Akademisi (dosen dan mahasiswa) yang menyusun karya tulis ilmiah (KTI), tentunya perlu paham betul cara menulis daftar pustaka. Daftar pustaka berisi seluruh referensi atau rujukan yang digunakan untuk menyusun KTI.
Penyusunan atau penulisan daftar pustaka diawali dengan menentukan gaya sitasi. Kemudian memahami standar penulisan dengan gaya sitasi yang sudah ditentukan tersebut. Baru kemudian memulai proses penulisan daftar pustaka. Seperti apa rincian prosesnya? Berikut informasinya.
Dalam tata cara menulis daftar pustaka, diawali dengan menentukan gaya sitasi. Pada dasarnya, gaya sitasi tidak ditentukan oleh akademisi sendiri. Jika KTI bersifat internal seperti KTI untuk tugas kuliah, skripsi, dan sejenisnya. Maka gaya sitasi menyesuaikan kebijakan perguruan tinggi.
Sementara untuk KTI yang akan dipublikasikan dalam prosiding, jurnal, maupun diterbitkan dalam bentuk buku ilmiah. Maka gaya sitasi ditentukan oleh pihak penerbit (publisher). Jadi, para akademisi perlu mengecek dulu gaya sitasi yang ditentukan salah satu pihak tersebut.
Baca juga: 7 Style Daftar Pustaka, Mana yang Sebaiknya Digunakan?
Dalam tata cara menulis daftar pustaka dengan gaya sitasi jenis apapun, tentunya ada tahap memahami unsur yang perlu dicantumkan. Secara umum, setiap gaya sitasi memiliki standar unsur yang berbeda satu sama lain.
Meskipun begitu, berikut adalah unsur-unsur yang biasanya ada di berbagai gaya sitasi tersebut:
Unsur pertama yang menyusun daftar pustaka adalah nama penulis yang karyanya dijadikan referensi. Nama penulis biasanya disusun dalam bentuk singkat. Pada APA Style misalnya, nama penulis dimulai dari nama belakang dan disusun inisial nama depan dan nama tengah.
Nama penulis pada sebuah karya bisa lebih dari satu. Pada beberapa gaya sitasi penulisan penulis bisa hanya mencantumkan beberapa nama. Misalnya dalam APA Style Edisi ke-7, nama penulis ditulis seluruhnya maksimal 20 penulis.
Unsur umum yang kedua adalah tahun publikasi. Sehingga perlu mencantumkan informasi mengenai kapan karya yang dijadikan referensi dipublikasikan. Biasanya unsur ini ditulis setelah nama penulis.
Unsur yang ketiga adalah judul dari referensi yang digunakan oleh penulis KTI. Dalam penulisan judul, sumber jenis tertentu ditulis lengkap. Ada juga sumber jenis lain yang ditulis sebagian kecil.
Misalnya dalam APA Style, jika sumber dari konten di media sosial. Kemudian tidak ada judul, maka judul diisi dengan bagian dari caption yang disusun pemilik konten. Selain itu, di APA Style untuk judul ditulis miring kecuali jika sumber dari jurnal ilmiah.
Unsur selanjutnya adalah informasi penerbit. Biasanya mencakup nama penerbit dari referensi yang digunakan. Jika referensi dari buku, diisi nama penerbit buku. Jika referensi dari jurnal, diisi nama jurnal.
Jika referensi dari artikel daring di website, diisi nama website atau pihak pengelolanya. Isi dari informasi penerbit mengikuti ketentuan gaya sitasi yang digunakan. Sebab tidak semua gaya sitasi meminta nama website untuk referensi dari artikel daring.
Unsur berikutnya adalah link tautan menuju ke referensi yang digunakan jika sifatnya daring. Pada artikel dari jurnal daring, maka biasanya diisi dengan DOI. Jika sumber dari artikel daring pada website, maka diisi link URL ke artikel tersebut.
Bagi para akademisi yang membutuhkan informasi rinci mengenai bagaimana cara menulis daftar pustaka dalam gaya sitasi tertentu. Maka berikut adalah langkah-langkah dalam proses tersebut:
Dalam menulis halaman daftar pustaka, tentunya diawali dengan menentukan gaya sitasi. Kemudian memahami aturan penulisan daftar pustaka sesuai gaya sitasi tersebut.
Sesuai penjelasan sebelumnya, gaya sitasi tidak memungkinkan ditentukan sendiri oleh penulis. Bagi penulis yang berstatus akademisi, khususnya mahasiswa. Maka gaya sitasi mengikuti kebijakan perguruan tinggi yang menaungi.
Inilah alasan dalam menyusun tugas akhir baik itu skripsi, tesis, maupun disertasi ada buku panduan. Salah satu informasi di dalamnya adalah jenis gaya sitasi yang ditetapkan perguruan tinggi.
Pada publikasi karya tulis ilmiah, gaya sitasi mengikuti kebijakan penerbit atau publisher. Misalnya, ketika dosen atau mahasiswa ingin menerbitkan hasil penelitian menjadi artikel jurnal ilmiah. Maka gaya sitasi menyesuaikan kebijakan pengelola jurnal yang dituju.
Jadi, pahami dulu KTI yang disusun untuk sitasi dan daftar pustaka memakai gaya sitasi apa. Sebab jenisnya beragam dan sebagai penulis tidak menentukannya sendiri. Setelah diketahui, maka dipelajari bagaimana aturan penulisannya.
Tahap kedua dalam cara menulis daftar pustaka adalah mengidentifikasi sumber yang digunakan. Kenapa? Sebab, jenis sumber menentukan susunan dan unsur di dalam penulisan daftar pustaka.
Misalnya, jika referensi yang digunakan untuk menyusun skripsi ada dari perpustakaan kampus dan internet. Maka kelompokan menjadi dua, sumber mana saja yang didapatkan dari perpustakaan kampus. Kemudian, sumber mana saja yang dari internet.
Sumber dari perpustakaan, diidentifikasi dulu mana yang berupa buku cetak, buku elektronik, jurnal elektronik, skripsi, tesis, disertasi, dll. Sumber dari internet bisa diidentifikasi dulu mana yang artikel website, artikel jurnal, artikel repository perguruan tinggi, dll.
Baru kemudian, mempelajari format penulisan daftar pustaka untuk masing-masing sumber atau referensi tersebut. Unsur apa saja yang perlu dicantumkan, mana yang ditulis huruf miring dan tidak (ditulis biasa), dan sebagainya.
Supaya lebih mudah dan penulisan daftar pustaka lebih efisien, sebaiknya mengumpulkan elemen atau unsur daftar pustaka. Dibuat satu per satu, berurutan. Misalnya dimulai dari kelompok referensi yang diperoleh dari perpustakaan.
Jika ada referensi berbentuk skripsi, silahkan menuliskan unsur yang perlu dicantumkan sesuai ketentuan gaya sitasi. Berlanjut ke sumber lain yang didapat dari perpustakaan kampus.
Jika sudah selesai, berlanjut ke sumber yang didapat dari internet. Begitu seterusnya, sampai seluruh referensi dari berbagai jenis dan sumber sudah disusun di halaman daftar pustaka.
Tahap keempat atau bisa disebut tahap terakhir, susunan daftar pustaka yang sudah dibuat di tahap sebelumnya kemudian diperiksa atau di cek. Mulailah memeriksa satu per satu, apakah ada unsur yang belum tercantum? Apakah ada sumber yang belum masuk daftar pustaka?
Jika sudah, maka tinggal dilakukan pengaturan agar tampilan semakin sesuai dengan ketentuan gaya sitasi yang digunakan. Misalnya, saat memakai APA Style. Perlu memastikan daftar pustaka berurutan secara alfabetis.
Selain itu, setiap referensi format penulisan di baris kedua harus menjorok ke dalam atau Hanging Indent (Indentasi Gantung). Jadi, di tahap ini silahkan dirapikan dan disusun tampilannya agar sesuai ketentuan gaya sitasi. Hal teknis intinya sudah harus dipastikan terpenuhi di tahap ini.
Jika merasa kesulitan dan rentan melakukan kesalahan jika menulis daftar pustaka secara manual. Anda bisa mempertimbangkan penggunaan aplikasi manajemen referensi. Misalnya Mendeley, Zotero, EndNote, dan sejenisnya.
Silahkan menentukan dulu ingin memakai aplikasi manajemen referensi yang mana. Kemudian pelajari bagaimana cara menyusun daftar pustaka dengan fitur di dalamnya agar minim kesalahan dan prosesnya juga cepat.
Baca juga: 10 Aplikasi untuk Mencari Referensi Buku Berkualitas
Salah satu jenis gaya sitasi yang paling banyak digunakan di perguruan tinggi Indonesia serta pengelola jurnal adalah APA Style. Format umum penulisan daftar pustaka dengan APA Style adalah sebagai berikut:
Nama pengarang paling belakang, Nama pengarang paling depan diikuti Nama tengah. (Tahun terbit). Judul. Tempat terbit: nama penerbit.
Setiap jenis sumber, ketersediaan unsur atau elemen pada sumber (seperti ada tidaknya informasi nama penulis, penerbit, tahun terbit, dll) ikut mempengaruhi hasil akhir penulisan daftar pustaka pada APA Style.
Berikut adalah beberapa contoh bagaimana menulis daftar pustaka yang baik dan benar sesuai ketentuan gaya sitasi APA Style:
Franklin, J. H. (1985). George Washington Williams: A biography. Chicago: University of Chicago Press.
McLuhan, M., & Franklin, J. H. (1985). George Washington Williams: A biography. Chicago: University of Chicago Press.
George Washington Williams: A biography. (1985). Chicago: University of Chicago Press.
Davis, J. (2022). Familiar birdsongs of the Northwest. Dikutip dari http://www.powells.com/cgi-bin/biblio?inkey=1-9780931686108-0
Weber, B., & Davis, J. 2022). Familiar birdsongs of the Northwest. Dikutip dari http://www.powells.com/cgi-bin/biblio?inkey=1-9780931686108-0
Familiar birdsongs of the Northwest. (2022). Dalam Powells. Dikutip dari http://www.powells.com/cgi-bin/biblio?inkey=1-9780931686108-0
Harris, L. (2024). Instructional leadership perceptions and practices of elementary school leaders [Unpublished doctoral dissertation]. University of Virginia.
Harris, L. (2014). Instructional leadership perceptions and practices of elementary school leaders [Doctoral dissertation, University of Virginia].
Harris, L. (2014). Instructional leadership perceptions and practices of elementary school leaders [Doctoral dissertation, University of Virginia]. https://digitalarchive.wm.edu/doctoraldisertation
Bernstein, M. (2002). 10 tips on writing the living Web. A List Apart: For People Who Make Websites. Dikutip dari http://www.alistapart.com/articles/writeliving
Zeitz MOCAA [@zeitzmocaa], (2018, November 26). Grade 6 learners from Parkfields Primary School in Hanover Park visited the museum for a tour and workshop hosted by [Photographs]. Instagram. https://www.instagram.com/p/BqpHpjFBs3b/
Gaiman, N. (2018, March 22). 100,000+ Rohingya refugees could be at serious risk during Bangladesh’s monsoon season. My fellow UNHCR Goodwill Ambassador Cate Blanchett is [Image attached] [Status update]. Facebook. http://bit.ly/2JQxPAD
Santoso, B. (2026, 15 Oktober). Tantangan pendidikan di era digital. Suara Merdeka, 5.
Santoso, B. (2026, 15 Oktober). Tantangan pendidikan di era digital. Suara Merdeka. https://www.suaramerdeka.com/contoh-artikel
Rahmawati, S., & Pratama, A. (2025). Pengaruh literasi digital terhadap kemampuan belajar mahasiswa. Jurnal Pendidikan Indonesia, 14(2), 120–132.
Rahmawati, S., & Pratama, A. (2025). Pengaruh literasi digital terhadap kemampuan belajar mahasiswa. Jurnal Pendidikan Indonesia, 14(2), 120–132. https://doi.org/10.1234/jpi.2025.14208
Dalam APA Style edisi ke-7, nama penulis untuk karya kolaborasi maka nama semua penulis ditulis seluruhnya sampai penulis ke-20. Namun, jika menggunakan gaya sitasi selain APA Style, maka tentunya memiliki ketentuan berbeda dan bisa menyesuaikan.
Melalui penjelasan sebelumnya, bisa dipahami bahwa cara menulis daftar pustaka memang cukup rumit. Pertama, ada banyak gaya sitasi. Kedua, ada unsur-unsur yang harus disusun berurutan menyesuaikan standar penulisan dari gaya sitasi yang digunakan.
Inilah alasan kenapa menulis halaman daftar pustaka tidak bisa diremehkan. Sekaligus sangat memungkinkan butuh waktu lama. Jadi, jika merasa kesulitan disusun secara manual sebaiknya mempertimbangkan penggunaan aplikasi manajemen referensi.
Saat ini, ada banyak sekali pilihan aplikasi manajemen referensi. Paling populer di Indonesia ada Mendeley, Zotero, dan EndNote. Namun, di luar 3 aplikasi tersebut masih ada belasan aplikasi manajemen referensi lain yang bisa digunakan akademisi.
Lewat aplikasi manajemen referensi, akademisi bisa lebih mudah membuat daftar pustaka. Jika referensi dikutip pada naskah, maka ada fitur untuk membuat halaman daftar pustaka otomatis. Jika tidak dikutip, maka perlu memastikan referensi sudah disimpan di database aplikasi manajemen referensi. Dalam beberapa kali klik, daftar pustaka selesai disusun.
Beberapa gaya sitasi yang dibahas dalam artikel adalah APA Style, MLA Style, Chicago Style, Harvard Style, Vancouver Style, dan IEEE Style.
Untuk KTI internal seperti tugas kuliah, skripsi, tesis, dan sejenisnya, gaya sitasi mengikuti kebijakan perguruan tinggi. Sementara untuk karya yang akan dipublikasikan, gaya sitasi mengikuti ketentuan penerbit atau publisher yang dituju.
Penulisan daftar pustaka diawali dengan menentukan gaya sitasi, memahami aturan penulisannya, mengidentifikasi jenis sumber, mengumpulkan unsur referensi, lalu mengecek kembali format daftar pustaka sesuai gaya sitasi yang digunakan.
Daftar pustaka perlu diperiksa kembali untuk memastikan tidak ada unsur atau sumber yang terlewat. Setelah itu, formatnya dirapikan sesuai gaya sitasi, termasuk urutan referensi dan indentasi jika dipersyaratkan.
Referensi:
Setiap penelitian yang dilakukan oleh dosen, mahasiswa, peneliti, dan siapapun juga. Tentunya perlu ada novelty…
Dalam proses penilaian angka kredit, dosen tentu melakukan perhitungan manual di awal. Salah satu tujuannya…
Book chapter (bunga rampai) menjadi salah satu buku ilmiah yang umum terbit di Indonesia. Biasanya,…
Dosen di Indonesia berhadapan dengan beban kerja akademik tinggi dan beban administrasi yang sulit ditolak…
Times Higher Education World University Rankings 2027 (THE WUR 2027) resmi dirilis. Dalam daftar pemeringkatan…
Buku monograf menjadi jenis buku ilmiah yang tidak hanya wajib ditulis oleh dosen di Indonesia.…