Kegiatan pembelajaran OBE atau kurikulum OBE, tentunya memiliki karakteristik lebih khas. Sebab, pendekatan dalam OBE sendiri memang berbeda dengan kurikulum yang diterapkan di perguruan tinggi Indonesia sebelumnya.
Para dosen tentunya dalam menyusun Rencana Pembelajaran Semester (RPS) OBE, perlu menyesuaikan dengan karakteristik pembelajaran kurikulum OBE itu sendiri. Jadi, apa saja karakteristiknya dan metode pembelajaran apa saja yang relevan? Berikut informasinya.
Karakteristik Pembelajaran dalam Kurikulum OBE
Kurikulum OBE adalah pendekatan kurikulum yang berorientasi pada capaian hasil belajar (learning outcomes) yang harus dimiliki peserta didik setelah menyelesaikan proses pendidikan pada suatu program studi (prodi).
Melalui definisi tersebut, maka tentunya implementasi kurikulum berbasis OBE ikut mempengaruhi kegiatan pembelajaran. Sehingga pembelajaran difokuskan untuk meraih hasil atau outcomes.
Lebih tepatnya, mendorong mahasiswa menguasai sejumlah kompetensi atau keterampilan praktis. Sehingga karakteristik pembelajaran OBE adalah sebagai berikut:
1. Berorientasi pada Hasil Pembelajaran (Outcomes)
Kegiatan pembelajaran dalam kurikulum OBE akan berorientasi pada hasil atau capaian. Sehingga dalam bentuk kompetensi atau keterampilan praktis yang benar-benar dikuasai dan bisa diterapkan (digunakan) oleh mahasiswa. Berbeda dengan kurikulum sebelumnya, yang orientasinya pada penguasaan ilmu teoritis.
2. Pembelajaran Berpusat pada Mahasiswa
Karakteristik yang kedua, kegiatan pembelajaran berbasis OBE akan menjadikan mahasiswa sebagai pusat. Sedangkan dosen berperan sebagai fasilitator. Sehingga mahasiswa lebih aktif selama kegiatan pembelajaran.
3. Relevan dengan Kebutuhan Industri atau Dunia Kerja
Kegiatan pembelajaran mendorong mahasiswa menguasai materi dan keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan industri atau dunia kerja. Sehingga materi dibuat fleksibel dan kontekstual, agar selalu relevan. Setelah lulus, mahasiswa bisa memenuhi ekspektasi industri dan meningkatkan daya saing mereka.
4. Pembelajaran Bersifat Fleksibel dan Kontekstual
Sejalan dengan poin sebelumnya, maka karakteristik dari pembelajaran OBE adalah bersifat fleksibel dan kontekstual. Sebab harus selalu dijaga agar tetap relevan dengan kebutuhan industri dan dunia kerja.
5. Integrasi Pengetahuan, Keterampilan, dan Sikap
Pada kurikulum terdahulu, penilaian fokus pada aspek kognitif mahasiswa. Namun, di dalam kurikulum berbasis OBE selain menilai aspek kognitif juga aspek afektif dan psikomotorik. Sehingga kegiatan pembelajaran bisa mendorong mahasiswa memiliki karakter, etika, dan profesionalisme yang baik.
Download Panduan Praktis Menulis Buku Ajar Berbasis OBE untuk mempermudah Anda dalam menyusun buku ajar. Berikut link-nya: https://penerbitdeepublish.com/ebook-panduan-menulis-buku-ajar-berbasis-obe/
Metode Pembelajaran dalam Kurikulum OBE
Kegiatan pembelajaran OBE akan menjadikan mahasiswa sebagai pusat. Kemudian pembelajaran akan fokus memberikan keterampilan praktis (kompetensi) kepada mahasiswa.
Metode pembelajaran yang diterapkan tentunya harus relevan dengan hal tersebut. Berikut adalah beberapa metode pembelajaran yang selaras dengan karakteristik kurikulum berbasis OBE:
1. Studi Kasus (Case Study)
Metode pembelajaran studi kasus adalah metode pembelajaran dengan memberikan kasus nyata kepada mahasiswa untuk dianalisis dan dicari solusinya. Sehingga mengasah kemampuan mahasiswa untuk mampu melakukan analisa, berpikir kritis, dan mampu menerapkan teori di situasi nyata.
Misalnya saja, mahasiswa di prodi manajemen diminta menganalisis penyebab turunnya penjualan sebuah perusahaan lalu menyusun strategi perbaikannya. Dosen bisa memberi kasus yang nyata di lapangan. Perusahaan mana yang mengalami penurunan penjualan.
Contohnya, data penjualan Unilever di tahun 2025 mengalami penurunan dari tahun 2024 dan 2023. Mahasiswa diminta melakukan analisis untuk mengetahui apa saja faktor penyebab dan bagaimana solusinya.
2. Project Based Learning (PjBL)
Metode pembelajaran PjBL adalah metode pembelajaran yang mendorong atau memposisikan mahasiswa harus menyelesaikan suatu proyek dalam periode tertentu. Sehingga ada produk, karya, dan sejenisnya yang dihasilkan mahasiswa.
Contoh, mahasiswa di prodi ilmu akuntansi diminta oleh dosen untuk membuat neraca laba rugi. Maka neraca laba rugi inilah yang menjadi proyek dan harus diselesaikan mahasiswa dalam kurun waktu tertentu.
3. Case Based Learning (CBL)
CBL adalah metode pembelajaran yang menggunakan kasus sebagai media utama untuk memahami konsep dan teori. Kasus yang dibahas bisa kasus nyata yang terjadi di lapangan. Bisa juga hanya contoh, bukan kasus nyata.
Contohnya, mahasiswa pada prodi ilmu hukum diminta untuk membahas kasus sengketa kepemilikan sertifikat tanah atau lahan. Tujuannya untuk membantu mahasiswa memahami penerapan UU dan pasal dalam KUHP tertentu terkait sengketa tersebut.
4. Problem Based Learning (PBL)
PBL adalah metode pembelajaran yang dimulai dari suatu masalah untuk mendorong mahasiswa mencari solusi secara mandiri. Sehingga mahasiswa akan diberikan masalah dan diminta untuk mencari solusinya. Biasanya dibentuk kelompok beranggotakan beberapa mahasiswa.
Misalnya, mahasiswa di prodi ilmu gizi diminta untuk mencari solusi terbaik terhadap kasus tingginya anak stunting di daerah A. Sehingga mahasiswa mengenal dan memahami stunting dan mencari tahu apa saja yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.
5. Praktik Laboratorium/Studio
Metode pembelajaran praktik adalah metode pembelajaran yang membuat dan mendorong mahasiswa untuk melakukan praktek langsung. Praktek disini bisa di dalam laboratorium, studio, bengkel, turun ke lapangan dekat kampus, dll.
Misalnya, mahasiswa pada prodi sistem informasi. Diminta untuk membuat data konsumen di perusahaan A melalui Ms Excel. Mahasiswa tentunya akan praktek langsung membuat data konsumen di laboratorium komputer (lab komputer).
6. Pembelajaran Kolaboratif dan Kooperatif
Berikutnya yang menjadi metode pembelajaran OBE adalah pembelajaran kolaboratif dan kooperatif. Yaitu metode pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk saling bekerjasama dalam memahami suatu materi (kolaboratif) maupun menyelesaikan tugas (kooperatif).
Misalnya, dosen meminta mahasiswa untuk membentuk kelompok. Kemudian diminta untuk menyusun artikel ilmiah dari hasil praktek langsung di laboratorium pada pertemuan sebelumnya.
Sehingga melalui metode pembelajaran seperti ini, para mahasiswa bisa belajar bekerjasama. Kemudian belajar juga untuk bekerja dalam kelompok agar bisa saling membagi tugas dengan adil serta sesuai kompetensi (kemampuan).
7. Diskusi Kelompok
Selanjutnya adalah metode pembelajaran OBE dalam bentuk diskusi kelompok. Diskusi kelompok sendiri adalah metode pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk melakukan pertukaran ide antar mahasiswa dalam rangka membahas suatu topik atau masalah.
Umumnya, dalam metode pembelajaran ini setiap kelompok juga diminta mempresentasikan hasil diskusi. Kemudian terjadi tanya jawab dengan kelompok lain. Bisa juga ada pertanyaan dan tambahan penjelasan dari dosen.
Contohnya, mahasiswa di prodi ilmu pendidikan diminta mendiskusikan dan mempresentasikan dampak teknologi AI dalam pendidikan. Kelompok tersebut akan menjelaskan materi hasil diskusi dan tanya jawab dengan mahasiswa dari kelompok lain.
8. Simulasi
Berikutnya adalah metode pembelajaran simulasi, yaitu metode pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk menghadapi situasi buatan yang seolah-olah nyata dan melakukan tindakan yang tepat dalam situasi tersebut sesuai materi yang sudah dibahas bersama dosen.
Misalnya, mahasiswa dalam prodi ilmu hukum melakukan simulasi di kelas seolah-olah berada di ruang sidang. Mahasiswa dibagi peran sebagai hakim, jaksa, tersangka, dll. Kemudian melakukan sidang terkait kasus yang dihadapi tersangka dalam sidang simulasi tersebut.
Selain beberapa metode pembelajaran OBE yang dijelaskan tersebut. Tentunya masih ada metode pembelajaran lain yang tepat atau ideal diterapkan di pembelajaran berbasis kurikulum OBE. Para dosen bisa mengkombinasikan beberapa metode untuk satu semester perkuliahan, agar lebih menarik dan tidak monoton.Â
Baca juga: Apa Itu Kurikulum OBE? Kelebihan dan Cara Implementasinya
FAQ (Frequently Asked Questions)
Pembelajaran OBE berorientasi pada capaian hasil belajar atau outcomes. Fokusnya bukan hanya mahasiswa memahami teori, tetapi juga mampu menguasai kompetensi, keterampilan praktis, sikap, dan profesionalisme.
Metode yang sesuai antara lain studi kasus, Project Based Learning, Case Based Learning, Problem Based Learning, praktik laboratorium atau studio, pembelajaran kolaboratif, diskusi kelompok, dan simulasi.
Karena dalam OBE, mahasiswa didorong lebih aktif dalam proses belajar. Dosen berperan sebagai fasilitator yang membantu mahasiswa mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan.
Dosen dapat memilih metode berdasarkan capaian pembelajaran, karakter mata kuliah, kebutuhan mahasiswa, dan relevansi dengan dunia kerja. Beberapa metode juga bisa dikombinasikan dalam satu semester agar pembelajaran tidak monoton.
Referensi:
- Apa Itu Kurikulum OBE? Memahami Outcome-Based Education untuk Perguruan Tinggi. (2025). Universitas Negeri Surabaya. Diakses pada 9 Mei 2026 dari https://s1-aktuaria.fmipa.unesa.ac.id/post/apa-itu-kurikulum-obe-memahami-outcome-based-education-untuk-perguruan-tinggi
- Kupas Tuntas Kurikulum OBE dan Implementasi di Program Studi. (2025). IIQ An Nur Yogyakarta. Diakses pada 9 Mei 2026 dari https://nur.ac.id/kupas-tuntas-kurikulum-obe-dan-implementasinya/
- Pedoman Penyusunan RPS UMC Tahun 2025. (2025). Universitas Muhammadiyah Cirebon.Â








