Teknik Menulis Buku : Memilih Sudut Pandang (PoV)

teknik menulis

Dalam teknik menulis buku fiksi, baik itu cerpen atau novel, kita harus pintar-pintar memilih Point of View (PoV) atau Sudut Pandang. Dari sudut pandang siapa cerita itu dituturkan? Ini pembahasannya versi Penerbit Buku Deepublish.

Didalam teknik menulis, paling tidak, ada tiga jenis sudut pandang yang digunakan dalam menulis buku fiksi, yang sering dipakai dalam menceritakan sesuatu, yaitu yaitu sudut pandang orang pertama (penutur: aku, saya, kami), sudut pandang orang kedua (cerita dikisahkan kepada kamu, dan “kamu”-lah yang diceritakan), sudut pandang orang ketiga (dia).

Sama halnya dengan ketika Anda menjumpai seseorang berbicara kepada seseorang yang lain. Anda tentu menjumpai tiga tipe cara bicara seseorang. Sang pembicara bisa saja membicarakan dirinya sendiri, membicarakan lawan bicaranya atau mereka berdua sedang membicarakan orang lain.

Manakah dari ketiga sudut pandang bentuk tadi yang harus kita pilih? Berikut ini adalah beberapa pertimbangan.

 

Sudut Pandang Orang Pertama (First Person Point of View) | Teknik Menulis

Pada sudut pandang ini, anda akan merasakan dari sudut pandang salah satu tokoh. Anda tidak akan bisa menjelahi sudut pandang tokoh lainnya. Pendapat mengenai tokoh diluar PoV-nya tergantung dari sudut pandang PoV pertamanya. Dengan demikian, rasa personal dan mendalam pada perasaan salah satu tokoh terasa di hati pembaca. Namun akhir-akhir ini, mulai ada satu-dua novel yang menceritakan tokoh dari sudut pandang semua tokoh. Sehingga PoV orang pertama tidak hanya salah tokoh tetapi semua tokoh. (Lihat: Perempuan Kembang Jepun oleh Lan Fang atau Camar Biru karangan Nilam Suri)

Contoh novel POV orang pertama: Lolita (Vladimir Nabokov), Waktu Aku Sama Mika (Indi)

 

Sudut Pandang Orang Ketiga (Third Person Point of View) | Teknik Menulis

Sudut pandang orang ketiga lebih memberikan kuasa kepada penulis untuk bercerita secara adil pada semua tokoh. Sudut pandang ini tidak memihak salah satu tokoh. Interaksi diantara mereka dan akibatnya murni karena proses diantara mereka bukan karena pendapat tokoh tertentu.

Cobalah anda membuat cerita tentang korban pembunuhan. Ketika anda menuliskannya pada sisi arwah yang terbunuh tersebut. Anda mungkin akan merasa diajak untuk membenci si pembunuh. Bahwa si korban pastilah yang benar. Anda mungkin akan merasa sakitnya dibunuh tanpa tahu kenapa? Anda mungkin akan merasa betapa dendamnya sang arwah mencari pembunuhnya.

Jika PoV diganti dengan PoV orang ketiga, novelis dapat bercerita pada sisi sang arwah atau si pembunuh. Mungkin saja dia membunuh karena terpaksa karena dia akan diperkosa atau karena dia sendiri terancam dibunuh sehingga lebih baik membunuh terlebih dahulu.

Contoh tulisan PoV orang ketiga: First Love Forever Love (Shu Yi), Matahari Untuk Lily (Rini Zabirudin)

 

Sudut Pandang Orang Kedua (Second Person Point Of View) | Teknik Menulis

Ini adalah sudut pandang yang tidak enak. Kenapa saya bilang tidak enak? Sebab sang pencerita harus memahami segalah tingkah laku “Kamu” bukan tingkah laku si pencerita. Tokoh utamanya adalah “Kamu” tetapi yang bercerita adalah orang yang memandang “Kamu”. Saya sendiri jarang melihat sudut pandang ini pada sebuah cerita, baik novel maupun cerpen. Namun pada surat, pidato, surat bisnis atau tulisan non fiksi lainnya, sudut pandang ini justru sering dipakai.

Jika belum pernah tahu sudut pandang ini, saya akan mengilustrasikan sedikit pada paragraf dibawah ini:

Angkatlah tanganmu. Lihatlah ada cinta menggembung dalam bongkahan jemarimu. Cinta yang tumbuh bukan dalam waktu semalam. Cinta yang telah tumbuh di usia tiga tahun pertunanganmu dengannya. Bahagiakah engkau? Puaskah engkau telah menipunya? Engkau mengharapkan tak seorang pun menyentuhnya tetapi engkau adalah penyentuh ratusan wanita yang bersedia demi bayaran dari dompetmu

Contoh tulisan PoV orang kedua: Camping Out (Ernest Hemingway), How To Become Writer (Lorrie More).

Sampai sejauh ini saya belum pernah membaca PoV orang kedua produksi Indonesia.

Lantas Mana yang Saya Pilih?

Orang yang baru mulai mengasah teknik menulis buku cerita biasanya lebih banyak memakai PoV orang pertama. Ini memang lebih mudah. PoV pertama menceritakan diri sendiri tanpa perlu susah-susah mencari dari sudut pandang orang lain (bukankah biasanya kita begitu?). Gunakan PoV ini jika anda baru saja mengasah teknik menulis buku. Sesudah selesai bermain-main dengan PoV pertama, ubah tulisan anda ke PoV orang ketiga. Baca kembali tulisan Anda, maka anda akan merasakan efek yang berbeda.

PoV orang pertama akan menempatkan pembaca pada pihak narator. Jika narator adalah anak tiri yang terlantar, maka pembaca akan merasa demikian juga. Kemarahan narator adalah kemarahan pembaca juga dan hasil akhirnya mempengaruhi pembaca untuk membenci antagonis. Dengan demikian, Anda akan kehilangan emosi di tokoh yang lain.

Sudut pandang orang kedua akan membuat pembaca hadir di cerita (karena kita menggunakan “Kamu”). Jika “Kamu” disini adalah penjahat, maka Anda sama saja memposisikan pembaca sebagai penjahat. Tentu saja perkataan jelek kepada “Kamu” akan membuat pembaca merasa jelek juga dan ujung-ujungnya membangkitkan emosi pembaca. Antara narator dan pembaca akan terjalin hubungan yang dekat. Seperti seseorang yang bercerita kepada temannya atau dektektif dengan penjahatnya.

Sudut pandang orang ketiga membuat Anda dapat menonjolkan semua emosi tokoh. Pembaca adalah pengamat dari luar (tidak terlibat di dalam cerita) selayaknya menonton sebuah bioskop. Baiknya, pembaca memperhatikan secara rata semua tokoh, tidak baiknya emosi yang ditimbulkan tidak terlalu dalam. Jika Anda berusaha mempengaruhi pembaca, sebaiknya menggunakan sudut pandang orang pertama sementara sudut pandang orang ketiga dipakai untuk menitikberatkan pada inti cerita.

Pada kenyataannya, akhir-akhir ini terdapat perkembangan menarik mengenai PoV. Pada novel Perempuan Kembang Jepun (Lan Fang), masing-masing tokoh mendapat ‘jatah’ sudut pandang orang pertama padahal biasanya cuma salah satu tokoh saja. Begitu juga dengan Three Wedding and Jane Austen (Prima Santika).

Lalu, kapan penulis mengguankan sudut pandang orang pertama dan kapan menggunakan sudut pandang orang ketiga?

Jawabannya tentu terserah penulis masing-masing. Lebih nyaman menggunakan sudut pandang orang pertama, atau lebih nyaman menggunakan sudut pandang orang ketiga.

Tapi, ada pula penulis menggunakan teknik menulis cerita berdasarkan pengalaman hidupnya. seperti halnya karya Andrea Hirata, A.Fuadi, dan beberapa penulis lainnya tentu menggunakan sudut pandang orang pertama.

Kebanyakan penulis menggunakan teknik menulis sudut pandang orang ketiga jika menulis hal yang sifatnya murni berupa karangan. Walaupun ada juga yang menggunakan sudut pandang orang pertama.

 

Jika Anda sudah merasa mampu menguasai teknik menulis tersebut, mengapa tidak dibukukan saja? Penerbit buku deepublish juga menerbitkan buku fiksi! Marilah bergabung dengan ribuan penulis yang telah bekerjasama dengan penerbit buku deepublish! Tetaplah berimajinasi, dan tetaplah berkreasi! Salam penerbit buku deepublish!

 

[Aditya Kusuma] [/mag]



This post has been seen 318 times.
(Visited 71 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *