Event Penerbit

Penerbit Deepublish Jakarta Gelar Webinar Gratis Panduan Praktis Penyusunan Portofolio Serdos 2026

Salah satu bagian dari pengembangan karir akademik dosen adalah mengikuti dan dinyatakan lulus sertifikasi dosen (serdos). Namun, mengikuti serdos tentunya bukan hal yang mudah. Perjuangan sudah dimulai dari pemenuhan syarat agar dinyatakan eligible menjadi peserta serdos. 

Tantangan semakin berat karena terbentur dengan perubahan regulasi serdos yang dinamis dari tahun ke tahun. Eligible di tahun sebelumnya belum tentu di penyelenggaraan serdos tahun ini. Setelah resmi eligible, tidak serta-merta sertifikat profesi diraih. Dosen harus mengikuti seluruh alur serdos dan memaksimalkan hasil penilaian akhir portofolio. 

Membantu dan mendampingi para dosen di Indonesia agar segera bersertifikasi. Penerbit Deepublish Jakarta menggelar webinar bertajuk “Panduan Praktis Penyusunan Portofolio Sertifikasi Dosen yang Tepat dan Terarah” secara gratis pada Jumat (10/07/2026). 

Webinar untuk Dukung Dosen Siap Hadapi Serdos 2026

Webinar “Panduan Praktis Penyusunan Portofolio Sertifikasi Dosen yang Tepat dan Terarah” diselenggarakan secara daring dan gratis oleh Penerbit Deepublish cabang Jakarta. Webinar ini ditujukan untuk para dosen yang tengah berjuang lulus serdos di tahun 2026. Sekaligus para dosen yang mengalami kendala dalam penyusunan portofolio serdos. 

Penerbit Deepublish cabang Jakarta menggandeng Assoc. Prof. Dr. Dermawan Waruwu, M.Si. sebagai narasumber utama. Dermawan sendiri diketahui merupakan salah satu dosen Humanitas Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta. Sekaligus merupakan salah satu Penulis Penerbit Deepublish yang aktif dan produktif berkarya. 

Webinar kali ini akan fokus membahas mengenai topik portofolio untuk proses serdos. Oleh Dermawan kemudian dibagi menjadi 3 sesi pemaparan materi. Dimulai dari membahas tentang regulasi terkini yang mengatur pelaksanaan serdos di tahun 2026. 

Kemudian, materi yang fokus membahas panduan praktis menyusun portofolio untuk optimasi penilaian serdos. Terakhir, materi yang dipaparkan Dermawan akan fokus membahas mengenai pemetaan dan proses validasi kegiatan tri dharma untuk portofolio serdos. 

Prinsip Dasar agar Dosen Lebih Siap Mengikuti Serdos

Dalam penyampaian materi, Dermawan membagikan pengalamannya ikut serdos dalam beberapa kali. Setiap tahunnya akan ada perubahan regulasi. Meskipun begitu, bukan berarti menjadi sandungan yang menghalangi dosen untuk lulus serdos. Selama bisa memahami regulasi yang berlaku. 

Tak hanya itu, disampaikan juga bahwa untuk siap menghadapi dan memperbesar potensi lulus serdos. Penting untuk menanamkan prinsip yang benar bagi para dosen. Pertama, para dosen harus menanamkan pada diri sendiri bahwa sudah profesional dalam menjalankan tri dharma. Sehingga menguatkan motivasi diri sudah layak bersertifikasi. 

“Bapak/ibu yang akan mengikuti serdos ini, harus memiliki prinsip bahwa kita sudah profesional di bidang kita dalam segala aspek. Baik dalam sisi pengajaran, peneliti maupun pengabdian. Terlebih lagi bagaimana etika kita dalam publikasi,” terang Dermawan. 

Kesiapan dosen juga akan lebih optimal, dengan memahami bahwa serdos itu mudah. Hanya saja bukan dipandang gampang. Tetap harus memahami risiko tidak lulus serdos, perlu mengetahui penyebabnya, dan melakukan evaluasi. Sehingga di serdos berikutnya bisa lulus dan menerima sertifikat profesi. 

Para dosen bisa belajar dari jumlah peserta serdos tahun sebelumnya yang gagal dan apa penyebabnya. Sehingga bisa menjadi bahan menyusun strategi agar lulus di serdos tahun ini. 

“Pada prinsipnya bapak/ibu, (serdos) tidak susah. Tetapi, faktanya adalah ratusan orang (dosen) yang tidak lulus serdos. Mengapa? Kita melihat (data) disini, serdos tahun 2025 itu ada yang TMT Jabfung belum sesuai dengan status kepegawaian,” jelas Dermawan. 

Dalam serdos sendiri, penilaian akan fokus pada portofolio yang dimiliki peserta. Portofolio sendiri terdiri dari data kualifikasi akademik dan jabatan fungsional. Kemudian dokumen hasil penilaian persepsi dan disusul dokumen PDD-UKTPT. Seluruh portofolio harus terdata lengkap di SISTER dan input data sesuai ketentuan Kemdiktisaintek. 

Salah satu strategi dalam mengoptimalkan penilaian serdos adalah mengoptimalkan kinerja akademik dan publikasi ilmiah. Termasuk menerbitkan buku ilmiah secara rutin dan berkelanjutan. Sehingga menunjukan dosen sudah profesional dan kompeten menjalankan seluruh tri dharma perguruan tinggi. 

Para dosen dalam menjaga dan mengoptimalkan produktivitas penerbitan buku. Bisa menggunakan layanan konversi KTI dari Penerbit Deepublish cabang Jakarta. Setiap KTI nonbuku bisa dibantu diubah menjadi naskah buku siap terbit, ber-ISBN, dan memenuhi standar Kemdiktisaintek lainnya. 

Karimatun Nisa

Recent Posts

Cek Kesiapan Menyusun Bunga Rampai: 5 Pertanyaan yang Harus Dijawab Sebelum Mulai Menulis

Buku ilmiah yang bisa disusun dan diterbitkan dosen di Indonesia cukup beragam, salah satunya bunga…

2 hari ago

Pengalaman Dr. Nurul Hidayah: Menjaga Kualitas & Orisinalitas Buku Ilmiah Bersama Deepublish

Era digital dan Revolusi Industri 5.0 memberi peluang bagi para penulis untuk terus berkarya. Termasuk…

3 hari ago

ISBN vs E-ISBN vs QRCBN: Mana yang Dibutuhkan Buku Anda?

Dalam mengurus penerbitan naskah buku, para penulis bisa lebih leluasa memilih kode identitas buku tersebut.…

5 hari ago

Penerbit Deepublish Hadirkan Webinar Langkah Praktis Meningkatkan Sinta Score Melalui Publikasi

Penerbit Deepublish sukses menyelenggarakan Webinar “Langkah Praktis Meningkatkan Sinta Score Melalui Publikasi” pada Jumat, 9…

6 hari ago

Mudah dan Lengkap, Begini Tahapan Layanan Konversi KTI Penerbit Deepublish

Ada banyak sekali jenis karya tulis ilmiah (KTI) yang perlu disusun dan dipublikasikan oleh dosen.…

6 hari ago

Kapan Modul Siap Jadi Buku Ajar? Berikut Penjelasan Detail dan Ketentuannya

Dalam tugas pendidikan dan pengajaran, dosen juga bisa menjalankan tugas mengembangkan bahan ajar. Modul pembelajaran…

1 minggu ago