Salah satu kewajiban mahasiswa Magister (S2) di Indonesia adalah melaksanakan penelitian dan disusun proses serta hasilnya dalam bentuk tesis. Setelah tesis tersebut disusun dan memenuhi standar syarat kelulusan Magister, maka tidak hanya disimpan.
Mahasiswa Magister yang menyusunnya bisa mengubah tesis menjadi buku dan diterbitkan. Ada banyak mahasiswa yang melakukan proses ini, baik ketika berkarir sebagai dosen maupun profesi lainnya. Lalu, seperti apa cara mengubahnya menjadi buku? Berikut informasinya.
Sebelum melakukan konversi, yakni mengubah tesis menjadi buku. Tentunya perlu dipahami dulu beberapa hal penting. Salah satunya adalah ketentuan atau syarat agar suatu tesis bisa dan boleh diubah menjadi buku. Hal ini mungkin jarang dibahas.
Secara umum, tesis merupakan karya tulis ilmiah yang disusun mahasiswa Magister di suatu perguruan tinggi untuk memenuhi syarat kelulusan. Artinya, tesis masuk dalam kategori KTI yang terikat sejumlah aturan penulisan. Sekaligus wajib memenuhi etika akademik. Maka terdapat beberapa syarat agar tesis bisa dikonversi menjadi buku. Seperti:
Syarat yang pertama, tesis yang akan diubah menjadi buku merupakan karya sendiri dan bukan karya orang lain. Sekaligus dijamin original, bukan hasil plagiat. Hal ini sesuai dengan ketentuan umum penyusunan tesis di perguruan tinggi Indonesia.
Tesis harus original didasarkan pada hasil penelitian yang dilakukan sendiri oleh mahasiswa Magister. Pihak penerbit, biasanya meminta surat pernyataan keaslian naskah untuk melengkapi tesis yang sudah dikonversi menjadi buku dan dikirim ke penerbit tersebut.
Syarat yang kedua, tesis yang akan diubah dan diterbitkan dalam bentuk buku adalah hak sepenuhnya dari penulis. Artinya, penulis memiliki hak cipta atas tesis tersebut sehingga berhak mempublikasikannya menjadi buku ilmiah.
Jika tesis tersebut original, maka biasanya sudah memenuhi syarat kedua ini. Sebab jika tesis ditulis oleh penulis lain. Maka tentu tidak bisa diubah menjadi buku dan diterbitkan, karena penulis tesis tersebut adalah orang lain atau milik orang lain.
Hal ini bisa dibuktikan lewat lembar pengesahan pada tesis yang juga mencantumkan nama mahasiswa yang menulisnya, dosen pembimbing, dan pihak-pihak terkait.
Melalui definisi tesis, yang merupakan KTI untuk syarat kelulusan program Magister. Maka tentunya tesis tidak bisa diterbitkan atau dipublikasikan apa adanya. Tesis perlu dikonversi menjadi buku ilmiah. Baru kemudian bisa diterbitkan melalui perusahaan penerbitan buku.
Hal ini juga berlaku jika tesis ingin dipublikasikan ke jurnal, maka perlu dikonversi menjadi artikel ilmiah. Sebab tesis tidak bisa diterbitkan apa adanya, karena harus mengikuti standar dalam publikasi. Penerbit buku hanya menerbitkan naskah buku, pengelola jurnal hanya mempublikasikan artikel ilmiah. Bukan skripsi, tesis, dll.
Syarat keempat, tesis memenuhi standar etika yang berlaku. Seperti karya original bukan hasil plagiat, tidak ada falsifikasi data, dan pelanggaran etika lainnya. Sehingga tesis tersebut ketika diubah menjadi buku tidak terjadi masalah di kemudian hari.
Pada profesi dosen, buku hasil konversi tesis bisa diklaim dalam BKD dan penilaian angka kredit. Sehingga harus dipastikan tidak ada pelanggaran etika dalam publikasinya.
Baca juga: Etika Penulisan Ilmiah yang Wajib Dipahami Penulis
Syarat umum lainnya, tesis tersebut yang sudah diubah menjadi naskah buku ilmiah tidak atau belum pernah dipublikasikan. Jangan sampai buku hasil konversi tesis diterbitkan di beberapa penerbit. Sebab termasuk pelanggaran etika dan salah satunya terindikasi self plagiarism.
Mengubah atau melakukan konversi tesis menjadi buku pada dasarnya tidak bersifat wajib. Melainkan opsional yang bebas dilakukan oleh mahasiswa Magister. Hanya saja, memilih melakukan konversi tersebut bisa memberikan sejumlah nilai tambah. Diantaranya adalah:
Alasan yang pertama, tesis bisa ditingkatkan manfaat dan dampaknya. Sebab jika dikonversi menjadi buku dan diterbitkan maka berpotensi dibaca lebih banyak orang. Bukan lagi kalangan terbatas seperti mahasiswa di perguruan tinggi yang sama dengan penulis tesis tersebut.
Semakin banyak yang membaca isi tesis, maka semakin banyak yang mengakses kebaruan dalam substansi pembahasannya. Sehingga ada pembaca yang memanfaatkannya untuk berbagai keperluan. Misalnya untuk dijadikan referensi, dijadikan solusi atas masalah yang dihadapi, dll.
Mengubah tesis menjadi buku dan diterbitkan bisa memberikan manfaat ekonomi. Yakni melalui royalti. Menerbitkan buku memberikan pendapatan bagi penulisnya. Royalti akan didapatkan dari hasil penjualan. Besaran royalti buku di Indonesia beragam, rata-rata antara 5% sampai 30%.
Pada penerbit mayor, besaran royalti relatif kecil karena proses penerbitan seluruh biayanya ditanggung penerbit. Sementara pada penerbit selain mayor, terdapat biaya penerbitan. Sehingga royalti ke penulis lebih besar. Selain 30%, beberapa penerbit bisa memberi royalti di atasnya.
Konversi tesis menjadi buku ilmiah dan diterbitkan bisa menjadi portofolio. Bagi calon dosen dan calon peneliti, portofolio dalam bentuk publikasi ilmiah sangat penting. Sebab bisa menunjukan pengalaman dalam meneliti, menyusun KTI, dan mengurus publikasi ilmiah.
Portofolio ini bisa menjadi nilai tambah pada CV, sehingga peluang diterima di perguruan tinggi dan lembaga penelitian lebih besar. Supaya lulusan Magister sudah punya portofolio publikasi ilmiah yang beragam. maka tesis bisa dikonversi menjadi artikel ilmiah dan buku ilmiah. Sehingga punya riwayat publikasi di prosiding, jurnal, maupun buku ilmiah.
Alasan berikutnya, karena mengubah tesis menjadi buku bisa memberikan kepuasan tersendiri bagi penulisnya. Tesis yang disusun berdasarkan hasil penelitian yang dijalankan dengan penuh perjuangan. Pada akhirnya bisa diakses publik luas, bermanfaat, dan berdampak nyata.
Khusus untuk dosen, konversi tesis ke dalam buku ilmiah dan diterbitkan bermanfaat dalam memenuhi BKD. Secara umum, dosen di Indonesia punya target BKD sebesar 12 SKS per semester. Menerbitkan buku bisa memberikan tambahan SKS. Misalnya buku monograf, bisa memberi 5 SKS.
Alasan berikutnya untuk mengubah tesis menjadi buku dan diterbitkan adalah untuk menambah poin angka kredit. Bagi dosen, menerbitkan buku berisi hasil penelitian bisa diklaim dalam penilaian angka kredit. Yakni AK Prestasi.
Tesis yang diubah menjadi buku referensi maupun buku monograf bisa memberi 40 poin angka kredit. Begitu juga jika diubah menjadi artikel ilmiah dan diterbitkan ke prosiding maupun jurnal. Sehingga menunjang pengembangan karir akademik dosen.
Baca juga: Angka Kredit Prestasi Dosen: Pengertian, Sumber, dan Cara Optimasinya
Melakukan konversi tesis menjadi buku merupakan tahapan penting dan bersifat wajib. Sebab sesuai penjelasan sebelumnya, publikasi tesis tidak bisa apa adanya. Tesis perlu diubah menjadi karya tulis ilmiah jenis lainnya. Baik itu diubah menjadi artikel ilmiah untuk diterbitkan ke prosiding maupun jurnal.
Bisa juga diubah menjadi buku monograf dan diterbitkan sesuai standar penerbitan. Jadi, tesis tidak bisa diterbitkan apa adanya tanpa proses konversi sebelumnya. Adapun cara konversinya adalah sebagai berikut:
Tahap pertama dalam mengubah tesis menjadi suatu buku ilmiah dan siap terbit adalah melakukan penyesuaian struktur dan gaya penulisan. Struktur atau sistematika tesis sesuai ketentuan mirip dengan KTI pada umumnya.
Struktur ini berbeda dengan struktur buku. Tesis biasanya terdiri dari 5 bab, dimulai dari bab pertama Pendahuluan dan ditutup bab kelima yang berisi Kesimpulan dan Saran. Sementara struktur buku terdiri dari beberapa bab.
Dalam proses konversi, setiap bab di dalam tesis bisa dipecah menjadi beberapa bab dan dikembangkan lagi penjabarannya menjadi beberapa subbab dan turunannya. Jadi, tahap awal adalah mengubah struktur ini agar sesuai standar struktur buku yang layak diterbitkan.
Tak hanya itu, gaya penulisan atau gaya selingkung juga perlu diubah. Tesis yang disusun berdasarkan hasil penelitian cenderung menggunakan gaya bahasa formal dan istilah khas suatu bidang keilmuan. Jika diterbitkan menjadi buku, sangat penting untuk menggunakan diksi umum dalam percakapan sehari-hari.
Tahap kedua dalam konversi tesis menjadi buku adalah mengubah judul. Secara umum, judul tesis cenderung kaku dan mengikuti format umum KTI. Judul seperti ini berbeda karakteristiknya dengan judul buku.
Judul pada buku identik dengan susunan frasa sampai kalimat yang tidak hanya mudah dipahami. Akan tetapi juga menarik. Sehingga saat judul buku tersebut terlihat dan dibaca oleh masyarakat, bisa memunculkan motivasi untuk membaca isinya.
Judul tesis perlu diubah agar karakteristik judul buku didapatkan. Sehingga judul tersebut mendukung promosi buku, yang kemudian meningkatkan angka penjualan. Bagi penulis tesis, ketika buku hasil konversi diminati publik atau laku di pasaran. Tentunya memberi rasa kepuasan, karena lebih bermanfaat dan berdampak.
Setelah melakukan penyesuaian struktur, gaya penulisan, dan juga judul. Maka tahap ketiga dalam mengubah tesis menjadi buku adalah proses editing dan penyuntingan mandiri.
Hasil konversi bisa jadi belum sempurna, ada beberapa kesalahan teknis dan kesalahan sederhana. Oleh sebab itu, sebelum dikirim ke penerbit perlu dilakukan editing dan penyuntingan.
Penulis tesis bisa membaca naskah hasil konversi, jika menjumpai kesalahan maka dikoreksi. Disusul dengan merapikan naskah agar lebih rapi, enak dilihat, dan tentunya meningkatkan keterbacaannya.
Tahap akhir, tentunya menerbitkan tesis yang sudah dikonversi menjadi buku ilmiah. Pada tahap ini diawali dengan mencari dan menentukan penerbit yang tepat. Pastikan penerbit tersebut kredibel, berpengalaman menerbitkan konversi KTI, dan juga memenuhi kriteria lain yang ditetapkan.
Misalnya biaya penerbitan sesuai, proses penerbitannya sesuai tenggat waktu yang ditetapkan sendiri (misal jika dosen, bisa terbit sebelum jadwal pelaporan BKD), dan sebagainya. Setelah menentukan pilihan maka bisa mengirimkan naskah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan penerbit tersebut.
Empat tahapan mengubah tesis menjadi buku di atas merupakan tahapan secara umum. Dalam praktek di lapangan, penulis mungkin butuh beberapa tahapan tambahan. Misalnya menyusun kerangka buku hasil konversi tesis, menyusun jadwal menulis, dan sebagainya.
Tak hanya itu, penulis yang kesulitan dalam melakukan konversi tesis menjadi buku. Maka bisa juga mempertimbangkan jasa profesional. Sehingga konversi dikerjakan oleh penyedia jasa, sehingga tidak harus dikerjakan sendiri oleh penulis tesis tersebut. Pastikan memilih jasa kredibel agar tidak terjadi pelanggaran etika.
Baca juga: Layanan Konversi KTI: Solusi Cepat Ubah KTI menjadi Buku Siap Cetak
Bisa. Tesis dapat diubah menjadi buku ilmiah selama naskah tersebut merupakan karya asli, bebas plagiarisme, dimiliki oleh penulis, serta belum pernah diterbitkan dalam bentuk buku sebelumnya.
Mengubah tesis menjadi buku dapat memperluas manfaat hasil penelitian, menambah portofolio publikasi ilmiah, memberi peluang royalti, mendukung kebutuhan BKD dosen, serta membantu pengembangan karier akademik melalui angka kredit.
Tesis yang bisa dijadikan buku harus merupakan karya original, penulis memiliki hak untuk mempublikasikannya, naskah telah dikonversi menjadi format buku, memenuhi etika akademik, serta belum pernah diterbitkan di penerbit lain.
Struktur tesis biasanya mengikuti format karya ilmiah, seperti pendahuluan, metode, hasil, pembahasan, dan kesimpulan. Saat dijadikan buku, struktur tersebut perlu diubah agar alurnya lebih mengalir dan mudah diikuti pembaca.
Tahap umumnya dimulai dari mengubah struktur tesis menjadi struktur buku, menyesuaikan gaya bahasa, mengganti judul agar lebih menarik, melakukan penyuntingan mandiri, lalu mengurus proses penerbitan melalui penerbit yang kredibel.
Referensi:
Dukungan penuh perusahaan penerbitan buku pada dosen merupakan hal yang sangat krusial. Sebab melalui layanannya…
Penerbitan buku karya para dosen di Indonesia merupakan proses panjang. Dalam proses tersebut, dosen tentunya…
Selain memahami apa saja tujuan yang harus dicapai dalam SDGs. Tentunya juga penting memahami bagaimana…
Jika memperhatikan seluruh Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi. Maka akan memahami ada salah satu…
Proses menerbitkan buku ilmiah yang disusun oleh dosen bukan proses mudah. Prosesnya sulit agar kualitas…
Proses penerbitan buku ilmiah di lingkungan institusi pendidikan tinggi membutuhkan pendampingan yang jelas. Banyak institusi…