Dalam kegiatan belajar, membaca, maupun menulis, tentunya akan dekat dengan proses parafrase, meringkas, dan menarik kesimpulan. Ketiganya juga menjadi rutinitas bagi beberapa kalangan.
Misalnya pada pelajar, mahasiswa, dosen maupun guru, penulis buku, peneliti jurnalis, dan lain sebagainya. Kadang kala, ketiganya saling tertukar dan tentu memberi kebingungan. Jadi, apa saja perbedaan dan teknik menulis parafrase, ringkasan, dan kesimpulan? Berikut informasinya.
Kenapa Parafrase, Ringkasan, dan Kesimpulan Sering Tertukar?
Sesuai penjelasan sebelumnya, ketika mempelajari dan mempraktekan teknik menulis parafrase, ringkasan, dan kesimpulan. Banyak yang kebingungan dan membuat ketiganya tertukar satu sama lain. Kira-kira, apa penyebabnya? Berikut beberapa alasannya:
1. Berkaitan Erat dengan Kegiatan Menulis
Sebab yang pertama, adalah karena ketiganya (parafrase, ringkasan, dan kesimpulan) berkaitan erat dengan kegiatan menulis. Parafrase erat dengan proses menulis, khususnya menulis karya tulis ilmiah.
Begitu juga dengan meringkas, biasanya meringkas referensi yang digunakan untuk menulis suatu tulisan. Kesimpulan sendiri menjadi salah satu bagian dari pemahaman referensi.
Sekaligus bisa dalam konteks penulisan KTI, yakni bagian dari struktur KTI tersebut. Yaitu bab kesimpulan, pada KTI biasanya menjadi bab penutup atau bab terakhir. Kondisi ini yang sering membuat penulis bingung dan tertukar saat memahami maupun mempraktekannya.
2. Tahapan Mirip atau Bahkan Sama Persis
Sebab yang kedua, karena tahapan dalam menyusun ketiganya sama persis atau sangat mirip. Secara garis besar baik parafrase, ringkasan, dan kesimpulan sama-sama dimulai dengan membaca referensi.
Kemudian disusul dengan menulis ulang data (informasi) dari referensi tersebut. Kondisi ini juga yang membuat banyak penulis memahaminya secara tertukar. Menganggap parafrase sama dengan ringkasan maupun kesimpulan. Bisa juga, menganggap melakukan parafrase, padahal yang dilakukan adalah meringkas.
3. Sama-Sama Menghasilkan Tulisan (Teks) Baru
Alasan lain banyak yang saling tertukar dalam teknik menulis parafrase, ringkasan dan kesimpulan karena sama-sama menghasilkan teks baru. Dimana teks tersebut tetap relevan dengan referensi yang dibaca sebagai dasar acuan.
Dalam parafrase, meski ada perubahan susunan kalimat akan tetapi makna sama persis dengan di referensi. Sementara ringkasan dan kesimpulan menghasilkan tulisan baru yang juga menjelaskan poin-poin inti dari keseluruhan bagian referensi yang dibaca.
4. Sering Dilakukan Bersamaan untuk Suatu Keperluan
Alasan lainnya, karena ketiganya sering dipraktekan bersamaan dalam satu kegiatan. Misalnya dalam menyusun karya tulis ilmiah (KTI). Contohnya menulis artikel ilmiah untuk jurnal.
Maka ada proses memahami referensi, menyusun ringkasan, menarik kesimpulan dari data di referensi, dan membuat kutipan tidak langsung dengan parafrase. Jadi, kondisi ini yang juga sering membuat penulis memahami ketiganya saling tumpang tindih (tertukar),
Pengertian dan Teknik melakukan Parafrase
Membantu menghindari kemungkinan saling tertukar antara teknik menulis parafrase, ringkasan, dan kesimpulan. Maka perlu memahami ketiganya dengan baik. Mulai dari definisi hingga teknik penerapan atau penulisan.
Pertama, tentang parafrase. Parafrase adalah proses menulis ulang suatu informasi (data) dari referensi dengan gaya bahasa sendiri tanpa mengubah makna. Biasanya teknik ini diterapkan ketika menyusun kutipan tidak langsung di dalam KTI.
Selain itu, diterapkan saat ingin menjelaskan suatu informasi dari referensi dengan cara yang lebih unik, menarik, atau lebih sederhana. Sehingga lebih mudah dipahami oleh target pembaca karya tulisnya.
Teknik penulisan parafrase ada yang etis dan tidak etis. Contoh kurang etis adalah sekadar mengganti kata dari referensi dengan sinonim, mengubah struktur kalimat, mengubah imbuhan dari kata yang ada di referensi, dan sejenisnya. Adapun teknik parafrase yang etis, minimal terdiri dari 4 tahapan. Berikut penjelasannya:
1. Membaca Referensi atau Sumber Data
Tahap pertama, penulis harus membaca referensi yang datanya ingin diparafrase. Data tersebut atau informasi tersebut harus dipahami dengan baik. Sebab tanpa dipahami, maka akan sulit menuliskannya kembali dengan gaya bahasa khas milik sendiri.
2. Menulis Ulang Data dengan Bahasa Sendiri
Tahap kedua dalam teknik parafrase adalah menulis ulang data yang sudah dipahami dengan baik memakai gaya bahasa sendiri. Jika merasa terpaku pada susunan kalimat dari referensi yang digunakan. Maka bisa menambah referensi untuk memperkaya teknik penyajian ulang data tersebut dengan baik bagaimana.
3. Membandingkan Teks Asli dengan Hasil Parafrase
Tahap ketiga, setelah parafrase selesai dilakukan maka silahkan dibandingkan dengan kalimat atau paragraf aslinya. Pastikan ada perbedaan. Baik dari pemilihan diksi (kata), susunan kalimat, dan detail lainnya. Jika masih sama persis maka lakukan parafrase ulang.
4. Melakukan Sitasi
Tahap akhir, adalah melakukan sitasi. Yaitu proses mencantumkan sumber data yang diparafrase. Pada KTI, sitasi dilakukan pada kutipan. Penempatannya bisa di awal, tengah , maupun di akhir kutipan. Kemudian di halaman daftar pustaka. Sitasi juga harus menyesuaikan dengan aturan penulisan dari gaya sitasi yang digunakan.
Baca juga: Cara Menulis Sitasi Dari Jurnal, Buku, dan Website
Pengertian dan Teknik menulis Ringkasan
Memahami dengan rinci teknik menulis parafrase, ringkasan, dan kesimpulan tentu tidak cukup hanya memahami parafrase. Berikutnya adalah mengenai ringkasan. Ringkasan adalah proses menulis ulang suatu teks dengan cara menyajikan kembali intisari (pokok-pokok penting) dari teks aslinya tanpa mengubah makna.
Jika parafrase biasanya menulis ulang dari satu kalimat atau paragraf. Maka berbeda dengan ringkasan. Biasanya meringkas satu karya tulis secara penuh. Baik satu bab penuh, maupun isi keseluruhan karya tulis tersebut dari bab pertama sampai bab terakhir.
Dalam kegiatan menulis KTI, meringkas biasanya dilakukan penulis saat ingin menyederhanakan referensi. Misalnya jumlah halaman pada referensi sampai puluhan. Sehingga diringkas menjadi 3-5 halaman saja. Sehingga lebih efisien saat dibaca ulang. Namun makna tidak berubah karena seluruh intisari tercantum di ringkasan tersebut.
Sama seperti parafrase, penulis dalam menyusun ringkasan juga menerapkan teknik khusus agar tepat. Secara umum, ada 3 tahapan dalam teknik menyusun ringkasan. Berikut penjelasannya:
1. Membaca Teks atau Naskah Asli
Tahap pertama dalam teknik penulisan ringkasan (meringkas) adalah membaca teks atau naskah aslinya. Jika dalam bentuk artikel, maka perlu membaca keseluruhan isi artikel tersebut. Jika dalam bentuk buku, maka perlu membaca keseluruhan isi buku tersebut.
2. Mencatat Gagasan-Gagasan Utama
Setelah membaca teks asli dan memahami isinya. Maka tahap kedua dalam teknik penulisan ringkasan dalam mencatat gagasan utama. Yakni intisari atau pokok penting pada teks asli tersebut.
Misalnya, jika teks asli dalam bentuk buku. Maka bisa mencatat gagasan utama di setiap bab di dalamnya. Jika dalam bentuk artikel ilmiah, maka mencatat gagasan utama di setiap bagian pada struktur artikel ilmiah tersebut.
Misalnya bagian pendahuluan gagasan utamanya apa, kemudian bagian metode penelitian gagasan utamanya apa, begitu seterusnya. Sehingga didapatkan daftar gagasan utama yang mewakili seluruh pembahasan pada naskah aslinya.
3. Menyusun Ringkasan dari Daftar Gagasan Utama
Tahap ketiga dalam teknik penulisan ringkasan adalah menyusun ringkasan itu sendiri dengan mengacu pada daftar gagasan utama yang disusun pada tahap sebelumnya.
Misalnya, bab pertama suatu buku yang ingin diringkas membahas mengenai cara mengolah limbah rumah tangga dari sampah basah seperti sisa makanan. Maka jelaskan kembali isi bab tersebut secara ringkas dengan gagasan utama sebagai acuan dasar.
Baca juga: Ide Pokok Paragraf: Pengertian, Letak, Cara Mengembangkan, dan Cara Menentukan
Pengertian dan Teknik menulis Kesimpulan
Berikutnya untuk memahami secara rinci mengenai teknik menulis parafrase, ringkasan, dan kesimpulan adalah memahami teknik penulisan kesimpulan. Kesimpulan memiliki banyak konteks. Dalam konteks penulisan karya tulis, khususnya KTI. Kesimpulan menjadi bagian dari struktur umum KTI.
Dalam KBBI Daring, kesimpulan punya beberapa definisi. Salah satunya menyebut, kesimpulan adalah pendapat terakhir yang berdasarkan pada uraian sebelumnya. Dalam konteks menulis KTI, kesimpulan disusun berdasarkan penjelasan data di dalam naskah KTI tersebut.
Sehingga menjelaskan hal penting dalam KTI. Misalnya topiknya apa dan hasil akhir pembahasannya apa. Jika KTI tersebut adalah artikel ilmiah berisi hasil penelitian. Maka kesimpulan menjelaskan informasi mengenai topik penelitian, temuan penelitian tersebut, dan jawaban dari rumusan masalah.
Dalam menyusun kesimpulan suatu karya tulis, teknik penulisannya membutuhkan setidaknya 3 tahapan dasar berikut:
1. Membaca Naskah dengan Teliti
Tahap pertama pada teknik menulis kesimpulan adalah membaca naskah dengan teliti. Sebab harus memahami apa yang disampaikan naskah tersebut, topik utamanya apa, dan hal-hal penting apa yang dijelaskan di dalamnya.
2. Mencatat Topik Utama dan Poin-Poin Penting
Tahap kedua, penulis perlu mencatat topik utama dari naskah karya tulis yang akan ditarik kesimpulannya. Sekaligus mencatat poin-poin penting yang memang berguna atau bermanfaat bagi pembaca.
3. Menulis Kesimpulan Sesuai Pemahaman dengan Bahasa Sendiri
Tahap selanjutnya adalah mulai menulis kesimpulan sesuai susunan topik utama dan poin-poin penting. Kesimpulan sebaiknya disusun berdasarkan pemahaman pribadi setelah membaca keseluruhan naskah. Kemudian disusun juga dengan gaya bahasa sendiri. Lakukan pengecekan dan koreksi agar hasil optimal.
Kriteria Kesimpulan yang Baik dan Benar
Kesimpulan menjadi salah satu bagian dari struktur penulisan KTI yang tentu perlu disusun dengan baik dan benar. Selain itu, kesimpulan juga bisa disusun untuk memahami makna dari karya tulis nonilmiah (bukan KTI). Secara umum, kesimpulan yang baik adalah yang memenuhi kriteria di bawah ini:
1. Komprehensif
Kriteria yang pertama, kesimpulan harus komprehensif. Artinya, kesimpulan yang disusun harus bisa menyajikan informasi atau topik-topik penting dari keseluruhan isi naskah yang dibaca. Jangan sampai ada poin penting yang terlewat.
2. Ringkas
Kriteria yang kedua, kesimpulan harus ringkas. Artinya, kesimpulan harus bisa disajikan dengan jelas dan langsung, bukan bertele-tele. Sehingga susunan kesimpulan lebih pendek dibanding naskah aslinya. Misalnya, kesimpulan buku berisi 200 halaman bisa hanya setengah halaman saja.
3. Koheren
Kriteria ketiga, kesimpulan harus tersusun atas kalimat yang saling koheren atau saling berkaitan. Sehingga membentuk penjelasan yang runtut dan sesuai dengan alur logika agar mudah dipahami.
4. Mandiri
Kriteria yang terakhir, kesimpulan harus mandiri. Artinya, kesimpulan harus disusun berdasarkan pemahaman dan pendapat pribadi. Sekaligus dengan gaya bahasa sendiri, sehingga tidak sama persis dengan isi naskah aslinya.
Kapan Menggunakan Parafrase, Ringkasan, atau Kesimpulan?
Melalui penjelasan di atas, maka bisa diketahui bagaimana teknik menulis parafrase, ringkasan, dan kesimpulan yang baik. Namun, kapan ketiganya perlu dilakukan? Secara umum, dalam konteks penulisan KTI. Maka parafrase dilakukan saat menyusun kutipan tidak langsung di dalam naskah.
Sedangkan ringkasan, diterapkan saat meringkas referensi yang digunakan. Sekaligus pada saat menyusun abstrak pada KTI. Kemudian untuk kesimpulan, disusun saat membuat bab terakhir dari KTI. Misalnya pada skripsi, maka kesimpulan masuk di bab kelima. Sedangkan pada artikel jurnal, kesimpulan masuk di bagian akhir setelah Discussion (Pembahasan).
FAQ (Frequently Asked Questions)
Parafrase adalah menulis ulang informasi dari referensi menggunakan bahasa sendiri tanpa mengubah makna. Ringkasan adalah menyajikan kembali inti atau pokok penting dari suatu teks secara lebih singkat. Sementara kesimpulan adalah pendapat akhir berdasarkan uraian sebelumnya yang berisi hasil pemahaman terhadap keseluruhan pembahasan.
Pemahaman terhadap ketiga teknik tersebut membantu penulis mengolah referensi dengan benar, menyusun karya tulis ilmiah yang sistematis, serta menghindari kesalahan dalam menyampaikan informasi dari sumber lain.
Parafrase digunakan saat menyusun kutipan tidak langsung, ringkasan digunakan untuk menyederhanakan referensi atau membuat abstrak, sedangkan kesimpulan digunakan pada bagian akhir karya tulis untuk menyampaikan hasil pembahasan.
Referensi:
- Abdullah, R. D. (2022). Perbedaan Parafrasa, Ringkasan, dan Kesimpulan, Apakah Kalian Tahu? Diakses pada 21 Agustus 2026 dari https://jejakpustaka.com/perbedaan-parafrasa-ringkasan-dan-kesimpulan-apakah-kalian-tahu/
- How to paraphrase effectively. (n.d). Australian Technology Network of University. Diakses pada 21 Agustus 2026 dari https://www.uts.edu.au/for-students/current-students/support/helps/self-help-resources/academic-skills/how-paraphrase-effectively
- Pujiati. (2024). 3 Perbedaan Parafrase dan Ringkasan, Beserta Contoh. Diakses pada 21 Agustus 2026 dari https://penerbitdeepublish.com/penelitian-ilmiah/perbedaan-parafrase-dan-ringkasan/#Apa_Itu_Ringkasan
- Itsnaini, F. M. (2021). Tentang Ringkasan: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Cara Membuatnya. Diakses pada 21 Agustus 2026 dari https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5541493/tentang-ringkasan-pengertian-ciri-ciri-dan-cara-membuatnya
- Ayyesa, J. (2022). 7 Cara Membuat Kesimpulan yang Baik dan Tepat. Diakses pada 21 Agustus 2026 dari https://www.zenius.net/blog/cara-membuat-kesimpulan/








