Pada saat belajar keterampilan menulis, maka biasanya ada kombinasi mempelajari teori dan praktik menulis buku. Hanya saja, dalam proses tersebut tidak sedikit penulis pemula yang enggan atau kesulitan praktik menulis langsung.
Kesulitan ini dihadapi mayoritas penulis pemula. Tentunya menjadi hal yang menarik untuk dipelajari secara mendalam, kemudian dicari solusinya. Sehingga bisa segera produktif menulis dan mengurus publikasi atas karyanya tersebut. Berikut informasinya.
Mengapa Penulis Pemula Sering Terjebak pada Teori?
Dalam teori dan praktik menulis buku, banyak penulis pemula yang terlalu lama berada di tahap pemahaman teori. Sementara untuk praktik langsung dengan menulis naskah buku masih sangat sedikit yang berani. Kenapa?
Tentunya ada banyak alasan kenapa banyak penulis yang terlalu lama berdiam di tahap pemahaman teori saat belajar menulis. Berikut beberapa hal yang menjadi penyebab umumnya:
1. Takut untuk Mulai Menulis
Mengutip dari salah satu artikel ilmiah yang terbit di jurnal Bangun Rekaprima, menurut Kaswan Darmadi (1996) ada banyak masalah yang menghambat penulis pemula untuk memulai praktik menulis. Sehingga lebih lama terjebak di teori.
Salah satu masalah atau penyebabnya adalah takut untuk mulai menulis. Belajar secara teori menjadi cenderung lebih mudah dibanding secara praktik. Hal ini sering terjadi di berbagai hal, bukan hanya dalam dunia kepenulisan.
Misalnya saja dalam belajar merawat bayi yang sedang demam. Secara teori, tentu terdengar mudah. Namun ketika praktik langsung ada banyak hal yang tidak bisa dikontrol oleh ibu atau orang tua si bayi.
Menulis juga demikian. Secara teori, mulai menulis dilakukan dalam beberapa tahapan. Misalnya menentukan ide. Namun, banyak penulis yang kesulitan mendapatkan ide tulisan.
Alih-alih bisa segera praktik menulis. Penulis kemudian berhadapan dengan sejumlah kekhawatiran yang memang belum tentu terjadi. Misalnya takut ada kesalahan pada tahapan menulis, takut topik yang ditulis tidak menarik, takut ditolak penerbit, dan sebagainya.
2. Tidak Mengetahui Apa yang Harus Ditulis
Sebab kedua, kenapa antara teori dan praktik menulis buku penulis lebih sering terjebak di tahap teori karena tidak tahu harus menulis apa. Bagi penulis yang sudah memiliki jam terbang tinggi, ide tulisan mudah didapatkan.
Namun, lain persoalan pada penulis pemula. Pada saat harus menulis suatu topik, menentukan topik tersebut butuh waktu lumayan. Penulis pemula bisa kesulitan memahami topik apa saja yang bisa ditulis, seperti apa topik yang menarik, dan sebagainya.
Jadi, inilah alasan yang membuat banyak calon penulis lebih lama di tahap teori. Sebab memang dalam menentukan apa yang akan ditulis mereka butuh waktu lebih. Menentukan topik memang harus teliti, sebab harus dikuasai dan/atau referensinya tersedia.
Baca juga: Tips Menemukan Ide untuk Menulis Buku
3. Kendala dalam Manajemen Ide Menulis
Sebab ketiga, calon penulis terlalu lama belajar teori karena kesulitan melakukan manajemen ide tulisan. Bisa jadi, calon penulis sudah memiliki beberapa ide atau topik untuk ditulis. Hanya saja, masih bingung harus mendahulukan topik yang mana.
Setiap ide bisa saling tumpang tindih. Penulis menemukan kelebihan dan kekurangan di setiap topik. Topik A dikuasai dengan baik, tapi ada satu pembahasan yang masih belum dikuasai. Begitu juga dengan topik B, C, dan seterusnya. Sehingga manajemen ide tulisan menjadi kacau.
Bagi penulis yang sudah senior, biasanya setiap ide tulisan yang terlintas akan dicatat. Catatan ini menjadi bank ide yang akan dibuka setiap kali butuh ide yang harus ditulis. Jadi, calon penulis harus mulai belajar dari sini. Menuliskan ide-ide yang terlintas pada catatan khusus sebagai awal mula manajemen ide.
Baca juga: Kehabisan Ide Menulis? Ini 6 Cara Mencari Ide Saat Buntu
4. Terkendala dari Aspek Bahasa
Sebab keempat yang membuat teori dan praktik menulis buku tidak seimbang adalah calon penulis terkendala dari aspek bahasa. Keterbatasan bahasa inilah yang membuat tahap teori lebih lama dipelajari dan tidak kunjung praktik langsung.
Keterbatasan bahasa yang dimaksud memiliki cakupan yang lebih luas. Pertama, keterbatasan perbendaharaan kata. Meskipun lahir dan tumbuh di Indonesia, bukan berarti mengenal seluruh istilah dalam bahasa Indonesia. Hal ini menyulitkan calon penulis menuangkan ide di kepala menjadi tulisan dengan makna jelas.
Kedua, regulasi terkait bahasa di Indonesia bisa berubah. Misalnya kebijakan dalam penggunaan tanda baca, bentuk kata serapan, bentuk kata baku, standar penulisan dari EYD ke PUEBI dan kembali lagi ke EYD sampai sekarang, dan perubahan makna.
Perubahan makna dalam bahasa Indonesia cukup sering dijumpai. Misalnya pada kata “bau”. Pada era 90-an ke belakang, kata ini memiliki makna aroma dari suatu benda. Sedangkan di era akhir 90-an sampai sekarang, kata “bau” punya makna “aroma yang kurang sedap”.
5. Mengalami Keterbatasan Waktu untuk Menulis
Mengutip dari Kemenkeu Learning Center, salah satu kendala calon penulis sulit praktik langsung adalah adanya keterbatasan waktu. Tidak semua orang yang tertarik menjadi penulis memiliki dukungan sumber daya yang memadai.
Sumberdaya disini mencakup juga soal waktu. Beberapa calon penulis punya kesibukan lain yang sudah menyita waktu. Sehingga saat belajar menulis, lebih banyak dihabiskan untuk belajar teori dibanding praktik.
Sebab membaca ilmu menulis buku secara teori lebih fleksibel dibanding praktik langsung. Saat mulai menulis, penulis harus fokus dan mencurahkan energinya di nasah. Jika berhenti, banyak penulis pemula yang kesulitan melanjutkan isi naskah tersebut karena ide sudah menguap.
Baca juga: 7 Teknik Manajemen Waktu yang Banyak Digunakan
6. Kurang Percaya Diri untuk Menulis
Teori dan praktik menulis buku lebih banyak habis di teori juga karena minimnya rasa percaya diri. Menulis buku dan karya tulis jenis lainnya harus diakui butuh kepercayaan diri yang baik.
Sebelum hasil tulisan dinilai dan dikritik orang lain. Penulis harus yakin ide tulisannya bagus, ketika dituangkan dalam bentuk tulisan juga bisa dipahami pembaca. Sayangnya banyak yang khawatir terjadi sebaliknya.
Umumnya karena pernah membaca tulisan yang kurang bagus dan sulit dipahami. Sehingga muncul kekhawatiran tulisan yang dibuat akan jelek. Sehingga kepercayaan diri untuk praktik menulis menjadi rendah.
7. Tidak Yakin Bisa Konsisten Menulis Karya Berkualitas
Menulis buku memang butuh komitmen, saat dimulai maka harus bisa memastikan naskah disusun sampai bab terakhir. Selain itu, menulis buku harus berkelanjutan. Namun, banyak calon penulis yang khawatir tidak bisa konsisten menulis.
Sehingga sepanjang karirnya di dunia kepenulisan hanya berhasil menerbitkan satu judul buku atau lebih sedikit. Ketakutan ini yang membuat calon-calon penulis lebih nyaman belajar di tahap teori dan enggan masuk ke tahap praktik.
Mengapa Praktik Penting dalam Belajar Menulis Buku?
Dalam proses belajar menulis, baik itu teori dan praktik menulis buku. Biasanya calon penulis akan diminta praktik atau latihan menulis secara langsung. Sehingga belajar menulis harus mengkombinasikan antara teori dan praktik. Kenapa? Berikut beberapa alasannya:
1. Menulis Merupakan Keterampilan Praktis
Alasan yang pertama, menulis dipahami sebagai sebuah keterampilan praktis. Jadi, ketika dipelajari perlu praktik atau latihan langsung. Analoginya sama seperti keterampilan praktis lainnya.
Seperti saat belajar ilmu komputer. Secara teori, bisa dipahami komputer isinya apa saja. Namun memahami perangkat komputer harus belajar praktik menggunakannya langsung. Sehingga bisa diketahui ada aplikasi apa saja yang relevan dengan kebutuhan dan keterampilan yang ingin dicapai.
2. Meningkatkan Pemahaman Teori Menulis
Dalam belajar menulis buku, harus ada keseimbangan antara teori dan praktik. Urutannya belajar secara teori dulu, baru kemudian praktik langsung. Praktik ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman ilmu menulis secara teori yang telah dipelajari.
3. Membangun Kebiasaan Menulis
Menulis bukan hal yang mudah. Dalam kemampuan berbahasa, menulis menjadi kemampuan paling sulit dibanding mendengarkan, membaca, dan berbicara. Jadi, belajar menulis harus diikuti praktik selain teori. Salah satu alasannya untuk membangun kebiasaan menulis agar keterampilan berkembang bukan stagnan.
4. Meningkatkan Kemampuan Mengubah Ide Abstrak Menjadi Tulisan
Penulis juga harus praktik langsung menulis buku, karena membantu mengubah ide tulisan yang masih abstrak di kepala. Menjadi tulisan yang punya makna. Makna ini terindikasi dari pembaca yang memahami tulisan yang disusun.
5. Menunjang Evaluasi Secara Langsung
Praktik langsung setelah belajar menulis secara teori juga penting untuk memiliki bahan evaluasi. Saat praktik, bisa diketahui ada masalah atau kendala di bagian apa. Sehingga bisa menjadi dasar evaluasi untuk menentukan perlu mengulang teori yang mana.
Kapan Waktu yang Tepat Mempelajari Teori Menulis?
Meskipun menulis adalah keterampilan praktis. Bukan berarti dalam proses belajar, calon penulis fokus praktik atau latihan saja. Mempelajari teori dalam menulis buku dan karya tulis jenis lainnya tetap sangat penting.
Jadi, harus bisa seimbang antara teori dan praktik menulis selama proses belajar tersebut. Selain itu, belajar menulis secara teori juga perlu dilakukan berkelanjutan. Jadi, kapan waktu terbaik untuk belajar menulis secara teori? Berikut beberapa waktu terbaiknya:
1. Sebelum Mulai Menulis Buku
Waktu terbaik yang pertama, tentu saja sebelum mulai menulis. Bahkan penulis yang sudah punya jam terbang, tetap perlu sesekali melihat teori menulis buku. Sehingga menunjang kelancaran dalam menulis naskah buku.
2. Mengalami Kendala di Tengah Proses Menulis
Pada saat proses menulis naskah buku, sering ada kendala yang dihadapi. Misalnya kehabisan ide, ide mendadak berhenti atau writer’s block, dan lain sebagainya. Kendala ini perlu segera diatasi dan penulis perlu kembali ke teori menulis yang relevan. Sehingga bisa tahu apa penyebab dan solusinya.
3. Setelah Menyelesaikan Naskah Buku
Waktu yang tepat berikutnya untuk belajar menulis buku secara teori adalah setelah selesai menulis. Salah satu tujuannya adalah untuk memahami tahap selanjutnya apa. Misalnya adalah tahap editing, maka penulis bisa mengetahui bagaimana melakukan editing pada naskah yang sudah disusun.
4. Ingin Mengenal berbagai Teknik Menulis
Teknologi dan ilmu pengetahuan terus berkembang. Banyak diantaranya yang ikut mengubah kegiatan menulis buku. Misalnya, dulu orang menulis buku dengan mesin ketik. Lalu beralih ke komputer, disusul laptop.
Ada lebih banyak aplikasi olah kata bisa digunakan. Jadi, belajar ilmu menulis secara teori tetap penting sampai kapanpun untuk mengenal lebih banyak teknik menulis dan perkembangan terkininya.
Belajar teori dan praktik menulis adalah hal penting. Baik teori maupun praktik harus bisa diseimbangkan. Hal ini tidak hanya berlaku untuk penulis pemula, akan tetapi untuk semua penulis. Termasuk yang sudah profesional dan berpengalaman. Sebab, dalam menulis sering menghadapi kendala dan solusinya bisa ditemukan lewat teori terkait kepenulisan.
FAQ (Frequently Asked Questions)
Teori dan praktik sama-sama penting dalam proses menulis buku. Teori membantu penulis memahami teknik dan konsep menulis, sedangkan praktik membantu menerapkan pengetahuan tersebut menjadi naskah nyata.
Penulis pemula sering lebih lama mempelajari teori karena merasa takut memulai, belum mengetahui topik yang ingin ditulis, kesulitan mengelola ide, kurang percaya diri, atau khawatir hasil tulisannya tidak sesuai harapan.
Praktik menulis membantu membangun kebiasaan, meningkatkan pemahaman terhadap teori, melatih kemampuan mengubah ide menjadi tulisan, serta memberikan bahan evaluasi untuk memperbaiki kemampuan menulis.
Penulis pemula dapat mulai dengan menentukan ide atau topik, membuat kerangka tulisan, kemudian mencoba menulis secara bertahap tanpa menunggu hasil yang sempurna. Praktik langsung membantu meningkatkan kemampuan menulis.
Penulis dapat mempelajari teori sebagai dasar sebelum menulis, kemudian menerapkannya melalui praktik. Setelah itu, teori dapat kembali digunakan sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas naskah.
Referensi:
- Trismanto, T. (2017). Keterampilan menulis dan permasalahannya. Bangun Rekaprima, 3(1), 62-67. https://jurnal.polines.ac.id/index.php/bangun_rekaprima/article/view/764
- Hadijah, H. (2016). Penggunaan Metode Latihan Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Permulaan Siswa Kelas I SDN Sibaluton. Jurnal Kreatif Tadulako, 4(8), 121403. https://www.neliti.com/publications/121403/penggunaan-metode-latihan-untuk-meningkatkan-kemampuan-menulis-permulaan-siswa-k
- Gray-Grant, D. (2025). Stop reading about writing and start writing. Diakses pada 10 Agustus 2026 dari https://www.publicationcoach.com/why-writing-practice-beats-theory/
- Mengatasi Lima Hambatan Menulis. (2023). Kemenkeu Learning Center. Diakses pada 10 Agustus 2026 dari https://klc2.kemenkeu.go.id/kms/knowledge/mengatasi-lima-hambatan-menulis-2e02d31f/detail/








