Hasil atau temuan dari kegiatan penelitian dosen, diketahui wajib untuk disebarluaskan. Salah satunya melalui publikasi ilmiah dalam bentuk buku. Bisa dengan menerbitkan buku referensi, monograf, maupun bunga rampai (book chapter).
Bagi para dosen yang mempertimbangkan penyebarluasan hasil penelitian lewat buku referensi dan bunga rampai. Kemudian bingung harus memilih buku ilmiah yang mana. Maka tentu perlu memahami perbandingan bunga rampai vs buku referensi. Berikut informasinya.
Perbandingan antara Book Chapter vs Buku Referensi
Bunga rampai vs buku referensi memang sama-sama disusun dosen berdasarkan hasil penelitian. Sehingga sama-sama bisa dijadikan luaran tambahan dalam kegiatan penelitian. Hanya saja, kedua jenis buku ilmiah ini tetap memiliki sejumlah perbedaan. Berikut perbandingannya:
1. Pengertian (Definisi)
Dilihat dari segi definisi atau pengertian, maka bisa dengan mudah membandingkan bunga rampai dengan buku referensi. Bunga rampai adalah karya tulis ilmiah (KTI) dalam bentuk buku yang berisi kumpulan artikel ilmiah dengan topik beragam tapi masih dalam tema yang sama.
Sementara buku referensi adalah KTI dalam bentuk buku yang berisi beberapa topik di suatu bidang keilmuan dan disusun berdasarkan hasil penelitian. Jadi, buku referensi adalah satu buku dengan satu judul dan pembahasan yang relevan dengan judul tersebut.
Sementara di dalam bunga rampai, ada kumpulan artikel ilmiah yang menyusuns etiap bab di dalamnya. Meski membahas beberapa topik atau mungkin topik yang sama. Tapi masih dalam satu tema dan dalam satu bidang keilmuan.
2. Struktur Penulisan
Bunga rampai vs buku referensi berikutnya adalah dari segi struktur penulisan. Sesuai dengan definisi yang dipaparkan sebelumnya, maka bisa diketahui bunga rampai punya struktur penulisan terdiri dari beberapa bab. Hanya saja setiap satu artikel ilmiah menjadi satu bab tersendiri.
Jika dalam satu naskah bunga rampai menghimpun 10 artikel ilmiah. Maka artinya bunga rampai tersebut terdiri dari 10 bab. Adapun untuk struktur penulisan artikel ilmiah menyesuaikan kebijakan penerbit. Biasanya menggunakan struktur berikut:
- Judul
- Nama Penulis
- Abstrak
- Pendahuluan
- Metode Penelitian
- Hasil dan Pembahasan
- Penutup
- Daftar Pustaka
Sementara struktur untuk buku referensi mengikuti struktur umum pada buku ilmiah. Secara mendasar strukturnya terbagi dalam 3 bagian. Yaitu bagian pembuka (misalnya halaman judul, kata pengantar, daftar isi, dll).
Kemudian bagian isi atau inti yang terdiri dari susunan bab, subbab, subsubbab, dan turunannya. Seluruh bab pada bagian isi disusun runtut sesuai alur logika keilmuan yang membahas beberapa topik di satu bidang keilmuan.
Bagian terakhir adalah bagian penutup. Umumnya terdiri dari halaman lampiran, glosarium, indeks, halaman daftar pustaka, dan umumnya juga ada halaman profil atau biodata penulis.
3. Cakupan Pembahasan
Isi dari bunga rampai yang berupa kumpulan artikel ilmiah. Sementara buku referensi yang fokus membahas beberapa topik di satu bidang keilmuan. Maka menunjukan adanya perbandingan dari segi cakupan pembahasan.
Bunga rampai bisa membahas topik yang sama, bisa juga beberapa topik berbeda seperti buku referensi. Hanya saja tetap memiliki tema yang sama dan di satu bidang keilmuan.
Sementara buku referensi akan fokus membahas beberapa topik di satu bidang keilmuan. Sehingga tidak ada ketentuan semua topik tersebut punya tema yang sama, sebagaimana pada bunga rampai.
Topik pembahasan juga bisa lebih ringkas. Sebab buku referensi bisa tersusun dari 2 topik saja. Sementara bunga rampai minimal ada 5 topik dari 5 artikel ilmiah berbeda agar bisa terbit sesuai standar Kemdiktisaintek.
4. Peran Editor
Perbandingan bunga rampai vs buku referensi selanjutnya adalah dari peran editor. Pada penerbitan buku referensi, editor berperan sebagai pihak yang melakukan editing dan penyuntingan secara profesional.
Selain itu, bertugas juga untuk menilai apakah naskah buku referensi berkualitas dan layak terbit. Sehingga kemudian diterima penerbit, atau justru sebaliknya. Artinya naskah buku referensi ditetapkan ditolak oleh penerbit.
Sementara di dalam bunga rampai, peran editor sudah dimulai dari tahap penyusunan. Editor penerbit akan membantu menghimpun naskah artikel ilmiah yang nantinya disatukan menjadi naskah bunga rampai dan terbit dalam satu judul.
Editor tidak hanya berperan melakukan editing dan penyuntingan pada seluruh artikel ilmiah. Akan tetapi juga memastikan seluruh artikel ilmiah memiliki struktur penulisan hingga gaya bahasa yang sama agar selaras.
Disusul dengan tugas menentukan urutan artikel ilmiah tersebut. Sehingga editor berperan dalam menentukan artikel mana yang menjadi bab 1, kemudian bab 2, bab 3, dan seterusnya.
5. Ketentuan Jumlah Bab dan Halaman
Perbandingan bunga rampai vs buku referensi berikutnya adalah dari ketentuan jumlah bab dan halaman. Pada bunga rampai, ketentuan batas minimal berdasarkan jumlah bab. Bukan jumlah halaman.
Sesuai penjelasan sebelumnya, satu judul bunga rampai minimal terdiri dari 5 bab. Bisa juga lebih, karena untuk batasan tidak ada ketentuan dari Kemdiktisaintek. Jika kurang dari 5 bab, maka perlu menghimpun artikel tambahan dari dosen atau peneliti lain.
Sementara di dalam buku referensi, ada ketentuan batas jumlah halaman. Sehingga tidak ada ketentuan batas jumlah bab minimal. Pada tahun 2026, jumlah halaman buku referensi yang disusun dosen minimal di 125 halaman. Jumlah ini dihitung dari bagian isi atau dari bab pertama sampai terakhir.
6. Jumlah Penulis
Perbandingan berikutnya adalah dari segi jumlah penulis. Secara mendasar, baik bunga rampai maupun buku referensi bisa ditulis satu dosen sebagai penulis tunggal. Hanya saja, untuk bunga rampai paling sering ditulis kolaboratif.
Sebab perlu meneliti beberapa topik dengan tema yang selaras pada satu bidang keilmuan. Sehingga akan lebih ideal dan mudah memenuhi karakteristik tersebut jika menghimpun artikel ilmiah dari beberapa orang dosen atau peneliti.
Sementara untuk buku referensi, bisa ditulis satu orang dosen. Bisa juga ditulis secara kolaboratif. Terlebih, buku referensi juga bisa terbit dalam seri. Artinya bisa terbit buku pertama, kedua, dan seterusnya jika topik yang dibahas beragam atau karena pembahasannya kompleks.
Baca juga: Dosen Menulis Buku Kolaborasi? Pahami Dulu Pembagian Angka Kreditnya
7. SKS dalam BKD dan Poin Angka Kredit
Perbandingan terakhir adalah dari segi bobot SKS dalam BKD dan besaran poin angka kredit. Mengacu pada PO BKD 2021, buku referensi memiliki bobot SKS lebih tinggi. Yakni mencapai 10 SKS per judul dengan batas kepatutan satu buku per tahun.
Sedangkan pada bunga rampai, jika terbit nasional bobotnya di 2,5 SKS. Jika terbit secara internasional, maka bobotnya di 3.75 SKS per judul. Jadi, bagi dosen yang butuh SKS cukup besar untuk memenuhi target BKD. Maka menulis buku referensi bisa dijadikan pilihan utama.
Semenyara untuk angka kredit. Buku referensi juga lebih unggul karena mencapai 40 poin. Angka kredit bunga rampai jika terbit nasional sebesar 10 poin, dan 15 poin jika terbit secara internasional. Jadi, bagi dosen yang AK Kumulatif kurang banyak dan proporsi penelitian belum terpenuhi. Buku referensi bisa dijadikan pilihan utama.
Baca juga: Mengenal 5 Jenis Angka Kredit Dosen untuk Menunjang Kenaikan Jabatan Akademik
Kapan Book Chapter Bisa Menjadi Pilihan?
Melalui perbandingan antara bunga rampai vs buku referensi yang dibahas sebelumnya. Maka bisa dipahami, jika keduanya adalah buku ilmiah yang berbeda. Meskipun begitu, keduanya sama-sama bisa dijadikan luaran penelitian dosen.
Selain itu, ada momen tersendiri yang membuat bunga rampai lebih ideal dipilih dosen dibanding buku referensi. Begitu juga sebaliknya. Berikut adalah beberapa momen, situasi, dan kondisi yang membuat bunga rampai bisa dijadikan pilihan:
1. Ideal untuk Dosen Pemula
Menerbitkan bunga rampai, lebih sering dianjurkan untuk dosen pemula. Sebab pada masa ini, umumnya keterampilan menulis KTI masih belum maksimal. Sekaligus kegiatan penelitian belum banyak dilakukan karena masih merintis karir akademik.
Sehingga dosen pemula cukup fokus pada satu penelitian. Kemudian disusun menjadi KTI dalam bentuk artikel ilmiah dan diterbitkan bersama kontributor lain. Kabar baiknya, banyak penerbit menjadi pemrakarsa penerbitan bunga rampai melalui call for chapter.
Jadi, dosen pemula tidak perlu membentuk tim penulis sendiri. Sebab di awal karir akademiknya, tentu jaringan yang dimiliki masih terbatas. Paling tinggi, jaringan yang dimiliki adalah alumni selama kuliah dulu. Sekaligus rekan sesama dosen di bawah naungan perguruan tinggi yang sama.
2. Ingin Mengurus Publikasi Ringkas Tapi dalam Bentuk Buku
Momen kedua yang ideal untuk mengutamakan penerbitan bunga rampai adalah ingin menerbitkan buku, tapi dengan beban lebih ringan atau ringkas. Bunga rampai ideal dalam kondisi ini, karena dosen fokus menulis satu artikel ilmiah.
Rata-rata, jumlah halaman pada artikel ilmiah di 10 halaman sampai 15 halaman. Ada yang di atasnya, bisa sampai 20 halaman. Tapi rata-rata masih di belasan halaman. Beban menulis belasan halaman, bagi dosen tentu lebih ringan dibanding buku referensi yang minimal 125 halaman.
Jadi, bunga rampai juga tidak hanya ideal bagi dosen pemula. Tapi tetap ideal ditulis dosen senior. Sebab ketika ingin menerbitkan buku secara ringkas, dalam waktu lebih singkat. Bunga rampai menjadi pilihan yang lebih tepat.
3. Membangun Riwayat Penerbitan Buku Ilmiah
Momen berikutnya, tentu saja untuk tujuan membangun riwayat publikasi ilmiah dalam bentuk buku. Dosen di Indonesia bisa dan leluasa mengurus publikasi ilmiah di prosiding, jurnal, dan menerbitkan buku ilmiah.
Sangat dianjurkan untuk memiliki publikasi di ketiganya sekaligus. Sebab bisa meningkatkan visibilitas dan dampak hasil penelitian. Hal ini terjadi, karena publikasi pada prosiding dan jurnal ditargetkan untuk masyarakat ilmiah. Sedangkan hasil penelitian yang terbit di buku ilmiah untuk masyarakat luas, termasuk masyarakat awam (umum).
4. Berkolaborasi dalam Penerbitan Buku
Dosen tentu perlu membangun riwayat publikasi ilmiah hasil kolaborasi. Kolaborasi ini membantu meningkatkan kualitas naskah buku yang disusun. Sebab disusun bersama-sama, dan saling sharing fasilitas seperti akses referensi yang dibutuhkan.
Selain itu, publikasi ilmiah kolaboratif juga cenderung punya visibilitas tinggi karena bisa terbit di media besar dan kredibel. Sehingga meningkatkan potensi jumlah pembaca, dan disusul potensi jumlah sitasi yang lebih tinggi.
Sitasi tinggi bisa berdampak pada SINTA Score yang lebih baik. Kemudian membuka lebih banyak kesempatan akademik. Jadi, menerbitkan bunga rampai yang biasanya memang hasil kolaboratif bisa dilakukan untuk mencapai hal tersebut.
5. Ingin Memperluas Jaringan Akademik
Menyusun bunga rampai dan menerbitkannya bersama dosen lain, atau bahkan berkolaborasi dengan peneliti dari lembaga penelitian. Kemudian, bisa juga bunga rampai dibantu penerbit yang menghimpun naskah dan menghubungkan dosen dengan penulis lain.
Maka menjadi peluang untuk memperluas jaringan akademik. Sekalipun tidak dipertemukan secara langsung maupun bertemu di grup diskusi. Pada saat bunga rampai terbit, biasanya nama penulis dilengkapi kontak berupa alamat email. Sehingga bisa membuka komunikasi di masa depan dan berkolaborasi lebih lanjut.
Kapan Buku Referensi Bisa Menjadi Pilihan?
Sama seperti bunga rampai, buku referensi juga bisa menjadi pilihan paling ideal untuk ditulis dosen pada momen-momen tertentu. Berikut beberapa momen yang dimaksud:
1. Mengejar Target BKD
Buku referensi dengan bobot SKS yang beberapa kali lipat lebih tinggi dibanding bunga rampai. Tentunya ideal menjadi prioritas dosen ketika perlu mengejar target BKD yang masih kurang banyak.
Misalnya, dosen butuh tambahan 7 SKS dalam periode semester ganjil tahun ini. Jika dikejar dengan menerbitkan bunga rampai, yang secara nasional punya bobot hanya 2,5 SKS. Tentunya kurang banyak.
Maka bisa lebih logis dikejar atau dipenuhi dengan menerbitkan buku referensi. Dimana bobot SKS-nya 10. Akan lebih ideal lagi jika buku referensi disusun sendiri, agar bobot SKS tersebut bisa diklaim seluruhnya di laporan BKD.
2. Membutuhkan Poin Angka Kredit Tinggi
Kondisi berikutnya yang membuat buku referensi lebih ideal disusun dosen adalah saat membutuhkan poin angka kredit tinggi. Sebab buku referensi bisa memberi tambahan sampai 40 poin.
Sementara bunga rampai, tertinggi jika terbit secara internasional memberi 15 poin. Jadi, jika dosen ingin segera memenuhi AK Kumulatif dan proporsi penelitian untuk kenaikan jenjang jabatan akademik. Maka otomatis menerbitkan buku referensi lebih ideal.
3. Ideal untuk Dosen Senior dengan Kepakaran yang Jelas
Buku referensi juga ideal disusun dosen senior yang kepakarannya sudah jelas. Artinya, dosen sudah melakukan beberapa kali penelitian. Bahkan banyak penelitian. Sekaligus publikasi ilmiah yang dihasilkan sudah fokus di satu topik kepakaran.
Sehingga ideal menyusun buku referensi yang pembahasan topik perlu lebih mendalam. Sebab memang minimal di 125 halaman. Sekalipun ada dua topik atau lebih, tentunya dosen lebih mudah membahas secara mendalam karena sudah menguasai topik tersebut.
Melalui penjelasan tersebut, maka bisa dipahami bahwa untuk mengejar AK Kumulatif dalam kenaikan jabatan akademik. Dosen yang membutuhkan angka kredit tinggi, bisa memprioritaskan penerbitan buku referensi.
Namun, jika memungkinkan bisa menerbitkan keduanya sekaligus. Sehingga mempercepat pemenuhan AK Kumulatif, sekaligus ketentuan proporsi penelitian dalam kenaikan jenjang jabatan akademik dosen.
Bisa Keduanya? Strategi Kombinasi yang Bisa Diterapkan
Meskipun dari perbandingan bunga rampai vs buku referensi ada perbedaan signifikan. Sekaligus ada momen tertentu yang membuat salah satunya lebih ideal dipilih oleh dosen. Namun, dosen juga bisa menulis serta menerbitkan keduanya sekaligus.
Strategi yang pertama, dosen menyusun artikel ilmiah untuk diterbitkan menjadi bunga rampai. Kemudian melakukan konversi pada artikel ilmiah tersebut menjadi naskah buku referensi. Baru kemudian diterbitkan.
Namun, untuk mengetahui buku mana yang bisa diklaim dalam pelaporan BKD dan penilaian angka kredit. Maka para dosen bisa berkonsultasi lebih dulu dengan Tim PAK yang ada di kampus. Sehingga pelaporannya benar dan tidak ada aturan yang dilanggar.
Strategi kedua, dosen bisa menyusun roadmap penelitian dengan dua penelitian yang menghasilkan luaran penerbitan buku ilmiah. Penelitian pertama, luaran wajib publikasi di jurnal nasional dan luaran tambahan melalui penerbitan bunga rampai.
Pada penelitian kedua, bisa publikasi di jurnal internasional sebagai luaran wajib, dan menerbitkan buku referensi sebagai luaran tambahan. Sehingga kedua jenis buku ilmiah ini tidak diterbitkan melalui satu kegiatan penelitian. Melainkan dua penelitian dan dilakukan bertahap sesuai roadmap penelitian.
Memudahkan Anda dalam menentukan bunga rampai vs buku referensi yang harus didahulukan untuk disusun. Maupun mengetahui kapan ideal menerbitkan keduanya sekaligus. Maka bisa berkonsultasi dengan ahlinya. Salah satunya melalui layanan Konsultasi Menulis dari Deepublish.
FAQ (Frequently Asked Questions)
Bunga rampai berisi kumpulan artikel ilmiah dalam satu tema dan bidang keilmuan, sedangkan buku referensi membahas beberapa topik dalam satu bidang keilmuan secara lebih menyeluruh.
Bunga rampai lebih sering dianjurkan untuk dosen pemula karena dosen dapat berfokus pada satu hasil penelitian dalam bentuk artikel dan berkolaborasi dengan kontributor lain.
Berdasarkan artikel, buku referensi memiliki bobot SKS lebih tinggi sehingga dapat menjadi pilihan ketika dosen membutuhkan tambahan SKS yang lebih besar untuk memenuhi target BKD.
Buku referensi memiliki angka kredit hingga 40 poin, sedangkan bunga rampai memiliki 10 poin untuk terbitan nasional dan 15 poin untuk terbitan internasional.
Referensi:
- Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. (2026). Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 39/M/KEP/2026 Tentang Petunjuk Teknis Layanan Pengembangan Profesi dan Karier Dosen. https://lldikti3.kemdiktisaintek.go.id/wp-content/uploads/2026/03/Salinan-Kepmendiktisaintek-39MKEP2026_Juknis-Layanan-Pengembangan-Profesi-dan-Karier-Dosen.pdf
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2021). Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 12/E/KPT/2021 Tentang Pedoman Operasional Beban Kerja Dosen. https://lldikti6.id/wp-content/uploads/2022/02/Salinan-Kepdirjendikti-tentang-PO-BKD_compressed.pdf
- Penerbit Deepublish. [@penerbitbukudeepublish]. (2026, Jul 28). ​Hasil penelitian tidak harus berhenti di laporan atau jurnal…[Foto]. Instagram. https://www.instagram.com/p/DbUw-Ycj7N2/
- Penerbit Deepublish. [@penerbitbukudeepublish]. (2026, Jun 25). ​Tahukah Anda, berikut ini 4 jenis buku akademik yang bisa membantu dosen…[Foto]. Instagram. https://www.instagram.com/p/DaAS1msiJT5/
- Nurlina., Basaria, F. T., Ernawati, E., Supria., & Taruliasi, A. M. (2023). Panduan Penerbitan Buku BINUS Press. BINUS University Press. https://research.binus.ac.id/wp-content/uploads/2024/09/Pedoman-Penerbitan-Buku-BINUS-Press.pdf
- Menulis Book Chapter atau Bunga Rampai: Berikut Format dan Ketentuannya. (n.d). UMJ Press. Diakses pada 23 Oktober 2026 dari https://umjpress.umj.ac.id/menulis-book-chapter-atau-bunga-rampai-berikut-format-dan-ketentuan/








