Event Penerbit

Tingkatkan Produktivitas Penerbitan Buku Ajar dan Referensi Ber-ISBN, Penerbit Deepublish Gelar Webinar Bersama Universitas Jabal Ghafur

Kewajiban akademik dosen di Indonesia, bukan sekadar melaksanakan tugas pokok sesuai isi tri dharma. Sejalan dengan kewajiban tersebut, para dosen juga punya kewajiban menghasilkan publikasi ilmiah secara optimal. Selain prosiding dan jurnal, juga menerbitkan buku ilmiah. 

Buku ilmiah yang penting untuk rutin ditulis dan diterbitkan oleh dosen adalah buku ajar dan buku referensi. Buku ajar menjadi bentuk pengembangan bahan ajar dalam tugas pendidikan. Sedangkan buku referensi menjadi bentuk pelaksanaan tugas penelitian. 

Sayangnya, masih banyak dosen memiliki produktivitas penerbitan buku ilmiah yang rendah. Sebab berhadapan dengan banyak sekali kendala. Termasuk kesulitan memenuhi kriteria terbit ber-ISBN dari Perpusnas RI. Berangkat dari kondisi ini, Deepublish bersama Universitas Jabal Ghafur menggelar webinar kolaborasi. 

Webinar Kolaborasi Usung Topik Teknik Penulisan Buku Ajar dan Referensi

Penerbit Deepublish senantiasa berusaha mendorong produktivitas para dosen menulis dan menerbitkan buku ilmiah. Termasuk buku ajar dan buku referensi. Sebab menjadi bentuk kontribusi dosen menyediakan bahan bacaan kredibel, mengembangkan iptek, dan meningkatkan literasi masyarakat Indonesia. 

Salah satu upaya yang ditempuh adalah membangun kolaborasi dengan perguruan tinggi di Indonesia. Deepublish resmi berkolaborasi dengan Universitas Jabal Ghafur dan salah satu hasil kolaborasi ini adalah diselenggarakan webinar bertajuk “Teknik Penulisan Buku Ajar dan Buku Referensi untuk Mendukung Profesionalisme Dosen”. 

Webinar hasi kolaborasi ini diselenggarakan sebagai upaya mendorong produktivitas dosen khususnya yang dinaungi Universitas Jabal Ghafur dalam menerbitkan buku ajar dan buku referensi ber-ISBN. Sehingga menjadi bentuk optimasi kinerja dan sikap profesional para dosen tersebut. 

Webinar diselenggarakan secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting pada Selasa (21/07/2026) dan dihadiri lebih dari 40 dosen dari 20 program studi yang dibuka Universitas Jabal Ghafur. 

Deepublish kemudian berhasil menggandeng  Dr. Miguna Astuti, S.Si., M.M., MOS., CPM. sebagai narasumber utama. Beliau merupakan salah satu dosen di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Sekaligus merupakan Dosen Ambassador Penerbit Deepublish.  

Membangun Komitmen Bersama dalam Melahirkan Buku Ajar dan Referensi Berkualitas

Webinar dibuka dengan sambutan yang disampaikan oleh Rektor Universitas Jabal Ghafur, yaitu Dr. Heri Fajri, M.Pd.. Dalam sambutannya, Heri menuturkan antusiasme seluruh dosen yang ikut serta dalam webinar menunjukan ada keinginan bersama dalam meningkatkan produktivitas publikasi ilmiah bersama Deepublish. Khususnya buku ajar dan referensi. 

Heri berharap, melalui kegiatan webinar hasil kolaborasi dengan Deepublish para dosen Universitas Jabal Ghafur lebih semangat menulis buku. Sehingga bisa segera menyusun draft naskah, menyelesaikannya, dan kemudian dibantu penerbitannya ber-ISBN oleh Penerbit Deepublish. 

“Saya yakin bahwa antusias ini luar biasa, semangat dan berkeinginan bersama-sama melakukan publikasi bersama dengan Deepublish. Tentu akan melahirkan buku ajar,” kata Heri membuka sambutan. 

“Hari ini, diikuti oleh sekitar 40an ke atas dari Universitas Jabal Ghafur dengan 20 program studi. Kita berharap bisa melahirkan buku ajar ataupun buku referensi yang nantinya tidak cuma dalam bentuk narasi. Tapi nyata dan fakta,” sambungnya. 

Heri juga menyampaikan, kolaborasi dengan Deepublish merupakan langkah penting dalam meningkatkan produktivitas publikasi para dosen. Sekaligus mewujudkan visi misi menjadikan Universitas Jabal Ghafur sebagai universitas unggul dan maju. 

“Jabal Ghafur sudah lama (berdiri), sudah 40 an tahun. Salah satu PTS yang tua. Bersama menulis, bersama bergerak mewujudkan kampus unggul dan berkemajuan. Tentu semua ini dengan semangat bersama dan keinginan serta komitmen para dosen untuk melahirkan (buku),” ungkapnya. 

Pentingnya Memahami Standar Perpusnas untuk Bisa Menerbitkan Buku Ber-ISBN

Kegiatan inti webinar kolaborasi Universitas Jabal Ghafur dengan Deepublish dibuka oleh Anisaa Nur Fadhilah, S.I.Kom. yang merupakan salah satu Konsultan Kemitraan Deepublish. Dalam materi yang dipaparkan, fokus membahas mengenai kendala para dosen menerbitkan buku ber-ISBN. 

Sebagai salah satu konsultan kemitraan yang sudah berpengalaman mendampingi para dosen menerbitkan buku ajar dan referensi. Anisaa menuturkan cukup sering menjumpai dosen dengan draft buku ilmiah yang belum sepenuhnya memenuhi kriteria mendapat ISBN dari Perpusnas RI. 

“Kita akan sharing seputar penulisan dan penerbitan buku ber-ISBN, karena beberapa penulis yang saya temui selama mendampingi konsultasi memang sudah ada draft naskah. Tapi, mungkin masih ada bagian (struktur buku) belum dipahami aturan ISBN seperti apa,” kata Anisaa membuka materi. 

Berangkat dari kondisi tersebut, Anisaa memberi penekanan pentingnya memahami standar untuk mendapatkan ISBN atas buku yang disusun para dosen. Kemudian dijelaskan beberapa kriteria yang ditetapkan Perpusnas RI. Mulai dari jumlah halaman minimal, yakni di 60 lembar. 

“60 Halaman itu, hanya halaman isi ya. Jadi, tidak dihitung dari sampul, kemudian kata pengantar, daftar isi, daftar pustaka. Jadi, benar-benar hanya isi. Itu nanti akhir bukunya tidak terlalu tipis bapak/ibu. Kalau tipis, nanti dikira itu bukan buku pendidikan tapi booklet,” terangnya. 

Selain itu, untuk mendapat ISBN buku yang ditulis dosen juga harus diterbitkan oleh penerbit resmi, tidak melanggar Hak Cipta, dan melengkapi syarat administrasi pengajuan ISBN yang berlaku. 

“Nanti, ketika akan proses pengajuan ke Perpusnas, bapak/ibu juga perlu melengkapi surat keaslian karya yang menyatakan bahwa karya yang ditulis benar-benar dari karya sendiri. Tidak berupa saduran dari karya orang lain,” jelasnya. 

Solusi Mengatasi Rendahnya Produktivitas Dosen dalam Menerbitkan Buku Ber-ISBN

Materi inti webinar berikutnya disampaikan oleh Miguna Astuti dan dibuka dengan memaparkan data rendahnya produktivitas penerbitan buku ber-ISBN. Yakni di kalangan dosen Indonesia. 

Berbasis data dari PDDikti, Miguna menjelaskan ada ketimpangan yang signifikan antara jumlah dosen dengan jumlah buku ber-ISBN yang terbit di Indonesia. Ketimpangan ini menunjukan bahwa ada lebih banyak dosen yang belum produktif menulis dan menerbitkan buku. Termasuk buku ajar dan buku referensi. 

“Data PDDikti, tertulis data dosen aktif kita itu di angka 300 ribuan. Total perguruan tinggi yang ada di Indonesia, itu (sekitar) 4 ribu. Kita ngomong produktivitas lho ini. Program studi seluruh jenjang (pendidikan tinggi) ini ada sampai 42 ribu kurang lebih,” kata MIguna membuka materi. 

“Namun, sedihnya total buku ber-ISBN yang terdaftar ada sekitar hanya 57 ribu. Bayangkan satu prodi itu jumlah dosennya berapa banyak? Jadi, kalau diperbandingkan proporsi dosen yang menulis buku ber-ISBN itu hanya sekitar 17%. Artinya, masih ada sekitar 82% dosen yang belum menulis buku ber-ISBN,” sambungnya. 

Miguna kemudian mengajar seluruh dosen peserta webinar untuk bersama-sama meningkatkan produktivitas menerbitkan buku ilmiah ber-ISBN. Sebab, selain menunjang ketersediaan bahan bacaan bermutu bagi masyarakat dan penyediaan bahan serta pegangan pembelajaran. 

Menerbitkan buku ber-ISBN bisa membantu dosen memenuhi BKD, meraih poin angka kredit tinggi untuk percepatan pengembangan karir akademik, dan manfaat lainnya. Sehingga Miguna berharap pasca webinar, seluruh peserta sudah bisa mulai menyusun naskah buku ajar atau buku referensi. 

“Yuk, kita mulai lebih produktif (menulis buku ber-ISBN)! Semoga setelah hari ini, rekan-rekan dari kampus bisa menulis paling tidak satu buku. Minimum banget. Kalau bisa lebih ya,” ungkapnya. 

Selain memberi semangat dalam meningkatkan produktivitas menulis buku ber-ISBN. Miguna juga memaparkan sejumlah faktor yang membuat dosen sulit produktif menulis buku. Mulai dari keterbatasan waktu, sulit untuk konsisten menulis, banyak bahan ajar tidak dikembangkan menjadi buku, dan sebagainya. 

Berbagai kendala dan tantangan ini tentunya menjadi bahan perhatian para dosen. Sehingga bisa menjadi dasar evaluasi untuk melakukan perbaikan. Termasuk melakukan tata kelola sumberdaya yang dimiliki dosen serta mengoptimalkan keterampilan menulis buku. 

Miguna juga menjelaskan beberapa hal yang membuat dosen sering gagal mendapat ISBN atas buku ilmiah yang disusun. Berdasarkan pengalaman pribadinya memberi dampingan dan sharing bersama rekan sejawat. Masih banyak dosen yang tidak melakukan penyesuaian gaya bahasa. 

Naskah buku ajar dan referensi yang masih identik dengan bahasa penelitian yang terlalu teknis. Sering menjadi batu sandungan untuk mendapatkan ISBN dari Perpusnas. Menurut Miguna, Perpusnas sekarang lebih detail dan memperhatikan gaya bahasa untuk menentukan kelayakan buku menerima ISBN. 

“Sekarang kalau bahasanya penelitian banget, ada tulisan pendahuluan. Tolak! Ada tinjauan pustaka. Lewat! ISBN sangat detail hal-hal seperti itu. Secara umum, ketentuan memang sudah tidak boleh berbahasa penelitian,” ungkap Miguna. 

Jadi, menulis buku ajar dan buku referensi bukan lagi kegiatan administrasi semata. Baik untuk mengembangkan bahan ajar maupun menyebarkan hasil penelitian dosen. Namun, perlu juga memperhatikan standar penerbitan dan standar Kemdiktisaintek yang harus terbit ber-ISBN. 

Naskah buku yang disusun dosen tidak cukup hanya memenuhi jumlah halaman minimal, dicetak dalam ukuran UNESCO, dan detail lainnya. AKan tetapi juga harus memastikan aspek substansi pembahasan memenuhi kriteria Perpusnas RI. Termasuk gaya bahasa dalam menyajikan materi atau isi buku. 

Optimasi Penerbitan Buku Melalui Pencapaian Banyak Luaran

Miguna juga membagikan strategi dalam meningkatkan produktivitas penerbitan buku ajar dan buku referensi ber-ISBN. Salah satunya dengan mengoptimalkan capaian luaran tri dharma, seperti kegiatan penelitian. 

Menurutnya, produktivitas penerbitan buku ber-ISBN di kalangan dosen akan tetap rendah jika tidak ada upaya tersebut. Pasalnya, dari satu penelitian maupun satu kegiatan pengabdian kepada masyarakat hanya menghasilkan satu publikasi ilmiah. 

Padahal, dari satu kegiatan tri dharma tersebut dosen diperbolehkan mencapai beberapa luaran sekaligus. Dijelaskan pula, dalam satu penelitian misalnya, para dosen bisa menghasilkan tidak hanya satu publikasi ilmiah akan tetapi bisa 3 bahkan 5 jenis publikasi sebagai luarannya. 

“Kalau kita berbicara mengenai produktivitas dosen, jangan sampai hanya berpikir musti upload administrasi, yang kita harus cek adalah jangan sampai kita punya kegiatan satu publikasinya cuma satu,” terang Miguna. 

“Kalau bisa satu penelitian jadi satu laporan. Laporan penelitian kita bisa (menghasilkan) beberapa publikasi. Tidak hanya jadi artikel (prosiding dan jurnal), bisa jadi buku ajar, buku referensi, bahkan jadi satu buku monograf,” imbuhnya. 

Meningkatkan produktivitas penerbitan buku ajar dan referensi ber-ISBN menjadi usaha bersama. Bukan lagi usaha yang hanya dilakukan oleh satu atau dua orang dosen. Sekaligus membutuhkan support system, sehingga dukungan dari perguruan tinggi juga sangat berperan krusial. 

Kerjasama dengan Penerbit Deepublish bisa membantu mengoptimalkan kualitas dan kuantitas penerbitan buku ber-ISBN di kalangan dosen. Termasuk hasil kolaborasinya dengan Universitas Jabal Ghafur. Kolaborasi ini tentunya bisa memberi inspirasi pada perguruan tinggi lain untuk mengakses program Kerjasama Institusi dari Penerbit Deepublish

Karimatun Nisa

Recent Posts

Pengalaman Dr. Elvi Rahmi, M.A.: Berawal dari Sebuah Naskah, Berlanjut Menjadi Penggerak Budaya Menulis

Proses menulis buku ilmiah oleh para dosen di Indonesia, ternyata tidak hanya menghasilkan referensi dan…

2 jam ago

Universitas Borneo Tarakan dan Penerbit Deepublish Gelar Workshop Penulisan Modul Ajar dan Buku Referensi Berbasis AI

Penerbit Deepublish berkolaborasi dengan LPMPP UBT, Tarakan sukses menyelenggarakan Webinar "Penulisan Modul Ajar dan Buku…

3 hari ago

Dukung Profesionalisme Dosen, Penerbit Deepublish dan Universitas Jabal Ghafur Gelar Webinar Penulisan Buku Ajar dan Buku Referensi

Penerbit Deepublish berkolaborasi dengan Universitas Jabal Ghofur (Unigha), Aceh sukses menyelenggarakan Webinar “Teknik Penulisan Buku…

3 hari ago

Meski Sama-Sama Bahan Ajar, Berikut Perbedaan Modul dan Buku Ajar yang Wajib Diketahui Dosen

Dalam tugas pengajaran, dosen di Indonesia memiliki kewajiban mengembangkan bahan ajar. Baik itu mengembangkan bahan…

3 hari ago

Cara Menulis Buku Teks, Mulai dari Tahap Persiapan hingga Proses Penerbitan

Buku yang disusun oleh dosen, bukan hanya ditujukan untuk dibaca oleh dosen lain dan kalangan…

3 hari ago

Tahapan Membuat Buku Ajar Secara Umum agar Penulisan dan Penerbitan Lancar

Menulis buku ajar sangat dianjurkan dilakukan secara sistematis. Tujuannya agar memudahkan proses penulisan dan juga…

3 hari ago