Panduan Menulis

Huruf Diftong dan Aturan Penulisannya Sesuai EYD

Pernahkah Anda mendengar istilah huruf diftong? Bagi sebagian besar orang, istilah yang menyebut jenis huruf ini terdengar asing di telinga. Lumrah memang, karena diftong sendiri jarang disebutkan dan tentunya jarang diperbincangkan. 

Namun, diftong sendiri termasuk ke dalam jenis huruf atau susunan huruf yang tentu membentuk kata utuh. Kata ini memiliki makna dan kemudian menjadi kata baku yang tercantum dalam KBBI maupun EYD. Jadi, apa sebenarnya diftong? 

Apa Itu Huruf Diftong?

Huruf diftong juga sering disebut huruf vokal rangkap. Dikutip melalui kumparan.com, dalam Bahan Ajar Fonologi Bahasa Indonesia oleh Akhyaruddin, dkk., diftong adalah vokal yang berubah kualitasnya pada saat pengucapan.

Secara sederhana, diftong adalah jenis huruf yang menunjukan adanya dua huruf vokal yang berjejer atau berdampingan. Uniknya, dalam pengejaan, diftong tidak bisa dipisahkan sehingga harus menjadi satu ejaan. Misal pada kata “mau” yang dieja “mau” bukan “ma-u”. 

Selain itu, diftong juga tidak bisa digantikan dengan susunan huruf lain yang memiliki bunyi sama maupun hampir sama. Misalnya pada kata “harimau” yang tidak bisa digantikan dengan “aw” menjadi “harimaw”. Jika diganti maka menjadi kata tidak baku. 

Bicara mengenai diftong sering juga dikaitkan dengan monoftong. Monoftong sendiri adalah  perubahan dua bunyi vokal menjadi vokal tunggal. Sehingga ada perubahan bunyi, seperti pada kata “satai” menjadi “sate”. Pada diftong tidak ada perubahan bunyi meski sama-sama deretan huruf vokal. 

Contoh Kata Diftong dalam Kalimat

Huruf diftong dalam bahasa Indonesia hanya ada empat. Yaitu au, ai, oi, ei.. Berikut penjelasannya dalam beberapa contoh kalimat: 

1. Huruf Diftong di Awal

Huruf yang termasuk diftong bisa dijumpai di awal, sehingga ada susunan dua huruf vokal pada awal suatu kata. Berikut beberapa contohnya dalam kalimat: 

  • Menutup aurat bagi perempuan muslim adalah kewajiban dan berlaku ketika sudah akil baligh. (kata “aurat” diawali dengan diftong “au”).
  • Rita memang dikenal mempesona dan memiliki aura yang positif. (kata “aura” dari diftong “au”).
  • Kegiatan belajar menari dilakukan di aula gedung serbaguna dan para siswa diharapkan datang tepat waktu. (kata “aula” dari diftong “au”).

2. Huruf Diftong di Tengah

Huruf diftong juga bisa ditemukan di bagian tengah suatu kata, berikut beberapa contohnya dalam kalimat: 

  • Banyak perusahaan menjadi target boikot karena diduga mendukung aksi genosida terhadap suatu etnis. (kata “boikot” terdapat diftong “oi” di bagian tengah kata).
  • Tujuan dari acara haul ini adalah untuk mendoakan ahli kubur agar semua amal ibadah almarhum diterima Allah SWT. (kata “haul” terdapat diftong “au” di bagian tengah).
  • Warga desa diminta Pak RT untuk segera ke balairung. (kata “balairung” terdapat diftong “ai” di bagian tengah).

3. Huruf Diftong di Akhir

Huruf diftong juga bisa ditemukan di akhir suatu kata. Berikut beberapa contohnya dalam kalimat: 

  • Bayu dikenal pandai sejak masih duduk di Sekolah Dasar. (kata “pandai” terdaftar diftong di akhir “ai’).
  • Sebelum menyusun data penelitian, mayoritas peneliti melakukan survei ke subjek penelitian. (kata “survei” terdaftar diftong di akhir “ei’).
  • Liburan tahun ini sungguh amboi karena cukup panjang. (kata “amboi” terdaftar diftong di akhir “oi’).

Penulisan Diftong

Dikutip melalui tirto.id, aturan penulisan diftong adalah ditulis biasa tanpa ditulis dengan huruf miring. Sementara untuk pemenggalan, sesuai dengan ketentuan EYD, diftong tidak dipenggal melainkan terus menyatu dan berdiri berjejer. Misalnya: 

  1. Pandai: pan-dai (“ai”di akhir menyatu)
  2. Amboi: am-boi (“oi” di akhir menyatu).
  3. Survei: sur-vei (“ei” di akhir menyatu).

Kuncinya, diftong tidak dipenggal. Lalu bagaimana jika ada di tengah kalimat? Secara umum ketika diftong ada di tengah maka bisa dipenggal. Selama termasuk dalam diftong yang hanya 4 macam yakni au, ai, oi, ei.

Perhatikan penggunaan kata baku yang benar pada naskah Anda, artikel berikut akan membantu:

Pujiati

Pujiati telah menjadi SEO Content Writer hampir 10 tahun. Dia berpengalaman menulis konten seputar dosen, kepenulisan akademis dan kreatif, serta kesehatan. Melalui tulisan, Pujiati merasa senang ketika apa yang ia tulis bermanfaat untuk pembaca.

Recent Posts

Tak Harus Dikerjakan Mandiri, Berikut Kapan Waktu Terbaik Menggunakan Jasa Konversi KTI

Hasil penelitian dosen, tentunya wajib disebarluaskan. Menariknya, dosen memiliki peluang untuk menyebarluaskannya secara optimal. Yakni…

1 hari ago

Mau Membuat Ebook PDF? Kenali Alasan Memilih Format ini dan Cara Pembuatannya

Salah satu tahapan dalam penerbitan buku elektronik (ebook), adalah menentukan format ebook tersebut. Salah satu…

3 hari ago

Empat Tahun Berkolaborasi, Universitas Halmahera dan Penerbit Deepublish Perpanjang MoU Kerja Sama

Universitas Halmahera dan Penerbit Deepublish kembali memperkuat kolaborasi melalui perpanjangan Nota Kesepahaman atau Memorandum of…

4 hari ago

Dorong Luaran Penelitian Dosen, UNIKI dan Penerbit Deepublish Gelar Webinar Buku Akademik dan HKI

Penerbit Deepublish berkolaborasi dengan Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI), sukses menyelenggarakan Webinar “Optimalisasi Luaran Penelitian:…

4 hari ago

Cara Menentukan Target Pembaca Sebelum Menulis Buku Akademik agar Isi Lebih Tepat

Salah satu tahapan dalam menulis buku ilmiah di kalangan dosen adalah menentukan target pembaca. Tahap…

1 minggu ago

Berikut Syarat yang Harus Dipenuhi agar Ebook dengan E-ISBN Diakui dalam BKD dan Penilaian Angka Kredit

Membahas E-ISBN dan angka kredit, sekaligus BKD. Tentunya menjadi hal menarik di kalangan dosen. Pada…

1 minggu ago