Banyak orang mengira, kesulitan tertinggi dari menulis buku adalah proses menulis itu sendiri. Aktualnya, proses penerbitan juga menjadi tahap sulit bagi penulis buku. Inilah alasan kenapa perlu mengakses informasi mengenai cara membangun mental sebelum menerbitkan buku.
Proses penerbitan bukan sekadar mengirimkan draft naskah ke penerbit, maka keesokan harinya langsung naik ke proses cetak. Penerbitan sendiri melewati proses panjang dan melelahkan. Bahkan banyak penulis yang takut menerbitkan naskahnya. Lalu, bagaimana solusinya? Berikut informasinya.
Sebelum mencari tahu bagaimana cara membangun mental sebelum menerbitkan buku. Para penulis tentunya perlu menyadari berbagai ketakutan yang membuat draft naskah buku urung untuk dikirim ke penerbit.
Rupanya, setiap penulis punya ketakutan tersendiri sehingga enggan menghadapi proses penerbitan. Apa saja ketakutan tersebut? Berikut beberapa diantaranya:
Ketakutan pertama yang sering menjadi alasan untuk penulis enggan menerbitkan naskahnya adalah khawatir tidak disukai pembaca. Dengan kata lain, ada kekhawatiran buku yang ditulis tidak laku di pasaran.
Dalam menerbitkan buku, risiko seperti ini memang mungkin saja terjadi. Namun, dengan beberapa upaya maka risikonya bisa ditekan. Misalnya dengan mengoptimalkan kualitas naskah, menulis topik yang tidak hanya dikuasai akan tetapi juga relevan dengan kebutuhan pembaca, dll.
Alasan kedua yang membuat mental drop untuk menerbitkan buku adalah takut ditolak penerbit. Naskah yang disusun tentunya perlu dikirim ke penerbit untuk proses penerbitan.
Oleh pihak penerbit, naskah tidak lantas langsung dicetak dan didistribusikan. Akan tetapi masuk ke proses editorial, yaitu diperiksa kelayakan terbitnya oleh editor. Melalui editor inilah ada keputusan naskah diterima, ditolak, maupun diterima dengan catatan revisi.
Hanya saja, tidak sedikit penulis yang tidak menyiapkan mental mengenai kemungkinan naskah ditolak. Padahal, risiko ini dialami semua penulis termasuk yang sudah punya jam terbang dan pengalaman menerbitkan buku best seller.
Alasan ketiga, karena penulis juga khawatir naskahnya diminta revisi. Terutama kemungkinan revisi skala besar, sehingga ada perubahan signifikan pada substansi naskah tersebut.
Revisi dalam proses penerbitan adalah hal lumrah. Hanya saja memang penulis perlu meluangkan waktu dan sumberdaya lain untuk mengerjakan revisi sesuai catatan editor. Kadang penulis tidak ingin menghadapi proses seperti ini, sehingga memutuskan untuk tidak menerbitkan naskah yang sudah disusun.
Banyak penulis buku yang kesulitan menembus editorial penerbit mayor. Namun, terkendala masalah biaya untuk menerbitkan naskahnya di penerbit selain penerbit mayor. Sebab memang akan ada biaya penerbitan.
Jadi, kadang penulis mundur dari proses penerbitan karena terkendala biaya. Selain itu, ada juga beberapa penulis yang khawatir tabungannya tidak cukup. Sehingga tidak ingin bertanya ke penerbit bisa tidaknya menerbitkan dengan biaya yang sesuai kondisi finansial.
Sebab lain yang membuat penulis tidak jadi menerbitkan naskahnya adalah bingung dengan proses promosi (pemasaran) maupun distribusi buku. Pada penerbit mayor, biasanya untuk promosi hingga distribusi dibantu sepenuhnya.
Hanya saja untuk penerbit selain penerbit mayor, ada juga yang hanya fokus melayani penerbitan. Sementara untuk promosi dan distribusi dikembalikan ke penulis. Penulis yang tidak memiliki jaringan luas, tidak punya medsos, dan kondisi lainnya. Tentu kesulitan untuk mengurus promosi dan distribusi sendiri.
Banyaknya hal yang menjadi sumber ketakutan penulis untuk menerbitkan naskah yang sudah disusun. Tentu memberi informasi bahwa kendala ini juga dihadapi setiap penulis. Khususnya bagi penulis pertama dan pada naskah pertamanya.
Namun, apakah kondisi ini wajar? Secara umum, takut untuk menerbitkan naskah buku yang sudah disusun adalah hal wajar. Sebab sebagai manusia, setiap penulis tentu punya kekhawatiran atau ketakutan tersendiri.
Terlebih jika memiliki pengalaman kurang menyenangkan terkait tulisan yang dibuat. Misalnya pernah dikritik orang terdekat tulisan yang dihasilkan kurang bagus, pernah membaca artikel mengenai stresnya penulis menghadapi revisi dari editor penerbit, sharing penulis mengenai buku yang gagal di pasaran, dan sebagainya.
Meskipun lumrah atau normal. Namun, ketakutan dalam menerbitkan naskah buku sebaiknya tidak didiamkan. Sebab bisa jadi naskah buku yang disusun punya kualitas baik. Siapa tahu setelah terbit, justru masuk di dalam daftar buku best seller. Kemudian, diterbitkan di beberapa negara, dan bahkan untuk buku fiksi diadaptasi menjadi film.
Masa depan, siapa yang bisa menebak? Sebagai penulis, tentunya perlu memahami setiap keputusan memiliki risiko sekaligus benefit. Dalam menulis naskah buku, jika diterbitkan maka ada risiko penjualan kurang bagus, revisi skala besar, dll. Bahkan penulis dengan jam terbang tinggi juga tidak bisa menghindari hal ini 100%.
Padahal bisa jadi, naskah yang disusun tidak melewati tahap rumit dan sulit tersebut. Selain itu, naskah buku bisa mengandung informasi yang penting dan bermanfaat bagi pembaca luas. Jadi, penting untuk memahami tata cara membangun mental sebelum menerbitkan buku. Sehingga sudah siap dengan risiko maupun kemungkinan terbaik yang bisa terjadi.
Setiap naskah buku yang sudah disusun, tentunya layak untuk diterbitkan. Bersama penerbit yang profesional, maka naskah buku tersebut akan dibantu memenuhi standar penerbitan yang berlaku. Sehingga revisi pada dasarnya bagian dari pemenuhan standar tersebut. Tujuannya agar ketika naskah terbit, maka pembaca memberi sambutan positif.
Jika masih bingung bagaimana menghadapi ketakutan dalam menerbitkan naskah buku. Maka berikut beberapa cara membangun mental sebelum menerbitkan buku agar lebih berani dan siap dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi:
Cara yang pertama untuk membangun mental siap menerbitkan buku adalah memahami betul setiap buku punya pembaca tersendiri. Artinya, buku yang sudah terbit akan menarik minat pembaca masing-masing.
Sehingga semua buku tanpa terkecuali akan tetap laku di pasaran. Baik sesaat setelah terbit, maupun beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan setelahnya. Sebab setiap buku akan menemukan jalan untuk terhubung dengan pembaca yang tepat.
Melalui pemahaman ini, maka akan semakin yakin bahwa buku yang disusun memang sudah seharusnya diterbitkan. Jangan sampai hanya disusun dan kemudian disimpan sebagai koleksi pribadi. Sehingga selamanya tidak bisa terhubung dengan pembacanya.
Cara membangun mental sebelum menerbitkan buku yang kedua adalah memahami bahwa setiap pembaca punya respon sendiri-sendiri. Ada yang memberi respon positif, negatif, ada juga yang di tengah-tengah.
Sehingga kritikan maupun pujian akan selalu ada setiap kali menerbitkan buku. Respon pembaca ini tentunya di luar kontrol penulis. Oleh sebab itu, penulis perlu fokus pada hal-hal yang bisa dikontrol.
Misalnya mengontrol optimasi kualitas naskah, memilih penerbit kredibel agar kelayakan terbit lebih optimal, dan lain sebagainya. Jadi, kurangi terus memikirkan bagaimana mendapat respon positif dari semua pembaca. Sebab hal tersebut tidak akan bisa dilakukan, karena memang di luar kontrol penulis.
Mengubah mindset yang tadinya cenderung mudah mundur menerbitkan buku menjadi yakin juga sangat penting. Jika selama ini punya mindset atau pemikiran takut buku yang disusun ditolak penerbit, dikritik pedas oleh pembaca, dll.
Maka pemikiran tersebut perlu diubah menjadi takut tidak pernah menerbitkan buku. Seorang penulis profesional, tentunya akan mengedepankan karya tulisnya terbit dan diakses oleh para pembaca. Sehingga bermanfaat bagi mereka.
Jadi, pahami betul seorang penulis idealnya punya karya tulis dan telah terbit agar diakses pembaca. Sehingga menjadi bukti sudah menjadi penulis produktif. Jangan sampai hanya menjadi penulis bayangan, punya naskah tapi tak pernah diterbitkan. Jika terjadi, maka tentu tidak bisa disebut sebagai penulis.
Berikutnya yang menjadi cara membangun mental sebelum menerbitkan buku adalah menulis topik yang dikuasai. Kenapa? Sebab umumnya, penulis takut bukunya ditolak penerbit maupun tidak laku karena merasa kualitas belum optimal.
Jadi, sangat disarankan untuk selalu menulis buku dengan topik yang sudah dikuasai dengan baik. Tujuannya agar lebih percaya diri menyusunnya dan menerbitkan setelah selesai disusun.
Topik yang dikuasai membantu penulis lebih yakin bahwa informasi di dalamnya sudah disajikan dengan baik dan benar. Sehingga lebih percaya diri untuk menerbitkannya. Apalagi setelah diterima editor penerbit, maka akan diperiksa dulu dan ada permintaan revisi. Sehingga kualitas dan kelayakan terbit bisa optimal.
Jadi, hindari aji mumpung menulis topik serampangan. Sekaligus FOMO dengan topik yang sedang menjadi tren. Sebab topik yang tidak dikuasai justru membuat proses menulis lebih sulit dan terseok-seok. Mental pun sudah habis untuk menulis dan tidak percaya diri menerbitkannya.
Baca juga: 12 Topik Buku yang Paling Dicari Pembaca Indonesia di Tahun 2026
Riset sebelum menulis menjadi hal mendasar dalam proses menulis karya yang berkualitas. Hal ini tidak hanya berlaku untuk buku ilmiah, akan tetapi juga buku nonilmiah (fiksi).
Riset penting untuk memahami topik dan segala hal yang berkaitan. Serta membantu memahami fokus pembahasan dimana, batasannya apa, dan bagaimana alur yang baik. Sehingga lebih mengalir dan tentunya relevan dengan kondisi aktual di lapangan.
Misalnya saja saat menulis novel. Jika tokoh utama digambarkan seorang pemilik bakery. Maka tentu perlu ada bagian dari naskah yang menjelaskan kesibukan tokoh dengan tokoh bakerynya. Sehingga tokoh lebih realistis dan hal ini cenderung disukai pembaca. Sebab mereka bisa mendapat informasi mengenai suatu profesi.
Khusus untuk penulis buku ilmiah, menggunakan referensi menjadi kebutuhan sekaligus kewajiban. Informasi yang disajikan harus valid sehingga harus memiliki sumber jelas.
Dalam memilih referensi pastikan 3 kriteria dasar terpenuhi. Yaitu relevan dengan topik, kredibel, dan terbitan terkini. Selain itu, tidak kalah penting adalah referensi tersebut bisa dipahami oleh penulis.
Sehingga bisa menambah ilmu dan wawasan yang tentu berguna dalam mengembangkan naskah. Jadi, jika ada 2 referensi dan hanya salah satunya yang mudah dipahami. Jadikan sebagai pilihan dan abaikan referensi lain yang sulit dipahami. Tujuannya agar bisa segera memahami topik dan fokus menulis.
Salah satu sebab penulis enggan menerbitkan naskahnya adalah tidak memahami cara menerbitkannya. Maka cara membangun mental sebelum menerbitkan buku adalah mempelajari proses penerbitan.
Secara umum, menerbitkan buku diawali dengan memilih penerbit yang tepat. Kemudian naskah dikirimkan ke penerbit, baru kemudian diperiksa editor, jika diterima maka ada kemungkinan diminta revisi.
Selain penerbit mayor, maka ada biaya penerbitan. Sebaiknya konsultasikan dengan tim penerbit mengenai biayanya bagaimana. Penerbit profesional dan kredibel biasanya akan membantu penulis, sehingga tidak perlu takut salah langkah dalam proses penerbitan.
Cara berikutnya dalam menyiapkan mental agar lebih berani menerbitkan buku adalah punya target realistis. Sebagai penulis, tentunya penting untuk menetapkan target dalam proses penerbitan.
Misalnya menargetkan penerbit mayor, memilih target penerbit self publishing, target menerbitkan 50 eksemplar buku, target mendistribusikan buku ke seluruh wilayah Indonesia, dll.
Target yang realistis sangat dianjurkan, sehingga lebih mudah dicapai. sekaligus meningkatkan kepercayaan diri untuk segera mengurus penerbitan. Sebaliknya, jika target terlalu muluk maka saat gagal dicapai bisa memberi trauma. Sekaligus rentan gagal menerbitkan buku karen ditolak penerbit atau sebab lainnya.
Cara membangun mental sebelum menerbitkan buku berikutnya adalah memilih penerbit kredibel. Tujuannya agar proses editorial berjalan baik. Bukan asal menerima naskah dan langsung diproses untuk diterbitkan.
Padahal, editorial penting dan menjadi standar pada proses penerbitan untuk mengoptimalkan kualitas naskah. Editorial yang berjalan bak meminimalkan risiko ada kesalahan pada naskah yang lolos dan meningkatkan peluang diterima baik oleh pembaca.
Jadi, menghindari ketakutan menjadi kenyataan seperti buku tidak laku dan sebagainya. Sebaiknya dari awal sudah teliti memilih penerbit. Jangan asal murah, jangan asal yang menerima naskah, dll. Namun, pastikan kredibel dan ada proses editorial.
Baca juga: Kenali 7 Ciri Penerbit buku yang Baik dan Berkualitas
Cara lainnya adalah dengan rutin menulis buku dan menerbitkannya. Selain itu, bisa juga menulis karya tulis jenis lainnya (selain buku) dan dipublikasikan. Misalnya menulis cerpen, artikel ilmiah populer, maupun ikut lomba menulis puisi, cerpen, dll.
Sebab semakin sering menulis, semakin terasah keterampilan dalam menulis. Sekaligus meningkatkan kepercayaan diri, sebab perlahan kualitas tulisan semakin baik. Sekaligus semakin sering menembus editorial penerbit kredibel.
Rutin menulis dan menerbitkan buku membantu mengatasi ketakutan dan kekhawatiran pada hal-hal yang belum tentu terjadi. Selain itu, langkah ini juga menjaga produktivitas menulis buku.
Melalui berbagai cara membangun mental sebelum menerbitkan buku yang sudah dijelaskan. Maka tentunya bisa membantu menyiapkan mental untuk lebih berani. Sehingga sudah siap dengan berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi.
Kunci penting lainnya, adalah teliti dalam memilih penerbit. Utamakan penerbit kredibel dan menerapkan editorial yang baik. Sehingga naskah buku yang disusun diperiksa editor, kemudian ada tahap revisi, baru kemudian naik ke proses cetak.
Hindari penerbit yang tidak menerapkan proses editorial. Sebab ada kekhawatiran kesalahan dan mutu naskah yang belum optimal diabaikan. Sehingga terbit apa adanya dan dampaknya sambutan dari pembaca kurang. Hal ini tentu menjadi mimpi buruk dan memberi trauma untuk menerbitkan buku.
Jadi, pastikan sudah memilih penerbit buku kredibel. Sebab menjadi salah satu cara membanun mental siap menebritkan buku. Sebab yakin naskah diperiksa ahlinya dengan seksama dan dipastikan layak tersebut sesuai standar yang berlaku.
Penulis sering merasa takut menerbitkan buku karena khawatir karya tidak disukai pembaca, ditolak penerbit, mendapat banyak revisi, terkendala biaya penerbitan, atau bingung dengan proses promosi dan distribusi buku.
Ya, rasa takut sebelum menerbitkan buku merupakan hal yang wajar dialami penulis, terutama penulis pemula. Namun, rasa takut tersebut perlu dikelola agar tidak menghambat naskah yang sudah selesai untuk diterbitkan.
Mental sebelum menerbitkan buku dapat dibangun dengan memahami bahwa setiap buku memiliki pembacanya sendiri, menerima bahwa respon pembaca tidak selalu bisa dikontrol, memilih topik yang dikuasai, melakukan riset, memahami proses penerbitan, dan memilih penerbit yang kredibel.
Penulis perlu memahami bahwa setiap buku memiliki target pembaca masing-masing. Fokus utama sebaiknya diarahkan pada peningkatan kualitas naskah, pemilihan topik yang relevan, serta memastikan isi buku memberikan manfaat bagi pembaca.
Revisi merupakan bagian normal dalam proses penerbitan untuk meningkatkan kualitas naskah. Melalui masukan editor, naskah dapat diperbaiki agar lebih sesuai standar penerbitan dan lebih siap diterima pembaca.
Referensi:
Dalam kegiatan menulis, ada banyak sekali kendala dan hambatan yang akan menurunkan produktivitas. Salah satunya…
Salah satu buku ilmiah yang akan rutin disusun oleh dosen Indonesia adalah buku monograf. Buku…
Perguruan tinggi tidak hanya menaungi dosen untuk menjalankan tugas mengajar, akan tetapi juga meneliti dan…
Bagi dosen dan para penulis buku yang ingin menerbitkan buku, maka bisa mempertimbangkan penerbitan buku…
Setiap penulis, dalam menyusun paragraf tentunya akan dimulai dengan menentukan ide pokok paragraf tersebut. Penentuan…
SURABAYA, 19 Agustus 2026 — Penerbit Deepublish resmi menerbitkan buku terbaru karya Mohamad Yusak Anshori…