Dalam kegiatan penerbitan buku, kegiatan tersebut tidak berhenti saat buku resmi terbit dan bisa diakses para pembaca. Namun, masih berlanjut ke proses promosi. Dimana kegiatan promosi ini perlu dilakukan secara kontinyu atau berkelanjutan.
Ada banyak sekali teknik atau strategi dalam promosi (pemasaran) buku. Salah satunya memasarkan buku melalui komunitas. Khususnya komunitas yang masih relevan dengan industri penerbitan. Lalu, bagaimana tata cara pemasaran dengan teknik ini? Berikut informasinya.
Mengapa Komunitas Bisa Menjadi Salah Satu Strategi Pemasaran Buku?
Komunitas adalah sekelompok individu yang bersama-sama membangun ruang untuk saling berinteraksi karena memiliki suatu kesamaan. Komunitas bisa ditemukan dalam berbagai bidang, dan masing-masing memiliki anggota dengan karakteristik tersendiri.
Dalam konteks memasarkan buku melalui komunitas. Maka komunitas yang dimaksud adalah semua komunitas yang masih memiliki relevansi dengan industri penerbitan. Sehingga komunitas tersebut ada yang menjadi penyuplai naskah, misalnya komunitas penulis.
Kemudian, ada juga komunitas yang berpotensi menjadi target pembaca. Misalnya komunitas pembaca. Lalu, apa potensi yang dimiliki komunitas ini sehingga ideal menjadi destinasi pemasaran buku? Berikut beberapa alasannya:
1. Lebih Tepat Sasaran
Alasan yang pertama karena lebih tepat sasaran. Disebut demikian, karena anggota dari komunitas menjadi target pasar potensial dalam pemasaran buku. Semua anggota tersebut pastilah rajin membaca buku dan aktif membeli buku.
Sebab, jika kurang suka dengan membaca dan tidak familiar dengan buku. Mereka tidak akan menjadi anggota komunitas yang berkaitan erat dengan dunia buku dan aktivitas membaca.
Mempromosikan buku kepada mereka, tentu lebih tepat sasaran. Bahkan dari awal sudah diketahui seluruh anggota komunitas adalah target pasar ideal dan juga potensial. Sehingga risiko gagal meyakinkan mereka untuk membeli buku lebih rendah.
2. Potensi Meraih Kepercayaan Lebih Tinggi
Melalui komunitas, penulis yang berencana memasarkan karyanya akan ikut bergabung. Sehingga bisa bertemu dengan rekan sesama penulis. Sekaligus bertemu dengan lebih banyak orang yang suka membaca, dan bahkan membaca karya yang terbit sebelumnya.
Kondisi ini membuat proses memasarkan buku menjadi lebih mudah. Sebab bisa membaur dengan anggota komunitas lain. Kemudian meraih kepercayaan mereka. Jika pemasaran dilakukan melalui event dan atas persetujuan pengurus. Maka para anggota juga lebih mudah percaya, karena disetujui pengurus komunitas.
3. Membentuk Interaksi Dua Arah
Alasan yang ketiga, karena memasarkan buku melalui komunitas bisa membangun interaksi dua arah. Berbeda dengan membuat konten iklan di Google Ads. Berbeda juga dengan konten promosi hasil kolaborasi dengan influencer.
Ketika memasarkan buku di sebuah komunitas, maka ada komunikasi secara tatap muka dengan target pasar atau target pembaca. Sehingga bisa membangun komunikasi dua arah, saling membangun hubungan baik, kepercayaan, dan baru kemudian membeli buku yang direkomendasikan.
4. Memberi Efisiensi Biaya Tapi Tetap Efektif
Alasan berikutnya, karena memasarkan buku yang disusun (pemasaran oleh penulis) atau diterbitkan (pemasaran oleh penerbit) melalui komunitas lebih hemat biaya. Disebut demikian karena tidak perlu biaya untuk mendaftar anggota.
Penerbit dan penulis yang menggelar kegiatan kerjasama dengan pengurus komunitas pun, biasanya tidak ada biaya. Sehingga bisa menjadi solusi untuk menekan biaya promosi, tapi tetap efektif karena langsung ke target pembaca potensial.
5. Memberikan Dampak Pemasaran Berkelanjutan
Alasan lainnya, karena pemasaran buku melalui komunitas memberi efek berkelanjutan. Bahkan bisa bertahan dalam jangka panjang. Sebab ketika penulis sudah menjadi anggota maka akan aktif mengikuti kegiatan di komunitas.
Karyanya yang kemudian disambut baik oleh anggota lain. Tentunya akan memberi dampak positif pada karya berikutnya. Sehingga tanpa ditawarkan langsung pun, anggota komunitas sudah menanyakan dan bahkan membeli dari penerbit.
Jenis Komunitas yang Bisa Dimanfaatkan untuk Memasarkan Buku
Sesuai penjelasan sebelumnya, dalam menerapkan teknik memasarkan buku melalui komunitas tidak bisa asal masuk komunitas. Sebab komunitas sendiri sangat banyak dan beberapa diantaranya kurang relevan dengan industri penerbitan.
Misalnya, jika pemasaran buku dilakukan pada komunitas pelukis. Maka cenderung kurang tepat sasaran, karena kebutuhan pelukis yang utama bukanlah buku. Lalu, komunitas apa saja yang relevan dengan industri penerbitan? Berikut beberapa diantaranya:
1. Komunitas Pembaca Buku
Pertama, komunitas pembaca buku. Sesuai dengan namanya, komunitas ini berisikan anggota yang memiliki kegemaran, hobi, dan bahkan budaya membaca buku. Sehingga saling mendukung dan membangun ruang aman untuk membaca buku.
Komunitas ini ideal dituju untuk memasarkan buku. Sebab semua anggotanya suka membaca. Sehingga berpotensi besar untuk membeli dan membaca buku yang direkomendasikan kepada mereka.
2. Komunitas Baca Buku (Klub Buku)
Kedua, komunitas baca atau klub buku. Komunitas ini biasanya beranggotakan orang-orang yang suka membaca buku dan menyediakan buku untuk dibaca anggota maupun masyarakat luas.
Sehingga sering juga disebut dengan istilah klub buku. Sebab biasanya terdapat juga koleksi buku hasil donasi dari seluruh anggota. Pembacanya bisa anggota komunitas sendiri, maupun masyarakat sekitar.
Komunitas baca buku juga ideal dijadikan destinasi pemasaran buku. Sebab memang semua anggota komunitas aktif membaca. Mereka cenderung terbuka pada rekomendasi buku baru, baik dari anggota maupun dari siapa saja.
3. Komunitas Penulis
Ketiga, komunitas penulis. Komunitas penulis biasanya beranggotakan orang-orang yang aktif menulis. Baik itu menulis novel, buku ilmiah (seperti kalangan dosen dan peneliti), cerpen (cerita pendek), dan lain sebagainya.
Komunitas penulis juga ideal dituju untuk menunjang pemasaran buku. Sebab tidak ada penulis yang tidak gemar dan hobi membaca. Terlebih, banyak penulis mencari ide dan inspirasi naskah melalui proses membaca buku.
4. Komunitas Pegiat Literasi
Keempat, komunitas pegiat literasi. Misalnya komunitas yang mendirikan taman baca, relawan distribusi buku, relawan perpustakaan gratis, relawan perpustakaan keliling gratis, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Komunitas pegiat literasi juga ideal menjadi media pemasaran buku. Sebab anggota komunitas dan jaringan yang dibentuk didominasi oleh penyuka kegiatan membaca. Sehingga potensi mendapat pembaca yang banyak lebih tinggi.
Cara Mencari Komunitas yang Tepat untuk Pemasaran Buku
Melalui penjelasan sebelumnya, bisa dipahami ada banyak sekali komunitas yang bisa dituju untuk pemasaran buku. Namun, tidak semua komunitas yang relevan ideal dijadikan destinasi pemasaran.
Hal penting lainnya adalah, memastikan komunitas tersebut memang relevan dan terbuka untuk menerima tawaran buku. Sedikit membantu, berikut beberapa cara untuk memilih komunitas agar memasarkan buku melalui komunitas bisa lebih efektif:
1. Memastikan Anggota Komunitas adalah Target Pembaca
Setiap komunitas memiliki anggota dengan karakter tersendiri. Misalnya, ada dua komunitas penulis. Salah satunya beranggotakan penulis novel untuk orang dewasa. Sementara satunya lagi anggotanya fokus menulis novel remaja.
Jadi, penting sekali untuk memastikan anggota di setiap komunitas spesifik suka membaca buku apa. Tujuannya agar bisa mempromosikan buku yang relevan agar peluang order lebih tinggi.
2. Memilih Komunitas yang Relevan dengan Jenis atau Genre Buku
Cara kedua, pastikan memilih komunitas yang memang relevan dengan buku yang akan dipromosikan. Baik dari segi jenis maupun genre. Apakah buku ilmiah, atau buku nonilmiah?
Jika buku nonilmiah, apakah buku untuk remaja, anak-anak, atau usia berapa? Maka perlu disesuaikan agar bisa merekomendasikan buku yang juga relevan dengan selera baca mereka.
3. Mengutamakan Komunitas yang Masih Aktif
Cara ketiga, usahakan memilih komunitas yang memang masih aktif. Mulai dari aktif menerima anggota baru, aktif mengadakan kegiatan untuk para anggota, dan aktif mengadakan kegiatan yang bisa diakses siapa saja.
Komunitas yang aktif tentunya lebih ideal dituju untuk memasarkan buku. Sebab potensi para anggotanya membeli buku lebih tinggi. Dibandingkan dengan komunitas yang sudah lama tidak aktif, biasanya memang tidak lagi ada kegiatan apa-apa.
4. Komunitas yang Menerima Anggota Baru
Khusus untuk penerapan teknik memasarkan buku melalui komunitas dengan mendaftar sebagai anggota. Maka pastikan komunitas tersebut masih aktif menerima anggota baru. Jika tidak, maka sebaiknya mencari komunitas lain. Opsional lainnya, adalah menerapkan strategi pemasaran selain dengan mendaftar anggota.
5. Mencari Komunitas yang Terbuka untuk Bekerjasama
Berikutnya, utamakan memilih komunitas yang terbuka pada kerjasama. Khususnya kerjasama dalam menyelenggarakan kegiatan yang bermanfaat. Sekaligus kegiatan yang masih relevan dengan dunia membaca dan karya tulis.
Tujuannya agar bisa bekerjasama menyelenggarakan suatu event atau kegiatan. Sehingga bisa menjadi sarana promosi buku yang ditulis atau diterbitkan. Misalnya event bedah buku, khususnya buku yang baru saja diterbitkan.
Strategi Memasarkan Buku Melalui Komunitas
Memasarkan buku melalui komunitas memiliki teknik yang sedikit berbeda dengan pemasaran lainnya. Sebagai pembanding, misalnya saat promosi melalui kerjasama dengan influencer yang gemar membaca buku. Maka promosi melalui konten hard selling masih terbilang tepat.
Namun, ketika sebuah komunitas menjadi sarana dan prasarana pemasaran buku itu sendiri. Maka tidak etis jika langsung mempromosikan buku. Kecuali memang ada kesepakatan kerjasama dengan pihak pengelola (pengurus) atau pimpinan (ketua) komunitas tersebut.
Lalu, bagaimana strategi yang tepat dan etis? Berikut beberapa strategi pemasaran yang direkomendasikan:
1. Menjadi Anggota dan Membangun Komunikasi dengan Anggota Lain
Strategi yang pertama adalah dengan menjadi anggota dari komunitas yang dituju. Setelah resmi menjadi anggota, maka bisa membangun komunikasi dan hubungan baik dengan anggota lain.
Dalam komunikasi tersebut, pastinya akan ada celah untuk merekomendasikan buku yang dinilai bagus. Sehingga bisa tetap menjadi anggota sesuai ketentuan, tapi sekaligus bisa memasarkan buku yang disusun atau diterbitkan.
2. Diskusi Terkait Buku yang Dipromosikan
Strategi kedua, bisa mencoba mengajak anggota komunitas untuk berdiskusi mengenai buku yang dipromosikan. Buku baru, bisa menjadi topik menarik bagi anggota komunitas. Mereka akan menunggu ulasan dari pembaca yang merupakan anggota lain.
Jika dinilai oleh anggota menarik untuk dibaca. Atau mungkin topiknya memang relevan dengan selera. Maka akan muncul ketertarikan membeli dan membaca buku baru tersebut.
3. Meminta Izin Pengurus untuk Mempromosikan Buku
Strategi ketiga yang bisa diterapkan, adalah dengan meminta izin kepada pengurus atau pimpinan dari komunitas tersebut. Izin tersebut membantu mempromosikan buku baru dengan lebih nyaman, aman, dan juga tetap beretika.
Sebab setiap komunitas memiliki aturannya sendiri-sendiri. Ada kalanya terdapat aturan yang melarang promosi buku secara diam-diam tanpa sepengetahuan pengurus. Jadi, akan lebih baik jika meminta izin. Jika izin tidak didapatkan, maka harus menghargai keputusan tersebut.
4. Menjalin Kerjasama dalam Penyelenggaraan Event Terkait Buku
Strategi berikutnya adalah mengadakan kegiatan bersama atau event kolaborasi. Ada banyak kegiatan yang relevan dijalankan di tengah komunitas literasi. Mulai dari event pameran buku, membaca puisi, lomba menulis, lomba menyusun resensi buku, dan sebagainya.
Dalam event tersebut biasanya bekerjasama dengan berbagai pihak eksternal sebagai sponsor. Sehingga akan ada standar buku baru, stand buku second, stand makanan, maupun stand minuman, dan sebagainya. Sehingga bisa diisi dengan promosi buku.
5. Mengirimkan Buku Gratis kepada Komunitas Tujuan
Strategi lainnya, Anda bisa mengirimkan buku secara gratis sebagai teknik promosi yang efektif. Bagi penulis, bisa mencetak dalam jumlah tertentu. Kemudian dijadikan buku gratis ke komunitas yang dituju.
Tujuannya agar anggota komunitas ikut mempromosikan buku. Baik melalui resensi buku, promosi di akun media sosial mereka, blog pribadi mereka, dan jaringan pribadi masing-masing anggota.
Kesalahan yang Perlu Dihindari saat Memasarkan Buku Lewat Komunitas
Sukses memasarkan buku melalui komunitas juga dipengaruhi oleh strategi yang tepat. Sekaligus kemampuan tim pemasaran untuk menghindari berbagai kesalahan. Berikut adalah beberapa kesalahan pemasaran buku melalui komunitas yang perlu dihindari:
1. Asal-Asalan Memilih Komunitas
Kesalahan yang pertama untuk dihindari adalah sembarangan dalam memilih komunitas. Sesuai penjelasan sebelumnya tidak semua komunitas masih aktif, ada yang sudah vakum.
Kemudian, setiap komunitas memiliki anggota dengan kegemaran pada buku genre dan topik tertentu yang spesifik. Masih banyak lagi karakteristik khas lainnya. Sehingga perlu teliti memilih komunitas agar pemasaran buku tetap efektif.
2. Bergabung dengan Terlalu Banyak Komunitas Tanpa Strategi
Kesalahan umum kedua untuk diperhatikan adalah bergabung ke dalam banyak komunitas. Terlalu banyak komunitas, sama artinya memiliki lebih banyak beban. Sebab promosi di dalamnya harus dilakukan dengan baik serta kontinyu. Tidak bisa sekali waktu.
Jadi, pemasaran buku melalui komunitas dianjurkan secara bertahap. Fokus dulu di satu komunitas. Jika masih memiliki sumber daya, baik itu waktu maupun sumber daya lain. Maka bisa bergabung di komunitas kedua, ketiga, dan begitu seterusnya.
3. Melakukan Promosi Tanpa Izin
Kesalahan umum ketiga yang harus dihindari adalah promosi tanpa izin. Baik promosi secara langsung maupun secara soft selling, yang artinya promosi terkesan tidak melakukan promosi. Sebaiknya tetap dengan izin dari pengurus, ketua, maupun pihak yang berwenang memberi izin di komunitas tersebut.
Tujuannya untuk menghargai aturan di dalam komunitas, memudahkan mendapat izin, dan mendapat kenyamanan selama promosi. Bahkan bisa sekaligus mendapat dukungan untuk promosi buku di dalamnya. Sehingga hasilnya lebih efektif lagi.
4. Hanya Fokus Memasarkan Buku
Kesalahan berikutnya yang harus diantisipasi adalah fokus memasarkan buku. Padahal di dalam komunitas tidak semua anggota suka dijadikan target pemasaran buku. Selain itu, ada banyak kegiatan di dalamnya dan kadang tidak relevan diisi dengan promosi buku baru.
Strategi memasarkan buku melalui komunitas akan semakin kuat jika didukung oleh penerbit yang kredibel. Sekaligus penerbit yang memahami betul proses distribusi buku yang efektif di dalam lingkungan suatu komunitas.
Penerbit Deepublish membantu penulis menerbitkan karya secara profesional. Sekaligus menyediakan fasilitas pemasaran buku agar dapat menjangkau lebih banyak pembaca di berbagai daerah. Termasuk membantu pemasaran melalui sejumlah komunitas yang relevan.
Mengakses keunggulan dan fasilitas tersebut, para penulis bisa memulai dengan mendaftar sebagai Penulis Deepublish. Pendaftaran gratis dan bisa dilakukan kapan saja karena daring. Informasi lebih rinci, bisa mengunjungi halaman Daftar Penulis Buku.
Baca juga: Penerbit Deepublish: Penerbit Buku dengan Dukungan Pemasaran yang Luas
FAQ (Frequently Asked Questions)
Komunitas memiliki anggota dengan minat dan karakteristik tertentu sehingga promosi dapat lebih tepat sasaran. Selain itu, komunitas memungkinkan penulis membangun kepercayaan dan interaksi langsung dengan calon pembaca.
Pilih komunitas yang anggotanya sesuai dengan target pembaca, relevan dengan jenis atau genre buku, masih aktif, terbuka menerima anggota baru, dan memungkinkan kerja sama dalam kegiatan terkait buku.
Beberapa kesalahan yang perlu dihindari adalah memilih komunitas secara sembarangan, bergabung dengan terlalu banyak komunitas tanpa strategi, melakukan promosi tanpa izin, dan hanya berfokus menjual buku tanpa membangun hubungan dengan anggota komunitas.
Penulis dapat terlebih dahulu menjadi anggota dan membangun komunikasi dengan anggota lain, berdiskusi mengenai buku, atau berkolaborasi dalam kegiatan komunitas. Promosi langsung sebaiknya dilakukan setelah mendapat izin pengurus.
Ketika penulis membangun hubungan baik dan menjadi bagian dari komunitas, anggota yang sudah mengenal karya tersebut berpotensi memberikan dampak pada pemasaran buku berikutnya, termasuk melalui rekomendasi dari mulut ke mulut.
Referensi:
- Ningrum, A. (2026). 10 Strategi Pemasaran Buku yang Sering Dilakukan Penulis. Diakses pada 22 Oktober 2026 dari https://bukunesia.com/digital-marketing/strategi-pemasaran-buku/
- Jual Buku Lewat Komunitas, Ternyata Efektif dengan 7 Tips Ini. (2023). Penerbit Magneta. Diakses pada 22 Oktober 2026 dari https://penerbitmagneta.com/jual-buku-lewat-komunitas/
- Ema. (2026). Cara Efektif Memasarkan Bukumu setelah Terbit. Diakses pada 22 Oktober 2026 dari https://beningruapustaka.com/cara-efektif-memasarkan-bukumu-setelah-terbit/








