Cara Menerbitkan Buku

7 Tips Lolos ISBN dalam Sekali Pengajuan

Salah satu standar atau kriteria menerbitkan buku agar diakui Ditjen Dikti adalah buku tersebut terbit dengan ISBN. Namun, sudahkah para dosen di Indonesia memahami apa saja tips lolos ISBN? 

ISBN yang diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) juga memiliki kriteria untuk dipenuhi. Jadi, jangan asal menerbitkan buku tanpa memastikan memenuhi kriteria tersebut. Berikut informasinya. 

Tips Lolos ISBN

Berikut adalah beberapa tips lolos ISBN sehingga buku yang diterbitkan bisa ber-ISBN dan memenuhi ketentuan DItjen Dikti: 

1. Memenuhi Ketentuan Jumlah Halaman

Tips yang pertama agar naskah buku lolos ISBN adalah memenuhi ketentuan jumlah halaman. Meskipun dalam PO PAK maupun PO BKD menyebut jumlah minimal adalah 40 lembar untuk buku-buku ilmiah. 

Namun, pihak Perpusnas memiliki ketentuan sedikit berbeda. Yakni minimal 49 halaman. Selain itu, untuk luaran hibah biasanya diminati minimal 200 halaman. Kemudian jika buku ditulis oleh beberapa penulis, maka jumlah halaman menyesuaikan. 

Standar umum, satu orang penulis menyusun setidaknya 10 halaman naskah buku. Jika buku ditulis oleh 6 dosen. Maka minimal buku tersebut berisi 60 halaman. Jika hanya dua atau tiga penulis, maka minimal 49 halaman. 

2. Isi Naskah Buku Sudah Lengkap

Tips lolos ISBN berikutnya, adalah naskah bukus sudah lengkap. Semua bab sudah disusun dan berhasil diselesaikan. Ditambah dengan beberapa halaman yang melengkapi struktur buku. Misalnya halaman Kata Pengantar, Daftar Isi, dll. 

3. Terdapat Surat Keaslian Karya

Tips ketiga agar buku yang diterbitkan memiliki ISBN adalah terdapat Surat Keaslian Karya. Surat ini pada dasarnya adalah surat penyataan yang disusun penulis buku, jika buku tersebut asli bukan tiruan dan hasil plagiat. 

Secara umum penerbit yang dipilih oleh penulis akan membantu penyusunannya. Misalnya dengan memberikan contoh atau bahkan template. Jadi, pastikan memilih penerbit terpercaya dan sudah berpengalaman menerbitkan buku karya dosen. 

4. Tidak Menyebut Instansi Lain (Khusus Luaran Hibah)

Khusus untuk buku yang diterbitkan sebagai luaran, maka salah satu tips agar mendapat ISBN adalah tidak menyebut instansi lain. Penyebutan instansi atau lembaga hanya untuk pihak-pihak yang terlibat dalam hibah. Selebihnya, penyebutan instansi lain sebaiknya tidak dilakukan. 

5. Format Sesuai Standar Buku Bukan KTI

Tips berikutnya adalah memastikan format sudah sesuai dengan standar buku dan bukan memakai format KTI. Jadi, pastikan naskah buku yang sudah disusun sesuai dengan format umum buku ilmiah. Dimana memang ada beberapa perbedaan dengan format KTI (misalnya artikel ilmiah pada jurnal). 

6. Belum Pernah Diterbitkan Sebelumnya

Tips berikutnya agar lolos ISBN adalah menerbitkan buku yang memang belum pernah terbit sebelumnya. Secara umum, satu ISBN hanya untuk satu buku. Sekalipun buku dicetak kedua kalinya, ketiga kalinya, dan seterusnya. Selama isi tidak berubah, maka masih memakai ISBN yang sama. 

7. Isi Kata Pengantar Sesuai Ketentuan

Tips berikutnya adalah menyusun halaman Kata Pengantar yang sesuai dengan ketentuan. Kata Pengantar dalam naskah buku sebaiknya fokus membahas isi buku, yakni secara sekilas. 

Jadi, jangan sampai halaman Kata Pengantar diisi dengan ucapan terima kasih ke berbagai pihak yang mendukung penyusunan buku tersebut. Jika dilakukan, maka rawan tidak lolos ISBN. Buku bisa saja terbit tanpa ISBN, sehingga tidak sesuai standar Ditjen Dikti. 

Itulah beberapa tips lolos ISBN yang tentunya perlu diterapkan untuk mencegah buku tidak ber-ISBN. Bagi dosen, hal ini tentu memunculkan kerugian karena buku yang dibuat tidak memenuhi standar DItjen Dikti dan tidak bisa masuk BKD maupun ikut proses PAK.

Artikel seputar ISBN:

Pujiati

Pujiati telah menjadi SEO Content Writer hampir 10 tahun. Dia berpengalaman menulis konten seputar dosen, kepenulisan akademis dan kreatif, serta kesehatan. Melalui tulisan, Pujiati merasa senang ketika apa yang ia tulis bermanfaat untuk pembaca.

Recent Posts

Mengenal Karakteristik dan Metode Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum OBE

Kegiatan pembelajaran OBE atau kurikulum OBE, tentunya memiliki karakteristik lebih khas. Sebab, pendekatan dalam OBE…

16 jam ago

Kolaborasi Penerbit Deepublish-LLDikti Wilayah V Membangun Ekosistem Publikasi Terarah dan Berdaya Saing

Dalam menjalankan tri dharma, para dosen di Indonesia tentunya rutin mengurus publikasi ilmiah. Baik publikasi…

2 hari ago

Kolaborasi Penerbit Deepublish-LLDikti Wilayah III, Mendorong Publikasi untuk Kenaikan Jabatan Akademik Dosen

Penerbit Deepublish kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung publikasi ilmiah para dosen di Indonesia. Yakni melalui…

2 hari ago

Jasa Percetakan Modul Pembelajaran untuk Dosen dan Institusi Pendidikan

Menggunakan jasa percetakan modul pembelajaran, tentunya bisa dipertimbangkan oleh para dosen. Sebab sekalipun tidak wajib,…

5 hari ago

Bukan Sekadar Penerbit: Mengapa Deepublish Dipilih sebagai Mitra Strategis Lembaga Pendidikan Tinggi

Kolaborasi perguruan tinggi dengan berbagai pihak eksternal (dunia industri, pemerintah, dan masyarakat) merupakan hal penting.…

5 hari ago

Memahami Perbedaan Kurikulum Konvensional dan Kurikulum OBE

Kurikulum OBE (Outcome-Based Education) menjadi kurikulum yang diterapkan di pendidikan tinggi Indonesia. Kurikulum ini tentunya…

6 hari ago