Panduan Menulis

Teknik Menulis dan Mengatasi Hambatan Menulis Buku Teks DIKTI

Tulisan pada dasarnya memiliki nilai moral, pendidikan, pembaruan, dan perubahan. Sayangnya, nilai-nilai tersebut masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan di perguruan tinggi, sebab penulisan buku teks masih sangat perlu ditingkatkan.

Teknik Menulis | Buku teks berfungsi sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar di kalangan pendidikan tinggi. Buku teks berguna untuk menyampaikan informasi atau pengetahuan secara terperinci dalam bentuk tulisan. Dalam buku teks juga terdapat nilai-nilai positif yang dapat membawa para pembaca di lingkungan akademik memahami perkembangan ilmu pengetahuan secara cepat dan luas. Tidak hanya nilai-nilai pengetahuan, akan banyak nilai moral, pendidikan, bahkan pembaruan dan perubahan.

Sayangnya, minat dan kesadaran menulis buku teks masih rendah. Banyak orang dari kalangan akademik enggan atau tidak percaya diri untuk menulis buku teks hasil karya mereka sendiri. Selain itu, terdapat setidaknya tiga anggapan yang kemudian menjadi hambatan, di antaranya:

  1. Mengasah Teknik Menulis Karena Terpaksa

Masih banyak para akademisi yang menulis buku teks dengan terpaksa. Mereka cenderung tergiur dengan motivasi materi, baik berupa angka kredit, rupiah, atau hadiah. Tanpa itu semua, produktivitas menulis buku teks masih tetap rendah. Tidak adanya imbalan atau hadiah nyata menyebabkan penulis buku teks kurang termotivasi. Padahal menulis buku teks tanpa imbalan atau hadiah jauh lebih bernilai mulia dan akan mendatangkan lebih banyak manfaat.

Baca juga : 5 genre fiksi yang wajib Anda ketahui!

  1. Ketakutan Saat Teknik Menulis

Para akademisi juga masih dibayang-bayangi ketakutan untuk menulis buku. Mereka kebanyakan takut karyanya tidak laku, tidak bagus, tidak populer, dan sebagainya. Ketakutan ini kemudian menghentikan diri mereka untuk lebih produktif dalam menulis buku.

  1. Teknik Menulis adalah seni dan bakat

Banyak orang beranggapan bahwa menulis sejatinya pekerjaan orang-orang yang sudah memiliki bakat sejak kecil. Oleh karena itu, mereka yang tidak memiliki   tersebut tidak perlu melakukannya. Mereka yang merasa tidak memiliki bakat menulis cenderung pasif dan menyerahkan semua pekerjaan menulis kepada para penulis yang sudah profesional. Padahal, tidak ada penulis profesional yang tiba-tiba sudah memiliki kemampuan menulis luar biasa. Para penulis profesional sekalipun, dahulunya adalah orang yang tidak mampu menulis. Kemudian ia berusaha mengembangkan kemampuannya dan terus berlatih sehingga mampu menghasilkan karya-karya yang baik.

Hambatan-hambatan tersebut dapat dihindari atau bahkan disingkirkan ketika seorang akademisi memiliki kesadaran untuk menulis buku teks. Kesadaran ini akan menjadi modal utama untuk meningkatkan penulisan buku teks di dunia pendidikan tinggi. Setelah menumbuhkan kesadaran dalam diri, kita dapat mulai belajar untuk meningkatkan kemampuan menulis. Bukan mustahil menjadi seorang penulis profesional ketika kita mau berusaha dengan giat dan konsisten.

Keterampilan menulis masih dapat dipelajari. Bukan mustahil jika orang-orang yang tidak memiliki bakat menulis sedari lahir terus belajar hingga menjadi penulis profesional. Belajar menulis hingga mencapai level expert dapat diwujudkan setelah melalui serangkaian proses. Perlu keuletan, kesabaran, ketelatenan, dan kedisiplinan untuk menjadikan orang tanpa bakat menulis menjadi seorang penulis profesional.

Simak pula : manfaat mengEndorse buku Anda secara manual!

Abdul Hadi WM (2002) mengemukakan bahwa keterampilan menulis pada dasarnya adalah 5% bakat, 5% keberuntungan, dan sisanya adalah kesungguhan usaha kita. Sebanyak 90% adalah besarnya keseriusan kita untuk bekerja keras. Di samping itu, ada pula Wilson Nadeak (1989:26), yang menyatakan bahwa kemahiran menulis hanyalah muncul bagi mereka yang membiasakan diri untuk menulis. Dari kedua pendapat tersebut tentunya kita dapat mencermati bahwa keterampilan menulis akan muncul ketika kita benar-benar mau berusaha untuk meningkatkannya. Berbakat atau tidak berbakat bukanlah persoalan yang seharusnya menghambat seseorang untuk mulai menulis.

Selain kesadaran diri dan upaya keras, perlu kita tanamkan bahwa menulis sejatinya memiliki tujuan yang mulia. Penulis akan berperan sebagai agen yang mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pola pikir masyarakat. Selanjutnya, penulis juga akan memiliki peran strategis sebagai pendidik, pengontrol, pembaharu, dan penyebar ilmu pengetahuan.

Penulis yang merupakan seorang intelektual akan memaparkan fenomena kehidupan di sekitarnya dalam bentuk tulisan setelah melalui proses berpikir, menganalisa, menyikapi, dan mencari solusi. Tidak hanya menjadi seorang intelektual, penulis secara tidak langsung akan mendidik para pembacanya untuk mencermati ide, teori, dan nilai dalam tulisannya. Karyanya akan bermanfaat, bahkan ketika ia sudah tidak lagi hidup. Belum lagi penulis akan menampilkan dirinya sebagai sosok manusia yang peka dan kritis terhadap fenomena dan perkembangan berbagai aspek kehidupan. Ia juga dapat menggunakan nurani dan nalurinya untuk berkreasi dan mengontrol fenomena dan perkembangan aspek kehidupan tersebut. Mereka akan berbicara lewat tulisannya dan memberikan penilaian secara objektif. Karya berupa tulisan yang berisi hasil pemikirannya itu akan dapat digunakan sebagai media kontrol terhadap berbagai hal yang terjadi dalam kehidupan. Penulis juga nantinya akan merasakan sendiri hasil kerjanya yang bernilai luar biasa ketika ia mampu menulis buku teks. Ia akan mendokumentasikan, menyebarkan ide, hasil pengalaman dan penelitiannya.

Dengan melihat beberapa solusi di atas, tentunya tidak perlu ada lagi alasan atau anggapan yang dapat dijadikan sebagai hambatan dalam menulis. Lagipula ada banyak sekali manfaat yang nilainya lebih berarti daripada imbalan dan hadiah yang diterima ketika kita mau menulis buku teks dengan kesadaran sendiri. Jika para akademisi punya kesadaran dan kemauan untuk mengadaptasi solusi-solusi tersebut, pastinya akan lebih banyak buku teks yang beredar dan turut berperan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Buku-buku teks akan lebih banyak dihasilkan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan menulis mumpuni, pekerja keras, dan punya kesadaran akan pentingnya perkembangan ilmu pengetahuan, terutama di lingkungan perguruan tinggi.

 

Referensi:

  1. Lasa HS, “Penulisan Buku Teks Perguruan Tinggi”, dipresentasikan pada Workshop Strategi dan Teknik Penulisan Buku Teks Perguruan Tinggi, Surakarta, 2006.

 

[Wiwik Fitri Wulandari][/mag]

deepublish

Recent Posts

Tak Lagi Sulit! Begini Cara Menentukan Buku Ajar atau Buku Monograf yang Tepat untuk Ditulis Dosen

Tahap awal dalam proses menulis buku ilmiah adalah menentukan jenis buku tersebut. Sehingga dosen perlu…

9 jam ago

Waspada Praktek Penerbit Buku Abal-Abal! Kenali Ciri dan Cara Menghindarinya

Publikasi ilmiah yang dimiliki oleh para dosen tentunya memerlukan dukungan penerbit kredibel. Termasuk saat menerbitkan…

4 hari ago

Politeknik Negeri Bali dan Penerbit Deepublish Perkuat Kolaborasi Akademik melalui Penandatanganan MoU Kerja Sama

Yogyakarta, 15 September 2026 — Penerbit Deepublish menerima kunjungan dari Politeknik Negeri Bali dalam rangka…

5 hari ago

Kunjungan dan Penandatanganan MoU Kerjasama Politeknik Negeri Bali dengan Penerbit Deepublish

Penerbit Deepublish melalui program Kerjasama Institusi telah menjalin kemitraan dengan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia.…

5 hari ago

Bisa Sebabkan Naskah Mangkrak! Inilah 9 Cara Mengatasi Minder Menulis Buku

Selama proses menyusun naskah buku ilmiah, tidak sedikit dosen yang merasa rendah diri atau minder…

6 hari ago

Dorong Kualitas Publikasi Akademik Indonesia, Penerbit Deepublish Hadirkan Webinar Strategi Jurnal Bereputasi

Penerbit Deepublish sukses menyelenggarakan Webinar “⁠Kupas Tuntas Karakteristik Jurnal Bereputasi untuk Meningkatkan Peluang Publikasi” pada…

6 hari ago