Teknik Menulis: Menulis untuk Berbahasa

by penerbit Buku Deepublish

teknik menulis penerbit buku g001

Salah satu teknik menulis yang perlu dikuasai oleh penulis adalah menulis untuk berbahasa. Berbahasa adalah aktivitas kita sehari-hari untuk komunikasi dengan lawan bicara. Masyarakat di belahan dunia manapun pasti memiliki bahasa mereka sendiri meski dengan gestur ataupun simbol. Tanpa kita sadari, aktivitas berbahasa merupakan hal yang sangat penting, sangat dibutuhkan, dan esensial, khususnya dalam hidup berkelompok atau bermasyarakat. Bagaimana mungkin antara manusia satu dengan lainnya hanya berdiam-diaman? Pasti, mereka berkomunikasi dan berbahasa untuk mencapai tujuan tertentu.

Berbahasa selain digunakan dalam teknik menulis, skill berbahasa yang baik juga merupakan keterampilan. Agar dapat berbahasa dengan baik, tentu seseorang harus berlatih secara terus-menerus. Berbahasa yang baik perlu mempertimbangkan banyak hal, di antaranya kejelasan dan sistematika berbahasa.

Baca juga :

Bahasa sebagai keterampilan terbagi menjadi dua, yaitu keterampilan secara produktif dan reseptif. Keterampilan produktif adalah keterampilan mencipta dan menyajikan bahasa, sedangkan keterampilan reseptif adalah keterampilan menerima dan menafsir bahasa. Keterampilan produktif terdiri dari keterampilan berbicara dan keterampilan menulis, sedangkan keterampilan reseptif adalah keterampilan menyimak dan keterampilan membaca (Zainurrahman, 2011: v). Sederhananya, berbahasa sebagai keterampilan produktif adalah aktivitas yang bersifat aktif. Sementara itu, berbahasa sebagai keterampilan reseptif adalah aktivitas berbahasa yang bersifat pasif. Dengan menguasai keempat keterampilan berbahasa itu, kita bisa menjadi orang yang berhasil dalam berbahasa untuk berbagai kesempatan.

Tidak semua orang mampu membaca dan menulis dengan baik. Bahkan, orang yang setiap hari berbicara dengan Bahasa Indonesia pun belum tentu mampu menulis dan berbicara dalam Bahasa Indonesia dengan baik. Itulah mengapa keterampilan ini memang perlu dilatih secara ketat dan terarah.  Tentu jika ingin kualitas berbahasa kita semakin baik, kita jangan sampai berhenti berlatih meski sudah menjadi pembicara atau penulis handal sekalipun.

Menulis dan berbicara sama-sama merupakan keterampilan berbahasa secara produktif. Meski begitu, keduanya berbeda. Untuk berbicara, ini tergantung pada konteks. Konteks ini terbagi menjadi konteks formal dan nonformal. Pada konteks formal, biasanya terdapat di lingkungan formal seperti kuliah, seminar, pidato, ceramah, dan sebagainya. Untuk konteks formal, bahasa yang disampaikan lebih baku dan terstruktur. Sementara itu pada konteks nonformal, pembicaraan tidak berstruktur wajib. Orang bisa bercanda, ngobrol, dan menyampaikan gagasan tanpa ada aturan-aturan tertentu.

Dalam berbicara didukung oleh mimik, intonasi, dan gesture. Ini disebut sebagai unsur suprasegmental. Unsur ini turut membantu dalam menjelaskan pembicaraan kita. Sedangkan dengan menulis, kita tidak bisa membubuhi unsur suprasegmental ini. Maka dari itu, menulis bisa dikatakan keterampilan berbahasa yang lebih sulit daripada berbicara (Zainurrahman, 2011: 5).

Untuk keterampilan teknik menulis dan membaca, tampaknya keterampilan ini perlu lebih banyak latihan ketimbang berbicara dan menyimak. Menurut Zainurrahman, keterampilan berbicara dan menyimak bisa diperoleh secara alami dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, keterampilan menulis perlu mendapat perhatian lebih. Keterampilan ini tidak bisa dipelajari secara spontan, tetapi harus secara berkesinambungan.

Keterampilan menulis adalah tuntutan bagi mereka yang aktif atau bekerja di dunia literasi dan akademik. Akan tetapi di dunia akademik sendiri, budaya tulis-menulis masih kurang. Masih sering dijumpai bahwa mahasiswa, bahkan dosen memiliki kemampuan menulis yang kurang baik. Keterampilan menulis yang masih kurang tentu berdampak pada kualitas laporan penelitian, baik itu penelitian untuk lomba karya ilmiah, jurnal, atau tugas-tugas akhir (skripsi, tesis, dan disertasi).

Dalam menulis pun juga berlaku konteks formal dan informal seperti halnya berbicara. Pada konteks formal, tulisan harus terikat oleh struktur dan tatabahasa yang baku. Teknik menulis ini memperhatikan konten dan pemilihan kata dan jangan sampai menggunakan kata-kata secara sembarangan. Tidak boleh ada kesalahan gramatikal dalam penulisan yang kiranya dapat menyelewengkan makna yang ingin disampaikan (Zainurrahman, 2011: 5).

Jika dalam berbicara bisa dibantu dengan unsur suprasegmental seperti gestur, maka dalam menulis pun ada yang menggantikan unsur itu. Unsur yang dimaksud adalah tanda baca. Tanda baca ini cukup membantu dalam menjelaskan tulisan. Contoh tulisan formal antara lain artikel ilmiah, laporan riset, dan surat resmi.

Hal-hal lain yang membuat menulis (teknik menulis) itu lebih sulit adalah membayangkan apakah pembaca memahami tulisan kita atau tidak. Untuk ini pun perlu ada latihan dengan meminta komentar orang yang dipercaya atau cukup pandai dalam dunia tulis-menulis. Hal yang bisa dikomentari antara lain fokus tulisan, logika penulisan, EYD, dan tatabahasa. Bukan hanya sekali dua kali, tetapi proses belajar ini terus berlanjut sampai penulis dan pemberi komentar sepakat dengan keutuhan konten tulisan.

Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang memang sulit jika dibandingkan berbicara. Meski begitu, bukan berarti bahwa keterampilan menulis ini tidak bisa dikuasai. Terus berlatih menulis, bertanya, dan meminta komentar orang adalah langkah-langkah untuk meningkatkan keterampilan teknik menulis kita. Lagipula, ada banyak manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain jika kita menjadi seseorang yang jago menulis dan rajin menulis.

Contoh manfaat yang dapat diambil dengan menjadi seorang penulis yang menguasai teknik menulis adalah dapat dengan mudah diterima oleh penerbit buku untuk diterbitkan. Penerbit buku biasanya menyeleksi naskah yang masuk dari bahasa yang terdapat dalam naskahnya apakah mudah diterima oleh pembaca atau tidak. Penerbit buku juga melihat dari segi penggunaan bahasa, dan gaya berbahasa penulis, selain melihat isi naskah atau tema naskah. Oleh sebab itu skill berbahasa yang baik adalah skill yang bermanfaat.

 

 



This post has been seen 691 times.
(Visited 91 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *