelitian juga memberi sejumlah manfaat. Hal ini diberikan melalui sejumlah kelebihan yang dimiliki. Berikut beberapa diantaranya: 

1. Memberi Pemahaman pada Hubungan Antarvariabel 

Sebagai variabel perantara diantara variabel bebas dengan variabel terikat. Tentunya salah satu kelebihan variabel jenis intervening adalah memperjelas hubungan dua variabel tersebut. 

Meski dalam penelitian tetap bisa dilakukan tanpa variabel jenis ini. Namun keberadaannya akan memperjelas bentuk hubungan dua variabel tersebut. Sehingga peneliti memahami secara mendalam apa hubungan keduanya. Apakah sebab akibat, saling mempengaruhi (hubungan timbal balik), atau lainnya. 

2. Menguji Hubungan Sebab – Akibat 

Kelebihan yang kedua, variabel jenis intervening bisa membantu peneliti dalam menguji hubungan sebab akibat. Sebab, dengan adanya variabel perantara maka peneliti bisa menguji ada variabel lain yang mempengaruhi atau tidak. 

Jika ada, maka ada kemungkinan merupakan variabel moderasi maupun mediasi. Dimana ada informasi lebih dalam mengenai hubungan antarvariabel. Peneliti bisa membuktikan apakah variabel bebas dan terikat punya hubungan sebab -akibat atau bisa berubah ke bentuk hubungan lainnya. 

3. Meningkatkan Keakuratan Hasil Penelitian 

Kelebihan lain yang dimiliki variabel perantara adalah mampu membantu meningkatkan akurasi dari hasil penelitian. Sebab sesuai penjelasan sebelumnya. Variabel jenis ini bisa membantu menguatkan konteks hasil penelitian. 

Sebab, peneliti tidak lagi hanya fokus pada faktor-faktor yang sudah terdata. Dimana sudah ada data statistik, faktor yang mudah terlihat, faktor umum, dan sejenisnya. Namun, dengan variabel perantara maka peneliti bisa memperhatikan faktor lainnya. Sehingga bisa meningkatkan akurasi dari hasil penelitian. 

Kekurangan

Meskipun memiliki beberapa kelebihan dan membuatnya bermanfaat. Variabel intervening juga tidak lepas dari sejumlah keterbatasan atau kekurangan. Misalnya: 

1. Pengukuran yang Sulit 

Salah satu karakteristik dari variabel perantara atau intervening adalah kadang tidak bisa diukur atau sulit diukur. Sehingga hal ini yang sekaligus menjadi kekurangannya dan kemudian perlu diperhatikan oleh peneliti. 

Pengukuran menjadi sulit, juga karena variabel perantara bersifat hipotesis. Sehingga seringkali belum terbukti ikut mempengaruhi variabel terikat. Hanya saja ketika dilakukan kajian mendalam dan studi kasus. Variabel ini bisa diketahui ikut mempengaruhi. Sehingga penelitian dilakukan sekaligus untuk mengujinya. 

2. Membutuhkan Interpretasi 

Kekurangan berikutnya, variabel perantara membutuhkan interpretasi oleh peneliti. Sifatnya yang hipotesis dan kadang tidak bisa diukur karena sifatnya bukan numerik. Maka membutuhkan interpretasi yang hati-hati, penuh ketelitian, dan tidak bisa buru-buru. 

Tidak semua peneliti bisa dengan mudah melakukan interpretasi pada variabel perantara. Selain itu, ada faktor lain yang membuat variabel perantara kurang ideal digunakan. Misalnya karena keterbatasan waktu atau sumber daya lain. Sehingga menuntut peneliti fokus pada variabel bebas dan terikat saja. 

Kapan Variabel Intervening Digunakan?

Secara umum, memang tidak semua penelitian perlu menggunakan variabel intervening. Hal ini juga yang sudah disebutkan dan dijelaskan sebelumnya. Namun, ada beberapa kondisi yang membuat peneliti perlu mempertimbangkan penggunaan variabel ini. Seperti: 

1. Memiliki Hipotesis dan Ingin Mengujinya 

Pada saat menentukan topik penelitian dengan mengamati sekitar ata dengan metode lain. Ada kalanya, peneliti mendapati suatu kondisi yang tidak mencerminkan teori yang ada 100%. 

Hal ini tentu membuat peneliti punya pandangan dan menjadi hipotesis. Penelitian bisa dilakukan untuk menguji hipotesis tersebut. Dimana hipotesis ini dijadikan variabel perantara. 

2. Memahami Hubungan Antarvariabel dengan Mendalam 

Kondisi kedua yang membuat penggunaan variabel perantara dalam kondisi ideal adalah ketika peneliti ingin memahami hubungan antarvariabel. Jadi, peneliti tidak hanya mengetahui hubungan dua variabel atau lebih membentuk pola sebab – akibat, timbal balik, atau lainnya. 

Melainkan juga ingin mengetahui bagaimana hubungan tersebut bisa terbentuk. Contoh lain, peneliti ingin mengetahui mengapa hubungan tersebut bisa terbentuk dari dua variabel atau lebih yang diteliti. 

3. Mendapati Hasil Penelitian Terdahulu Inkonsisten 

Kondisi selanjutnya yang membuat variabel perantara perlu dipertimbangkan adalah ketika mendapati hasil penelitian  terdahulu inkonsisten atau tidak konsisten. Jika ada beberapa penelitian dengan sejumlah persamaan. 

Kemudian ada inkonsistensi. Maka akan menciptakan hipotesis dan dijadikan variabel perantara. Dalam kondisi ini, tentunya peneliti perlu memperhatikan faktor lain yang mempengaruhi sejumlah variabel di penelitian terdahulu. Kemudian menjadi variabel perantara. 

Jika dalam penelitian yang akan dilakukan menghadapi kondisi dan situasi di atas. Maka tentu bisa mempertimbangkan untuk menggunakan variabel intervening. Sehingga bisa membantu memperkaya model penelitian dan meningkatkan akurasi hasil penelitian.

Artikel Penulisan Buku Pendidikan