Salah satu tujuan besar dalam menulis buku adalah tulisan kita dapat dibaca publik. Tetapi bagaimana jika pembaca phobia terhadap tulisan kita?

Bagi penulis pemula, menulis buku adalah salah satu kegiatan yang cukup menguras energi. Terlebih lagi mereka harus berlatih terlebih dahulu sebelum benar-benar berhasil menerbitkan sebuah tulisan menjadi buku. Proses tersebut tentu tidak singkat karena ada beberapa hal yang perlu diketahui, mulai dari urusan substansi hingga urusan teknis penulisan. Ketika tulisan tersebut sudah jadi, tantangan lain yang perlu dihadapi adalah menunggu respon publik terhadap tulisan kita. Tentu setidaknya ada 2 jawaban atau kesan yang muncul yaitu tulisan kita dapat diterima dan tidak dapat diterima oleh publik. Artinya publik akan menilai apakah buku yang kita tulis layak untuk dibeli atau tidak. Akan mengecewakan apabila proses panjang yang sudah kita lalui justru tidak dihargai oleh publik. Penghargaan atau kesan negatif dari pembaca tersebut pada dasarnya bukan kesalahan pembaca, melainkan kesalahan penulis.

Berangkat dari kondisi tersebut, tidak jarang pembaca yang kecewa terhadap tulisan yang kita buat. Terlebih lagi ketika mereka terlanjur membeli buku yang kita buat. Pembaca tentu memiliki ekspetasi yang tinggi terhadap tulisan yang kita buat. Dalam menulis buku, kita sebagai penulis biasanya akan memberikan gambaran singkat terhadap buku yang kita buat sendiri. Terlebih lagi apabila ada beberapa tokoh-tokoh terkenal yang juga turut memberikan komentar positif terhadap tulisan kita. Hanya saja, sebagai seorang pembaca, mereka tidak memiliki kewenangan lebih untuk membaca semua isi buku sebelum buku tersebut dibeli. Ketertarikan mereka untuk membeli buku biasanya terletak pada penjelasan yang kita buat di sampul buku, termasuk komentar dari tokoh-tokoh terkenal. Selanjutnya, kita perlu mengetahui beberapa hal yang menjadi faktor ketidaksenangan pembaca untuk melanjutkan proses pembacaan terhadap tulisan yang sudah kita buat. Kondisi tersebut secara tidak langsung merupakan bentuk kekecewaan pembaca terhadap buku yang telah kita buat.

  1. Judul Tidak Sesuai dengan Isi Buku

Salah satu faktor yang membuat pembaca kecewa terhadap tulisan kita yaitu tidak ada konsistensi yang kita buat antara judul buku dengan isinya. Ketika menulis buku, tentu kita paham bahwa judul seharusnya merepresentasikan isi buku yang ingin kita sampaikan. Meskipun demikian, tidak jarang penulis yang tidak mencermati kembali atas apa yang sudah ditulisnya. Tidak sedikit dari penulis yang menentukan judul dahulu sebelum menyelesaikan tulisannya. Ketika tulisan tersebut sudah selesai dan tidak dicek ulang terkait dengan hubungannya dengan judul yang dibuat tentu akan menjadi hal yang berbahaya. Dalam menulis, kita pasti sering mengubah beberapa cara pandang atau substansi yang ingin kita sampaikan. Artinya ada beberapa bagian yang mungkin tidak sesuai dengan judul yang kita buat. Oleh karena itu, sebaiknya ketika tulisan kita sudah selesai, alangkah lebih baiknya kita menentukan judul yang baru sebagai hasil refleksi dari tulisan yang sudah kita buat.

download ebook gratis
  1. Tidak Ada Pemikiran yang Baru

Kekecewaan yang berikutnya ini biasanya berasal dari tidak ada inovasi dari diri kita sendiri sebagai seorang penulis. Dalam menulis buku, kita biasanya akan mengangkat sebuah tema yang ingin dibahas. Satu hal yang perlu kita sadari bahwa tema yang kita angkat pada dasarnya sudah pernah dibahas oleh penulis lainnya. Oleh karena itu, kita perlu melakukan inovasi baru supaya tema yang kita angkat tidak sama dengan orang lain. Apabila tema yang diangkat sama, maka kita bisa menggunakan cara pandang lain dalam melihat isu yang kita angkat. Kondisi tersebut nantinya akan berfungsi sebagai pembeda antara tulisan yang kita buat dengan tulisan orang lain. Menjadi penting bagi kita sebagai seorang penulis untuk mengetahui tulisan-tulisan dari orang lain supaya apa yang kita buat tidak sama persis dengan yang dibuat oleh orang lain. Apabila ada kesamaan yang mencolok, tentu hal tersebut akan mengecewakan pembaca karena mereka menganggap bahwa buku kita tidak ada bedanya dengan buku-buku yang lain.

  1. Tidak Memotivasi Pembaca

Selanjutnya, faktor lain yang membuat pembaca tidak betah untuk menyelesaikan tulisan yang kita buat adalah tidak adanya bagian yang memotivasi pembaca. Motivasi tersebut bukan berarti dalam bentuk menyemangati pembaca untuk melakukan sesuatu. Artinya motivasi tersebut bisa dalam bentuk hal-hal lain yang kita tuangkan dengan bahasa yang lebih lembut dan halus. Sebagai contohnya ketika kita menulis buku referensi, maka kita akan banyak berhubungan dengan data. Data yang kita gunakan tentu akan memperkuat argumen atau gagasan yang ingin kita sampaikan. Sebisa mungkin kita harus memaparkan data tersebut dengan gaya bahasa yang menarik. Selain itu, data yang kita jelaskan juga diusahakan adalah data yang unik dimana data tersebut jarang ditemukan oleh orang lain dengan mudah. Dengan demikian, ketika publik membaca tulisan kita, maka mereka akan merasa tertarik dan termotivasi untuk mengetahui lebih jauh tentang gagasan kita. Bahkan tidak sedikit dari pembaca yang menggunakan data tersebut sebagai bahan rujukan atau penunjang bagi kepentingannya sendiri.

  1. Sudah Dapat Ditebak Kelanjutannya

Menulis buku berarti kita membuat alur cerita yang mudah dipahami oleh pembaca. Alur tersebut bukan berarti alur cerita seperti novel, tetapi keruntutan tulisan secara keseluruhan. Pada tahap tersebut, kita perlu membuat konten yang enak untuk dibaca, termasuk sesuatu yang tidak mudah ditebak oleh pembaca. Artinya kita harus memberikan hal atau data unik di setiap bagian yang kita buat. Jangan sampai pembaca sudah bisa menebak tulisan yang kita buat. Apabila tulisan yang kita buat mudah ditebak, maka pembaca akan cenderung bosan untuk melanjutkan aktivitas membacanya. Kondisi tersebut sama halnya dengan menonton film. Ketika alurnya mudah ditebak, maka film tersebut menjadi sesuatu yang biasa dan tidak berkesan. Oleh karena itu, kita sebagai penulis harus pandai menyusun gaya bahasa yang membuat perhatian pembaca selalu tertarik untuk mencari tahu kelanjutan dari bahasan yang kita jelaskan di setiap bagiannya.

  1. Kalimat Berbelit

Salah satu kelemahan utama yang masih banyak ditemui oleh penulis ketika menulis buku adalah banyaknya kata-kata yang sebenarnya tidak perlu untuk dicantumkan. Tidak jarang banyak buku yang tebalnya ratusan halaman hanya berkutat pada sesuatu yang sama. Artinya jumlah halaman tersebut tidak sebanding dengan informasi yang didapatkan oleh pembaca. Sebagai seorang penulis, kita harus pandai menggunakan kalimat efektif dan tidak berbelit-belit. Hal tersebut bisa diminimalisir ketika kita sudah memasuki tahap editing atau penyuntingan. Dari tahapan tersebut nantinya akan kelihatan apakah tulisan kita sudah efektif ataukah masih berbelit-belit. Apabila pembaca menemukan kondisi tersebut, maka mereka akan cenderung malas untuk melanjutkan aktivitas membacanya karena mereka tidak segera menemukan poin yang ingin ditemukannya. Dengan demikian, perlu sekiranya kita juga melatih kemampuan kita dalam hal membuat struktur yang efektif dan tidak bertele-tele.

 

Anda punya RENCANA MENULIS BUKU?

atau NASKAH SIAP CETAK?

Silakan daftarkan diri Anda sebagai penulis di penerbit buku kami.

Anda juga bisa KONSULTASI dengan Costumer Care yang siap membantu Anda sampai buku Anda diterbitkan.

Anda TAK PERLU RAGU untuk segera MENDAFTAR JADI PENULIS.
SEBELUM ANDA MENYESAL 🙁

🙂

*****BONUS*****

Jika Anda mempunyai BANYAK IDE, BANYAK TULISAN, tapi BINGUNG bagaimana caranya MEMBUAT BUKU, gunakan fasilitas KONSULTASI MENULIS dengan TIM PROFESSIONAL kami secara GRATIS disini!

Jika Anda menginginkan EBOOK GRATIS tentang CARA PRAKTIS MENULIS BUKU, silakan download

 

Referensi

Arifin, Syamsul dan Kusrianto, Adi, 2009, Sukses Menulis Buku Ajar dan Referensi, Jakarta: PT Grasindo.

[Bastian Widyatama]