Daftar Isi
Salah satu kunci sukses dalam menerapkan kurikulum OBE adalah memahami prinsip dan karakteristik kurikulum OBE tersebut. Sehingga para dosen bisa memahami apa saja yang menjadi prinsip dasar dalam implementasinya.
Sekaligus karakteristik yang harus dipenuhi agar kurikulum yang dijalankan bisa disebut kurikulum OBE. Kemudian membedakannya dengan kurikulum terdahulu. Pemahaman ini akan menunjang kelancaran dalam implementasi kurikulum OBE. Berikut informasinya.
Sekilas Tentang Kurikulum OBE
Kurikulum OBE adalah sebuah kurikulum pendidikan tinggi yang memiliki dan menggunakan pendekatan pembelajaran mengutamakan pencapaian hasil belajar yang telah ditentukan sebelumnya.
Kurikulum ini akan fokus menjalankan kegiatan pembelajaran atau perkuliahan yang menanamkan kompetensi kepada mahasiswa. Sehingga mahasiswa menguasai lebih banyak kompetensi praktis yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja atau industri.
Implementasinya menjadi lebih mudah dengan memahami prinsip dan karakteristik kurikulum OBE. Sebab memang khas dan menjadi panduan bagi para dosen untuk memahami tahapan-tahapan implementasinya.
Sebagai kurikulum yang masih terbilang baru di ruang lingkup pendidikan tinggi di Indonesia. Tentunya para dosen perlu mempelajari kurikulum ini dengan baik. Sehingga bisa menerapkannya sebaik mungkin dan memaksimalkan pencapaian tujuan kurikulum ini.
Prinsip Dasar dari Kurikulum OBE
Dikutip dari Universitas Negeri Surabaya, kurikulum OBE memiliki 4 prinsip dasar yang menjadi pilar utama. Melalui 4 prinsip ini maka akan memudahkan proses implementasi kurikulum dan mencapai hasil pembelajaran sesuai harapan.
Dalam prinsip dan karakteristik kurikulum OBE, khusus untuk prinsip sendiri ada 4 poin. Adapun 4 prinsip utama kurikulum OBE disingkat dengan istilah SCSC. Berikut detail penjelasannya:
1. Clarity of Focus (Fokus yang Jelas)
Prinsip dasar yang pertama di dalam kurikulum OBE adalah Clarity of Focus atau fokus yang jelas. Artinya, kurikulum OBE memiliki prinsip punya fokus yang jelas sejak pertama kali diterapkan.
Dosen yang menerapkan kurikulum ini dalam pembelajaran atau perkuliahan akan menentukan fokus utama di awal. Yakni pada hasil (outcomes) yang harus diraih oleh mahasiswa.
Dimana hasil disini menunjukan kompetensi mahasiswa setelah mengikuti mata kuliah dalam satu semester maupun setelah lulus kuliah dari suatu program studi atau jurusan. Pembelajaran akan diarahkan fokus pada fokus utama tersebut. Sehingga fokus utama harus jelas dan terukur.
2. Designing Backwards (Perancangan Mundur)
Prinsip dasar yang kedua di dalam kurikulum OBE adalah designing backward atau dirancang dengan pola mundur. Artinya, kurikulum OBE diterapkan dengan model menentukan hasil akhir dulu baru proses untuk mencapai hasil tersebut.
Oleh sebab itu, di dalam menyusun RPS berbasis OBE para dosen akan menentukan CPL terlebih dahulu. Baru kemudian menentukan CPMK dan Sub-CPMK.
Jadi, dosen akan menentukan dulu hasil (outcomes) atau kompetensi apa yang harus dikuasai mahasiswa di akhir semester. Yakni kompetensi yang dikuasai usai mengikuti perkuliahan mata kuliah yang diampu dosen.
Baru kemudian materi apa saja yang akan disampaikan ke mahasiswa, bagaimana metode pembelajarannya, bagaimana latihan soal atau sistem penilaiannya, dan sebagainya. Semua ini akan diarahkan untuk mencapai kompetensi yang ditentukan sebelumnya.
3. High Expectations (Ekspektasi yang Tinggi)
Prinsip dan karakteristik kurikulum OBE berikutnya adalah high expectation atau ekspektasi yang tinggi. Artinya, penerapan kurikulum OBE punya standar yang tinggi dan menjadi tantangan bagi mahasiswa untuk memenuhi standar tersebut.
Kompetensi yang harus dikuasai mahasiswa adalah kompetensi terkini dan dibutuhkan dunia kerja atau industri. Kompetensi in tentu tidak mudah dikuasai. Kemudian, setiap mahasiswa punya masanya sendiri menguasainya.
Dosen memberi fasilitas sesuai kebutuhan masing-masing siswa. Sekaligus memberi ruang bagi semua mahasiswa dalam menguasai kompetensi tersebut. Sehingga tidak fokus menilai mahasiswa mana yang lebih dulu menguasai kompetensi. Namun, bagaimana kompetensi tersebut dikuasai dengan baik.
4. Expanded Opportunities (Kesempatan yang Luas)
Prinsip dasar terakhir di dalam kurikulum OBE adalah expanded opportunities atau kesempatan yang luas. Artinya, kurikulum OBE memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk menentukan gaya belajar yang dirasa paling efektif dalam menguasai kompetensi yang ditetapkan dosen.
Dalam kurikulum OBE, sifat penerapannya beragam dan salah satunya adalah fleksibel. Fleksibel dari sisi mahasiswa, adalah fleksibilitas dalam menentukan gaya belajar. Mahasiswa menjadi pusat pembelajaran dan dibebaskan untuk bisa lebih aktif serta mampu menguasai kompetensi.
Mahasiswa diberi kebebasan untuk menentukan media pembelajaran mana saja yang akan digunakan, sumber materi apa saja yang akan dipakai, dan sebagainya. Sehingga mahasiswa belajar sesuai gaya belajar yang dimiliki. Namun harus bertanggung jawab, yakni memastikan menguasai kompetensi yang ditetapkan.
Karakteristik Kurikulum OBE
Dalam membahas prinsip dan karakteristik kurikulum OBE, setelah prinsip tentu akan berlanjut ke karakteristik. Karakteristik atau ciri khas tentu dimiliki setiap kurikulum di pendidikan tinggi. Begitu juga pada kurikulum OBE, dan berikut beberapa karakteristiknya:
1. Memiliki Tujuan Pembelajaran yang Jelas
Karakteristik yang pertama dari kurikulum OBE adalah memiliki tujuan yang jelas. Tujuan pendidikan tinggi dikatakan jelas ketika spesifik, sehingga fokus pada satu titik tanpa melebar kemana-mana.
Kemudian, tujuan pembelajaran tersebut juga harus terukur. Sehingga tujuan pembelajaran bisa diukur untuk memudahkan proses mencapai tujuan tersebut. Sekaligus memudahkan dalam menentukan apakah tujuan sudah tercapai, masih dalam proses, atau belum sama sekali.
Tujuan yang dimaksud disini adalah pada penetapan hasil pembelajaran yang ingin dicapai. Dosen harus jelas, dan menentukan kompetensi apa yang perlu dikuasai mahasiswa setelah mengikuti mata kuliahnya dalam kurun satu semester. Sehingga mahasiswa juga bisa memahami bagaimana menguasai kompetensi tersebut.
2. Kurikulum Selaras dengan Tujuan Perguruan Tinggi
Karakteristik kedua di dalam kurikulum OBE adalah berjalan selaras dengan tujuan perguruan tinggi. Sehingga penerapannya memiliki fokus dan tujuan yang selaras dengan visi dan misi perguruan tinggi.
Misalnya, perguruan tinggi memiliki misi menjadi institusi yang mampu melahirkan lulusan yang menguasai 4 kompetensi. Maka seluruh fakultas dan program studi atau jurusan di bawah naungannya akan bekerjasama untuk mencapai misi tersebut.
Sehingga tidak ada program studi maupun fakultas yang berjalan sendiri karena punya tujuan yang terpisah dengan visi misi perguruan tinggi. Semua akan menyatukan visi dan misi.
3. Menggunakan Pendekatan yang Berpusat pada Mahasiswa
Poin ketiga yang menjadi karakteristik kurikulum OBE adalah menggunakan pendekatan yang berpusat pada mahasiswa. Berbeda dengan kurikulum lama yang diterapkan di perguruan tinggi di Indonesia yang berfokus pada dosen.
Sehingga menjadikan dosen sebagai pusat pembelajaran. Mahasiswa akan sangat bergantung pada dosen tersebut untuk memahami materi pembelajaran. Pada kurikulum OBE, dosen bukan lagi pusat melainkan mahasiswa.
Dosen memiliki peran sebagai fasilitator yang membantu mahasiswa menguasai kompetensi sesuai CPMK dan CPL. Metode pembelajaran yang diterapkan dosen akan membuat mahasiswa sebagai fokus utama. Misalnya metode pembelajaran berbasis proyek, studi kasus, diskusi, dan sejenisnya.
4. Penilaian Fokus pada Hasil Pembelajaran (Kompetensi)
Karakteristik lainnya yang dimiliki kurikulum OBE adalah penilaian yang fokus pada hasil pembelajaran. Bukan lagi pada tingkat pemahaman materi secara teori. Melainkan kompetensi untuk bisa menerapkan atau mempraktekkan materi pembelajaran.
Sehingga dosen tidak lagi melakukan penilaian dengan ujian tertulis. Kemudian mengandalkan hasil ujian tertulis tersebut sebagai sumber nilai selain nilai dari aspek lain. Seperti nilai tugas kuliah, absensi, dan sebagainya.
Namun, penilaian akan fokus pada hasil pembelajaran. Seperti pada kemampuan mahasiswa mempresentasikan suatu teori atau materi, proyek yang dikerjakan, karya tulis ilmiah yang disusun, dan juga pada portofolio. Misalnya hasil membuat desain grafis, hasil membuat rancangan program, pengalaman magang.
Baca Juga: Tata Cara Menyusun Buku Ajar Berbasis OBE
Tantangan dalam Penerapan Kurikulum OBE
Setelah memahami apa saja yang menjadi prinsip dan karakteristik kurikulum OBE. Maka penting juga untuk mengetahui apa saja yang menjadi tantangan dalam menerapkan kurikulum berbasis hasil pembelajaran satu ini. Diantaranya adalah:
1. Meningkatkan Beban Kerja Dosen
Tantangan yang pertama adalah pada peningkatan beban kerja bagi dosen. Tantangan ini muncul karena kurikulum OBE berfokus pada hasil pembelajaran. Sehingga membutuhkan rancangan pembelajaran yang detail.
Misalnya pada RPS berbasis OBE, tidak hanya berisi rencana materi perkuliahan. Namun dilengkapi rubrik penilaian. Sebab hasil pembelajaran dalam bentuk penguasaan kompetensi tidak cukup hanya dinilai 1-10. Melainkan harus dalam sejumlah indikator pencapaian agar menyeluruh.
Proses merancangnya butuh waktu oleh dosen dan perguruan tinggi yang menaungi. Sehingga menjadi beban tambahan jika dibandingkan dengan penerapan kurikulum yang berjalan sebelumnya (kurikulum terdahulu).
2. Keterbatasan Sumber Daya dan Infrastruktur
Tantangan kedua, adanya keterbatasan sumber daya dan infrastruktur. Kurikulum OBE menciptakan peluang diterapkannya berbagai metode pembelajaran. Kemudian berpusat pada mahasiswa yang membuat mereka mandiri.
Ketika tidak ditunjang oleh fasilitas yang memadai dari dosen maupun perguruan tinggi. Maka penerapannya menjadi sulit, sangat sulit, dan bahkan nyaris mustahil. Oleh sebab itu, butuh waktu agar semua perguruan tinggi punya sumber daya yang memadai untuk menerapkan kurikulum ini.
3. Tantangan dalam Melakukan Penilaian
Tantangan selanjutnya, adalah dalam proses penilaian. Tantangan ini muncul, karena menilai kompetensi mahasiswa tidak semudah ketika diucapkan atau ditulis. Misalnya, kemampuan mahasiswa menjelaskan teori X.
Mahasiswa bisa saja terbata-bata, akan tetapi bisa menyelesaikan sampai tuntas. Ada juga yang sangat lancar menjelaskan ulang. Lalu, apakah keduanya punya nilai sama tinggi, padahal salah satunya lebih baik?
Maka ada rubrik penilaian, dimana menilai dari indikator tertentu untuk melakukan penilaian menyeluruh. Pada akhirnya, kompetensi yang terukur lebih rumit untuk dinilai dibanding penilaian berbasis hasil ujian tertulis pada kurikulum terdahulu.
4. Potensi Adanya Dampak Negatif Kurikulum OBE
Tantangan lainnya dari penerapan kurikulum OBE adalah potensi dampak negatifnya. Misalnya pada kompetensi pedagogik dosen. Mahasiswa sebagai pusat pembelajaran membuat mereka mandiri.
Dosen ada resiko kehilangan kemampuan atau mengalami penurunan kemampuan pedagogik. Begitu juga dengan kompetensi dasar lain yang menjadi wajib dikuasai oleh dosen. Sebab menjadikannya jarang diterapkan.
Jika dilihat dari sisi mahasiswa, kurikulum OBE membuat mereka tahu dari awal apa tujuan pembelajaran. Kemudian bisa dengan mudah mengikuti arus dan perlahan menjadi bosan dengan alur pembelajaran yang berulang. Sehingga merasa tidak ada hal baru dalam proses perkuliahan saat bertemu dengan dosen.
Dengan berbagai tantangan tersebut, tentu perlu adanya persiapan untuk mengantisipasi berbagai resiko yang mungkin terjadi. Sehingga penerapannya nanti bisa atau sudah sesuai dengan prinsip dan karakteristik kurikulum OBE secara umum.





