Dalam mengurus penerbitan naskah buku, para penulis bisa lebih leluasa memilih kode identitas buku tersebut. Selain terbit dengan ISBN juga bisa terbit dengan QRCBN. Termasuk juga kemungkinan diterbitkan dengan E-ISBN.
Lalu, sudahkah Anda memahami apa itu ISBN, E-ISBN, dan QRCBN? Pastikan sudah jika aktif menulis buku. Sebab pada proses penerbitan, penulis pasti perlu memilih salah satunya. Berikut informasinya.
Sekilas Tentang ISBN, E-ISBN, dan QRCBN
Hal pertama yang perlu dibahas, tentunya mengenai pengertian dari ISBN-E-ISBN, dan QRCBN. ISBN (International Standard Book Number) adalah kode unik untuk mengidentifikasikan buku secara global.
Secara sederhana, ISBN adalah kode unik yang menjadi identitas buku dan berlaku secara global. Tidak hanya secara nasional di dalam negeri di Indonesia. Akan tetapi juga diterapkan dan menjadi salah satu standar penerbitan di tingkat global (internasional).
Sedangkan E-ISBN adalah kode unik untuk mengidentifikasi buku digital secara global. Jadi, E-ISBN ini pada dasarnya sama dengan ISBN. Hanya saja, ISBN untuk identitas buku cetak. Sedangkan E-ISBN untuk identitas dari buku yang diterbitkan dalam versi digital atau elektronik (ebook).
Sementara untuk QRCBN (Quick Response Code Book Number) adalah kode unik berbasis kode QR (Quick Response) untuk mengidentifikasi buku yang terbit dalam skala nasional. QRCBN menjadi inovasi dari Perpusnas RI untuk memberikan kode unik pada buku-buku karya anang bangsa dan diterbitkan secara nasional (dalam negeri).
Perbedaan ISBN, E-ISBN, dan QRCBN
Melalui definisi yang dijelaskan di atas, mungkin sudah memberikan sedikit gambaran mengenai apa dan seperti apa perbedaan ISBN, E-ISBN, dan QRCBN. Supaya lebih mudah lagi untuk dipahami dan diingat, berikut rincian perbedaan ketiganya:
1. Jenis Terbitan
Perbedaan pertama adalah peruntukan pada jenis terbitan. ISBN dan E-ISBN ditujukan untuk terbitan yang didistribusikan secara luas dan bisa dibaca masyarakat luas. Bedanya, ISBN untuk terbitan dalam versi cetak. Sedangkan E-ISBN untuk terbitan dalam versi digital misalnya ebook (buku digital).
Sementara untuk QRCBN, ditujukan untuk terbitan yang ditujukan bagi pembaca kalangan terbatas. Misalnya dosen menyusun buku dan ditujukan untuk dibaca mahasiswa di satu naungan perguruan tinggi. Maka saat diterbitkan bisa mengurus QRCBN. QRCBN bisa untuk terbitan versi cetak maupun elektronik.
2. Bentuk atau Tampilan Kode
Perbedaan kedua adalah dari segi bentuk kode unik atau tampilan kode unik pada terbitan buku dan terbitan jenis lain yang memenuhi syarat. ISBN dan E-ISBN berbentuk deretan angka berjumlah 13 digit.
Dalam terbitan, biasanya ISBN dan E-ISBN dicetak atau ditempatkan di halaman sampul belakang. Umumnya, berbentuk barcode dan diikuti deretan 13 digit angka di bawah barcode tersebut.
Sementara untuk QRCBN biasanya dalam bentuk kode QR. Kode ini berbentuk kotak dan juga dicetak di bagian sampul belakang buku atau terbitan dalam bentuk lain. Tidak ada deretan angka seperti pada ISBN maupun E-ISBN.
3. Cakupan Pengakuan dalam Penerbitan
Perbedaan yang terakhir adalah dari aspek cakupan pengakuan penerbitan. Sesuai penjelasan sebelumnya, ISBN dan E-ISBN diakui secara global. Sehingga sudah menjadi standar penerbitan buku di Indonesia dan di seluruh negara di dunia.
Sementara untuk QRCBN, bersifat nasional. Sebab ditujukan untuk terbitan dengan target pembaca skala terbatas. Sekaligus tidak ada keinginan atau rencana untuk didistribusikan secara nasional maupun secara internasional (lintas negara).
Meskipun memiliki beberapa perbedaan. Ketiga kode unik untuk terbitan berbentuk buku ini juga memiliki beberapa persamaan. Misalnya, sama-sama untuk identifikasi terbitan dalam bentuk buku. Sehingga memudahkan pendataan, distribusi, dan kebutuhan administratif lainnya.
Persamaan kedua, ketiganya sama-sama diterbitkan secara resmi oleh Perpusnas RI. Pengajuan bisa melalui penerbit, bisa juga oleh penulis dengan mengikuti prosedur pengajuan yang ditetapkan Perpusnas RI.
Kode Unik Mana yang Sebaiknya Dipilih oleh Penulis?
Setelah memahami pengertian dan aspek yang membedakan ISBN, E-ISBN, dan QRCBN. Tentunya muncul pertanyaan, kode unik mana yang sebaiknya dipilih oleh penulis saat menerbitkan buku? Berhubung ketiganya sama-sama kode unik untuk identifikasi terbitan berbentuk buku.
Sekaligus sama-sama dirilis Perpusnas RI, maka ketiganya menjadi kode unik resmi. Sehingga sama baiknya untuk melengkapi penerbitan buku yang disusun oleh para penulis. Hanya saja, ada beberapa kondisi dan momen khusus yang menjadikan salah satunya lebih ideal untuk dipilih penulis. Berikut detailnya:
1. Waktu Terbaik Memilih ISBN
Waktu terbaik pertama untuk memilih ISBN adalah saat menerbitkan buku atau terbitan bentuk lain dan ditargetkan ke banyak pembaca. Bukan pembaca kalangan terbatas. Sekaligus saat berencana mendistribusikan terbitan secara nasional, yakni ke seluruh wilayah di Indonesia.
Waktu terbaik kedua, adalah saat berencana menerbitkan buku cetak atau dicetak. Sehingga lebih ideal memiliki ISBN. Jika penulis berencana menerbitkan naskah buku secara cetak sekaligus elektronik. Maka versi cetak menggunakan ISBN, versi elektronik menggunakan E-ISBN.
Waktu terbaik ketiga, adalah untuk buku ilmiah karya para dosen. Sesuai standar Kemdiktisaintek, buku ilmiah akan diakui dalam BKD maupun penilaian angka kredit jika terbit dengan ISBN atau dengan E-ISBN. Jadi, buku ilmiah karya dosen bisa diterbitkan dengan ISBN, E-ISBN, maupun keduanya jika terbit cetak sekaligus elektronik.
Baca juga: Apa itu ISBN? Pahami Fungsi, Cara Mengecek, dan Ketentuan Pengajuannya
2. Waktu Terbaik Memilih E-ISBN
E-ISBN ideal untuk buku elektronik. Sehingga saat penulis berencana menerbitkan naskahnya dalam versi ebook. Maka mengurus E-ISBN dengan bantuan penerbit maupun secara mandiri di Perpusnas RI menjadi langkah tepat.
Selain itu, buku elektronik yang diterbitkan juga direncanakan untuk distribusi skala nasional. Sebab ingin menargetkan pembaca dalam skala luas, bukan pada kalangan terbatas.
Sekaligus untuk ebook ilmiah (buku ilmiah elektronik) karya para dosen yang ingin diklaim dalam pelaporan BKD serta diakui dalam penilaian angka kredit. Sebab harus terbit dengan ISBN atau E-ISBN baru bisa mendapatkan manfaat akademik atas penerbitan tersebut.
3. Waktu Terbaik Memilih QRCBN
Buku yang disusun oleh penulis, tentunya bisa saja terbit dengan QRCBN. Kode unik dalam bentuk kode QR ini relevan untuk penerbitan buku yang target pembacanya terbatas. Misalnya modul pembelajaran untuk mahasiswa yang diampu dosen.
Waktu terbaik kedua, adalah menerbitkan buku dalam tempo singkat. Mengurus pengajuan QRCBN bisa dilakukan daring sepenuhnya. Jadi, tidak ada keperluan untuk datang langsung ke Perpusnas RI. Selain itu, proses pengajuan cepat. Melansir dari website resmi QRCBN, diklaim proses pengajuan dalam beberapa menit saja.
Melalui penjelasan tersebut, tentunya semakin memahami apa itu ISBN, E-ISBN, dan QRCBN. Sekaligus lebih memahami, kapan harus memilih salah satunya dalam menerbitkan naskah buku yang sudah selesai disusun.
Sebagai informasi tambahan, penerbit buku di Indonesia ada yang hanya membantu mengurus ISBN dan E-ISBN. Jadi, jika tertarik menerbitkan buku dengan QRCBN. Maka pastikan penerbit yang dituju bisa membantu pengurusannya. Jika kesulitan, maka bisa mempelajari cara pengajuan ke Perpusnas RI.
FAQ (Frequently Asked Questions)
ISBN digunakan untuk buku cetak, E-ISBN untuk buku digital, sedangkan QRCBN dapat digunakan untuk buku cetak maupun elektronik dengan target pembaca terbatas. Ketiganya juga memiliki bentuk dan cakupan pengakuan yang berbeda.
ISBN sesuai untuk buku yang ditujukan kepada banyak pembaca dan akan didistribusikan secara luas, termasuk buku cetak yang diedarkan secara nasional. Buku ilmiah dosen juga dapat menggunakan ISBN untuk mendukung pengakuan dalam BKD dan penilaian angka kredit sesuai ketentuan yang dijelaskan dalam artikel.
QRCBN dapat dipilih untuk buku dengan target pembaca terbatas, misalnya modul pembelajaran yang ditujukan kepada mahasiswa dalam satu perguruan tinggi. QRCBN juga dapat menjadi pilihan ketika penulis membutuhkan proses pengajuan yang cepat.
Artikel menjelaskan bahwa QRCBN relevan untuk buku dengan target pembaca terbatas. Sementara untuk buku ilmiah dosen yang ingin memperoleh manfaat akademik dalam BKD dan penilaian angka kredit, artikel menyebut penggunaan ISBN atau E-ISBN.
Pemilihannya bergantung pada format buku, target pembaca, dan rencana distribusi. ISBN lebih sesuai untuk buku cetak dengan distribusi luas, E-ISBN untuk buku digital dengan distribusi luas, sedangkan QRCBN relevan untuk buku dengan target pembaca terbatas.
Referensi:
- Penerbit YPAD. [@ypad_penerbit]. (2026, March 06). Masih banyak yang mengira ISBN dan QRCBN itu sama…[Foto]. Instagram. https://www.instagram.com/p/DVkyBz_j_wG/
- Penerbit Puja Media Kreatif. [@penerbitpujamediakreatif_]. (2025, March 15). PERBEDAAN ISBN & QRCBN PADA BUKU…[Foto]. Instagram. https://www.instagram.com/p/DHOGAakBIGk/?img_index=1
- Tidak Semua Tulisan Harus Ber-ISBN: Memahami Fungsi ISBN, QRSBN, dan QRCBN dalam Publikasi Akademik. (2026). As-Shafa Publisher. Diakses pada 16 Oktober 2026 dari https://as-shafa.com/posts/tidak-semua-tulisan-harus-ber-isbn-memahami-fungsi-isbn-qrsbn-dan-cc5760dc
- Perbedaan ISBN dan QRCBN: Mana yang Lebih Baik untuk Buku Anda? (2025). Lenggok Media. Diakses pada 16 Oktober 2026 dari https://www.lenggokmedia.com/2025/12/perbedaan-isbn-dan-qrcbn.html
- Adji, W. (2026). Ketauhi Perbedaan ISBN dan E-ISBN dalam Penerbitan. Diakses pada 16 Oktober 2026 dari https://jakarta.penerbitdeepublish.com/panduan/isbn/perbedaan-isbn-dan-e-isbn/
- Discover what QRCBN is and how it supports publishers in managing and identifying their books. (n.d). QRCBN. Diakses pada 16 Oktober 2026 dari https://qrcbn.com/









