Pada saat menyusun karya tulis ilmiah (KTI), maka biasanya menambahkan kutipan. Penambahan kutipan tidak langsung lebih dianjurkan untuk menurunkan skor kesamaan teks (similarity indeks). Salah satu strateginya adalah melakukan parafrase dan menjadi kutipan tidak langsung.
Parafrase di era sekarang cenderung lebih mudah. Sebab penulis KTI tidak harus mengerjakannya manual. Akan tetapi bisa menggunakan tools parafrase AI. Yaitu platform berbasis teknologi AI (Artificial Intelligence/Kecerdasan Buatan) yang membantu melakukan parafrase.
Hanya saja, penggunaan AI untuk kebutuhan parafrase dalam menyusun kutipan tidak langsung di dalam KTI. Tentu perlu dilakukan secara bijak untuk menghindari pelanggaran etika. Jadi, seperti apa penggunaan yang aman dan bijak tersebut? Berikut informasinya.
Parafrase adalah proses menulis ulang suatu kalimat dari referensi yang digunakan menggunakan bahasa sendiri tanpa mengubah makna. Parafrase bisa membantu menurunkan skor kesamaan teks. Sekaligus meningkatkan keterbacaan KTI yang disusun.
Sementara tools parafrase AI adalah platform atau software (perangkat lunak) berbasis teknologi AI yang membantu menulis ulang suatu kalimat dengan bahasa berbeda. Secara sederhana, platform ini membantu melakukan parafrase daring dengan teknologi AI.
Penggunaan teknologi AI, membuat proses parafrase menjadi lebih cepat. Kemudian juga cenderung lebih efektif dalam menyampaikan ulang dalam susunan kalimat berbeda tapi tidak mengubah makna. Lalu, bagaimana tools parafrase AI bekerja? Secara umum, berikut cara kerjanya:
Platform AI yang membantu proses parafrase, memiliki cara kerja yang diawali dengan teks yang dimasukan ke platform oleh pengguna. Artinya, para penulis yang memakai platform wajib memasukan teks yang ingin diparafrase ke sistem.
Pada platform parafrase AI dalam bentuk website. Biasanya di halaman utama terdapat kolom untuk tempat teks asli. Silahkan masukkan teks di dalamnya. Baik secara copy paste maupun mengunggah file dokumen, menyesuaikan cara penggunaan platform AI.
Sistem di platform AI akan melaksanakan perintah dari pengguna untuk melakukan parafrase pada teks yang dimasukan. Pada tahap awal, sistem di platform akan melakukan analisis teks. Sehingga bisa memahami isi teks, makna, konteks, dan detail lain. Sebab hasil parafrase tidak boleh mengubah makna.
Platform AI akan mulai melakukan transformasi atau mengubah teks asli menjadi teks baru dengan gaya bahasa berbeda. Namun tetap mempertahankan makna dari teks asli yang dimasukan ke sistem oleh pengguna.
Tahap akhir dalam cara kerja parafrase oleh platform AI adalah menampillkan hasil transformasi teks. Pada kolom hasil, sistem akan menampilkan teks parafrase yang sudah dibuat dengan teknologi AI. Teks hasil parafrase ini bisa diperiksa oleh pengguna dan dicantumkan di dalam KTI.
Pada saat memanfaatkan tools parafrase AI, tentu muncul kekhawatiran bisa terdeteksi penulisan dengan AI. Dalam dunia penulisan KTI, menggunakan AI untuk membantu proses menulis menjadi hal yang semakin lumrah dilakukan. Hanya saja, harus mengedepankan aturan dan etika penggunaan.
Lalu, apakah parafrase yang dikerjakan platform AI bisa terdeteksi oleh fitur AI Detector di Turnitin maupun platform lain? Jawabannya adalah bisa, bergantung pada hasil parafrase dari platform AI yang digunakan oleh penulis.
AI detektor memiliki cara kerja memeriksa teks yang menggunakan gaya penulisan kaku dan berulang. Sehingga menganalisis aspek humanis di dalam teks tersebut. Teks yang disusun oleh AI biasanya sangat rapi, gaya bahasa datar dan netral, dan ciri khas lain.
Dimana ciri tersebut jarang dijumpai pada teks yang disusun oleh manusia. Teks buatan manusia tetap dijumpai kesalahan, ada konteks pada teks yang disusun sehingga tidak selalu datar dan netral.
Jadi, jika parafrase yang dihasilkan platform AI masih kurang humanis. Maka ada indikasi terdeteksi oleh fitur AI detektor di Turnitin. Hal serupa juga berlaku saat teks diperiksa di platform AI detektor lainnya.
Jika memang terdeteksi parafrase dibuat oleh AI. Apakah akan menjadi masalah? Jawabannya bergantung pada beberapa hal. Misalnya jika Anda dosen atau mahasiswa. Maka bergantung pada kebijakan perguruan tinggi yang menaungi.
Apakah diperbolehkan menulis KTI dengan bantuan AI? Jika diperbolehkan, maka berapa batasan persentase penggunaan AI untuk proses menyusun KTI? Jadi, perlu menyesuaikan dengan kebijakan yang ada. Jika tidak diperbolehkan dan tetap melakukan parafrase dengan AI, maka sudah termasuk pelanggaran etika dan diberi sanksi akademik.
Hal serupa juga berlaku untuk proses publikasi KTI yang disusun. Jika Anda dosen, dan menggunakan AI untuk melakukan parafrase kutipan pada naskah buku ilmiah. Maka periksa kembali kebijakan penerbit buku yang dipilih.
Apakah penerbit memperbolehkan penggunaan AI? Jika boleh, batasannya bagaimana dan seperti apa? Kemudian, bagaimana ketentuan transparansi penggunaan AI oleh penerbit tersebut? Sehingga, penulis bisa mengetahui bagaimana menyusun pengakuan penggunaan AI untuk kebutuhan parafrase sesuai kebijakan penerbit.
Keberadaan tools parafrase AI bisa membantu proses menulis KTI secara lebih efektif dan efisien. Hanya saja, teknologi AI rentan dengan pelanggaran etika. Salah satunya jika dalam kondisi KTI disusun sepenuhnya oleh platform AI tersebut. Sehingga sudah menggantikan peran penulis.
Padahal secara etika, AI dalam bentuk dan fitur apapun hanya boleh digunakan sebagai tools atau alat bantu. Bukan sebagai pengganti. Maka, saat membutuhkan bantuan AI dalam melakukan parafrase seorang penulis perlu memahami batasannya. Berikut adalah ketentuan umum untuk memastikan AI digunakan sesuai batas aman dan wajar:
Cara aman yang pertama dalam menggunakan platform AI untuk kebutuhan parafrase adalah digunakan dengan bijak. Artinya, saat membutuhkan kutipan tidak langsung. Kemudian berencana memasukan 3 kutipan.
Maka sebaiknya 3 kutipan tidak dibuat seluruhnya oleh AI. Gunakan saat berhadapan dengan kutipan yang sulit dipahami, ada diksi yang tidak diketahui unutk menjelaskan ulang teks asli, dan kondisi lainnya.
Kemudian, gunakan platform parafrase AI seperti Quillbolt, Grammarly, dan sebagainya sebagai parafrase awal. Artinya, manfaatkan hasil parafrase platform tersebut. Namun, tidak digunakan sepenuhnya dengan disalin utuh. Melainkan diperiksa ulang dan melakukan penyesuaian agar tidak terdeteksi dihasilkan AI.
Cara aman kedua melakukan parafrase dengan bantuan AI adalah selalu memposisikannya sebagai alat bantu, bukan pengganti. Caranya, diawali dengan menggunakan platform AI saat dibutuhkan saja. Jika parafrase bisa dilakukan mandiri, maka dikerjakan manual tanpa AI.
Kedua, setiap kali memakai AI untuk mengerjakan parafrase. Maka hasil parafrase jangan asal disalin ke dalam naskah KTI. Melainkan diperiksa dulu, untuk memastikan makna tidak berubah sesuai makna di dalam teks asli.
Melalui tata cara tersebut, maka peran platform AI murni sebagai alat bantu. Sebab masih membutuhkan kehadiran pengguna dan kontribusi keilmuan pengguna. Kondisi ini membuat platform AI tidak bisa menggantikan pengguna yang merupakan penulis KTI.
Cara aman yang ketiga, adalah tetap melakukan pengecekan tingkat kesamaan teks. Sekaligus mengecek hasil deteksi AI pada KTI yang disusun. Bisa menggunakan Turnitin maupun platform cek kesamaan teks dan deteksi AI lainnya.
Kenapa perlu dilakukan pengecekan? Sebab setiap kali menyusun KTI, baik dengan bantuan AI maupun tidak tetap ada risiko skor kesamaan teks tinggi. Meski tidak menjamin KTI hasil plagiarisme. Namun, skor kelewat tinggi meningkatkan indikasi isi KTI kurang orisinil dan kurang unik.
Hasil cek kesamaan teks bisa menjadi dasar acuan revisi sebelum mengurus penerbitan KTI tersebut. Hal serupa juga diterapkan untuk deteksi AI. Jika ada bagian-bagian dari isi KTI terdeteksi disusun oleh AI. Maka bisa dilakukan perbaikan, agar teks memang disusun oleh penulis sendiri bukan 100% AI.
Jika memang pada saat menggunakan AI untuk kebutuhan parafrase maupun kebutuhan lainnya dalam penulisan KTI. Kemudian penggunaan tersebut mempengaruhi penambahan dan perubahan konten atau substansi isi KTI. Maka tentu perlu ada pengakuan.
Pahami ketentuan perguruan tinggi dan penerbit dalam proses pengakuan penggunaan AI. Apakah dicantumkan di halaman awal, misalnya di bagian pendahuluan atau bab pertama (jika KTI berbentuk buku ilmiah) atau bagian lampiran?
Kemudian, pahami juga bagaimana melakukan pengakuan terhadap penggunaan AI. Susunan kalimatnya bagaimana, apa saja bukti yang dilampirkan, dan detail lainnya. Biasanya dicantumkan di buku panduan penulisan dan penerbitan.
Parafrase dalam menyusun KTI menjadi langkah strategis untuk menurunkan skor kesamaan teks. Sehingga menjadi bagian dari antisipasi terjadi plagiarisme oleh penulis KTI tersebut. Hanya saja, parafrase pada penyusunan KTI harus mengedepankan etika sehingga tidak bisa asal dilakukan.
Berikut adalah tata cara melakukan parafrase saat mengutip sumber dan tetap beretika agar terhindar dari plagiarisme serta pelanggaran lainnya:
Tahap pertama dalam melakukan parafrase adalah membaca teks asli dan memahaminya secara utuh. Artinya, teks yang akan di parafrase harus dipahami dulu. Tujuan utamanya adalah untuk menghindari perubahan makna pasca parafrase.
Pada tahap ini, penulis perlu membaca teks asli dan beberapa informasi di naskah tempat teks tersebut berada. Maksudnya, penulis perlu memahami teks dan konteks yang menyertainya.
Saat ingin melakukan parafrase pada satu kalimat atau mungkin satu paragraf. Maka tidak cukup hanya membaca kalimat atau paragraf aslinya. Tetap harus membaca kalimat lain dari paragraf lain yang menyertainya, agar konteks juga jelas. Inilah alasan kenapa parafrase juga butuh waktu untuk dikerjakan, tidak bisa cepat atau kilat.
Tahap kedua setelah memahami teks asli secara utuh dan sesuai dengan konteks. Maka masuk ke proses parafrase itu sendiri. Yakni mencoba ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri.
Ada banyak cara instan untuk melakukan parafrase. misalnya mengganti suatu kata dengan sinonim, mengubah dari kalimat pasif menjadi kalimat aktif, dan strategi lainnya. Namun secara etika, teknik semacam ini kurang etis.
Misalnya memakai strategi atau teknik sinonim. Jika di satu kalimat hanya mengubah satu atau dua kata dengan persamaan kata yang makna sama. Maka artinya, kata lain di dalam kalimat tersebut tetap masih sama persis dengan teks asli.
Hasil parafrase yang masih terlalu banyak susunan kata dan kalimat yang sama persis dengan teks aslinya. Tentu tidak bisa disebut parafrase. Sebab tidak ada proses menulis ulang, hanya mengganti kata. Pada saat cek kesamaan teks di Turnitin, masih rentan skornya tinggi.
Jadi, menulis ulang dengan gaya bahasa sendiri adalah proses menulis ulang dari nol. Susunan kalimat akan berbeda jauh, pemilihan kata (diksi) tidak banyak yang sama dengan teks asli, dan saat cek kesamaan teks maka skor cenderung di batas aman.
Baca juga: Cara Memparafrase Kalimat Agar Terhindar Plagiarisme
Tahap ketiga dalam tata cara melakukan parafrase pada kutipan di KTI adalah mempertimbagkan penggunaan AI. Khususnya saat merasa memang membutuhkan bantuan dalam proses parafrase.
Terdapat beberapa kondisi yang memang membuat penulis tidak memungkinkan mengerjakan parafrase manual. Misalnya, saat kurang memahami makna dari teks asli.
Kadang, teks dari referensi mencantumkan pendapat ahli dan relevan dengan topik KTI yang disusun. Hanya saja sulit dipahami. Oleh sebab itu, dibanding beresiko hasil parafrase mengubah makna. Menggunakan tools parafrase AI bisa menjadi penyelamat sekaligus strategi praktis.
Kondisi lainnya yang membuat penggunaan AI perlu dipertimbangkan oleh penulis cukup beragam. Seperti ada keterbatasan waktu, padahal parafrase tidak bisa dilakukan secara kilat. Kemudian, ada keterbatasan perbendaharaan kata sehingga sulit menemukan padanan kata dan istilah yang sesuai untuk teks asli.
Baca juga: 18 Rekomendasi AI Selain Chat GPT dan Gemini
Sekalipun parafrase menghasilkan kutipan tidak langsung, sehingga teks tidak sama persis dengan referensi yang digunakan. Bukan berarti tidak harus mencantumkan sumber kutipan tidak langsung tersebut.
Mencantumkan sumber kutipan tetap wajib dilakukan dan menggunakan teknik sesuai dengan gaya sitasi yang digunakan. Beberapa gaya sitasi hanya mencantumkan nama dan tahun sebagai informasi sumber kutipan. Beberapa lagi perlu mencantumkan tahun terbit dan unsur lainnya.
Kemudian, sitasi bisa ditempatkan di awal kutipan, di tengah, maupun di akhir kutipan tidak langsung tersebut. Posisi sitasi sah saja ditempatkan dimanapun. Namun, perlu memastikan tercantum alami dan bisa mengalir dengan kalimat di dalam teks KTI.
Salah satu tujuan utama dari melakukan parafrase adalah menurunkan skor kesamaan teks. Namun, parafrase yang menghasilkan kutipan tidak langsung tentunya tidak menjamin skor rendah.
Tetap akan ada kemungkinan skor tinggi. Apabila skor tersebut melebihi batas aman yang ditetapkan perguruan tinggi dan/atau penerbit. Maka mau tidak mau perlu direvisi hingga skor terbaru sesuai dengan batas aman. Maka cek kesamaan teks tetap wajib dilakukan.
Menggunakan tools parafrase AI pada dasarnya sah saja dilakukan, artinya boleh dilakukan selama regulasi memang sejalan. Jika perguruan tinggi atau mungkin penerbit ada larangan menggunakan AI, maka tentunya menjadi haram melakukan parafrase dengan bantuan AI. Begitu juga sebaliknya, sehingga para penulis perlu menyesuaikan.
Jika aturan memperbolehkan penggunaan AI dalam parafrase. Maka tentu penggunaannya harus bijak dan dilakukan transparan, yaitu diakui sesuai ketentuan yang berlaku. Berhubung penggunaan AI untuk kebutuhan parafrase memang ada batasan aturan. Maka tentu lebih disarankan bagi penulis untuk mengasah keterampilan parafrase mandiri.
Mengikuti pelatihan dan terus menulis bisa membantu meningkatkan keterampilan parafrase. Sehingga di masa mendatang, penulis tidak lagi bergantung pada tools parafrase AI karena bisa dikerjakan sendiri secara manual.
Tools parafrase AI dapat digunakan sebagai alat bantu selama penggunaannya sesuai dengan kebijakan perguruan tinggi atau penerbit serta tidak menggantikan peran penulis.
Gunakan AI hanya ketika dibutuhkan, periksa kembali hasil parafrase, pastikan makna tidak berubah, lakukan pengecekan similarity dan deteksi AI, serta transparan mengenai penggunaannya sesuai kebijakan yang berlaku.
AI dapat dipertimbangkan ketika penulis kesulitan memahami teks asli, memiliki keterbatasan waktu, atau kesulitan menemukan diksi yang tepat. Namun, hasilnya tetap perlu diperiksa dan disesuaikan oleh penulis.
Mulailah dengan memahami teks asli secara utuh, menulis ulang menggunakan gaya bahasa sendiri, menggunakan AI hanya jika diperlukan, mencantumkan sumber, kemudian mengecek kembali kesamaan teks.
Referensi:
Keluarga besar Penerbit Deepublish menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi kepada Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) atas…
Penerbit Deepublish kembali mendapat kunjungan dari salah satu perguruan tinggi di Indonesia. Kali ini, kunjungan…
Hasil penelitian dosen, tentunya wajib disebarluaskan. Menariknya, dosen memiliki peluang untuk menyebarluaskannya secara optimal. Yakni…
Salah satu tahapan dalam penerbitan buku elektronik (ebook), adalah menentukan format ebook tersebut. Salah satu…
Universitas Halmahera dan Penerbit Deepublish kembali memperkuat kolaborasi melalui perpanjangan Nota Kesepahaman atau Memorandum of…
Penerbit Deepublish berkolaborasi dengan Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI), sukses menyelenggarakan Webinar “Optimalisasi Luaran Penelitian:…