Kajian Teori: Beda dengan Kajian Pustaka dan Cara Menyusunnya 

kajian teori

Salah satu bab atau bagian di dalam karya tulis ilmiah adalah kajian teori (landasan teori). Menariknya, bagian ini sering dianggap sama dengan tinjauan pustaka (kajian pustaka). Bahkan dalam sejumlah karya tulis, misalnya skripsi. Keduanya disusun dalam satu bab yang sama. 

Perlu dipahami bahwa keduanya berbeda yang kemudian bisa dilihat dari isinya. Memahami perbedaan keduanya, bisa dimulai dengan memahami masing-masing secara mendalam. Termasuk memahami apa dan bagaimana cara menyusun landasan teori pada karya ilmiah. Berikut informasinya. 

Apa Itu Kajian Teori?

Dikutip melalui Sampoerna University, kajian teori adalah sebuah konsep yang disusun dengan rapi tentang sebuah hal yang akan diteliti dalam tulisan tersebut. Kajian teori juga sering disebut dengan istilah landasan teori. Maka ada yang menamakan bab ini kajian teori, ada juga yang menamai babnya landasan teori. 

Secara sederhana, landasan teori adalah kumpulan teori yang disampaikan para ahli di suatu bidang keilmuan dan menjadi dasar dalam melaksanakan penelitian serta penyusunan karya tulis ilmiah. 

Misalnya, pada saat meneliti atau menyusun karya ilmiah dengan topik “Perubahan Iklim”. Maka tentu akan mencari definisi atau pengertian perubahan iklim tersebut. Sehingga mencari definisi dari berbagai publikasi ilmiah. 

Salah satu atau beberapa artikel pada jurnal, buku, dan sebagainya menjelaskan definisinya. Maka definisi ini dikutip dan dicantumkan di dalam naskah karya ilmiah yang sedang dikerjakan. 

Biasanya dalam satu topik atau di satu karya ilmiah akan ada kumpulan beberapa teori dan dijelaskan definisi dan detail lainnya. Aspek yang menentukan adalah topik dan judul karya ilmiah tersebut. Semakin banyak unsur di dalam judul, maka semakin banyak teori yang dipaparkan di dalam naskah. Begitu juga sebaliknya. 

Perbedaan Kajian Teori dan Tinjauan Pustaka

Membahas mengenai kajian teori, memang akan sering dikaitkan dan disamakan dengan kajian pustaka (tinjauan pustaka). Terlebih, sangat mudah dijumpai karya ilmiah yang menyatukan keduanya dalam satu bab. Hal ini tidak keliru, karena struktur karya ilmiah secara umum memang demikian. 

Namun, ketika ditempatkan di bab yang sama maka bukan berarti keduanya sama. Melainkan berbeda. Berikut detailnya: 

1. Definisi

Perbedaan antara landasan teori dengan tinjauan pustaka bisa langsung dipahami dari definisi. Sesuai penjelasan sebelumnya, landasan teori adalah kumpulan sejumlah teori yang menjadi dasar dalam penelitian atau penyusunan karya tulis ilmiah. 

Sedangkan tinjauan pustaka (kajian pustaka) adalah kumpulan dan rangkuman hasil penelitian terdahulu pada topik yang sama. Sehingga menjelaskan hasil penelitian sebelumnya dan mencantumkan research gap serta kebaruan pada penelitian yang sedang atau akan dilakukan. 

2. Jenis Isi atau Konten 

Berdasarkan penjelasan di poin sebelumnya, maka tentu menjelaskan ada perbedaan isi atau konten. Isi di dalam kajian teori adalah kumpulan teori yang dikemukakan ahli atau bersumber dari sejumlah publikasi ilmiah. 

Semua teori ini dijelaskan dan dicantumkan sebagai penjelasan atau informasi terkait topik yang diteliti. Serta menjelaskan definisi dari judul penelitian atau judul karya ilmiah. Sehingga bisa dipahami oleh para pembaca. 

Sementara pada bagian kajian pustaka, isinya adalah kumpulan hasil penelitian terdahulu pada topik yang sama. Kemudian, mencantumkan juga research gap pada penelitian terdahulu. Disusul penjelasan mengenai novelty (kebaruan) dari penelitian yang akan dan sudah dilakukan oleh penulis.  

3. Fokus Utama 

Poin ketiga yang menunjukan perbedaan antara kajian pustaka dengan teori adalah fokus utamanya. Pada kajian atau landasan teori, fokus utamanya adalah menjelaskan teori dan konsep dari karya tulis atau penelitian. 

Sementara fokus utama dalam penyusunan kajian pustaka adalah himpunan dan rangkuman dari hasil penelitian terdahulu. Sehingga memberi informasi kepada pembaca apa yang membedakan penelitian yang dilakukan penulis dengan penelitian sebelumnya. 

4. Tujuan Penyusunan 

Perbedaan antara landasan teori dengan  tinjauan pustaka juga bisa dilihat dari aspek tujuan penyusunan. Secara umum, landasan teori bertujuan untuk memaparkan dasar-dasar penelitian secara teoritis. 

Sekaligus menjelaskan kepada pembaca bahwa penelitian dan penyusunan karya ilmiah memiliki landasan atau dasar yang kuat. Kemudian bukan dari opini atau argumen pribadi penulis. Melainkan berdasarkan teori dan pendapat para ahli. 

Sementara tujuan dari penyusunan tinjauan pustaka adalah untuk penelitian terdahulu, apa research gap yang berhasil ditemukan, dan kebaruan apa yang ditawarkan oleh penulis kepada pembaca dan kemajuan iptek secara lebih luas. 

5. Sumber 

Hal selanjutnya yang menjadi perbedaan antara kajian teori dengan kajian pustaka adalah sumber. Meski sama-sama bisa bersumber dari berbagai publikasi ilmiah. Namun, ada sedikit perbedaan yang menjadikan keduanya punya sumber berbeda. 

Secara umum, landasan teori yang menyajikan berbagai teori mendasari penelitian dan penulisan karya ilmiah. Diambil atau mengutip dari buku dan artikel ilmiah pada jurnal maupun prosiding yang mengacu pada hasil kajian literatur. 

Sementara kajian pustaka yang berisi rangkuman hasil penelitian terdahulu, biasanya memprioritaskan publikasi ilmiah dalam bentuk jurnal. Sebab umumnya hasil penelitian akan langsung disebarluaskan lewat jurnal ilmiah. Baru kemudian ke buku ilmiah. Sehingga mampu menyajikan hasil penelitian paling terkini. 

6. Pendekatan yang Digunakan 

Berhubung di dalam kajian teori akan memaparkan kumpulan teori yang menjadi dasar penelitian dan penyusunan karya ilmiah. Maka dari aspek pendekatan, tentu akan mengutamakan pendekatan teoritis. 

Penulis tidak perlu melakukan tinjauan ke lapangan, observasi, dan tindakan lain. Selain dari membaca sejumlah teori yang dikemukakan sejumlah ahli. Hasilnya kemudian disajikan secara deskriptif, sehingga digambarkan apa adanya sesuai teori yang berhasil didapatkan, dikumpulkan, dan dipilih dengan teliti. 

Sementara pendekatan dalam menyusun bagian kajian pustaka adalah pendekatan analitis. Sebab, dari sejumlah penelitian terdahulu perlu dianalisis untuk diketahui hasilnya apa saja dan apa yang menjadi research gap dengan penelitian yang dimiliki. Hasilnya kemudian disajikan dalam bentuk ulasan kritis. 

7. Hasil (Output) 

Aspek terakhir yang menjadi pembeda antara kajian pustaka dengan kajian teori adalah hasil (output). Keduanya sama-sama disajikan dalam bentuk teks atau  tulisan (karya tulis ilmiah). 

Hanya saja, hasil susunan landasan teori akan memaparkan kerangka konseptual penelitian. Sehingga menjabarkan seluruh teori yang menjadi dasar dilakukannya penelitian tersebut. 

Sementara di dalam kajian pustaka, hasilnya adalah argumen peneliti terkait research gap. Disusul argumen peneliti terkait kebaruan yang dimiliki penelitian yang akan atau yang sudah dilakukan. 

Cara Membuat Kajian Teori dalam Penelitian

Setelah memahami apa itu kajian teori dan apa saja yang membedakannya dengan kajian pustaka. Maka tentu perlu memahami bagaimana cara menyusun bagian landasan teori tersebut. 

Terdapat beberapa langkah yang harus dilalui penulis agar landasan teori tersusun dengan baik dan benar. Berikut penjelasannya: 

1. Mengidentifikasi Variabel Penelitian 

Langkah yang pertama dalam menyusun landasan teori adalah mengidentifikasi dulu variabel-variabel penelitian. Secara umum, suatu penelitian punya setidaknya dua variabel. Namun, pada beberapa penelitian punya lebih banyak variabel. 

Silahkan ditentukan dulu sebelum masuk ke langkah berikutnya. Sebab, variabel-variabel penelitian ini akan menentukan teori apa saja yang dibutuhkan. Kemudian teori tersebut dicantumkan di dalam naskah karya ilmiah. 

Sehingga ada relevansi antara variabel dengan teori yang dijabarkan. Dimana variabel penelitian juga akan tercantum pada judul. Jadi, jangan sampai teori yang dijabarkan tidak sesuai atau tidak relevan dengan judul penelitian. 

2. Mencari Referensi yang Relevan 

Jika variabel penelitian sudah ditentukan, maka masuk ke tahap mencari referensi yang relevan. Referensi ilmiah untuk penelitian dan penyusunan karya ilmiah memiliki sejumlah kriteria. Yakni relevan, kredibel, dan terkini (publikasi baru). 

Gunakan teknologi untuk membantu mencari referensi ilmiah yang relevan dan potensial. Misalnya melalui database jurnal maupun prosiding, perpustakaan, toko buku, meminta rekomendasi referensi dari dosen atau teman, dan sebagainya. 

Kumpulkan sebanyak mungkin, sebab semakin banyak referensi ditemukan semakin mudah mendapatkan referensi terbaik. Jangan sampai menggunakan referensi dengan mutu kurang dan kredibilitas yang rendah. Sebab akan mempengaruhi mutu penelitian dan karya ilmiah yang disusun. 

3. Memilih Referensi yang Paling Relevan

Seluruh referensi ilmiah yang dicari dan dikumpulkan di tahap sebelumnya, belum tentu bisa digunakan semuanya. Maka ada tahap penyortiran. Yakni menyaring dan memilih referensi mana saja yang paling relevan. Sekaligus yang paling tepat untuk digunakan. 

Misalnya, jika memiliki 3 referensi ilmiah dengan topik yang relevan. Kemudian bisa menganalisis berdasarkan referensi mana yang paling kredibel, mana yang terbit paling akhir (paling baru), mana yang mudah dipahami, dan aspek lainnya. 

Jadi, silahkan menentukan pilihan dengan melakukan penyaringan secara ketat. Sehingga mampu mendapatkan referensi ilmiah terbaik dari yang terbaik. Yakni yang paling relevan, paling kredibel, dan paling terkini. 

4. Menguraikan Teori Secara Sistematis 

Tahap keempat, penulis bisa mulai menguraikan teori yang ditemukan dan dinilai sudah relevan dengan topik penelitian. Berhubung ada beberapa variabel yang akan dijelaskan dasar teorinya. Maka seluruh teori disusun secara sistematis sehingga membentuk urutan logis. 

Cara termudah adalah didasarkan pada judul penelitian. Setiap variabel penelitian akan masuk ke judul dan disusun membentuk kalimat efektif. Maka setiap variabel disusun berurutan sesuai urutan penyebutan di judul. 

Contohnya, jika judul penelitian adalah “Pengembangan Paragraf dalam Menyusun Karya Tulis”. Maka teori yang dicantumkan bisa dimulai dari definisi paragraf, jenis pengembangan paragraf, dan definisi karya tulis. Sehingga kajian teori bisa menjelaskan definisi judul penelitian dengan runtut dan mudah dipahami. 

5. Merumuskan Hipotesis (Penelitian Kuantitatif) 

Tahap kelima dalam menyusun landasan teori adalah merumuskan hipotesis. Tahap ini berlaku untuk penelitian yang menggunakan metode kuantitatif. Sehingga seluruh teori yang dikemukakan memunculkan dugaan sementara oleh peneliti. 

Dugaan sementara ini yang kemudian disebut hipotesis dan dicantumkan di karya ilmiah. Dalam penelitian, hipotesis akan dicantumkan di bagian landasan teori pada proposal penelitian, laporan penelitian, dan luaran berbentuk publikasi ilmiah. 

Jika Anda menggunakan metode penelitian kualitatif, kemudian tidak merasa membutuhkan hipotesis. Maka tahap ini bisa dilewati dan bisa langsung ke tahap berikutnya. 

6. Dibaca Ulang dan Koreksi Jika Dibutuhkan 

Tahap akhir dalam menyusun landasan teori adalah tahap editing mandiri. Diisi dengan kegiatan membaca ulang, menganalisis ada tidaknya kesalahan, dan kemudian melakukan koreksi atau perbaikan. 

Bisa mencakup hal-hal teknis. Seperti pemilihan kosakata, struktur kalimat dan paragraf, penggunaan tanda baca, ada tidaknya kesalahan ketik (typo), dan sebagainya. 

Jika memungkinkan, bisa juga melakukan proses penyuntingan mandiri. Misalnya mengecek gaya bahasa, teknik penyajian data, dll. Tahap ini penting untuk menurunkan resiko ada kesalahan pada naskah. Sehingga dilakukan perbaikan lebih dini. 

Contoh Kajian Teori

Memahami bahwa kajian teori berisi seluruh teori yang menjadi dasar penelitian dan penulisan karya ilmiah. Maka tentu akan ada banyak teori dipaparkan dan wajib disusun secara sistematis agar enak dibaca serta mudah dipahami. 

Membantu menyusun landasan teori secara sistematis, berikut beberapa contohnya dalam versi pendek (fokus menjabarkan 1 teori): 

Contoh Kajian Teori 1

Kajian Teori Motivasi Belajar

Motivasi belajar merupakan dorongan internal dan eksternal yang mempengaruhi kemauan, intensitas, serta ketekunan individu dalam mengikuti proses pembelajaran. Menurut Maslow, motivasi berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan manusia yang tersusun secara hierarkis, mulai dari kebutuhan fisiologis hingga aktualisasi diri. Dalam konteks pendidikan, kebutuhan akan penghargaan dan aktualisasi diri menjadi pendorong utama bagi mahasiswa untuk mencapai prestasi akademik yang optimal.

Selain itu, Herzberg membedakan motivasi menjadi faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik, seperti minat belajar dan kepuasan terhadap proses pembelajaran, berperan langsung dalam meningkatkan keterlibatan mahasiswa. Sementara itu, faktor ekstrinsik, seperti nilai, pujian, dan penghargaan, berfungsi sebagai penguat perilaku belajar. Berdasarkan teori-teori tersebut, motivasi belajar dapat dipahami sebagai faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan belajar mahasiswa.

Contoh Kajian Teori 2

Kajian Teori Sistem Informasi Akuntansi

Sistem Informasi Akuntansi (SIA) merupakan suatu sistem yang mengintegrasikan manusia, prosedur, data, dan teknologi untuk menghasilkan informasi keuangan yang berguna bagi pengambilan keputusan. Menurut Romney dan Steinbart, SIA dirancang untuk mengumpulkan, mencatat, menyimpan, dan mengolah data transaksi sehingga menghasilkan informasi yang relevan dan andal.

Teori sistem memandang SIA sebagai bagian dari sistem organisasi yang terdiri atas komponen input, proses, dan output yang saling berkaitan. Kualitas informasi yang dihasilkan oleh SIA ditentukan oleh akurasi, ketepatan waktu, dan relevansi informasi tersebut. Dengan demikian, penerapan sistem informasi akuntansi yang efektif akan mendukung efisiensi operasional serta meningkatkan kualitas pengambilan keputusan manajerial.

Sesuai penjelasan sebelumnya, teori di dalam landasan teori akan sesuai dengan judul penelitian. Jadi, semua variabel akan dipaparkan dasar teoritisnya apa. Oleh sebab itu, seluruh teori ini akan disusun sistematis dan dalam bentuk penomoran (listicle). Berikut contohnya: 

Judul:  “Pengembangan Paragraf dalam Menyusun Karya Tulis”.

Bab II Kajian Teori 

  1. Paragraf 
  1. Definisi Paragraf 
  2. Unsur Penyusun Paragraf 
  3. Fungsi Paragraf 
  4. dan seterusnya. 
  1. Pengembangan Paragraf 
  1. Definisi Pengembangan Paragraf 
  2. Jenis-Jenis Pengembangan Paragraf 
  3. dan seterusnya. 
  1. Karya Tulis 
  1. Definisi Karya Tulis 
  2. Jenis-Jenis Karya Tulis 
  3. dan seterusnya. 

Tips Menyusun Bab Kajian Teori 

Membantu menyempurnakan bab kajian teori yang disusun di dalam karya tulis ilmiah. Maka berikut beberapa tips yang perlu diterapkan: 

  1. Menjelaskan teori yang berkaitan langsung (relevan) dengan variabel penelitian. Usahakan terfokus dan tidak melebar ke variabel lain. 
  2. Hindari terlalu banyak teori, sedikit tapi relevan, kredibel, dan bisa dirangkum menjadi pilihan terbaik. 
  3. Mengutamakan teori yang bersumber dari sumber primer, jika tidak memungkinkan maka utamakan sumber sekunder. 
  4. Menyusun kerangka konseptual agar landasan teori tersusun sistematis dan mudah dikembangkan. Contoh kerangka konseptual: Teori Maslow → Motivasi Kerja → Peningkatan Kinerja Karyawan
  5. Setiap teori dari referensi yang digunakan wajib dilakukan sitasi. Sitasi bisa di dalam kutipan maupun catatan kaki sesuai ketentuan gaya sitasi yang digunakan. Kemudian wajib masuk ke halaman daftar pustaka agar tidak plagiat. 

Artikel Penulisan Buku Pendidikan