Dalam kegiatan penelitian, tentunya akan ada fenomena gap dan research gap. Keduanya sama-sama penting, fenomena gap mampu menjelaskan penelitian yang dilakukan punya tujuan jelas. Yakni memecahkan suatu masalah atau mencari solusi atas suatu permasalahan.
Sementara research gap dalam penelitian membantu memastikan tidak mengulang penelitian terdahulu. Beberapa dosen maupun mahasiswa, mungkin masih menganggap keduanya sama padahal keduanya berbeda. Berikut penjelasan lengkapnya.
Fenomena gap adalah masalah penelitian, sedangkan research gap adalah celah penelitian sebelumnya. Jika dilihat dari beberapa sisi, maka akan menjumpai cukup banyak perbedaan. Berikut penjelasannya:
Aspek pertama yang menunjukan perbedaan antara fenomena dengan research gap adalah sumbernya. Hal ini bisa dilihat dari definisi masing-masing yang sudah dijelaskan sebelumnya.
Fenomena gap didapatkan peneliti lewat realita di lapangan, kemudian dipahami terjadi kesenjangan dengan yang seharusnya terjadi. Kesenjangan ini tidak terbatas pada teori, melainkan bisa dari norma, regulasi, definisi suatu lembaga, hasil press release pemerintah, dan lain sebagainya.
Misalnya, secara regulasi pemilik brand kosmetik mengandung bahan berbahaya bisa ditindak pidana. Namun, realitanya banyak pemilik brand kosmetik nakal masih bebas dan tetap melanjutkan bisnisnya.
Contoh jika fenomena gap didasarkan pada teori, misalnya dari definisi kurikulum OBE yang fokus pada hasil pembelajaran. Realita di lapangan, mahasiswa tidak menguasai kompetensi dan tetap fokus pada pemahaman ilmu secara teori.
Sedangkan sumber dari research gap adalah pada penelitian terdahulu atau penelitian sebelumnya. Pada saat penelitian sebelumnya memiliki keterbatasan, fokus pada aspek tertentu dan mengabaikan aspek lain, ada kelemahan, dan sejenisnya. Maka memberi research gap pada peneliti masa sekarang.
Jadi, research gap tidak selalu berdasarkan kelemahan dan keterbatasan penelitian sebelumnya. Bisa juga karena fokus yang berbeda. Jika peneliti sebelumnya hanya fokus pada variabel A dan B, kemudian mengabaikan variabel C. Maka peneliti masa sekarang bisa mengubah fokus ke variabel C tersebut.
Baca juga: 5 Perbedaan Research Gap dan Penelitian Terdahulu
Aspek kedua yang membedakan antara fenomena gap dan research gap adalah fokus utamanya. Fokus utama di dalam fenomena gap adalah aktual di lapangan dibandingkan dengan harapan, teori, regulasi, dan sebagainya.
Jika ada perbedaan antara kondisi di lapangan dengan teori, regulasi, harapan, dan sejenisnya. Maka perbedaan tersebut merupakan fenomena gap dan menjadi masalah dalam penelitian yang dilakukan.
Lain halnya dengan research gap, yang secara umum berfokus pada celah pada kegiatan penelitian terdahulu. Sehingga peneliti akan mencari tahu dengan analisis mendalam untuk mengetahui ada tidaknya celah tersebut.
Celah ini yang membuat penelitian lanjutan bisa dilakukan dan bahkan perlu dilakukan. Sehingga bisa mengisi kekosongan pada celah tersebut. Hasil atau temuan penelitian kemudian diharapkan bisa lebih baik dari penelitian sebelumnya tersebut.
Aspek ketiga yang menunjukan perbedaan antara fenomena gap dan research gap adalah cara peneliti menemukannya. Menemukan fenomena gap bisa dengan berbagai cara dan teknik.
Jika bersumber dari kesenjangan teori, maka dimulai dari memahami teori suatu fenomena atau suatu topik. Misalnya, peneliti membaca buku mengenai perubahan iklim ekstrim. Kemudian memahami perubahan iklim ekstrim bisa disebabkan oleh penebangan hutan secara liar.
Namun, ketika melihat data di lapangan peneliti justru mengetahui bahwa pengolahan sampah plastik yang keliru juga berpengaruh. Kesenjangan ini tentu menjadi fenomena gap karena terjadi perbedaan antara teori pada buku dengan aktual di lapangan.
Jadi, fenomena gap ditemukan dari buku diikuti observasi lapangan. Tidak bisa hanya mengandalkan teori dari buku saja atau mengandalkan hasil observasi lapangan saja.
Sedangkan research gap ditemukan peneliti dengan cara melakukan kajian literatur. Misalnya membaca berbagai artikel yang terbit di sejumlah jurnal ilmiah dengan topik yang sama. Sehingga bisa diketahui perkembangan penelitian topik tersebut.
Kemudian diketahui hasil penelitian paling terakhir seperti apa. Baru kemudian menganalisis ada tidaknya kesenjangan pada penelitian tersebut yang memungkinkan untuk dilakukan penelitian lanjutan. Jadi, research gap tidak menuntut peneliti melakukan observasi di lapangan sebagaimana fenomena gap.
Baca juga: Fenomena Penelitian, Cara Menemukan & Menuliskan
Hal selanjutnya yang membedakan fenomena gap dan research gap adalah fungsinya dalam kegiatan penelitian. Sesuai penjelasan sebelumnya, fenomena gap menjadi masalah dalam penelitian.
Sehingga fungsinya menunjukan apa yang akan diteliti oleh peneliti. Sekaligus menunjukan urgensi penelitian tersebut. Sebab, peneliti perlu menjelaskan kenapa masalah tersebut penting untuk diteliti bahkan secepatnya dicari solusi lewat penelitian ilmiah?
Sementara research gap berfungsi untuk menunjukan novelty (kebaruan) pada penelitian yang dilakukan. Research gap perlu dijelaskan atau dicantumkan di dalam proposal, laporan penelitian, sampai luaran berbentuk publikasi ilmiah. Sebab membuktikan penelitian yang dilakukan berbeda dengan penelitian terdahulu.
Baik fenomena gap maupun research gap sama-sama dicantumkan di dalam karya ilmiah berkaitan penelitian. Mulai dari proposal penelitian, laporan penelitian, sampai luaran penelitian dalam bentuk publikasi ilmiah.
Namun, perbedaan fenomena gap dan research gap adalah lokasi atau tempat dimana keduanya dicantumkan. Fenomena gap yang dipahami sebagai masalah penelitian, akan dicantumkan peneliti pada bagian pendahuluan. Lebih tepatnya pada subbab latar belakang masalah.
Sementara penulisan research gap adalah di bagian tinjauan pustaka atau kajian pustaka. Secara umum, bagian ini menjelaskan seluruh teori yang mendukung dan mendasari kegiatan penelitian. Research gap biasanya dicantumkan di bagian paling akhir dari bagian tinjauan pustaka tersebut.
Baca juga: Struktur Artikel Ilmiah Lengkap dengan Penjelasannya
Sesuai penjelasan sekilas sebelumnya, baik fenomena gap dan research gap keduanya sama-sama penting. Sekaligus harus sama-sama ada di dalam kegiatan penelitian. Selain itu, harus sama-sama dicantumkan dari proposal penelitian sampai luaran penelitian tersebut.
Namun, apa hubungan keduanya? Hubungan keduanya secara umum membentuk pola sebab akibat. Fenomena gap yang berhasil ditemukan peneliti akan menyebabkan peneliti mencari research gap.
Hal ini terjadi, karena kegiatan penelitian dimulai dari mencari masalah untuk diteliti dan dicari solusinya. Setelah menemukan masalah yang menunjukan kesenjangan antara harapan dengan realita di lapangan.
Barulah peneliti melakukan kajian pustaka dengan membaca berbagai publikasi ilmiah berkaitan masalah tersebut. Sehingga mengetahui ada tidaknya peneliti yang sudah meneliti masalah tersebut. Penelitian terdahulu ini kemudian dianalisis celahnya dan ditemukan research gap.
Jadi, tanpa fenomena gap peneliti tidak akan memiliki dorongan melakukan penelitian dan mencari research gap. Keduanya saling berhubungan dan membentuk pola sebab akibat. Secara tahapan, peneliti akan mencari fenomena gap dulu. Baru kemudian mencari research gap.
Demikianlah pembahasan tentang perbedaan fenomena gap dan research gap. Keduanya bukan istilah yang sama, meskipun saling berkaitan dalam proses penelitian. Fenomena gap merujuk pada kesenjangan antara kondisi ideal dan fakta di lapangan, sedangkan research gap adalah celah dalam teori atau penelitian terdahulu yang belum terjawab tuntas.
Dengan memahami perbedaan dan hubungan keduanya, peneliti dapat menyusun latar belakang, rumusan masalah, dan arah penelitian yang lebih fokus, relevan, serta memiliki nilai kebaruan yang jelas.
Meningkatkan penghasilan kini semakin mudah berkat adanya berbagai sumber penghasilan tambahan dari Hp. Artinya, handphone…
Jenis variabel dalam penelitian sangat beragam. Jika dilihat dari aspek hubungan antarvariabel maka salah satu…
Melakukan parafrasa sendiri saat memasukan kutipan pada karya ilmiah memang tidak selalu mudah. Oleh sebab…
Salah satu kendala ketika melakukan parafrasa dengan platform AI adalah keliru dalam menyusun prompt AI…
Salah satu bab atau bagian di dalam karya tulis ilmiah adalah kajian teori (landasan teori).…
Pendidikan tinggi di Indonesia mulai menerapkan kurikulum baru, yakni kurikulum OBE (Outcome Based Education). Adanya…