Panduan Menulis Buku Ajar sesuai Format dan Disajikan dengan Prinsip Pedagogis

Panduan Menulis Buku Ajar yang Sesuai Format dan Disajikan dengan Prinsip Pedagogis

Menulis buku ajar untuk dosen merupakan sebuah kewajiban akademik. Sekaligus bisa disebut sebagai kebutuhan semua dosen di Indonesia. Sebab, menyusun buku ajar mendukung dosen dalam menjalankan pembelajaran yang efektif. 

Dalam menyusun naskah buku ajar, dosen tidak bisa hanya memaparkan materi perkuliahan sesuai RPS. Namun, memperhatikan juga beberapa aturan yang menyertainya. Seperti aturan teknis terkait format, penggunaan prinsip pedagogis, terbit dengan ISBN, dan sebagainya. Berikut informasinya. 

Mengapa Buku Ajar Harus Mengikuti Format dan Prinsip Pedagogis?

Menulis buku ajar untuk dosen adalah bagian dari kewajiban akademik. Sesuai ketentuan, dalam tugas pendidikan (termasuk tugas pokok) dosen di Indonesia punya kewajiban mengembangkan bahan ajar. Menulis dan menerbitkan buku ajar, termasuk di dalamnya. 

Buku ajar yang ditulis oleh dosen, kemudian wajib memenuhi ketentuan yang ditetapkan Kemdiktisaintek maupun Ditjen Dikti. Sebab, buku ajar tersebut akan digunakan menunjang kegiatan pembelajaran (perkuliahan), masuk dalam BKD, dan masuk ke penilaian angka kredit saat kenaikan jabatan akademik dosen. 

Tak hanya itu, alasan lain kenapa harus mengikuti format dan disusun dengan prinsip pedagogis adalah karena buku ajar termasuk karya tulis ilmiah. Sebagaimana karya tulis ilmiah pada umumnya, penulisan dan proses publikasi terikat sejumlah aturan. 

Adanya aturan terkait gaya bahasa, struktur penyajian yang harus sesuai alur logika keilmuan, terbit dengan melewati proses editorial, dan lain sebagainya. Memang menjadi aturan yang sekilas rumit dan ribet. 

Namun, adanya aturan ini kemudian menjadi standar baku penulisan dan penerbitan buku ajar. Kemudian yang pada akhirnya memastikan buku ajar tersebut memiliki kualitas dan kredibilitas yang baik. Misalnya dari segi isi atau substansi, seluruh informasi di dalamnya valid dan bisa dipertanggung jawabkan. 

Prinsip Pedagogis dalam Penulisan Buku Ajar

Membahas mengenai ketentuan atau aturan dalam proses menulis buku ajar untuk dosen. Selain berkaitan dengan gaya bahasa, struktur naskah, format penulisan naskah, dan detail teknis lainnya. Juga ada aturan terkait penggunaan prinsip pedagogis dalam penyusunannya. 

Sesuai ketentuan, materi yang disajikan di dalam buku ajar harus disusun menggunakan prinsip Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK). Prinsip TPACK adalah penyajian materi pembelajaran yang menggabungkan antara keterampilan pedagogik dosen dengan pemanfaatan teknologi secara terpadu. 

Jadi, materi yang dipaparkan di dalam buku ajar harus berisi 3 komponen  agar prinsip TPACK terpenuhi. Komponen tersebut antara lain: 

1. Ilmu Pengetahuan Teoritis

Komponen pertama dalam naskah buku ajar adalah ilmu pengetahuan secara teori. Jadi, isi dari buku ajar adalah teori ilmu pengetahuan atau materi secara teori. Misalnya ada penjelasan definisi materi A, fungsi, manfaat, dan sebagainya. 

2. Keterampilan Pedagogik Dosen 

Komponen kedua, naskah buku ajar juga terdapat keterampilan pedagogik dosen. Keterampilan pedagogik dipahami sebagai sebuah keterampilan seorang dosen dalam mengajar. Mulai dari memaparkan materi, menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif, dan sebagainya. 

Oleh sebab itu, di dalam buku ajar juga mencantumkan informasi mengenai metode pembelajaran yang diterapkan. Kemudian berisi penjelasan juga mengenai tujuan atau capaian pembelajaran yang akan atau ingin diraih. 

3. Pemanfaatan Teknologi

Komponen ketiga adalah pemanfaatan teknologi. Jadi, naskah buku ajar juga mendorong pemanfaatan teknologi dalam kegiatan pembelajaran. Sehingga materi yang dipaparkan dosen di dalam naskah dipelajari maupun dipraktekan dengan memanfaatkan teknologi. 

Misalnya, dalam buku ajar ditambahkan kode QR yang ketika di scan oleh mahasiswa langsung terhubung ke video pembelajaran di YouTube. Contoh lain, dalam tugas di buku ajar mahasiswa diminta menyusun video pemaparan materi yang dipelajari di salah satu babnya. 

Sehingga mahasiswa akan menggunakan sejumlah aplikasi atau platform untuk mengerjakan tugas tersebut. Melibatkan teknologi di dalam buku ajar, mendorong proses menggunakan teknologi dalam kegiatan pembelajaran. Tujuannya tentu saja untuk meningkatkan keterampilan penggunaan teknologi terkini pada mahasiswa. 

Format Buku Ajar yang Sesuai Standar Akademik

Aturan berikutnya dalam proses menulis buku ajar untuk dosen adalah mengikuti standar format yang berlaku. Format penulisan naskah buku ajar sering disamakan dengan struktur naskah buku ajar. Padahal keduanya berbeda. 

Struktur buku ajar menjelaskan bagian-bagian dari naskah buku ajar tersebut. Sedangkan format buku ajar ketentuan mengenai bagaimana buku itu ditulis dan ditampilkan secara teknis. 

Secara umum, tidak ada aturan baku terkait format penulisan buku ajar. Setiap perguruan tinggi dan beberapa penerbit, memiliki kebijakan format tersendiri. Hanya saja, format yang menjadi standar umum penulisan buku ajar diantaranya adalah: 

1. Jenis dan Ukuran Huruf 

Ketentuan format buku ajar secara umum yang pertama adalah aturan dalam penentuan jenis dan ukuran font (huruf). Dalam aplikasi olah kata yang digunakan untuk menulis buku ajar, tentunya ada pengaturan jenis dan ukuran font. 

Pengaturan ini menyesuaikan dengan ketentuan format yang ditetapkan perguruan tinggi atau penerbit yang dituju. Kebanyakan menggunakan font Time New Roman dalam ukuran 12 pt. 

Selain itu, beberapa juga mengatur terkait spasi pada naskah. Umumnya meminta pengaturan di 1,5 spasi. Namun, tentunya masing-masing perguruan tinggi dan penerbit bisa menetapkan ketentuan tersendiri atau berbeda. Dosen tinggal menyesuaikan. 

2. Struktur Kalimat sesuai Kaidah Bahasa Indonesia 

Aturan format umum kedua dari menulis buku ajar untuk dosen adalah susunan kalimat mengikuti kaidah dalam bahasa Indonesia. Mulai dari penulisan kalimat efektif, menggunakan ragam kosakata baku, tanda baca tepat, dan sebagainya. Sehingga keterbacaannya optimal dan isi naskah mudah dipahami pembaca. 

3. Ketentuan Fitur Tambahan dalam Naskah 

Buku ajar menjadi pegangan mahasiswa untuk menunjang kegiatan perkuliahan yang diikuti. Sekaligus menjadi pegangan saat mahasiswa melakukan pembelajaran mandiri. Baik itu di rumah selepas jam kuliah, di perpustakaan, dan sebagainya. 

Maka buku ajar dianjurkan ditambahkan fitur tambahan. Misalnya visualisasi data dengan tabel atau grafik dan jenis lainnya, kemudian menambahkan ilustrasi agar memperjelas materi yang dipaparkan, latihan soal dalam berbagai bentuk penugasan maupun latihan soal tertulis (isian dan pilihan ganda), dll. 

Tidak hanya dianjurkan untuk menambahkan fitur-fitur tambahan pada naskah. Seluruh fitur tersebut juga harus terlihat jelas. Maka ada ketentuan format elemen tambahan yang ditetapkan perguruan tinggi atau penerbit. Misalnya gambar ilustrasi maupun grafik minimal di resolusi 300 dpi agar terlihat atau terbaca jelas. 

4. Kutipan dan Gaya Sitasi 

Aturan umum format menulis buku ajar untuk dosen selanjutnya adalah terkait gaya sitasi dan penambahan kutipan. Buku ajar sekali lagi masuk dalam kategori buku ilmiah. maka disarankan ada kutipan dari pakar dan dari referensi kredibel yang digunakan untuk menguatkan penjelasan materi maupun argumen penulis. 

Kutipan harus diakhiri dengan sitasi yang mencantumkan sumbernya darimana secara jelas. Sitasi dan daftar pustaka menjadi wajib dilakukan. Pihak perguruan tinggi maupun penerbit menentukan gaya sitasi yang digunakan. Para dosen tentu perlu menyesuaikan ketentuan tersebut. 

5. Ukuran Cetak 

Format penulisan yang terakhir adalah aturan atau ketentuan terkait ukuran cetak. Secara umum, ukuran cetak paling dianjurkan untuk buku ilmiah termasuk juga buku ajar adalah ukuran UNESCO (15,5 cm x 23 cm). 

Bagi dosen yang berencana menulis buku ajar, maka wajib membaca buku panduan yang disediakan perguruan tinggi. Jika naskah buku ajar ingin diterbitkan. Maka wajib mengecek ada tidaknya ketentuan format penulisan yang ditetapkan penerbit tujuan. Jika ada, maka mengecek format dilakukan lebih dulu. Baru kemudian mulai menulis buku ajar. 

Baca juga: Buku Ajar: Manfaat, Contoh, Jenis dan Cara Menulis

Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Penulisan Buku Ajar

Menulis buku ajar untuk dosen adalah sebuah bentuk tanggung jawab dan sikap profesional. Sebab memang menjadi salah satu kewajiban akademik yang harus dijalankan oleh semua dosen di Indonesia. 

Meskipun menjadi kewajiban yang melekat selama masa pengabdian. Ternyata masih banyak dosen melakukan berbagai kesalahan dalam menulis buku ajar. Berikut beberapa diantaranya: 

1. Terlalu Perfeksionis saat Menulis Buku Ajar

Kesalahan pertama dalam menulis buku ajar oleh dosen adalah terlalu perfeksionis. Artinya, dosen berharap buku ajar yang disusun sempurna tanpa kesalahan. Sehingga saat dikirim ke penerbit langsung naik ke proses cetak dan penerbitan. 

Aktualnya tidak demikian, revisi adalah hal umum dalam penerbitan. Jika terlalu perfeksionis, maka naskah buku ajar tidak akan kunjung selesai. Kemudian bisa gagal diterbitkan atau sengaja tidak diterbitkan. 

2. Menunggu Waktu Luang untuk Menulis Buku Ajar

Kesalahan umum kedua, dosen menulis naskah buku ajar menunggu waktu luang. Padahal dosen punya kesibukan akademik tinggi. Selepas jam kerja, dosen tentu disibukan dengan urusan pribadi dan keluarga. Kesalahan ini membuat dosen tidak menyusun jadwal menulis, tidak konsisten menulis, dan naskah terbengkalai. 

3. Menulis Buku Ajar dari Nol 

Kesalahan umum ketiga yang sering dilakukan dosen adalah menulis naskah buku ajar dari nol. Padahal buku ajar disusun dosen mengacu pada RPS. Selain itu, dosen juga bisa mengkonversi modul untuk dijadikan buku ajar. Tujuannya agar proses penulisan lebih efisien dan efektif. 

4. Kesalahan dalam Menentukan Target Pembaca 

Kesalahan berikutnya yang sering dilakukan dosen saat menulis buku ajar adalah keliru menentukan target pembaca. Buku ajar punya target pembaca kalangan mahasiswa. Sehingga tidak sama dengan target pembaca untuk buku monograf, referensi, dan bunga rampai. 

Kesalahan ini membuat gaya bahasa tidak sesuai karakter target pembaca, susunan materi, cara penyajian, dan sebagainya juga tidak sesuai. Hal ini berdampak pada rendahnya jumlah pembaca. Bahkan dari pihak penerbit bisa menolak naskah. Sekalinya diterima, maka akan ada revisi skala besar. 

5. Tiap Siap Revisi di Proses Penerbitan 

Kesalahan lainnya adalah dosen menganggap revisi merupakan tahap tidak penting dan tidak siap menghadapinya. Dosen merasa naskah buku ajar sudah sempurna sehingga enggan melakukan revisi. 

Pada saat ada permintaan revisi, dosen malah memilih penerbit lain. Besar kemungkinan penerbit alternatif kurang kredibel, sehingga tidak ada proses editorial. Dampaknya kualitas buku ajar tidak terjamin dan tidak diakui Ditjen Dikti. 

Masih Ragu dengan Buku Ajar yang Sedang Dikembangkan?

Bagi para dosen yang menghadapi berbagai tantangan maupun kesulitan dalam menulis buku ajar. Kemudian masih bingung mengenai ketentuan format penulisan dan bagaimana menyajikan materi menggunakan prinsip pedagogik. 

Maka tentunya para dosen jangan sampai berpangku tangan. Dalam kondisi ini, dosen bisa menggunakan layanan Konsultasi Menulis dari Penerbit Deepublish. Melalui layanan ini, para dosen akan dibantu untuk menulis buku ajar secara lebih terarah. 

Informasi lebih rinci terkait layanan Konsultasi Menulis dari Penerbit Deepublish bisa mengunjungi tautan berikut https://penerbitdeepublish.com/konsultasi-menulis-penerbit-buku/

FAQ (Frequently Asked Questions)

1. Kenapa buku ajar harus mengikuti format dan prinsip pedagogis?

Karena buku ajar tidak hanya sebagai materi bacaan, tetapi juga alat pembelajaran. Dengan mengikuti format dan prinsip pedagogis, isi buku menjadi lebih sistematis, mudah dipahami mahasiswa, serta memenuhi standar akademik untuk BKD dan kenaikan jabatan.

2. Bagaimana cara menyusun buku ajar agar sesuai standar akademik?

Mulai dengan mengikuti format umum seperti penggunaan font, struktur kalimat baku, sitasi, serta penambahan fitur seperti ilustrasi dan latihan soal. Selain itu, sesuaikan juga dengan pedoman dari kampus atau penerbit tujuan.

3. Apa kesalahan paling umum saat menulis buku ajar?

Beberapa kesalahan umum: menulis dari nol tanpa memanfaatkan materi yang ada, tidak konsisten menulis, salah menentukan target pembaca, dan menghindari revisi.

4. Apa solusi jika dosen masih kesulitan menulis buku ajar?

Dosen dapat menggunakan layanan konsultasi menulis dari Penerbit Deepublish untuk mendapatkan arahan terkait struktur, format, dan strategi penulisan agar lebih terarah.

Referensi:

  1. Nurlina., Basaria, F. T., Ernawati, E., Supria., & Taruliasi, A. M. (2023). Panduan Penerbitan Buku BINUS Press. BINUS University Press. https://research.binus.ac.id/wp-content/uploads/2024/09/Pedoman-Penerbitan-Buku-BINUS-Press.pdf
  2. Sereliciouz. (2022). TPACK: Pengertian, Komponen, Unsur Lengkap dengan Contoh. Diakses pada 18 April 2026 dari https://www.quipper.com/id/blog/info-guru/tpack/
  3. Mamarimbing, F. R. (2024). Apa itu TPACK: Pendekatan, Unsur, dan Aspek Utama. Diakses pada 18 April 2026 dari https://guruinovatif.id/artikel/apa-itu-tpack-pendekatan-unsur-dan-aspek-utama
  4. Sholihin, M. R. (2024). Strategi Penulisan Buku Ajar. Media Kunkun Nusantara. https://omp.mediakunkun.com/index.php/book/catalog/book/2
  5. Kang Hayat. [@kang.hayat]. (2026, Jan 31). 3 Kesalahan Dosen dalam Menulis Buku Ajar… [Rheel]. Instagram. https://www.instagram.com/reels/DUKIpvAkxjF/ 
  6. Afton, Z. (2026). Kesalahan Umum Dosen saat Menulis Buku Ajar dari Materi Kuliah. Diakses pada 18 April 2026 dari https://penerbitkbm.com/kesalahan-umum-dosen-saat-menulis-buku-ajar-dari-materi-kuliah/?srsltid=AfmBOor6dRKZDdAtBvCbUNskbxlLSJ7HxlecH_C4Jhp6ClmENi6OiAN4 

Artikel Penulisan Buku Pendidikan