Dalam proses penerbitan buku, penulis tentu perlu mengirimkan naskahnya ke penerbit. Jadi, tidak bisa terbit dengan sendirinya. Dalam proses tersebut, ada kemungkinan naskah ditolak penerbit buku yang dituju.
Penerbit yang memutuskan untuk menolak naskah yang dikirimkan penulis, tentu memiliki alasan. Jadi, tidak karena wangsit atau terlalu subjektif dengan melihat siapa penulis atau jam terbangnya. Penting untuk memahami alasan ini dan menjadi bahan evaluasi agar kedepan sukses menembus editorial penerbit. Berikut informasinya.
Setiap penulis yang mengirimkan naskah bukunya ke penerbit, tentu ada potensi mendapat penolakan. Beberapa penerbit mungkin memberi konfirmasi penolakan tersebut dan menjelaskan alasannya. Namun, ada juga penerbit yang tidak memberi konfirmasi.
Naskah ditolak penerbit buku disebabkan oleh banyak sekali faktor. Baik dari faktor naskah itu sendiri, maupun dari internal penerbit. Berikut penjelasan detailnya:
Salah satu alasan yang sering membuat naskah buku pada akhirnya ditolak penerbit adalah topik yang sudah terlalu umum. Sangat mungkin topik tersebut sudah beredar luas di pasaran dan memenuhi rak-rak buku di toko buku dan perpustakaan.
Mempertimbangkan kemungkinan buku kurang diminati karena topik sudah umum dan isi yang terlalu klise. Rata-rata penerbit memilih menolak naskah tersebut. Selain itu, bisa juga topik yang diusung sudah lewat trennya.
Beberapa penerbit memutuskan menerbitkan buku dengan topik yang sedang naik daun. Sebab potensi terjual atau bahkan menjadi best seller cukup tinggi. Sebaliknya, jika topik sudah tidak lagi menjadi tren. Maka banyak penerbit yang tidak menerima topik tersebut untuk diterbitkan.
Pernahkah Anda buru-buru menerbitkan buku? Jika pernah, maka ada kemungkinan naskah ditolak penerbit buku karena belum selesai. Kadang kala penulis dikejar oleh deadline (tenggat waktu). Baik deadline atas target pribadi, pekerjaan, dll.
Sehingga buru-buru dalam menulis naskah buku dan mengurus penerbitannya. Tanpa sadar isi dari naskah belum selesai. Bisa juga penulis merasa sudah selesai di bab terakhir, tapi di penilaian editor justru belum selesai.
Jadi, penting sekali untuk menulis dengan pelan tapi pasti. Hindari sistem kebut semalam karena akan mempengaruhi kualitas isi naskah. Sekaligus meningkatkan potensi naskah belum selesai dengan benar tapi buru-buru dikirim ke penerbit.
Penyebab ketiga yang paling umum membuat naskah ditolak penerbit buku adalah sinopsis yang kurang sesuai. Bisa karena sinopsis belum disusun, sehingga bagi editor naskah yang dikirimkan belum lengkap sesuai ketentuan administrasi.
Bisa juga, sinopsis yang disusun kurang tepat. Misalnya sulit dipahami, kurang merepresentasikan isi naskah, kurang menarik minat pembaca, ada kesalahan informasi, dan lain sebagainya.
Sinopsis biasanya wajib disusun oleh penulis buku dan disertakan saat mengirimkan naskah ke penerbit. Jadi, pastikan disusun sebelum mengirimkan naskah. Pastikan juga sinopsis disusun dengan baik. Sebab isinya menjadi bahan pertimbangan editor untuk memutuskan menerima atau menolak naskah.
Alasan keempat, naskah buku yang dikirim bisa jadi tidak sesuai dengan fokus dari penerbit. Seperti yang diketahui, penerbit yang sudah besar dan dikelola profesional biasanya punya fokus penerbitan spesifik.
Jika diperhatikan, ada banyak penerbit mayor yang mendirikan penerbit lagi (imprint). Masing-masing punya nama dan fokus berbeda. Salah satu alasannya agar penerbitan terfokus di satu topik atau tema. Sehingga pengelolaan naskah lebih efektif, efisien, dan optimasi mutu terbitan juga lebih mudah.
Jadi, memilih penerbit tidak bisa hanya penerbit resmi, anggota IKAPI, atau sudah berpengalaman panjang menerbitkan buku. Penulis juga harus memperhatikan fokus penerbitannya pada buku jenis apa dan pada topik atau tema apa saja. Jika tidak sesuai dengan naskah, maka pastinya ditolak. Begitu juga jika sebaliknya.
Sebab berikutnya dari naskah ditolak penerbit buku adalah kesalahan dalam pengiriman. Sepertinya semua penerbit di Indonesia dan bahkan di negara lain memiliki prosedur tersendiri dalam penerimaan naskah.
Beberapa penerbit hanya menerima naskah lewat portal khusus, naskah dikirim ke alamat penerbit langsung, melalui WhatsApp tim Customer Service, email, melalui website resmi penerbit, dan lain sebagainya.
Naskah buku yang dikirim tidak sesuai ketentuan tentunya tidak diterima editor. Dampaknya, naskah tersebut tidak bisa diproses. Terlebih jika penerbit menerima cukup banyak naskah. Jika lebih banyak naskah dikirim sesuai prosedur, maka editor akan memprioritaskannya.
Alasan keenam yang membuat naskah ditolak penerbit buku adalah target pembaca (audiens) belum jelas. Target pembaca yang jelas bisa dilihat dari topik atau tema buku, gaya bahasa yang digunakan, jenis buku tersebut, dan aspek lainnya.
Kadang kala, penulis masih bingung target pembaca untuk naskah buku yang disusun siapa. Sehingga membuat gaya penulisan dan detail lain di dalamnya menjadi tidak konsisten.
Selain itu, penerbit yang punya fokus tersendiri. Kadang juga memiliki target pembaca khusus yang sudah jelas. Misalnya saja penerbit yang memang fokus menerbitkan buku anak-anak. Sehingga akan menolak buku untuk remaja atau orang dewasa, meski kualitas naskahnya bagus.
Baca juga: Pentingnya Menentukan Segmentasi Buku
Penerbit juga akan mengedepankan editorial yang ketat dan profesional. Sebab kualitas dari buku-buku yang diterbitkan adalah cermin dari penerbit tersebut. Tidak ada penerbit yang akan menerima naskah asal-asalan dan langsung diterbitkan tanpa editorial.
Oleh sebab itu, penerbit mengedepankan naskah buku yang menarik dan punya nilai tambah tertentu. Misalnya dari segi topik, gaya bahasa, cara penyajian konflik (pada buku fiksi), dll. Sekaligus mengedepankan orisinalitas naskah.
Kadang kala penerbit menjumpai naskah dari hasil plagiarisme. Menjiplak karya tulis lain dan tentunya akan menolak untuk menerbitkannya. Jadi, inilah alasan penulis diwajibkan melampirkan surat pernyataan keaslian naskah. Beberapa penerbit juga mewajibkan ada bukti cek similarity atau sejenisnya sebagai syarat administrasi.
Kesalahan teknis dalam penulisan adalah hal lumrah. Hanya saja jika berlebihan, beragam, dan banyak. Maka menjadi persoalan lain. Hal ini bisa membuat naskah ditolak penerbit buku yang dituju.
Hal teknis yang dimaksud seperti format penulisan, sistematika, pengaturan jenis dan ukuran font, kesalahan ketik (typo), kesalahan penggunaan tanda baca, kesalahan terkait ejaan, dan lain sebagainya.
Kesalahan teknis yang masih terbilang skala kecil atau sedikit. Biasanya tetap ditoleransi oleh penerbit, terlebih jika isi naskah punya nilai tambah. Misalnya topik menarik, cara penyajian menarik, dan sejenisnya.
Namun, jika terlalu banyak maka naskah menjadi berantakan dan tidak ada kepatuhan pada kebijakan penerbit. Hal ini bisa menjadi penyebab editor penerbit menilai penulisnya kurang profesional. Sehingga mempertimbangkan untuk menolak naskah tersebut.
Hal lain yang menjadi alasan naskah ditolak penerbit buku adalah dari faktor internal penerbit tersebut. Artinya, ada beberapa kondisi sampai regulasi dari penerbit yang membuat naskah dari penulis belum bisa diterbitkan. Faktor internal yang dimaksud mencakup:
1. Melebihi Kapasitas Penerbitan dari Penerbit
Setiap penerbit memiliki kapasitas penerbitan sendiri-sendiri. Pada penerbit mayor sekalipun, meski sering mencetak dalam ribuan eksemplar. Tetap ada batas maksimal. Terlebih bagi penerbit indie, self publishing, dll.
Kadang kala naskah dikirimkan penulis bertepatan dengan batas kapasitas tersebut. Kemudian berbenturan dengan kebutuhan penulis untuk segera diterbitkan. Sehingga tidak bisa ikut diproses penerbitannya.
2. Antrian Naskah Terlalu Panjang
Penerbit buku kadang memiliki antrian naskah yang panjang. Sehingga editor butuh waktu untuk memeriksa dan menilai kelayakan terbit setiap naskah tersebut.
Penolakan pada naskah, bisa karena antrian sudah terlalu panjang. Penerbit tidak ingin beresiko mengecewakan penulis yang naskahnya sudah diterima karena terlambat terbit. Oleh sebab itu, diputuskan untuk menolak naskah baru.
3. Kondisi Pasar Kurang Mendukung
Kondisi pasar tentunya juga menjadi pertimbangan penerbit dalam menentukan proses penerbitan. Kondisi pasar bisa membuat penerbit lebih selektif memilih topik buku, editorial lebih ketat, membatasi jumlah cetakan, membatasi pemasaran dan distribusi, dan sebagainya.
Jadi, naskah buku yang dikirim penulis kadang bertepatan dengan kondisi pasar yang kurang mendukung. Sehingga rentan ditolak oleh penerbit dengan berbagai pertimbangan tambahan (selain kualitas naskah).
4. Penerbit Sudah Menerbitkan Buku dengan Topik Serupa
Naskah yang disusun penulis mungkin sangat bagus, sudah sangat layak terbit, dan sejenisnya. Hanya saja, penerbit mungkin sudah menerbitkan topik yang sama.
Sehingga memutuskan untuk menolak. Terlebih jika topik yang sama dan relevan sudah diterbitkan sampai beberapa judul. Jadi, tidak memungkinkan untuk menerbitkan topik serupa lagi.
Penolakan oleh penerbit bisa dialami semua penulis tanpa terkecuali. Baik oleh penulis pemula, maupun penulis dengan jam terbang sudah tinggi. Selain itu, bisa juga untuk naskah buku pertama maupun naskah buku kesekian.
Hal ini karena ada banyak hal yang membuat naskah ditolak penerbit. Sesuai dengan penjelasan sebelumnya. Jika naskah ditolak penerbit buku, maka apa tindakan yang harus diambil penulis? Berikut beberapa hal yang disarankan untuk dilakukan pasca penolakan:
Sebagai penulis buku profesional, tentu harus selalu menjaga sikap tetap profesional dalam kondisi apapun. Termasuk ketika naskah yang disusun ditolak penerbit. Hindari terlalu emosi sampai meluapkannya. Pahami semua naskah buku ada kemungkinan ditolak penerbit.
Selanjutnya, penulis perlu mencari tahu sebab naskahnya ditolak oleh penerbit. Bisa menanyakan ke kontak editor atau CS penerbit yang dituju. Jika bertanya dengan baik dan menjelaskan alasan atau arti pentingnya. Maka penerbit tentu akan memberi penjelasan. Alasan ini bisa dijadikan dasar evaluasi untuk berbenah.
Tahap berikutnya, penulis perlu mempertimbangkan untuk istirahat sejenak. Dalam artian, memutuskan untuk mendiamkan naskah sementara. Tujuannya untuk menenangkan pikiran dan ada jeda tidak membaca naskah. Jadi, ketika memutuskan diperbaiki sudah lebih objektif agar hasil optimal.
Tahap berikutnya, usahakan tidak terlalu lama bersedih dengan naskah ditolak penerbit buku yang dituju. Dalam hal ini, pahami ada kemungkinan keterampilan menulis memang perlu diasah. Jadi, pertimbangkan untuk ikut pelatihan menulis dan bergabung di komunitas agar bisa sharing dengan penulis lain.
Khusus untuk sebab penolakan adalah topik tidak sesuai dengan fokus penerbit. Maka hindari melakukan revisi pada naskah, pertimbangkan untuk mencari penerbit lain dengan fokus lebih sesuai. Jika memungkinkan bisa meminta rekomendasi penerbit yang menolak untuk mendapat penerbit yang sesuai dan kredibel.
Jika mengirimkan naskah ke penerbit lain juga ditolak. Namun tetap ingin naskah terbit sebagai pemantik semangat untuk belajar menulis lagi. Maka bisa mempertimbangkan diterbitkan mandiri atau self publishing. Bisa juga mencari penerbit self publishing sehingga editorial tidak terlalu ketat.
Hal penting lain yang harus dipahami penulis terkait topik naskah ditolak penerbit buku adalah persiapan sebelum penerbitan. Salah satu strategi agar risiko penolakan lebih kecil adalah dengan persiapan matang. Berikut beberapa persiapan yang perlu dilakukan:
Persiapan pertama, selalu memilih penerbit dulu sebelum mengirimkan naskah. Bahkan sangat dianjurkan penerbit dipilih sebelum mulai menulis. Kenapa? Tujuannya agar bisa mengenal penerbit tersebut dan memastikan topik sesuai fokus. Sekaligus memahami standar naskah yang diterima seperti apa.
Setiap penerbit biasanya menyediakan panduan penulisan dan pengiriman naskah. Silahkan dipelajari dan dipahami, kemudian mengikuti ketentuan yang tercantum di dalamnya. Panduan ini berisi penjelasan rinci sehingga meminimalkan kesalahan teknis penulisan, pemilihan topik, dll.
Persiapan ketiga, penulis perlu memastikan sudah menyelesaikan naskah buku yang ingin diterbitkan. Pastikan alur logis dan punya penyelesaian. Jika menyusun buku ilmiah, maka pastikan bab terakhir berisi kesimpulan hingga implikasi. Pastikan juga menyusun jadwal menulis agar konsisten dan naskah selesai sesuai deadline.
Hindari mengirim naskah sesaat setelah selesai ditulis. Pastikan ada tahap editing dan penyuntingan mandiri. Sehingga meminimalkan kesalahan teknis dan merapikan naskah agar enak dilihat serta nyaman dibaca. Kesalahan minor bisa diperbaiki di tahap ini, sehingga peluang naskah diterima bisa lebih besar.
Persiapan lain yang bisa dilakukan adalah meminta penilaian dari orang lain. Misalnya rekan sesama penulis buku, saudara yang gemar membaca, dan sebagainya. Kemudian minta kritik dan saran dari mereka. Sehingga bisa melakukan perbaikan agar kelayakan naskah terbit meningkat.
Persiapan yang baik akan memberi hasil yang baik juga. Jadi, beberapa persiapan yang dijelaskan di atas bisa membantu meminimalkan kemungkinan naskah ditolak penerbit. Namun, jika memang masih ditolak maka jangan berkecil hati. Hadapi dengan sikap yang benar sesuai penjelasan sebelumnya.
Sebagai pertimbangan, para penulis bisa memanfaatkan layanan Konsultasi Menulis dari Penerbit Deepublish. Melalui layanan ini, maka akan mendapatkan bantuan dan pendampingan agar lebih memahami seluk-beluk dunia penerbitan.
Semakin paham, semakin mudah memenuhi standar penerbitan yang ada. Sehingga peluang naskah diterima dan segera terbit bisa lebih tinggi. Selain itu, tim Deepublish juga siap membantu mereview dan memberi masukan untuk optimasi kualitas naskah.
Jadi, jangan ragu untuk mengkonsultasikan naskah buku Anda bersama Penerbit Deepublish dan dapatkan arahan sebelum melanjutkan ke proses penerbitan. Informasi lebih rinci dan bagaimana melakukan konsultasi, bisa mengunjungi website atau akun media sosial resmi Deepublish.
Naskah buku dapat ditolak karena berbagai faktor, seperti topik yang terlalu umum, naskah belum selesai, sinopsis kurang jelas, tidak sesuai fokus penerbit, kesalahan prosedur pengiriman, target pembaca belum spesifik, hingga masalah teknis penulisan.
Beberapa penyebab umum antara lain topik buku sudah banyak beredar, naskah belum matang, sinopsis tidak menggambarkan isi buku dengan baik, gaya penulisan belum sesuai, serta naskah belum menunjukkan nilai tambah bagi pembaca.
Penulis sebaiknya menerima penolakan dengan sikap terbuka, memahami alasan penolakan, menjadikannya bahan evaluasi, memperbaiki naskah, atau mempertimbangkan penerbit lain yang lebih sesuai dengan topik buku.
Perbaikan dapat dilakukan dengan mengevaluasi alasan penolakan, memperbaiki struktur tulisan, menyempurnakan isi, memperjelas target pembaca, memperbaiki teknis penulisan, dan memastikan naskah sesuai standar penerbit tujuan.
Tidak selalu. Penolakan naskah dapat terjadi karena banyak faktor, termasuk kesesuaian topik dengan fokus penerbit, kapasitas penerbit, kondisi pasar, atau pertimbangan editorial lainnya.
Penulis dapat meningkatkan peluang diterima dengan memilih penerbit yang tepat, mempelajari pedoman pengiriman naskah, memastikan naskah selesai, melakukan penyuntingan, serta meminta review dari orang lain sebelum dikirimkan.
Referensi:
Konversi KTI merupakan proses mengubah satu jenis KTI ke jenis KTI lainnya. Misalnya mengubah laporan…
Publikasi hasil penelitian dosen bisa dalam bentuk publikasi artikel ilmiah di prosiding maupun jurnal. Bisa…
Banyak orang mengira, kesulitan tertinggi dari menulis buku adalah proses menulis itu sendiri. Aktualnya, proses…
Dalam kegiatan menulis, ada banyak sekali kendala dan hambatan yang akan menurunkan produktivitas. Salah satunya…
Salah satu buku ilmiah yang akan rutin disusun oleh dosen Indonesia adalah buku monograf. Buku…
Perguruan tinggi tidak hanya menaungi dosen untuk menjalankan tugas mengajar, akan tetapi juga meneliti dan…