Selain memahami apa saja tujuan yang harus dicapai dalam SDGs. Tentunya juga penting memahami bagaimana penerapan SDGs di perguruan tinggi. Sebab perguruan tinggi melalui aktivitas tri dharma bisa mendorong pencapaian SDGs tersebut.
Pencapaian SDGs juga mencakup seluruh aktivitas akademik dalam tri dharma. Baik itu kegiatan pendidikan, penelitian, maupun PkM (Pengabdian kepada Masyarakat). Lalu, apa saja bentuk-bentuk kegiatan yang menjadi penerapan SDGs tersebut? Berikut informasinya.
Bentuk Penerapan SDGs di Perguruan Tinggi
Jika mengacu pada Kepmendiktisaintek No. 358/M/KEP/2025, maka bentuk penerapan SDGs perlu sejalan dengan pemenuhan IKU 7. Berikut beberapa bentuk penerapan SDGs di perguruan tinggi yang nantinya sekaligus bisa diakui sebagai pemenuhan IKU 7:
1. Penerapan SDGs dalam Pendidikan
Bentuk penerapan SDGs yang pertama di lingkungan perguruan tinggi adalah di kegiatan pendidikan. Secara garis besar, perguruan tinggi perlu melaksanakan kegiatan pendidikan yang berbasis pada SDGs.
Misalnya menerapkan kurikulum pendidikan yang sejalan dengan SDGs tersebut. Contoh lainnya seperti menyusun modul pembelajaran dan bahan ajar yang relevan dengan SDGs serta mata kuliah yang berbasis SDGs.
Melalui kegiatan pendidikan berbasis SDGs ini pula, perguruan tinggi meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai SDGs. Sehingga menjadi lulusan yang memahami masalah global dan paham bagaimana menghadapinya.
2. Penerapan SDGs dalam Penelitian
Bentuk penerapan SDGs di perguruan tinggi berikutnya adalah dalam melaksanakan kegiatan penelitian. Perguruan tinggi perlu mendorong penelitian berbasis SDGs, baik yang dijalankan dosen maupun para mahasiswa.
Terdapat 17 tujuan dalam SDGs, dan tentu para dosen memiliki kepakaran di bidang yang relevan dengan salah satu atau beberapa tujuan tersebut. Misalnya untuk dosen dengan kepakaran di bidang ilmu pertanian.
Maka bisa melakukan penelitian yang meneliti bagaimana membangun ketahanan pangan. Begitu juga dengan dosen dengan kepakaran di bidang keilmuan lain. Kemudian saling berkolaborasi untuk masalah (topik penelitian) yang lebih kompleks.
3. Penerapan SDGs dalam Pengabdian kepada Masyarakat (PkM)
Bentuk penerapan SDGs di perguruan tinggi berikutnya adalah dengan mengintegrasikan SDGs tersebut pada kegiatan PkM. Artinya, perguruan tinggi menyelenggarakan kegiatan PkM yang relevan dengan pencapaian tujuan SDGs.
Misalnya dalam mencapai tujuan SDGs 1 Tanpa Kemiskinan (No Poverty). Perguruan tinggi bisa menyelenggarakan kegiatan PkM yang mendorong kemandirian perekonomian masyarakat.
Misalnya program atau kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam mengolah suatu material yang melimpah di tempat tinggal menjadi komoditi yang bisa dikomersilkan. Sehingga meningkatkan jumlah masyarakat yang bisa berpenghasilan dengan memanfaatkan sumber daya di sekitar.
4. Membangun Kemitraan (Kerjasama Akademik)
Berikutnya yang menjadi bentuk penerapan SDGs di perguruan tinggi adalah membangun kemitraan atau kolaborasi akademik. Melalui kolaborasi, maka pelaksanaan tri dharma bisa lebih produktif.
Sehingga semakin banyak kegiatan dan hasil kinerja tri dharma yang mendukung tercapainya 17 tujuan dalam SDGs. Kerjasama disini bisa dimulai dari kerjasama internal perguruan tinggi. Misalnya kerjasama dosen lintas fakultas, lintas bidang keilmuan, dll.
Kemudian terus dikembangkan ke kerjasama eksternal, dimulai dari kerjasama dalam negeri. Seperti kerjasama dengan mitra UMKM, perusahaan industri, organisasi masyarakat, lembaga penelitian, dll. Terus berlanjut ke kolaborasi dengan mitra di tingkat global.
5. Inisiatif Perguruan Tinggi Lewat Kebijakan Internal
Langkah lain yang menunjukan bentuk penerapan SDGs di perguruan tinggi adalah lewat inisiatif perguruan tinggi tersebut. Artinya, perguruan tinggi menerapkan kebijakan maupun program yang ruang lingkupnya internal. Hanya berlaku dan diterapkan di lingkungan kampus.
Misalnya perguruan tinggi menetapkan fokus utama kegiatan penelitian di tercapainya 3 SDGs, menyediakan insentif penelitian dan publikasi ilmiah yang relevan dengan kebijakan tersebut, menyediakan fasilitas laboratorium yang memadai, akses ke database Scopus secara gratis untuk akademisi, dll.
Tantangan Penerapan SDGs di Perguruan Tinggi
Dalam penerapan SDGs di perguruan tinggi, tentunya tidak selalu sesuai dengan harapan. Artinya, akan ada sejumlah tantangan yang perlu dihadapi atau dicari solusinya. Sehingga penerapan SDGs bisa berjalan lancar. Berikut beberapa tantangan yang sering dihadapi perguruan tinggi di Indonesia:
1. Keterbatasan Sumber Daya
Kegiatan tri dharma perguruan tinggi baik yang dijalankan dosen maupun mahasiswa, tentunya membutuhkan dukungan sumber daya. Baik itu sumber daya dalam bentuk tenaga (SDM dalam jumlah memadai), pendanaan atau biaya, sarana dan prasarana, dan sebagainya.
Sayangnya, tidak semua perguruan tinggi memiliki kemampuan menyuplai semua kebutuhan sumber daya tersebut. Sehingga pelaksanaan tri dharma berbasis SDGs bisa terkendala, kurang produktif, kurang konsisten, dll.
Dalam kondisi seperti ini, perguruan tinggi perlu mencari solusi untuk meningkatkan kemampuan dalam menunjang sumber daya memadai. Mulai dari mendorong dosen mengakses hibah eksternal, berkolaborasi dengan industri dan dengan pendanaan dibagi rata kedua pihak, dll.
2. Adanya Fragmentasi di Internal Perguruan Tinggi
Tantangan kedua, adalah adanya fragmentasi di internal perguruan tinggi dan umumnya karena ketidaksengajaan. Fragmentasi dalam konteks disini adalah setiap fakultas dalam perguruan tinggi berbentuk universitas memiliki visi misi pencapaian SDGs tersendiri. Sehingga saling berdiri sendiri tanpa saling melengkapi.
Tidak hanya terjadi di banyak perguruan tinggi berbentuk universitas, sering juga terjadi di perguruan tinggi bentuk lainnya. Idealnya dalam penerapan SDGs di perguruan tinggi harus saling bersinergi. Bukan saling berdiri sendiri dan memiliki tujuan masing-masing.
3. Adanya Kesenjangan dengan Kurikulum
Tantangan ketiga yang umum dihadapi berbagai perguruan tinggi di Indonesia adalah kesenjangan dengan kurikulum yang diterapkan. Dalam konteks ini, masih banyak perguruan tinggi yang kesulitan mengintegrasikan SDGs dengan kurikulum.
Contohnya, belum semua perguruan tinggi bisa menyelenggarakan mata kuliah yang sejalan dengan tujuan SDGs di tingkat nasional dan global. Sehingga ada kesenjangan antara pencapaian SDGs tersebut dengan kurikulum yang belum bisa disesuaikan.
4. Kesulitan dalam Pelaporan dan Pengukuran Penerapan SDGs
Tantangan yang keempat dalam penerapan SDGs di perguruan tinggi Indonesia adalah masih sulit dalam pelaporan dan pengukuran. SDGs bisa dijalankan, tentunya perlu juga diukur.
Apa saja indikasi yang menunjukan SDGs tersebut dijalankan, dicapai, seberapa besar dampak atau skala keberhasilannya, dll. Jadi, masih menjadi PR bagi sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia untuk membangun sistem pelaporan dan pengukuran yang memadai.
5. Kesadaran dan Pemahaman Civitas Akademik Masih terbatas
Tantangan lainnya yang sering dihadapi perguruan tinggi di Indonesia adalah kesadaran mencapai SDGs maupun pemahaman yang masih terbatas. SDGs memang bukan hal baru, sebab resmi ditetapkan PBB di tahun 2015.
Hanya saja, butuh waktu untuk bisa diterapkan dan dicapai semua perguruan tinggi di Indonesia. Minimnya sosialisasi bisa membuat SDGs sulit diterapkan dan dicapai. Sehingga perguruan tinggi perlu rutin memberi edukasi mengenai SDGs agar penerapannya oleh dosen dan mahasiswa lebih mudah.
Baca juga: 12 Indikator Kinerja Utama Perguruan Tinggi Sesuai Kepmendiktisaintek No. 358/M/KEP/2025
Strategi Perguruan Tinggi agar Penerapan SDGs Mendukung Tercapainya IKU 7
Memahami bahwa ada banyak sekali alasan kenapa penerapan SDGs di perguruan tinggi perlu dilakukan. Sebab bisa berkontribusi dalam mencapai 17 tujuan di SDGs itu sendiri. Sekaligus membantu perguruan tinggi mencapai IKU 7.
Lalu, bagaimana agar SDGs bisa diterapkan dan dicapai dengan segala tantangan yang dihadapi? Berikut beberapa strategi yang bisa diterapkan perguruan tinggi:
1. Rutin Menyelenggarakan Sosialisasi Penerapan SDGs di Perguruan Tinggi
Strategi yang pertama, tentu saja meningkatkan kegiatan sosialisasi seputar SDGs. Dimulai dari sosialisasi untuk memahami SDGs oleh seluruh civitas akademik. Baik itu dosen, tendik, maupun mahasiswa.
Disusul dengan sosialisasi bagaimana penerapan SDGs di perguruan tinggi, bagaimana mengukurnya, dan lain sebagainya. Sosialisasi penting karena tidak semua SDM di perguruan tinggi memahaminya.
Selain itu, kebijakan internal perguruan tinggi juga mempengaruhi penerapannya bagaimana dan dimulai dari mana. Sosialisasi secara rutin dan efektif menjadi kunci agar pemahaman dan kesadaran mencapai SDGs oleh seluruh civitas akademik terbentuk.
2. Mengintegrasikan SDGs dalam Penelitian
Strategi kedua dalam penerapan SDGs di perguruan tinggi adalah melakukan integrasi antar SDGs tersebut dengan penelitian. Kegiatan penelitian adalah kegiatan yang paling terasa dalam pencapaian SDGs.
Sebab menghasilkan temuan dan luaran yang langsung relevan dengan 17 tujuan SDGs. Misalnya perguruan tinggi menerapkan beberapa fokus utama penelitian berbasis 17 tujuan SDGs.
Misalnya fokus meneliti tentang ketahanan pangan, energ terbarukan, pendidikan berkualitas, dan lain sebagainya. Sehingga penelitian para dosen dan mahasiswa akan relevan dengan fokus utama tersebut yang sejalan dengan SDGs.
3. Melaksanakan PkM Berbasis SDGs
Tak hanya penelitian, kegiatan PkM yang dilaksanakan dosen dan mahasiswa juga harus terintegrasi dengan SDGs. Setiap kegiatan PkM memiliki tujuan yang sama dengan tujuan SDGs tersebut. Misalnya seperti yang dilakukan IPB membantu petani dengan teknologi pertanian berkelanjutan.
4. Membangun Kemitraan atau Kolaborasi Akademik
Strategi keempat, perguruan tinggi bisa membangun kemitraan dengan berbagai pihak. Mulai dari perguruan tinggi lain, lembaga penelitian, mitra industri sampai UMKM, organisasi kemasyarakatan, dll. Baik itu di tingkat nasional maupun internasional dan sama-sama punya tujuan mencapai SDGs.
5. Membangun Tata Kelola Berbasis Green Campus
Strategi kelima dalam pencapaian dan penerapan SDGs di perguruan tinggi adalah membangun tata kelola Green Campus. Yakni mengelola perguruan tinggi agar lebih ramah lingkungan sehingga sejalan dengan salah satu tujuan SDGs.
Misalnya perguruan tinggi menyediakan bank sampah, transportasi hijau untuk civitas akademik, dll. Hal ini seperti yang diterapkan UGM yang memiliki bank sampah. Kemudian juga oleh UI dan ITB yang mengembangkan kendaraan ramah lingkungan seperti sepeda listrik.
6. Perguruan Tinggi Berpartisipasi dalam Jaringan Global
Strategi berikutnya, perguruan tinggi bisa berpartisipasi dalam jaringan tingkat global atau organisasi global. Misalnya bergabung dalam Higher Education Sustainability Initiative (HESI).
Melalui jaringan global tersebut, perguruan tinggi bisa berkolaborasi dengan pihak eksternal di tingkat internasional. Sehingga mendorong penerapan dan pencapaian SDGs di lingkungan perguruan tinggi itu sendiri dan mitra.
7. Menyusun Indikator Tercapainya SDGs oleh Perguruan Tinggi
Strategi selanjutnya, perguruan tinggi bisa merumuskan kebijakan internal terkait indikator pencapaian SDGs sekaligus sistem pengukuran. Seperti di UNJ, yang sudah menyediakan portal khusus untuk melihat data kemajuan pencapaian SDGs dengan indikator pengukuran yang spesifik dan bisa diakses daring.
Selain beberapa strategi tersebut, setiap perguruan tinggi di Indonesia tentunya memiliki kebebasan penuh untuk menerapkan strategi lainnya. Sehingga bisa mencapai lebih banyak SDGs, selain 3 SDGs wajib dalam Kepmendiktisaintek No. 358/M/KEP/2025. Sebab perlu disesuaikan dengan spesialisasi, keunggulan dan kebijakan strategis perguruan tinggi.
Pencapaian 17 tujuan SDGs di tingkat nasional dan internasional, tentunya dimulai dari penerapan SDGs di perguruan tinggi. Sehingga menyusun strategi dan menerapkanya dengan baik menjadi langkah penting untuk segera dieksekusi.
FAQ (Frequently Asked Questions)
Bentuk penerapan SDGs di perguruan tinggi meliputi pendidikan berbasis SDGs, penelitian berbasis SDGs, pengabdian kepada masyarakat yang relevan dengan tujuan SDGs, pembangunan kemitraan akademik, serta kebijakan internal kampus yang mendukung keberlanjutan.
Bentuk penerapan SDGs di perguruan tinggi meliputi pendidikan berbasis SDGs, penelitian berbasis SDGs, pengabdian kepada masyarakat yang relevan dengan tujuan SDGs, pembangunan kemitraan akademik, serta kebijakan internal kampus yang mendukung keberlanjutan.
Penelitian perlu diintegrasikan dengan SDGs karena hasil riset dosen dan mahasiswa dapat menjadi solusi atas berbagai persoalan masyarakat. Misalnya, penelitian tentang ketahanan pangan, energi terbarukan, pendidikan berkualitas, atau pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Tantangan penerapan SDGs di perguruan tinggi antara lain keterbatasan sumber daya, fragmentasi internal, kesenjangan dengan kurikulum, kesulitan pelaporan dan pengukuran, serta rendahnya pemahaman civitas akademik terhadap SDGs.
Strategi perguruan tinggi dalam menerapkan SDGs dapat dilakukan dengan rutin mengadakan sosialisasi, mengintegrasikan SDGs dalam penelitian, menjalankan PkM berbasis SDGs, membangun kemitraan, menerapkan green campus, bergabung dalam jaringan global, dan menyusun indikator pengukuran SDGs.
Referensi:
- Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. (2025). Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 358/M/KEP/2025 Tentang Indikator Kinerja Utama Perguruan Tinggi dan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi di Lingkungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. https://lamdik.or.id/wp-content/uploads/2026/02/Keputusan-MENDIKTISAINTEK-Nomor-358-M-KEP-2025.pdf
- Pentingnya Perguruan Tinggi dalam Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). (2020). Universitas Nusa Putra. Diakses 15 Juni 2026 dari https://sdgs.nusaputra.ac.id/id/pentingnya-perguruan-tinggi-dalam-mencapai-tujuan-pembangunan-berkelanjutan-sdgs/
- Prayoga, D. F. (2025). Peran Perguruan Tinggi dalam Mencapai Sustainable Development Goals (SDGs). Diakses pada 15 Juni 2026 dari https://bik.uma.ac.id/2025/03/06/peran-perguruan-tinggi-dalam-mencapai-sustainable-development-goals-sdgs/
- Perguruan Tinggi Sebagai Center of Excellence. (2024). Universitas Brawijaya. Diakses pada 15 Juni 2026 dari https://sdgs.ub.ac.id/perguruan-tinggi-sebagai-center-of-excellence/
- Sustainable Development Goals Program UNJ. (n.d). Universitas Negeri Jakarta. Diakses pada 15 Juni 2026 dari https://ditisip.unj.ac.id/sdgscenter








