Selama proses menyusun naskah buku ilmiah, tidak sedikit dosen yang merasa rendah diri atau minder dengan tulisannya. Hal ini tentunya bisa menjadi sandungan dalam menyelesaikan naskah buku tersebut. Sehingga memahami cara mengatasi minder menulis buku sangat penting.
Kabar baiknya, ada cukup banyak solusi atau cara yang bisa diterapkan dosen untuk mengatasi perasaan minder tersebut. Para dosen bisa menerapkannya setiap kali perasaan minder mulai dialami. Apa saja cara tersebut? Berikut informasinya.
Kenapa Dosen Sering Minder di Tengah Proses Menulis Naskah Buku?
Dosen tentunya perlu memahami apa saja yang menjadi penyebab perasaan minder dalam proses menulis buku. Sehingga bisa menentukan cara mengatasi minder menulis buku yang dialami dengan tepat dan tentunya efektif.
Setiap dosen memiliki penyebab dan faktor tersendiri yang membuat perasaan minder dalam menulis muncul. Secara umum, berikut beberapa alasan yang menjadi penyebab minder tersebut dirasakan dosen:
1. Merasa Takut dengan Kritikan
Dalam menulis, hasil tulisan akan lekat dengan kritikan. Kritikan disini bisa dari editor penerbit, bisa dari rekan sesama dosen atau sesama penulis, dan juga dari pembaca. Inilah alasan dalam dunia kepenulisan dan penerbitan erat dengan proses revisi.
Hanya saja, banyak penulis yang menganggap kritikan pada tulisan yang disusun sebagai momok menakutkan. Sehingga menurunkan kepercayaan diri dalam menulis. Perasaan minder di tengah penggarapan naskah akan sering dihadapi.
2. Khawatir Tidak Menulis dengan Baik dan Maksimal
Perasaan minder menulis buku juga sering muncul karena khawatir tulisan yang dihasilkan kurang bagus. Merasa banyak kurangnya, merasa belum bisa diteruskan, merasa tidak sesuai ekspektasi pembaca, merasa akan ditolak penerbit, merasa tidak layak terbit, dan perasaan lain yang belum tentu menjadi kenyataan.
3. Efek Trauma dari Pengalaman Buruk Menulis Buku Sebelumnya
Minder menulis buku juga bisa disebabkan oleh trauma dari pengalaman buruk sebelumnya. Misalnya naskah buku mendapat kritikan tajam, ditolak penerbit yang diimpikan, menghadapi revisi dari editor buku yang cukup kompleks, dan sebagainya.
4. Tekanan Memastikan Buku Harus Sempurna
Sikap perfeksionis dalam menulis buku juga bisa memicu perasaan minder. Pada saat ada harapan untuk menghasilkan naskah berkualitas dan bebas revisi. Namun dari editor penerbit justru meminta revisi skala besar.
Maka perasaan minder muncul untuk menggarap revisi tersebut. Hal serupa bisa terjadi di tengah menggarap naskah. Sebab sikap perfeksionis cenderung membuat apa yang ditulis selalu dirasa kurang bagus.
5. Sering Membandingkan Tulisan dengan Buku Lain
Sebab berikutnya dari perasaan minder dalam menulis buku adalah sering membandingkan tulisan yang dibuat dengan tulisan orang lain. Sehingga ada perasaan tulisan orang lain lebih bagus. Hal ini memunculkan perasaan minder bahwa tulisan yang dibuat jelek dan akan ditolak editor penerbit.
6. Tidak Memilih Mentor dalam Menulis Buku
Mentor dalam menulis sangat penting untuk dimiliki. Sebab bisa memberi dampingan dan bantuan selama proses menulis buku. Sayangnya banyak penulis memilih tidak memiliki mentor. Sehingga kendala dihadapi sendiri dan rentan mengalami perasaan minder karena takut ada kesalahan.
7. Khawatir Buku Tidak Diakui Kemdiktisaintek
Bagi dosen, menulis buku tidak bisa hanya mengembangkan topik. Aspek format penulisan, struktur penulisan, sampai substansi pembahasan dan standar penerbitan diatur Kemdiktisaintek. Salah satu dampaknya, dosen bisa saja minder karena khawatir buku yang disusun tidak diakui dalam BKD maupun penilaian angka kredit.
Apa Dampaknya Jika Rasa Minder Dibiarkan?
Dosen yang berhadapan dengan perasaan minder cenderung menjadikan naskah terbengkalai. Dampak yang ditimbulkan semakin kompleks ketika dosen tidak segera menemukan cara mengatasi minder menulis buku tersebut. Berikut beberapa dampak yang dimaksud:
1. Mengalami Writer’s Block Berkepanjangan
Minder dalam menulis yang tidak kunjung dicari solusinya bisa menyebabkan kebuntuan ide atau writer’s block. Hal ini terjadi karena penulis enggan untuk melanjutkan naskah buku yang sedang digarap. Sehingga ide untuk melanjutkan pembahasan perlahan lupa dan kemudian hilang.
2. Naskah Tidak Kunjung Bisa Diselesaikan
Minder dalam menulis membuat nasib naskah buku tidak ada kejelasan. Penulis enggan melanjutkan proses penulisan. Sehingga naskah buku tidak kunjung selesai dan tentunya tidak bisa diterbitkan. Padahal, naskah perlu segera diterbitkan agar bisa diklaim dalam BKD maupun untuk alasan lainnya.
3. Sumber Daya Terforsir pada Naskah Buku
Merasa minder untuk menulis dan tidak mencari tahu apa solusi untuk mengatasinya bisa membuat sumberdaya terfokus pada masalah ini. Dosen atau penulis bisa jadi hanya fokus pada naskah tersebut dan stagnan di titik yang sama.
Sebab untuk melakukan kegiatan lain, menulis karya atau judul lain, dan sebagainya juga tidak memungkinkan. Dampaknya, penulis bisa hanya fokus pada naskah yang mangkrak tersebut.
4. Produktivitas Publikasi Ilmiah Menurun
Naskah buku yang tidak diselesaikan karena perasaan minder berkepanjangan tentunya tidak bisa diterbitkan. Selain itu, berdampak pada motivasi menulis karya lainnya juga menurun. Dampaknya penulis atau dosen bisa mengalami penurunan produktivitas publikasi ilmiah. Tentunya akan berdampak lebih kompleks lagi.
5. Pemenuhan BKD Tersendat
Minder dalam menulis bagi seorang dosen adalah masalah serius. Sebab dalam tugas akademik, khususnya tugas pokok sesuai isi tri dharma sangat erat kaitannya dengan menulis dan menerbitkannya.
Jika minder, maka dosen tidak bisa melaksanakan tugas dengan baik. Sehingga tidak bisa memenuhi BKD, menerima sanksi, dan kemudian pengembangan karir akademik juga semakin sulit.
Cara Mengatasi Rasa Minder dan Menyelesaikan Naskah Buku
Dosen yang mengalami perasaan minder di tengah proses menulis, sebaiknya tidak menunggu keajaiban. Melainkan segera mencari solusi untuk mengatasinya. Sebab jika berlarut-larut maka berbagai dampak kurang menguntungkan di atas bisa dirasakan oleh dosen.
Bagi para dosen yang mengalami masalah dengan perasaan minder yang berkepanjangan sehingga naskah terancam mangkrak. Maka bisa menerapkan beberapa cara mengatasi minder menulis buku di bawah ini:
1. Mulai Menulis Buku dari Topik yang Memang Dikuasai
Perasaan minder bisa karena merasa kualitas tulisan yang dibuat kurang maksimal, tidak sebagus harapan, dan sejenisnya. Perasaan ini bisa diminimalkan dengan menulis buku pada topik yang memang dikuasai.
Penguasaan pada topik meningkatkan kepercayaan diri penulis untuk mengembangkannya menjadi buku. Pemahaman yang sudah mendalam, membuat penjabaran topik di dalam naskah lebih mendalam dan mengalir.
Jadi, sangat penting untuk teliti memilih topik. Perfeksionis dalam menentukan topik buku sah saja dilakukan. Hanya saja harus siap dengan konsekuensinya. Jika selama menulis buku sering minder, sangat disarankan fokus ke topik yang benar-benar dikuasai. Langkah ini menjadi langkah aman untuk diambil.
2. Melakukan Riset Mendalam agar Topik Buku Dipahami
Kurang riset dan kurang memahami topik buku yang dikembangkan sering menyebabkan perasaan minder. Dalam kondisi ini, salah satu cara mengatasi minder menulis buku adalah memperdalam riset.
Pahami topik dengan membaca berbagai literatur. Baik itu publikasi ilmiah, artikel daring, konten di media sosial, dan sebagainya. Riset yang mendalam dan menyeluruh membantu memahami dan bahkan menguasai topik.
Semakin dikuasai, maka semakin percaya diri mengembangkannya di dalam naskah. Cara ini akan sangat efektif mencegah maupun mengatasi minder di tengah proses penulisan. Jadi, pastikan menyusun persiapan menulis yang salah satunya riset pada topik.
Baca juga: Topik Buku Terlalu Sempit atau Terlalu Luas? Berikut Solusinya agar Naskah Bisa Segera Diterbitkan
3. Mulai dengan Menulis Tulisan Pendek dan Publikasikan
Rasa minder menulis buku bisa muncul karena kedalaman pembahasan. Harus diakui, karya tulis berbentuk buku umumnya ditulis oleh mereka yang telah menguasai topik. Bahkan oleh para pakar di bidangnya.
Ada puluhan halaman hingga ratusan halaman naskah perlu disusun dengan baik dan runtut agar mudah dipahami pembaca. Kadang kala, penulis belum memiliki pengalaman dan kepercayaan diri memadai menulis buku dengan jumlah halaman cukup signifikan tersebut.
Jadi, salah satu cara mengatasi minder menulis buku adalah meningkatkan jam terbang menulis. Mulai dulu dengan menulis tulisan pendek dan dipublikasikan. Misalnya menulis cerpen dan dikirim ke media massa, aktif menulis di blog pribadi, jika dosen maka bisa menyusun artikel ilmiah untuk prosiding atau jurnal, dll.
Seiring berjalannya waktu, keterampilan menulis berkembang. Sejalan dengan hal ini, kepercayaan diri untuk menulis buku juga lebih tinggi. Barulah mencoba menulis buku. Bagi dosen, bisa mulai dengan konversi artikel jurnal menjadi buku. Sehingga tidak harus langsung menulis buku sebagai pengalaman perdana menulis.
4. Menyusun Outline Sebelum Menulis Naskah Buku
Minder dalam menulis naskah buku bisa dialami di tengah jalan. Artinya, penulis sudah mulai menyusun naskah buku. Namun di bab ke sekian, rasa minder mulai dirasakan dan bisa disebabkan oleh banyak hal sesuai penjelasan sebelumnya.
Rasa minder di tengah proses menulis bisa muncul karena ada keraguan apakah struktur penulisan sudah benar? Sudahkah runtut? Sudahkah menjelaskan topik secara mendalam? Apakah ada bab yang penting tapi terlewat?
Mengantisipasi rasa minder di tengah proses menyusun naskah buku, maka menyusun kerangka (outline) sangat disarankan. Jadi, dari awal proses menulis struktur buku sudah disusun sebaik dan sedetail mungkin. Hal ini memastikan penulis sudah yakin struktur sudah tepat dan layak dikembangkan.
Baca juga: Tata Cara Menyusun Outline Buku Akademik yang Baik dan Benar
5. Mencari Mentor yang Tepat untuk Pendampingan
Memiliki mentor juga menjadi salah satu cara mengatasi minder menulis buku. Perasaan minder bisa muncul karena penulis kurang percaya diri melewati seluruh proses menyusun buku seorang diri.
Bersama mentor, maka proses tersebut akan didampingi. Jika ada kesulitan, ada mentor yang siap membantu mencarikan solusi. Jika ada kesalahan, maka ada mentor yang bisa memberi masukan dan saran. Kemudian, jika motivasi menulis drop. Maka ada mentor yang akan memberi sumber motivasi.
Jika minder terjadi, mentor bisa membantu menganalisis penyebab dan bagaimana solusinya. Contoh lain, jika minder muncul karena merasa tulisan yang disusun belum bagus. Maka mentor bisa melakukan review dan memberi penilaiannya yang objektif. Sebab belum bagus di mata penulis, belum tentu di mata pembaca.
Lalu, siapa saja yang cocok menjadi mentor dalam menulis buku agar bebas perasaan minder? Mentor menulis buku bisa dari kalangan penulis lebih senior, editor sebuah penerbitan, pemateri dalam pelatihan menulis, hingga pengelola komunitas penulis. Sebab memiliki pengalaman yang relevan.
6. Membangun Rutinitas Membaca
Berikutnya yang juga menjadi salah satu upaya atau cara mengatasi minder menulis buku adalah dengan rajin membaca. Terbiasa membaca membantu meningkatkan kepercayaan diri untuk menulis dan minim risiko mengalami minder di tengah jalan.
Bagaimana membaca bisa mengatasi minder? Alasannya sendiri cukup beragam. Pertama, membaca memperluas wawasan sehingga ide menulis dan mengembangkan topik minim kemungkinan buntu.
Kedua, terbiasa membaca membantu proses riset dan pemahaman topik secara mendalam. Bahkan lebih efisien, karena dengan membaca sekali atau dua kali pembahasan dari referensi sudah dipahami dengan baik. Sehingga bisa segera mulai menulis naskah buku.
Ketiga, membaca membantu penulis mengenal gaya menulis yang khas dari setiap penulis. Sehingga memberi pemahaman bahwa diri sendiri juga punya gaya kepenulisan yang khas atau unik. Hal ini bisa menurunkan perasaan minder pada kualitas tulisan sendiri.
Keempat, membaca buku dan jenis tulisan lain dari berbagai penulis bisa meningkatkan pemahaman bahwa menulis adalah proses belajar jangka panjang. Sebab dalam membaca berbagai karya tersebut, penulis menyadari penulis lain terus mengalami peningkatan kualitas karya. Khususnya setelah menerbitkan beberapa judul buku. Sehingga bukan dari buku pertama sudah berkualitas tinggi.
7. Menulis Secara Konsisten
Sesuai penjelasan di poin sebelumnya, yaitu menulis adalah proses panjang. Seorang penulis buku tidak selalu bisa menghasilkan buku perdana dengan kualitas yang matang.
Banyak penulis yang perlu melatih kemampuannya menulis. Sehingga pada buku kedua, ketiga, kesepuluh, dan seterusnya. Barulah didapatkan kualitas yang optimal dan lebih disukai pembaca.
Maka hindari rasa minder dengan kualitas tulisan yang belum maksimal. Cobalah untuk rutin menulis atau konsisten. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak judul buku disusun dan kualitasnya terus berkembang.
8. Publikasikan Naskah Buku di Penerbit yang Tepat
Perasaan minder dalam menulis buku bisa dibantu diatasi oleh penerbit. Editor dan tim customer service dari penerbit profesional serta kredibel bisa sangat membantu. Kuncinya, penulis harus percaya diri menyelesaikan naskah dan dikirim ke penerbit yang tepat.
Proses editorial di dalam penerbit tersebut akan membantu meningkatkan kualitas naskah. Sehingga saat diterbitkan dan sampai ke tangan pembaca sudah dalam kualitas yang baik. Jadi, menerbitkan buku bisa menjadi solusi mengatasi minder dalam menulis karena proses editorial di dalamnya.
9. Mengikuti Pelatihan Menulis Buku
Keterampilan menulis yang belum optimal bisa menghasilkan tulisan dengan mutu yang masih kurang. Selain itu, keterampilan yang terbatas meningkatkan kendala dan tantangan dalam menulis buku. Kondisi ini pula yang bisa menyebabkan perasaan minder muncul.
Jadi, salah satu solusinya adalah dengan meningkatkan keterampilan menulis. Selain lewat konsisten dalam menulis, juga perlu mengikuti pelatihan. Sehingga ada mentor selama pelatihan, belajar menulis lebih terstruktur, dan pembelajaran sesuai standar yang berlaku agar keterampilan menulis bisa dioptimalkan.
Masih Minder dengan Naskah Buku Anda? Tidak Harus Menyelesaikannya Sendirian
Jika berbagai cara mengatasi minder menulis buku yang dijelaskan di atas masih sulit diterapkan. Kemudian, saat sudah diterapkan ternyata perasaan minder masih dirasakan. Ada baiknya tidak berusaha mengatasinya sendiri.
Para dosen pada kondisi ini bisa mengakses bantuan profesional. Salah satunya dari layanan Konsultasi Menulis yang disediakan oleh Penerbit Deepublish. Melalui layanan ini, Tim Konsultasi Menulis akan siap membantu mengatasi minder yang dialami secara lebih efektif.
Tim Konsultasi Menulis dari Deepublish juga bisa memberi pendampingan intensif dalam proses penulisan naskah buku. Sehingga akan dibantu menyusun naskah yang lebih terarah, terfokus, dan pembahasan bisa mendalam serta konsisten agar selesai tepat waktu. Informasi mengenai layanan bisa mengunjungi website resmi Penerbit Deepublish.
FAQ (Frequently Asked Questions)
Dosen dapat merasa minder saat menulis buku karena berbagai faktor, seperti takut mendapat kritik, khawatir tulisan tidak cukup baik, pengalaman buruk sebelumnya, tuntutan menghasilkan buku yang sempurna, membandingkan tulisan dengan karya lain, hingga kurangnya pendampingan dalam proses menulis.
Rasa minder yang tidak segera diatasi dapat menyebabkan writer’s block, naskah tidak kunjung selesai, produktivitas publikasi ilmiah menurun, hingga menghambat pemenuhan kewajiban akademik dosen seperti BKD.
Minder saat menulis buku dapat diatasi dengan beberapa cara, seperti memilih topik yang dikuasai, melakukan riset mendalam, membuat outline, meningkatkan kebiasaan membaca, menulis secara konsisten, mencari mentor, mengikuti pelatihan, dan bekerja sama dengan penerbit yang tepat.
Penulis dapat meningkatkan kepercayaan diri dengan memperdalam riset, memahami topik yang ditulis, menyusun kerangka buku sejak awal, serta meminta masukan dari mentor atau editor agar kualitas naskah dapat berkembang.
Penulis dapat meningkatkan kepercayaan diri dengan mulai dari topik yang dikuasai, memperbanyak membaca referensi, meningkatkan pengalaman menulis melalui karya pendek, serta memahami bahwa kemampuan menulis berkembang melalui proses.
Referensi:
- Belcher, W. L. (n.d). Solutions to Common Academic Writing Obstacles. Diakses pada 15 September 2026 dari https://wendybelcher.com/writing-advice/solutions-common-writing-obstacles/
- Writing Anxiety. (2019). Universitas California, Berkeley. Diakses pada 15 September 2026 dari https://writing.berkeley.edu/news/writing-anxiety
- Tips Jitu Mengatasi Perasaan Minder bagi Penulis Pemula. (n.d). Detak Pustaka. Diakses pada 15 September 2026 dari https://detakpustaka.com/mengatasi-minder-bagi-penulis/







