Dalam menulis buku ilmiah, termasuk buku referensi para dosen mungkin menghadapi berbagai kendala. Kendala-kendala inilah yang kemudian menjadi kesalahan menyusun buku referensi yang tidak bisa dihindari oleh dosen para dosen.
Menghindari berbagai kesalahan tersebut tentunya sangat penting. Sebab kesalahan-kesalahan ini bisa menurunkan kualitas buku referensi yang disusun. Bahkan kesalahan tertentu membuatnya tidak bisa diklaim saat pelaporan BKD maupun penilaian AK Prestasi. Berikut informasinya.
Sekilas Tentang Buku Referensi
Sebelum membahas secara rinci apa saja kesalahan menyusun buku referensi yang dilakukan dosen. Maka bisa memahami dulu beberapa hal mendasar, termasuk definisi dari buku referensi tersebut.
Buku referensi adalah salah satu jenis buku ilmiah yang membahas mengenai beberapa topik dari suatu bidang keilmuan dan didasarkan pada hasil penelitian. Buku ilmiah ini disusun oleh kalangan dosen di Indonesia.
Kegiatan penelitian yang dilakukan dosen wajib disebarluaskan hasilnya. Menerbitkan buku referensi menjadi salah satu cara untuk menjalankan kewajiban tersebut. Sehingga hasil penelitian diketahui dan dimanfaatkan banyak orang. Inilah alasan kenapa buku referensi masuk dalam penilaian Angka Kredit Prestasi (AK Prestasi).
Meskipun hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) juga bisa disebarluaskan dengan menerbitkan buku referensi. Namun, buku ini dalam BKD hanya bisa diklaim untuk kegiatan penelitian.
Baca juga: Buku Referensi: Pengertian, Karakteristik, Format dan Contohnya
Kesalahan Umum Menyusun Buku Referensi
Buku referensi sesuai definisi di atas, maka bisa dipahami masuk dalam salah satu jenis buku ilmiah. Buku ilmiah juga termasuk karya tulis ilmiah. Sehingga terikat dengan sejumlah aturan penulisan dan aspek penyajian data atau aspek substansinya.
Selain terikat sejumlah aturan dalam penulisan KTI. Buku referensi karya dosen juga terikat dengan ketentuan dalam BKD sampai penilaian angka kredit. Oleh sebab itu, banyak dosen melakukan kesalahan menyusun buku referensi. Berikut beberapa diantaranya yang harus diketahui dan diusahakan untuk dihindari:
1. Substansi Pembahasan Tidak Berdasarkan Hasil Penelitian
Sesuai penjelasan di bagian definisi, buku referensi berisi hasil penelitian. Sehingga saat masuk pelaporan BKD akan masuk dalam laporan kinerja penelitian. Kemudian, saat masuk proses penilaian angka kredit. Maka masuk ke AK Prestasi.
Jadi, agar buku referensi yang disusun dosen bisa diklaim dalam laporan BKD dan penilaian AK Prestasi. Isi atau substansi pembahasan didasarkan pada hasil penelitian yang telah dijalankan oleh dosen.
Sayangnya, beberapa dosen, khususnya dosen pemula tidak memenuhi dan memahami kriteria ini. Sehingga substansi pembahasan didasarkan pada hasil kajian pustaka, bukan dari hasil penelitian. Meski tetap bisa diterbitkan, akan tetap tidak bisa masuk BKD dan AK Prestasi.
2. Struktur Buku Tidak Mengikuti Logika Keilmuan
Poin kedua yang menjadi kesalahan menyusun buku referensi oleh dosen adalah struktur buku keliru. Sebagai salah satu jenis buku ilmiah, struktur isi buku menyesuaikan kaidah penulisan KTI dalam bentuk buku. Yaitu:
- Preliminaries
- Halaman perancis
- Halaman Hak Cipta
- Kata Pengantar
- Daftar Isi
- dan lain sebagainya.
- Isi Buku Referensi
Berisi seluruh materi pembahasan utama sesuai hasil penelitian. Sehingga disusun dalam bentuk susunan bab, subbab, subsubbab, dan turunannya.
- Postliminaries
- Laporan
- Epilog
- Profil penulis
- dan lain sebagainya.
Kedua, struktur penyajian materi di dalam buku referensi harus sistematis. Artinya, dijelaskan berurutan sesuai dengan alur logika keilmuan. Tujuannya agar lebih enak dibaca dan mudah dipahami.
Sebab membahas hal mendasar dulu, baru ke materi lebih dalam dan kompleks. Jika dibalik, dibuat alur campuran seperti pada karya fiksi, dan kesalahan sistematika atau struktur lainnya. Maka membuat isinya sulit dipahami.
Selain itu, jika strukturnya tidak sesuai ketentuan maka tidak memenuhi salah satu ciri khas buku referensi. Jika sudah melakukan kesalahan semacam ini, maka ada resiko buku referensi yang disusun tidak bisa masuk BKD maupun penilaian AK Prestasi.
3. Pembahasan Tidak Optimal dan Mendalam
Berbeda dengan laporan kegiatan penelitian, artikel jurnal, dan luaran penelitian lainnya. Buku referensi berisi pembahasan hasil penelitian yang dibuat mendalam dan tersusun secara sistematis sesuai alur logika keilmuan.
Inilah alasan kenapa artikel jurnal berisi 5-10 halaman, sementara buku referensi paling sedikit di 125 halaman. Salah satu kesalahan menyusun buku referensi adalah pembahasan tidak optimal.
Mulai dari pembahasan yang tidak fokus, sehingga tidak sesuai topik utama dan melebar kemana-mana. Dampaknya, pembahasan topik inti justru teratas. Terkesan dosen mengejar jumlah halaman minimal untuk masuk BKD dan penilaian AK Prestasi.
Sampai kesalahan lainnya. Seperti pembahasan yang tidak didukung referensi tambahan dan mengandalkan hasil penelitian saja. Kesalahan lainnya, dosen tidak menambahkan ilustrasi sebagai informasi penjelas tambahan, visualisasi data penelitian agar mudah dipahami, dll.
4. Referensi Ilmiah Tidak Sesuai Standar
Bentuk kesalahan menyusun buku referensi berikutnya adalah referensi yang digunakan dosen tidak sesuai standar yang berlaku. Dalam menyusun KTI, termasuk buku referensi ada kewajiban dan kebutuhan untuk menggunakan referensi ilmiah.
Sebab data yang disajikan di dalamnya harus valid dan bisa dipertanggung jawabkan. Maka ada kewajiban memiliki sumber data yang jelas dan valid agar kualitas dan kredibilitas isi naskah lebih terjamin.
Sayangnya, masih banyak dosen tidak memahami pemilihan referensi yang tepat bagaimana dan standarnya seperti apa. Secara mendasar, terdapat 3 kriteria yang menjadi standar pemilihan referensi ilmiah.
Pertama, referensi harus relevan dengan topik yang dibahas. Keudia, referensi merupakan terbitan terbaru. Inilah alasan perguruan tinggi selalu menetapkan referensi diterbitkan 10 tahun terakhir tidak lebih. Ketiga, referensi yang kredibel atau terpercaya.
Kesalahan lain yang masih berkaitan dengan referensi yang digunakan adalah jumlahnya terbatas. Meskipun tidak ada standar baku berapa jumlah minimal referensi yang digunakan. Namun, dalam menyusun buku ilmiah tentunya butuh 10 lebih referensi. Beberapa penerbit mungkin menetapkan batas minimal.
5. Mengubah Laporan Penelitian Tanpa Penyesuaian
Kesalahan menyusun buku referensi juga bisa dalam bentuk kesalahan proses konversi. Secara umum, menulis naskah buku referensi dianjurkan melalui konversi hasil penelitian.
Baik itu laporan kegiatan penelitian, artikel prosiding, maupun artikel jurnal yang menjadi luaran penelitian. Melalui konversi inilah, naskah tidak disusun dosen dari nol. Sebab dari segi struktur, alur penyajian, sampai inti pembahasan bisa diambil dari hasil penelitian tersebut.
Namun, konversi bukan proses copy paste dari hasil penelitian ke naskah buku. Terdapat proses penyesuaian gaya bahasa, struktur penulisan, dan detail lainnya. Sayangnya banyak dosen belum memahami ini, sehingga struktur tidak diubah. Dampaknya isi tidak sesuai standar buku referensi.
6. Kurang Memperhatikan Etika Penulisan Ilmiah
Bentuk kesalahan umum berikutnya dalam menyusun buku referensi adalah kurang memperhatikan etika penulisan. Secara umum, terdapat 4 poin yang menjadi etika penulisan buku ilmiah. Berikut penjelasannya:
- Jujur pada Referensi yang Digunakan
Etika yang pertama dalam menulis buku referensi dan buku ilmiah lain adalah jujur pada referensi yang digunakan. Seluruh referensi yang dijadikan dasar penyusunan, dasar argumen, dan dikutip harus diakui.
Jika dalam bentuk kutipan, maka diakhiri dengan sitasi. Kemudian masuk di dalam daftar pustaka. Tanpa kejujuran ini, maka dosen bisa terindikasi melakukan plagiarisme.
- Kutipan Langsung Maksimal 10%
Etika penulisan buku referensi yang kedua adalah kutipan langsung yang harus memenuhi batas maksimal. Secara umum maksimal di 10% dan dianjurkan di bawahnya.
Jika lebih maka dampaknya bisa meningkatkan skor similarity index dan berdampak pada indikasi plagiarisme. Dampak lainnya, substansi naskah dinilai hanya berisi kutipan dari pakar lain.
Sehingga tidak ada yang benar-benar dari hasil buah pikiran atau pendapat dosen selaku penulis. Hal ini tentunya berdampak pada reputasi dosen, karena kurang inovatif dan mengandalkan kutipan langsung.
- Karya Intelektual Public Domain setelah 50 Tahun
Etika penulisan buku ilmiah yang ketiga adalah karya intelektual termasuk buku referensi, menjadi public domain setelah 50 tahun. Jadi, setelah terbit 50 tahun berikutnya maka menjadi hak publik (hak bersama).
- Tidak Merubah Dalil, Istilah dan Rumusan
Etika penulisan buku referensi berikutnya adalah merubah dalil, istilah dan rumusan yang seharusnya tidak diubah. Meskipun parafrase sangat disarankan untuk meminimalkan kutipan dan tidak melebihi batas 10%.
Namun, ada beberapa referensi kredibel yang tidak boleh dilakukan parafrase. Sehingga harus dikutip menjadi kutipan langsung. Misalnya mengutip ayat dalam kitab Al-Qur’an atau kitab suci agama lain.
Contoh lain mengutip pasal dalam Undang-Undang maupun Peraturan Pemerintah dan dokumen dasar hukum lainnya, dan sebagainya. Jadi, jika diubah justru menjadi kesalahan menyusun buku referensi dan harus dihindari.
Hanya saja, masih banyak dosen yang melanggar salah satu maupun beberapa etika penulisan buku tersebut. Bisa karena memang tidak tahu, atau bisa juga disengaja. Sehingga aslinya tahu, akan tetapi sengaja melanggar. Dampaknya bisa terkena kasus pelanggaran etika dan buku referensi tidak diakui Kemdiktisaintek.
7. Tidak Memperhatikan Ciri dan Kriteria Dasar Buku Referensi
Kesalahan menyusun buku referensi oleh kalangan dosen juga bisa dari tidak terpenuhinya ciri khas dan kriteria dasar buku referensi. Sebagai buku ilmiah, terdapat beberapa ciri khas yang harus melekat pada naskah.
Jika tidak, maka buku tersebut belum bisa disebut buku referensi. Bagaimana dosen bisa melakukan klaim ke BKD dan penilaian AK Prestasi? Jadi, buku referensi tersebut harus memenuhi ciri dan kriteria dasar buku referensi. Misalnya:
- Substansi bersumber dari hasil penelitian dosen.
- Digunakan untuk dosen dalam mengajar dan menjadi referensi saat melakukan penelitian.
- Substansi pembahasan beberapa topik di suatu bidang keilmuan.
- dan lain sebagainya.
8. Kebingungan dalam Membedakan Buku Referensi dan Monograf
Kesalahan umum lainnya, dosen masih kebingungan untuk membedakan antara buku referensi dan monograf. Keduanya memang punya banyak persamaan. Seperti dasar substansi pembahasan, target pembaca, tujuan penggunaan, dll. Namun, keduanya berbeda dan perbedaan ini harus dipahami dosen.
Tips Mengatasi Kesalahan dalam Penyusunan Buku Referensi
Kesalahan menyusun buku referensi bisa disebabkan oleh banyak hal atau faktor. Mulai dari keterampilan menulis buku yang belum optimal, kurang memahami cara konversi hasil penelitian menjadi buku referensi, kurang paham etika penulisan dan penerbitannya, dan lain sebagainya.
Para dosen tentunya perlu memahami kesalahan apa yang dilakukan dan apa yang menjadi penyebabnya. Tujuannya agar solusi dalam mencegah dan mengatasi kesalahan tersebut tepat. Sehingga tidak terulang lagi di masa mendatang.
Meningkatkan pemahaman bagaimana menulis buku referensi yang baik dan benar. Maka bisa mengakses sejumlah artikel Penerbit Deepublish yang membahas buku referensi. Salah satunya bisa diakses melalui tautan berikut https://penerbitdeepublish.com/tutorial-menulis/menulis-buku-pendidikan/buku-referensi-adalah/
FAQ (Frequently Asked Questions)
Caranya dengan memastikan isi berasal dari penelitian, struktur mengikuti kaidah buku ilmiah, dan pembahasan disusun sistematis sesuai logika keilmuan. Dengan begitu, buku lebih mudah diakui secara akademik.
Karena kualitas buku ilmiah ditentukan oleh sumber data. Referensi harus relevan, mutakhir, dan kredibel agar isi dapat dipertanggungjawabkan.
Karena tanpa memenuhi kriteria dasar, buku tidak dapat dikategorikan sebagai buku referensi dan berisiko tidak diakui dalam penilaian akademik.
Pahami bahwa buku referensi membahas beberapa topik dalam satu bidang, sedangkan monograf fokus pada satu topik secara mendalam.
Referensi:
- 8 Kesalahan Umum saat Menyusun Buku Referensi, Jangan Sampai Terjadi! (2024). Penerbitzu Deepublish. Diakses pada 20 April 2026 dari https://jakarta.penerbitdeepublish.com/karir-pendidikan/luaran-hasil-penelitian/kesalahan-umum-saat-menyusun-buku-referensi/
- Zulfikar, R. (2021). Menulis Buku Monograf dan Referensi. UPT Publikasi Uniska MAB Banjarmasin. https://ppj.uniska-bjm.ac.id/wp-content/uploads/2021/11/Materi-Menulis-Buku-Referensi-dan-Monograph_Rizka-Zulfikar.pdf
- Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. (2026). Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 39/M/Kep/2026 Tentang Petunjuk Teknis Layanan Pengembangan Profesi dan Karier Dosen. https://lldikti3.kemdiktisaintek.go.id/wp-content/uploads/2026/03/Salinan-Kepmendiktisaintek-39MKEP2026_Juknis-Layanan-Pengembangan-Profesi-dan-Karier-Dosen.pdf
- Kesalahan Umum dalam Menulis Buku yang Harus Dihindari. (2025). Indonesian Scientific Publication. Diakses pada 20 April 2026 dari https://idscipub.com/id/kesalahan-umum-dalam-menulis-buku/
- Aribowo, E K. (2021). 3 Kriteria Referensi Ilmiah yang Baik. Diakses pada 20 April 2026 dari https://www.erickunto.com/2021/04/3-kriteria-referensi-yang-baik.html








