Desain Penelitian. Agar penelitian bisa berjalan sesuai dengan pedoman dan tidak menyimpang, maka desain penelitian merupakan salah satu strategi yang bisa dilakukan. Dengan adanya desain penelitian tujuan penelitian bisa lebih mudah diraih.

Kita dapat menerapkan desain penelitian mana yang paling cocok digunakan untuk penelitian, baik penelitian kualitatif atau kuantitatif. Pada artikel ini kita akan membahas seputar desain penelitian. Jika kamu mencari informasi yang sama, maka artikel ini harus kamu baca sampai habis ya! 

Pengertian Desain Penelitian

Pengertian desain penelitian adalah rangkaian prosedur dan metode yang dipakai untuk menganalisis dan menghimpun data untuk menentukan variabel yang akan menjadi topik penelitian. 

Selain pengertian tersebut, juga bisa didefinisikan sebagai strategi yang dilakukan peneliti untuk menghubungkan setiap elemen penelitian dengan sistematis sehingga dalam menganalisis dan menentukan fokus penelitian menjadi lebih efektif dan efisien.

Masalah pada sebuah penelitian akan menentukan jenis apa yang cocok untuk dipilih. Hal tersebut juga menentukan alat dan cara apa yang cocok digunakan untuk mengatasi masalah dalam penelitian.

Penelitian Menurut Para Ahli

Berikut pengertiannya menurut para ahli:

1. Silaen (2018: 23) 

Menurut Silaen desain penelitian adalah desain mengenai keseluruhan proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian.

2. Umar (2007, hal 6)

Menurut para ahli desain penelitian dapat diartikan sebagai suatu rencana kerja yang terstruktur dalam hal hubungan-hubungan antara variabel secara komprehensif sedemikian rupa agar hasil risetnya dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan riset. Rencana tersebut mencakup hal-hal yang akan dilakukan preset, mulai dari membuat hipotesis dan implikasinya secara operasional sampai analisis akhir 

3. Nachmias dan Nachmias (1976),

Menurut Nachmias dan Nachmias (1976), desain penelitian adalah suatu rencana yang membimbing peneliti dalam proses pengumpulan, analisis, dan interpretasi observasi. Maksudnya, suatu model pembuktian logis yang memungkinkan peneliti untuk mengambil inferensi mengenai hubungan kausal antar variabel di dalam suatu penelitian.

Jenis desain penelitian

Pemilihan jenis desain penelitian didasari oleh tujuan penelitian yang akan dilakukan. Terdapat empat jenis desain penelitian yang kerap digunakan, diantaranya adalah berikut ini:


1. Desain penelitian eksperimental

Sesuai namanya, desain penelitian eksperimental berarti peneliti sedang melakukan penelitian eksperimental. Menurut Arifin (2009:127) penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai penelitian yang di dalamnya melibatkan manipulasi terhadap kondisi subjek yang diteliti, disertai upaya kontrol yang ketat terhadap faktor-faktor luar serta melibatkan subjek pembanding atau metode ilmiah yang sistematis yang dilakukan untuk membangun hubungan yang melibatkan fenomena sebab akibat.

Desain penelitian eksperimen ditentukan oleh bagaimana cara peneliti mengatur subjek ke dalam kondisi dan kelompok yang berbeda. Terdapat tiga jenis desain penelitian eksperimen, yaitu pre-eksperimental, quasi-eksperimental, dan true experimental research.

a. Desain Penelitian Pre-eksperimental

Pada desain penelitian pre-eksperimental, baik satu atau berbagai kelompok variabel terikat diamati untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh dari aplikasi suatu variabel bebas yang sebelumnya dianggap dapat menyebabkan perubahan. Desain ini merupakan yang desain penelitian eksperimen yang paling sederhana dan tidak terdapat kelompok kontrol. Lebih lanjut lagi, desain penelitian ini dibagi menjadi tiga:

1) One-shot Case Study Research Design

Dalam penelitian eksperimen jenis ini, hanya ada satu kelompok variabel terikat yang dipertimbangkan. Penelitiannya dilakukan setelah memberikan beberapa perlakuan yang sebelumnya dianggap menimbulkan perubahan, sehingga desain ini merupakan suatu posttest study.

  2) One-group Pretest-posttest Research Design

Desain penelitian ini mengkombinasikan posttest dan pretest study dengan mengadakan suatu tes pada satu kelompok sebelum diberi perlakuan dan setelah diberikan perlakuan. Pretest dilakukan pada awal penelitian dan posttest diberikan saat penelitian selesai.

3) Static-group Comparison

Pada desain ini, 2 atau lebih kelompok diberikan pengawasan, dimana hanya ada satu kelompok yang diberi perlakuan. Kelompok sisanya dibiarkan statis tanpa diberi perlakuan khusus. Semua kelompok yang ada kemudian diberikan posttest, kemudian adanya perbedaan yang tampak diantara kelompok-kelompok tersebut diasumsikan sebagai hasil dari perlakuan yang diberikan.

b. Desain Penelitian Quasi-eksperimental

Kata “quasi” memiliki arti parsial, setengah, atau pseudo (palsu). Sehingga penelitian quasi-eksperimental memiliki kemiripan dengan true experimental research, tetapi tidak sama. Pada quasi-eksperimen, partisipan tidak dipilih secara acak, sehingga desain penelitian ini digunakan pada kondisi dimana randomisasi sulit atau tidak mungkin dilakukan.

c. True Experimental Research Design

Desain penelitian ini bergantung pada analisis statistik untuk menerima atau menolak hipotesis. True experimental research design merupakan desain penelitian eksperimen yang paling akurat dan dapat dilakukan dengan atau tanpa pretest pada paling tidak 2 kelompok subjek variabel terikat yang dipilih secara acak.

True experimental research design harus memiliki kelompok kontrol, variabel yang dapat dimanipulasi oleh peneliti, dan distribusinya harus secara acak atau random. Klasifikasi dari desain penelitian ini meliputi:

1) The Posttest-only Control Group Design

Desain ini memilih subjek secara acak atau random dan dikelompokkan menjadi 2 kelompok (kontrol dan eksperimental), dan hanya kelompok eksperimental yang diberi perlakuan. Setelah observasi mendalam, kedua kelompok diberi post-test, dan suatu kesimpulan diambil dari perbedaan yang terjadi di antara kedua kelompok.

2) The Pretest-posttest Control Group Design

Pada desain kelompok kontrol ini, subjek dipilih dan dibagi menjadi 2 kelompok secara acak, kemudian kedua kelompok diberi pretest, namun hanya kelompok eksperimental yang diberikan perlakuan. Di akhir penelitian, kedua kelompok diberi post-test untuk mengukur derajat perubahan di tiap kelompok.

3) Solomon Four-group Design

Desain ini merupakan kombinasi dari pretest-only dan pretest-posttest control groups. Dalam desain ini, subjek yang telah dipilih secara acak atau random ditempatkan menjadi 4 kelompok. Dua kelompok pertama diuji menggunakan metode posttest-only, sementara dua kelompok yang lain diuji menggunakan metode pretest-posttest.


2. Desain Penelitian Survey

Penelitian survei adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, untuk menemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan-hubungan antar variabel sosiologis maupun psikologis.

Menurut para ahli, terdapat beberapa desain penelitian survey, yaitu desain pembagian silang atau cross sectional design dan desain survey berkepanjangan atau longitudinal survey (Widodo, 2008); sample survey dan sensus survei (Irawan Soehartono, 2000). Dengan demikian desain penelitian survey di antaranya adalah sebagai berikut.

Desain penelitian silang atau cross sectional survey digunakan untuk mengetahui isu-isu yang bersifat temporer melalui pengumpulan data yang dilakukan satu kali saja. Desain penelitian survey jenis ini paling banyak digunakan oleh peneliti.

Desain penelitian berkepanjangan atau longitudinal survey digunakan untuk memahami suatu isu secara berkelanjutan. Populasi yang digunakan dalam desain ini tidaklah banyak. Adapun pengambilan data dilakukan secara berkala. Desain penelitian jenis ini dibedakan atas kajian kecenderungan atau trend studies, studi panel atau panel studies, sosiometrik, dan desain kontekstual atau contextual design. 

Sample survey adalah survey yang dilakukan pada sebagian populasi atau sampel. Sensus survey adalah survey yang dilakukan pada seluruh populasi.


3. Desain Penelitian Longitudinal

Penelitian longitudinal merupakan penelitian yang menggunakan data dengan rentang waktu yang panjang. Berapa lamakah panjang waktu yang dimaksud bersifat sangat relatif. Namun, penekanan riset longitudinal sebenarnya pada ekstensi atau perpanjangan dari survey yang dilakukan. Perpanjangan tersebut bersifat periodik.

Jadi, penelitian longitudinal dapat pula dipahami sebagai perpanjangan penelitian survey yang bersifat periodik. Sedikitnya, survey dilakukan dua kali dengan rentang waktu yang ditentukan dari awal. Teknik pengumpulan data penelitian ini biasanya menggunakan kuesioner atau interview terstruktur. 

Desain penelitiannya pun tidak jauh berbeda dengan penelitian lain seperti survey. Sebagai contoh, kita akan melakukan penelitian tentang perubahan karakteristik kekerasan pemuda di suatu kota yang kerap terjadi tawuran.

Untuk melakukan riset longitudinal, pertama-tama kita melakukan survey dengan kuesioner dan atau wawancara terhadap anak muda yang terpilih sebagai sampel. Identitas partisipan atau anak muda tersebut kita catat baik-baik dan disimpan dengan rapi di dalam arsip. Survey pertama dilakukan dengan variabel yang telah disusun matang.

Riset ini menggunakan rentang waktu yang jelas. Misalnya, setiap lima tahun kita mendatangi anak muda yang sama untuk dilihat perubahan atau perkembangan dalam karakteristiknya. Tak ada ketentuan berapa kali partisipan didatangi kembali untuk disurvey, namun biasanya sedikitnya dua kali mereka disurvey kembali.

Hasil survei kedua, ketiga dan seterusnya akan memperlihatkan perubahan apa yang terjadi pada anak muda tersebut yang barangkali di survey yang ketiga dan seterusnya bukan lagi tergolong anak muda. Dengan desain penelitian ini, perubahan karakteristik kekerasan sebagaimana yang menjadi fokus penelitian sangat mungkin diketahui.


4. Desain Penelitian Studi Kasus

Studi kasus menjadi metode paling sesuai untuk fase penyelidikan dari sebuah penelitian karena mengedepankan survey dan proses historis sebagai jalan untuk penjelasan yang bersifat sebab musabab (kausalitas). Meskipun demikian, metode studi kasus hanya merupakan persiapan metode penelitian dan tidak dapat digunakan untuk menggambarkan atau menguji suatu masalah.

Kriteria penetapan desain penelitian studi kasus sangat berpengaruh terhadap suatu penelitian. Demikian juga untuk penelitian studi kasus. Kriteria kualitas desain penelitian berkaitan dengan:

  • Validitas konstruk yakni menetapkan ukuran operasional yang benar untuk konsep-konsep yang akan diteliti. Dalam studi kasus, dapat digunakan teknik multi sumber bukti, memberikan kesempatan kepada informan kunci untuk meninjau kembali draft laporan studi kasus yang bersangkutan.
  • Validitas internal merupakan hubungan sebab-akibat, dimana kondisi-kondisi tertentu diperhatikan guna mengarahkan kondisi-kondisi lain, untuk membedakan dari hubungan semu.
  • Validitas eksternal yaitu menetapkan ranah dimana temuan suatu penelitian dapat divisualisasikan.
  • Reliabilitas  yaitu bahwa suatu penelitian seperti prosedur pengumpulan data dapat diinterpretasikan dengan hasil yang sama pada waktu yang berbeda.
  • Desain penelitian komparatif

Menurut Menurut Robert K. Yin desain penelitian studi kasus secara umum menjadi 2 (dua) jenis, yaitu penelitian studi kasus dengan menggunakan kasus tunggal dan jamak/ banyak. Disamping itu, ia juga mengelompokkannya berdasarkan jumlah unit analisisnya, yaitu (1) penelitian studi kasus tunggal holistik (holistic) yang menggunakan satu unit analisis.(2) Desain kasus tunggal terjalin (embedded) yang menggunakan beberapa atau banyak unit analisis. 

Penelitian studi kasus disebut terpancang (embedded), karena terikat (terpancang) pada unit-unit analisisnya yang telah ditentukan. Perbedaan antara penelitian studi kasus holistik (jenis 1) dan terpancang (jenis 2) adalah pada jumlah unit analisis yang digunakan.

Contoh Desain Penelitian

1. Penelitian Kualitatif

Penelitian deskriptif kualitatif ditujukan untuk mendeskripsikan dan menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik bersifat alamiah maupun rekayasa manusia, yang lebih memperhatikan mengenai karakteristik, kualitas, keterkaitan antar kegiatan. Selain itu, Penelitian deskriptif tidak memberikan perlakuan, manipulasi atau pengubahan pada variabel-variabel yang diteliti, melainkan menggambarkan suatu kondisi yang apa adanya. 


Seperti contoh penelitian sebagai berikut ini: 

Judul penelitian: Mengeksplor fenomena kejujuran di SD Negeri 3 Purwodadi, Kabupaten Banyumas

Satu-satunya perlakuan yang diberikan hanyalah penelitian itu sendiri, yang dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan keterangan dari beberapa ahli di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa penelitian deskriptif kualitatif yaitu rangkaian kegiatan untuk memperoleh data yang bersifat apa adanya tanpa ada dalam kondisi tertentu yang hasilnya lebih menekankan makna. Di sini, peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif karena penelitian ini

mengeksplor fenomena proses pembentukan karakter peserta didik melalui penyelenggaraan kantin kejujuran di SD Negeri 3 Purwodadi Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas. Selain itu penelitian ini juga bersifat induktif dan hasilnya lebih menekankan makna.


2. Penelitian Eksperimen

Eksperimen dalam penelitian sosial sering digunakan untuk menemukan aspek penyebab atau penyebab fenomena sosial. Seringkali desain eksperimental digunakan sebagai dasar untuk mengimplementasikan suatu program atau kebijakan.

Misalnya, sebagai contoh sederhana dari penelitian eksperimental, peneliti ingin mengetahui efektivitas penggunaan sistem alarm rokok di ruang publik untuk mengurangi konsumsi rokok di tempat umum. Beberapa ruang publik dibangun menjadi rokok, yang lain dengan fitur yang sama tidak dilengkapi dengan alarm rokok.

Eksperimen ini akan menunjukkan hasil seberapa efektif alarm rokok dapat mengurangi konsumsi rokok di tempat umum.

3. Penelitian Kuantitatif

Desain penelitian kuantitatif membuat proyek eksperimental lebih bebas. Maka peneliti sosial umumnya menerapkan desain eksperimental untuk melakukan penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif bisa dipergunakan guna membandingkan kelompok yang diperlakukan sebagai subjek eksperimen dan kontrol.

Misalnya, percobaan konsumsi vitamin C untuk meningkatkan daya tahan siswa. Beberapa subjek diminta untuk mengonsumsi vitamin C, yang lain tidak memiliki kelompok kontrol. Hasilnya adalah hasil percobaan.

4. Makalah

Dalam pembuatan makalah ilmiah juga ada yang namanya penerapan metode penelitian. Dengan metode penelitian yang bagus, maka makalah ilmiah pun juga bisa terwujud dengan kualitas yang tinggi.

Berbicara mengenai metode penelitian makalah, sebenarnya dalam hal ini sama saja dengan metode yang digunakan pada karya ilmiah secara umum. Termasuk yang sudah disinggung dalam poin sebelumnya. Jadi, di dalamnya bisa menggunakan metode penelitian dengan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif. Hanya saja mayoritas contoh makalah menggunakan metode kualitatif.

Selain pendekatan secara umum tersebut, dalam makalah juga biasa menerapkan metode penelitian karya ilmiah pada umumnya. Sebagaimana disebutkan di atas, yakni seperti metode deskriptif dan eksperimen. Jika kasusnya berkaitan dengan fenomena sosial pun bisa mengusung metode penelitian sosial. Dan ketiga metode tersebut selanjutnya akan dibahas secara lebih detail lagi.

Artikel Terkait:

Contoh Rumusan Masalah

Instrumen Penelitian

Hipotesis Penelitian 

Jenis Angket Penelitian

Jenis Laporan Penelitian 

Pendekatan Penelitian

Responden Penelitian 

Jenis Data Penelitian


Apakah Anda sedang atau ingin menulis buku? Dengan menjadi penulis penerbit buku Deepublish, buku Anda kami terbitkan secara GRATIS. Anda cukup mengganti biaya cetak. Silakan isi data diri Anda di sini. atau Anda bisa langsung Kirim Naskah dengan mengikuti prosedur berikut ini: KIRIM NASKAH

Jika Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang menulis buku, Anda dapat melihat artikel-artikel kami berikut:

Jika Anda mempunyai BANYAK IDE, BANYAK TULISAN, tapi BINGUNG bagaimana caranya MEMBUAT BUKU, gunakan fasilitas KONSULTASI MENULIS dengan TIM PROFESSIONAL kami secara GRATIS disini!