Salah satu tahap dalam penerbitan buku adalah menentukan ukuran buku tersebut. Bisa juga disebut dengan istilah ukuran cetak. Ukuran yang digunakan pada buku bisa dikatakan memiliki standar tersendiri.
Disebut demikian, karena ketika masuk ke toko buku atau perpustakaan. Maka akan mendapati banyak buku dengan ukuran seragam. Sekalipun ada yang ukuran berbeda, maka akan ada buku lain dengan ukuran yang sama. Bahkan dari penerbit yang berlainan. Jadi, apakah ada standar ukuran dalam penerbitan buku? Berikut informasinya.
Mengapa Ukuran Buku Penting dalam Penerbitan?
Dalam penerbitan buku cetak, maka akan ada tahap penentuan ukuran buku tersebut. Biasanya penentuan ukuran sebelum masuk ke proses produksi atau proses cetak. Ukuran untuk buku sendiri memang memiliki ukuran standar.
Misalnya, buku ilmiah biasanya dicetak dalam ukuran UNESCO (15,5 cm x 23 cm). Sementara novel, umumnya dicetak dalam ukuran A5 (13 cm x 19 cm). Mengapa ukuran dalam penerbitan buku perlu diperhatikan dan mempertimbangkan ukuran standar? Berikut beberapa alasannya:
1. Memudahkan Proses Cetak
Alasan pertama kenapa perlu mempertimbangkan untuk menggunakan standar ukuran buku penerbitan adalah untuk memudahkan proses cetak. Setelah naskah buku melewati proses editorial. Maka tahap penerbitan berikutnya masuk ke proses produksi, yakni dicetak.
Mesin cetak di jasa percetakan atau perusahaan penerbit biasanya butuh setting atau pengaturan. Sehingga tercetak rapi sesuai desain layout yang dibuat tim desain sebelum masuk proses produksi.
Jika buku dicetak dengan ukuran yang sudah sering digunakan. Maka pihak tim cetak atau tim produksi tidak perlu mengubah dan mengatur settingan baru. Proses cetak bisa segera dilakukan dan hasilnya juga sudah dijamin memuaskan.
2. Mempercepat Proses Cetak dan Finishing Buku
Alasan kedua, penulis perlu mempertimbangkan pemilihan ukuran buku standar adalah mempercepat proses cetak dan finishing. Sesuai penjelasan sebelumnya, ukuran standar tidak membutuhkan perubahan settingan pada mesin cetak (printer).
Sehingga naskah digital bisa langsung dicetak dan hasilnya juga tepat. Misalnya tidak ada resiko teks kurang ke tengah, gambar terpotong, dan sebagainya. Sehingga proses cetak lancar dan tentunya bisa cepat selesai.
Tak hanya itu, ukuran standar juga memudahkan dan mempercepat finishing buku. Mulai dari laminasi cover (sampul) sampai jenis jilid dan mesin potong. Naskah yang selesai dicetak akan dirapikan dengan mesin potong.
Ukuran standar membuat proses potong lebih cepat dan hasil maksimal. Begitu juga dengan proses laminasi dan jilid. Bagi penulis yang ingin bukunya cepat terbit, ukuran standar paling ideal untuk dipilih. Misalnya dosen yang ingin mengejar jadwal pelaporan BKD, tentunya ingin buku cepat terbit agar bisa diklaim.
3. Mempengaruhi Biaya Penerbitan Buku
Alasan berikutnya, kenapa mengutamakan ukuran buku standar lebih penting adalah untuk kemudahan mengatur biaya penerbitan atau biaya cetak. Harus dipahami dan juga diakui, bahwa ukuran cetak naskah buku mempengaruhi biaya produksi.
Sehingga pada akhirnya ikut berkontribusi menentukan biaya penerbitan secara keseluruhan. Semakin besar ukuran dari buku tersebut, biaya cetaknya juga akan semakin tinggi. Begitu juga saat dicetak dalam jumlah banyak, maka biayanya juga akan mengikuti.
Biaya berubah karena ukuran kertas ikut menentukan modal pihak percetakan atau penerbitan. Akan menjadi tidak adil jika biaya cetak di ukuran A6 dibuat sama dengan ukuran A5 atau A4.
Bagi penulis yang memiliki anggaran terbatas, memperhatikan ukuran cetak yang sesuai sangat penting. Tujuannya tentu saja untuk menghindari biaya penerbitan yang membengkak dan melebihi anggaran yang bisa disediakan. Jika bingung menentukan ukuran yang sesuai, bisa konsultasi dulu dengan pihak penerbit.
4. Mempengaruhi Tampilan Buku
Alasan yang keempat kenapa memperhatikan ukuran buku sangat penting, karena mempengaruhi tampilan buku itu sendiri. Ukuran standar membuat buku tampak harmonis atau seragam saat berjejer dengan buku lain di rak yang sama.
Pada toko buku dan perpustakaan, hal ini akan menjadikan tata letak buku rapi dan menarik bagi pengunjung atau pembaca. Selain itu, menggunakan ukuran standar sering dipandang lebih profesional.
Sebab memiliki ukuran yang sama dengan buku kebanyakan. Sehingga bisa memberi efek promosi, terlihat menarik di mata pembaca atau pembeli. Hal ini tentunya bisa memberi keuntungan tersendiri bagi penulis.
Meskipun begitu, profesional atau tidak pada dasarnya adalah penilaian personal masing-masing. Para penulis tetap bisa memilih ukuran diluar standar yang sudah ada jika memang menghendaki demikian.
5. Menentukan Kenyamanan Pembaca
Alasan berikutnya kenapa penting untuk memperhatikan ukuran buku yang dipilih adalah mempengaruhi kenyamanan pembaca. Secara mendasar, seorang penulis tentunya ingin karya tulisnya bisa lebih enak dibaca dan mudah dipahami.
Sehingga memberi kenyamanan bagi pembaca selama membaca setiap halaman di dalam naskah buku tersebut. Kenyamanan ini tentunya tidak lepas dari desain layout yang sesuai dengan ukuran cetak buku.
Ukuran yang terlalu kecil membuat ukuran huruf, gambar, dan elemen lain pada naskah ikut mengecil. Pada beberapa orang, buku seperti ini disukai kalangan lebih terbatas.
Lain halnya jika memakai ukuran standar yang kenyamanannya sudah dipastikan. Sehingga ada lebih banyak orang bisa membaca buku tersebut. Sebab teks di dalamnya bisa dibaca dengan jelas.
Baca juga: Jenis-Jenis Ukuran Buku yang Biasa Digunakan
Standar Ukuran Buku di Dunia Penerbitan
Ukuran buku dalam ruang lingkup perusahaan penerbitan tidak hanya UNESCO dan ukuran A5 saja. Namun, ada beberapa pilihan ukuran lainnya yang bisa disesuaikan dengan karakteristik isi buku maupun pertimbangan lain. Berikut beberapa standar ukuran yang dimaksud:
1. Ukuran A4
Ukuran standar buku penerbitan yang pertama adalah ukuran A4 (21 cm x 29,7 cm). Ukuran umum satu ini masuk dalam kategori ukuran cukup besar untuk sebuah buku. Sebab kurang beberapa senti saja di 30 cm, setara panjang ukuran penggaris di Indonesia.
Lewat ukurannya yang luas, maka ruang cetak menjadi lebih lega. Kondisi ini yang membuat teks dan gambar bisa diatur dalam ukuran lebih besar. Sehingga membuatnya lebih jelas terlihat dan jelas terbaca.
Hanya saja, ukuran A4 yang cukup bongsor untuk ukuran buku cetak. Membuatnya kurang mendukung mobilitas. Sehingga menyulitkan saat harus dibawa bepergian, misalnya mahasiswa membawanya dari rumah ke kampus tentunya butuh usaha lebih.
Ukuran A4 sangat direkomendasikan untuk mencetak buku yang butuh ruang cetak ekstra. Misalnya karena ada elemen gambar, peta, foto, dan sejenisnya. Sehingga cocok untuk ensiklopedia, buku pendidikan seperti buku ajar, dan sejenisnya.
2. Ukuran A5
Ukuran buku yang sifatnya standar berikutnya adalah ukuran A5 (13 cm x 19 cm). Ukuran satu ini bisa disebut sebagai ukuran paling umum digunakan dalam penerbitan buku di Indonesia. Sebab dinilai menjadi ukuran paling pas.
Tidak terlalu besar, karena di bawah ukuran A4. Namun, tidak juga terlalu kecil karena lebih besar dibanding ukuran A6 atau di bawahnya. Sehingga teks masih terlihat jelas. Hanya saja untuk elemen seperti tabel, gambar, foto, dll bisa kurang lebar.
Ukuran A5 paling sering digunakan untuk buku pendidikan atau buku ilmiah sampai buku nonilmiah (fiksi). Baik itu buku ajar, monograf, referensi, sampai novel dan antologi cerpen maupun karya fiksi lainnya.
3. Ukuran A6
Ukuran buku standar di penerbitan Indonesia berikutnya adalah ukuran A6 (10,5 x 14,8 cm). Ukuran ini masuk dalam kategori ukuran ringkas dan minimalis. Sebab lebih kecil dibanding ukuran A5.
Teks di dalamnya tentu butuh font dengan ukuran lebih kecil. Kemudian kurang dianjurkan untuk naskah buku yang terdapat grafik, tabel, gambar, foto, dan sejenisnya. Ukuran A6 paling umum digunakan untuk buku saku, buku motivasi, buku kumpulan doa, dan sejenisnya.
4. Ukuran B5
Selanjutnya adalah ukuran B5 (17,6 x 25 cm). Ukuran satu ini bisa dikatakan ukuran sedang. Yakni di bawah ukuran A4 dan di atas ukuran A5 sedikit. Ukuran ini sering digunakan untuk mencetak buku ilmiah. Seperti buku ajar dan juga buku ilmiah jenis lain yang kebetulan ada banyak gambar atau ilustrasi di dalamnya.
5. Ukuran UNESCO
Standar ukuran buku penerbitan berikutnya adalah ukuran UNESCO (15,5 x 23 cm). Ukuran ini paling sering digunakan untuk buku akademik atau buku ilmiah yang ditulis oleh dosen maupun guru.
Misalnya buku ajar, monograf, referensi, dan bunga rampai (book chapter). Dalam profesi dosen, ukuran UNESCO menjadi salah satu standar dari Kemdiktisaintek agar buku yang ditulis dosen bisa diklaim ke BKD dan masuk penilaian angka kredit.
Sebagai informasi tambahan, beberapa ukuran buku yang dijelaskan di atas adalah ukuran standar. Artinya, ukuran-ukuran tersebut yang umumnya digunakan untuk mencetak buku yang akan diterbitkan.
Meskipun begitu, perusahaan penerbitan biasanya melayani custom ukuran. Begitu juga dengan perusahaan percetakan. Jadi, bagi para penulis yang lebih memilih ukuran di luar standar tersebut. Maka bisa custom dan bisa mencari penerbit maupun percetakan yang menerima ukuran custom.
Baca juga: Ukuran Kertas A1, A2, A3, A4, A5, A6 dan F4
Apakah Ukuran Buku Berpengaruh pada ISBN dan Proses Penerbitan?
Memahami bahwa terdapat standar ukuran buku di proses penerbitan. Lalu, apakah ukuran ini ikut menentukan sebuah buku bisa terbit dengan ISBN atau tidak? Jawabannya adalah tidak.
Mengutip dari Petunjuk Teknis Layanan ISBN Perpustakaan Nasional RI (2022), ukuran buku tidak termasuk dalam syarat sebuah buku terbit ber-ISBN. Syarat sebuah buku mendapat ISBN ada 5 poin. Yaitu:
- Diterbitkan secara umum dan didistribusikan secara luas (skala nasional).
- Tidak terbit secara berkala. Pada buku berseri, setiap seri memiliki ISBN sendiri (terpisah).
- Terdapat dipasaran baik offline (toko buku offline) atau online (marketplace).
- Memiliki titik akses ketersediaan buku.
- Merupakan Karya Cetak dan/atau Karya Rekam diterbitkan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah memperoleh ISBN.
Jadi, buku yang dicetak dalam ukuran apapun. Baik mengikuti standar umum yang dijelaskan sebelumnya. Maupun memilih memakai ukuran custom sehingga unik. Tetap bisa terbit ber-ISBN selama 5 syarat di atas bisa terpenuhi.
Namun, memperhatikan standar ukuran buku penerbitan secara umum sangat dianjurkan. Sebab akan membuat buku terlihat lebih menarik karena seragam dengan buku lain. Hal ini akan menjadikannya tertata rapi ketika disimpan di rak buku pribadi di rumah.
Selain itu, sesuai penjelasan sebelumnya. Menggunakan ukuran buku yang sudah sesuai standar bisa menunjang efisiensi proses cetak, finishing, dan juga biaya penerbitan. Sehingga bisa memberi keuntungan lebih kepada Anda selaku penulis buku tersebut.
FAQ (Frequently Asked Questions)
Karena ukuran buku mempengaruhi proses produksi, tampilan desain, kenyamanan membaca, hingga biaya penerbitan secara keseluruhan.
Beberapa ukuran buku yang paling umum digunakan adalah: A4 (21 x 29,7 cm), A5 (13 x 19 cm), A6 (10,5 x 14,8 cm), B5 (17,6 x 25 cm), UNESCO (15,5 x 23 cm)
Ukuran UNESCO paling sering digunakan untuk buku akademik atau buku ilmiah seperti: buku ajar, monograf, buku referensi, book chapter
Ukuran standar membantu: mempercepat proses cetak, mempermudah finishing buku, menghemat biaya produksi, membuat tampilan buku lebih profesional
Referensi:
- Syahreal, F. (2026). Mengenal Variasi Ukuran Buku Cetak. Diakses pada 30 April 2026 dari https://beningruapustaka.com/mengenal-variasi-ukuran-buku-cetak/
- 7 Jenis Ukuran Buku Standar yang Biasa Digunakan Penerbit. (2025). Datascrip Mall. Diakses pada 30 April 2026 dari https://datascripmall.id/blog/ukuran-buku
- Agra. (2023). Pilih Ukuran Buku yang Sesuai, Bagaimana Caranya? Diakses pada 30 April 2026 dari https://onlineprint.co.id/blog/ukuran_buku/?srsltid=AfmBOorzXk6O1e4jwkTFqyGgz0BStvKGbThO4t1gieXg4gNfVXaInHur
- Petunjuk Teknis Layanan ISBN Perpustakaan Nasional RI. (2022). Perpustakaan Nasional RI. https://jdih.perpusnas.go.id/file_juknis/Petunjuk_Teknis_Layanan_ISBN.pdf








