Perguruan tinggi tidak hanya menaungi dosen untuk menjalankan tugas mengajar, akan tetapi juga meneliti dan mengabdi kepada masyarakat. Dalam hal tersebut, perguruan tinggi diwajibkan melakukan pengelolaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (PkM) yang sesuai standar Kemdiktisaintek.
Pengelolaan yang tepat akan menunjang optimasi mutu dan kinerja penelitian maupun PkM para dosen sekaligus mahasiswa. Dalam pengelolaan ini, perguruan tinggi umumnya mendirikan LPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat). Jadi, apa itu LPPM dan apa saja tugas maupun fungsinya? Berikut informasinya.
LPPM adalah unit kerja di lingkungan perguruan tinggi yang bertanggung jawab dalam mengelola, mengkoordinasikan, mengembangkan, dan mengevaluasi kegiatan penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan dosen serta mahasiswa.
Setiap perguruan tinggi di Indonesia dibebaskan untuk memberi nama lembaga dengan fungsi tersebut. Sehingga tidak semua perguruan tinggi menggunakan nama LPPM, bisa juga nama lain sesuai kebijakan internal masing-masing.
Melalui lembaga ini, perguruan tinggi bisa memberikan fasilitas dan support system untuk dosen melaksanakan penelitian serta PkM. Tentunya juga pelaksanaannya sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan pemerintah melalui Kemdiktisaintek.
Tak hanya itu, lembaga ini juga bisa menjadi bagian dari monitoring kinerja penelitian dan PkM dosen. Sehingga memastikan setiap dosen maupun mahasiswa aktif menjalankan penelitian serta PkM sesuai standar yang berlaku.
Para dosen maupun mahasiswa, tentunya akan sangat terbantu dengan adanya LPPM di kampus masing-masing. Sebab bisa mendapatkan informasi mengenai bagaimana melaksanakan penelitian dan PkM, bagaimana mengakses pendanaan internal maupun eksternal, dibantu mengembangkan keterampilan dengan pelatihan, dan lain-lain.
Sesuai penjelasan sebelumnya, keberadaan LPPM di perguruan tinggi bertugas untuk memastikan kegiatan penelitian dan PkM berjalan baik, kontinyu (rutin), dan juga memenuhi standar yang ditetapkan Kemdiktisaintek.
Sehingga lembaga ini akan melakukan berbagai kegiatan yang sekiranya bisa membantu dosen maupun mahasiswa dalam penelitian serta PkM. Berikut adalah beberapa contoh tugas yang secara umum dijalankan:
Umumnya, setiap perguruan tinggi akan menetapkan regulasi mengenai rincian atau daftar tugas dari LPPM di bawah naungannya. Jadi, bagi para dosen yang ditugaskan mengelola LPPM bisa menyesuaikan dengan regulasi yang ditetapkan perguruan tinggi.
Selain itu, detail tugas LPPM bisa berbeda-beda di setiap perguruan tinggi. Informasi mengenai tugas bisa diakses publik melalui website resmi LPPM di setiap perguruan tinggi di Indonesia.
Pembentukan LPPM dan juga penetapan fungsinya di perguruan tinggi mengacu pada Permendikbud No. 3 Tahun 2020. Pada Pasal 53 Ayat (1) terdapat 7 fungsi LPPM dalam kegiatan penelitian di perguruan tinggi yang harus bisa dijalankan. Yaitu:
Sedangkan fungsi LPPM dalam menunjang kegiatan PkM tercantum di dalam Permendikbud No. 3 Tahun 2020 Pasal 64 Ayat (1). Berikut detailnya:
Baca juga: Mengenal Apa Itu Kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Dosen dan Bentuk-Bentuknya
Seperti yang diketahui, LPPM memiliki dasar hukum untuk dibentuk dan menjalankan tugas serta fungsi yang diatur di dalam Permendikbud No. 3 Tahun 2020. Hanya saja, regulasi ini sendiri sudah dicabut dan digantikan dengan Permendiktisaintek No. 39 Tahun 2025.
Dalam regulasi terbaru tersebut, tidak ada pasal yang secara eksplisit menjelaskan perlunya perguruan tinggi mendirikan unit kerja (misalnya LPPM atau nama lain dengan tugas dan fungsi serupa) untuk memfasilitasi kegiatan penelitian dan PkM dosen.
Meskipun begitu, tidak juga ada pasal yang secara eksplisit menyebut LPPM tidak perlu dibentuk oleh perguruan tinggi. Sehingga, dalam regulasi terkini lebih fleksibel untuk menyesuaikan dengan kebijakan internal masing-masing perguruan tinggi.
Jika dulunya LPPM menjadi keharusan (kewajiban) untuk dibentuk. Maka di regulasi terbaru sifatnya tidak lagi wajib. Perguruan tinggi boleh memenuhi standar penelitian dan PkM tanpa harus mendirikan unit kerja.
Dalam Permendiktisaintek No. 39 Tahun 2025, mengatur mengenai standar pendidikan tinggi (SN Dikti). Standar pendidikan tinggi disini berisi penjelasan standar pelaksanaan tri dharmas secara keseluruhan. Sehingga berisi ketentuan mengenai standar kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (PkM).
LPPM di perguruan tinggi, sesuai dengan kepanjangannya memiliki tugas dan fungsi mengelola jalannya penelitian dan PkM. Jika mengacu pada regulasi terbaru ini, seperti apa standar penelitian dan PkM-nya?
Standar nasional kegiatan penelitian dimulai dari Pasal 52 dan terdiri dari 3 jenis standar. Yaitu standar luaran penelitian, standar proses penelitian, dan standar masukan penelitian.Berikut rinciannya:
SN Dikti mengatur mengenai standar luaran penelitian. Standar tersebut tentunya wajib dipenuhi dosen dalam mencapai luaran penelitian. Standar tersebut antara lain:
SN Dikti tidak hanya mengatur mengenai standar luaran dalam kegiatan penelitian. Akan tetapi juga standar proses penelitian tersebut. Sehingga jalannya penelitian harus sesuai dengan standar yang berlaku. Diantaranya adalah:
SN Dikti juga mengatur mengenai standar masukan dalam penelitian. Standar masukan disini adalah standar sarana dan prasarana yang menunjang penelitian dosen maupun mahasiswa. Sekaligus mengatur kemudahan aksesnya. Berikut rinciannya:
Sedangkan untuk standar nasional dalam pelaksanaan PkM oleh dosen dan mahasiswa. Aturannya tertuang di dalam Pasal 58 sampai Pasal 63. Berikut detailnya;
Standar luaran PkM adalah kriteria minimal mengenai mutu, relevansi, dan kemanfaatan hasil pengabdian kepada masyarakat. Cakupannya antara lain:
Standar proses PkM adalah kriteria minimal mengenai proses dan pengelolaan pengabdian kepada masyarakat yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penilaian, pengawasan, dan pengendalian kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Standar proses PkM ditetapkan oleh perguruan tinggi. Detail standarnya adalah sebagai berikut:
Standar masukan PkM adalah kriteria minimal mengenai akses terhadap sarana, prasarana, pembiayaan, penugasan dosen, dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi berdasarkan misi perguruan tinggi. Standar masukan PkM minimal mencakup beberapa poin berikut:
Detail keseluruhan aturan standar nasional penelitian maupun PkM terbaru seperti apa. Para dosen dan mahasiswa bisa membaca dokumen Permendiktisaintek No. 39 Tahun 2025 dan bisa diunduh melalui https://peraturan.go.id/files/permendiktisaintek-no-39-tahun-2025.pdf.
Membahas mengenai LPPM, tentunya akan dikaitkan dengan LPM. Dalam ruang lingkup perguruan tinggi, LPM bisa merujuk pada Lembaga Penjaminan Mutu. Bisa juga merujuk pada Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat.
Dalam regulasi Permendikbud No. 3 Tahun 2020, lembaga yang bertugas menyediakan fasilitas penelitian dan PkM bisa diberi nama apapun. Tidak harus LPPM, sehingga pada beberapa perguruan tinggi menggunakan istilah Lembaga Penelitian (Lemlit) dan Lembaga Pengabdian pada Masyarakat (LPM).
Sehingga dua lembaga tersebut dipisah dan menjalankan tugas masing-masing sesuai ketentuan Kemdiktisaintek. Pada beberapa perguruan tinggi, dua lembaga tersebut dilebur menjadi satu. Sehingga diberi nama LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat).
Lalu, bagaimana dengan LPM (Lembaga Penjaminan Mutu)? LPM dalam konteks ini, adalah unit kerja di perguruan tinggi yang bertugas dalam merancang, mengelola, dan mengevaluasi sistem penjaminan mutu pendidikan di perguruan tinggi yang menaunginya. Berikut rincian perbedaan LPPM dengan LPM pada konteks ini:
Aspek pertama yang membedakan keduanya adalah tugas. LPPM bertugas dalam mendukung atau memfasilitasi kegiatan penelitian dan PkM yang dijalankan akademisi. Yakni dosen dan mahasiswa.
Sekaligus memastikan penelitian dan PkM yang dijalankan sudah memenuhi SN Dikti. Keberadaan lembaga ini diharapkan bisa menunjang kelancaran pelaksanaan dua kegiatan tri dharma tersebut.
Sementara itu, tugas dari LPM adalah untuk mendukung serta memfasilitasi jalannya kegiatan pendidikan atau pembelajaran yang bermutu. Sekaligus sesuai dengan ketentuan di dalam SN Dikti.
Aspek kedua yang menjadi perbedaan LPPM dan LPM di perguruan tinggi adalah fungsi. LPPM memiliki fungsi sebagai pengelola kegiatan penelitian dan juga PkM. Sehingga menetapkan regulasi dan segala pengaturan sumber daya untuk mendukung kegiatan tri dharma tersebut.
Sesuai penjelasan sebelumnya, keberadaan LPPM bisa menunjang dan memastikan kegiatan penelitian dan PkM berjalan baik. Sehingga bisa menghasilkan luaran dan temuan penelitian yang berkualitas sekaligus sesuai standar yang berlaku (SN Dikti).
Sementara itu, fungsi dari LPM adalah memastikan kegiatan pendidikan memiliki mutu yang baik. Sehingga berfungsi untuk menyusun standar kegiatan pendidikan, evaluasi, mengurus maupun melakukan pendampingan dalam penilaian akreditasi, dll.
Melalui penjelasan tersebut, maka bisa dipahami LPPM memiliki fokus untuk memfasilitasi kegiatan penelitian dan PkM. Sementara itu, LPM fokus untuk memfasilitasi penyelenggaraan kegiatan pendidikan agar sesuai standar nasional pendidikan tinggi (SN Dikti). Baik LPPM maupun LPM diatur di dalam Permendiktisaintek No. 39 Tahun 2025.
LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) adalah unit kerja di perguruan tinggi yang bertugas mengelola, mengoordinasikan, mengembangkan, dan mengevaluasi kegiatan penelitian serta pengabdian kepada masyarakat (PkM) yang dilakukan dosen maupun mahasiswa.
LPPM bertugas memastikan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat berjalan dengan baik, berkelanjutan, serta sesuai standar yang ditetapkan pemerintah. Beberapa tugasnya meliputi menyusun panduan penelitian dan PkM, mengelola hibah, menyelenggarakan pelatihan, mengevaluasi kinerja, dan mendokumentasikan kegiatan.
LPPM membantu perguruan tinggi menyediakan sistem pendukung bagi dosen dan mahasiswa dalam melaksanakan penelitian serta pengabdian kepada masyarakat. Lembaga ini juga berperan dalam memastikan kegiatan tersebut berjalan sesuai standar yang berlaku.
Berdasarkan regulasi terbaru, perguruan tinggi memiliki fleksibilitas dalam menentukan bentuk unit kerja yang mengelola penelitian dan PkM. Permendiktisaintek No. 39 Tahun 2025 tidak secara eksplisit mewajibkan perguruan tinggi membentuk unit bernama LPPM, tetapi tetap harus memenuhi standar penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Pengelolaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dalam standar pendidikan tinggi terbaru mengacu pada Permendiktisaintek No. 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi. Regulasi ini mengatur standar pelaksanaan Tri Dharma, termasuk penelitian dan PkM.
Referensi:
Salah satu buku ilmiah yang akan rutin disusun oleh dosen Indonesia adalah buku monograf. Buku…
Bagi dosen dan para penulis buku yang ingin menerbitkan buku, maka bisa mempertimbangkan penerbitan buku…
Setiap penulis, dalam menyusun paragraf tentunya akan dimulai dengan menentukan ide pokok paragraf tersebut. Penentuan…
SURABAYA, 19 Agustus 2026 — Penerbit Deepublish resmi menerbitkan buku terbaru karya Mohamad Yusak Anshori…
Menulis buku bukan hal yang mudah, sehingga mengakses layanan konsultasi menulis buku dosen bisa dijadikan…
Pernahkah membuat rangkuman dengan tulisan tangan selama proses pembelajaran? Jika pernah, maka tentu menyadari betul…