Promo Terbatas Ditutup Sewaktu-waktu

Hari
Jam
Menit
Detik

Memahami Rincian Kemampuan Utama dan Kualifikasi Penunjang Editor Penerbit Buku 

Naskah buku yang dikirim ke penerbit, tentunya tidak langsung diterima dan naik ke proses cetak. Akan ada tahap editorial yang dijalankan oleh editor penerbit buku. Editorial ini penting untuk memastikan naskah buku memang siap sekaligus layak untuk diterbitkan. 

Tanpa editorial, sebuah penerbit bisa meloloskan naskah buku dengan mutu kurang memadai. Sehingga merugikan reputasi penerbit tersebut dan tentunya mengecewakan pembaca. Editor kemudian memiliki peran sangat krusial. Lalu,  skill apa saja yang wajib dikuasai editor penerbit? Berikut informasinya. 

Kemampuan Utama yang Harus Dimiliki Editor Buku

Editor penerbit buku merupakan seseorang di industri atau perusahaan penerbitan buku yang bertugas melakukan editing dan penyuntingan pada naskah sebelum dinyatakan bisa diterbitkan. 

Setiap penerbit resmi yang menjalankan proses editorial, pastilah memiliki editor profesional. Bahkan, setiap naskah yang diterima dari penulis bisa diperiksa oleh minimal 2 editor sekaligus. 

Tidak semua orang bisa menjadi editor. Kecuali memenuhi syarat dan kualifikasi yang ditetapkan penerbit buku yang melakukan rekrutmen. Selain itu, seorang editor baru bisa menjalankan tugasnya jika menguasai setidaknya 3 kemampuan utama atau kemampuan dasar. Yaitu: 

1. Keterampilan Bahasa 

Kemampuan utama yang wajib dikuasai sebagai editor sebuah penerbit buku adalah keterampilan bahasa. Kemampuan bahasa sering juga disebut dengan istilah kemampuan atau keterampilan tata bahasa. 

Yaitu keterampilan untuk memahami dan menguasai aturan tata bahasa yang baik dan sesuai standar yang berlaku. Dalam naskah yang disusun menggunakan bahasa Indonesia. 

Maka keterampilan bahasa mencakup pemahaman mengenai ejaan, kata baku, tanda baca, dan aspek tata bahasa lain sesuai Ejaan yang Disempurnakan (EYD). Keterampilan ini penting, karena dalam tulisan atau karya tulis tata bahasa dan gaya penulisan sangat krusial. 

Sebagai contoh sederhana, ketika kalimat disusun dengan kata tidak baku. Maka tidak mudah dipahami semua pembaca. Contoh lain, ketika suatu kalimat ada kesalahan pemilihan dan pengaturan posisi tanda baca. Misalnya tanda koma (,) maka bisa mengubah makna, intonasi, dan sebagainya. 

2. Keterampilan Menulis 

Kemampuan utama yang harus dimiliki editor penerbit buku yang kedua adalah keterampilan menulis. Seorang editor wajib bisa menulis, sehingga punya keterampilan menyusun karya tulis. Khususnya pada jenis karya tulis yang menjadi fokus utama penerbit. 

Misalnya pada penerbit buku ilmiah karya para dosen, maka seorang editor di penerbit tersebut harus bisa menulis buku ilmiah dan KTI jenis lainnya. Hal ini penting karena editor akan melakukan penilaian pada kualitas naskah buku yang masuk ke penerbit. 

Keterampilan ini wajib dikuasai editor, karena akan mempengaruhi hasil editing dan penyuntingan, Editor yang bisa menulis, nantinya bisa mengetahui bagian mana saja dari naskah yang perlu direvisi. Sekaligus detail revisi terbaiknya bagaimana. Apakah dihapus, ditambahkan data tertentu, atau lainnya? 

3. Keterampilan Membaca Kritis 

Kemampuan utama ketiga yang harus dikuasai editor penerbit buku adalah keterampilan membaca kritis. Yaitu, kemampuan atau keterampilan editor dalam menganalisis tulisan (naskah buku) secara mendalam. 

Ketika editor penerbit membaca suatu naskah yang dikirim penulis buku. Maka bisa melakukan evaluasi terhadap substansi pembahasan, struktur penulisan, ada tidaknya inkonsistensi dalam penggunaan istilah, dan detail lainnya. 

Melalui keterampilan utama ini, editor bisa dengan mudah dan cepat memahami isi dari naskah buku. Sekaligus bisa melakukan penilaian menyeluruh. Sehingga bisa dengan cepat menentukan apakah naskah tersebut berkualitas dan layak terbit, atau malah sebaliknya. 

Kualifikasi Pendukung yang Perlu Dimiliki Editor Buku

Menjadi editor penerbit buku profesional, tentunya tidak hanya wajib menguasai kemampuan dasar yang dijelaskan sebelumnya. Akan tetapi juga memenuhi persyaratan atau kualifikasi pendukung lain. Khususnya yang ditetapkan penerbit yang melakukan rekrutmen editor. 

Lalu, apa saja kualifikasi pendukung yang harus bisa dipenuhi seorang editor penerbit? Berikut beberapa diantaranya: 

1. Memenuhi Kualifikasi Akademik yang Relevan 

Hal pertama yang menjadi kualifikasi pendukung seorang editor di penerbitan buku adalah kualifikasi akademik. Editor di penerbitan idealnya menempuh pendidikan pada program studi atau jurusan yang relevan dengan dunia kepenulisan dan penerbitan. 

Misalnya program studi di bidang sastra, bahasa, ilmu komunikasi, dan juga di program studi jurnalistik. Secara keilmuan, 4 program studi ini memberikan bekal keterampilan berkaitan dengan kepenulisan dan tata bahasa. 

Sehingga lulusannya memiliki potensi menguasai keterampilan utama yang dijelaskan sebelumnya. Kualifikasi akademik yang sesuai, membantu penerbit mendapatkan editor yang sudah menguasai keterampilan utama. Jika memenuhi kualifikasi lain, maka tentunya menjadi nilai tambah. 

2. Memiliki Pengalaman Pendukung 

Kualifikasi pendukung kedua yang secara umum ditetapkan penerbit saat merekrut editor adalah pengalaman yang mendukung atau sesuai. Umumnya, penerbit bisa menerima fresh graduated. Namun, ada juga yang spesifik mensyaratkan pengalaman. 

Pengalaman disini bisa dipahami secara lebih luas. Tidak hanya sekadar berpengalaman menjadi editor penerbit buku profesional sebelumnya. Akan tetapi juga pengalaman di bidang terkait, termasuk pengalaman magang. 

Misalnya saja, pengalaman magang saat kuliah di perusahaan penerbit buku. Kemudian, pengalaman menulis buku, khususnya buku yang menjadi fokus utama penerbitan di penerbit yang membuka lowongan editor. Bisa juga diisi dengan pengalaman menjadi penulis, terutama penulis buku. 

3. Kemampuan Komunikasi yang Baik

Dalam perusahaan penerbitan buku, terdapat beberapa bagian atau divisi yang bersinggungan dengan pihak eksternal. Selain bagian pemasaran atau marketing. Editor penerbit buku tersebut juga termasuk dalam kategori. 

Editor akan berkomunikasi dengan berbagai pihak di internal penerbit, sekaligus eksternal penerbit. Pihak internal seperti tim desain grafis yang mengerjakan layout, tim pemasaran atau marketing buku, dan divisi lainnya. 


Sedangkan pihak eksternal, paling umum dan intens adalah berkomunikasi dengan penulis. Oleh sebab itu, editor sebuah penerbit wajib memiliki kemampuan komunikasi yang baik. 

Sehingga pada saat memberi umpan balik pada naskah, isinya bisa dipahami penulis. Proses revisi dari penulis lebih lancar dan cepat selesai. Ketika berkomunikasi dengan tim desain grafis. 

Maka beberapa hal terkait teknis penulisan, penyajian, dan pengaturan tampilan bisa dikomunikasikan secara dua arah. Sehingga meminimalkan kesalahan dan risiko salah paham. 

Baca juga: Siapa Saja yang Berperan dalam Proses Penerbitan Buku? Berikut Penjelasannya

4. Teliti, Sabar, dan dan Bisa Menjaga Fokus (Konsentrasi) 

Kualifikasi pendukung berikutnya yang secara umum ditetapkan penerbit buku adalah ketelitian, kesabaran, dan juga bisa bekerja dengan fokus yang tinggi. Ketiganya penting dalam menunjang proses editing dan penyuntingan. 

Sebab, seorang editor di penerbit buku tidak hanya memperhatikan tata bahasa. Akan tetapi juga memperhatikan struktur penulisan, alur pembahasan, penggunaan istilah yang harus konsisten, pembahasan terfokus pada topik utama, dan detail lainnya. 

Naskah buku sendiri, berkisar dari puluhan halaman hingga ratusan halaman. Supaya bisa terbit dengan ISBN, umumnya minimal 60 halaman. Pada buku ilmiah karya dosen, saat ini minimal di 125 halaman. Maka editor harus teliti, sabar, dan fokus karena harus memeriksa jumlah halaman naskah yang tidak sedikit. 

5. Memahami Tren Pasar Buku 

Kualifikasi pendukung juga mencakup kemampuan editor dalam memahami dan mengikuti perkembangan tren pasar buku. Misalnya, pada penerbit buku ilmiah maka editor bisa melihat tren topik yang tengah naik daun. 

Sementara pada penerbit buku nonilmiah atau buku fiksi. Editor juga perlu memahami tren yang berkembang di pasar buku. Topik apa saja, buku fiksi di genre apa saja yang sedang diminati oleh pembaca? Sehingga bisa menyesuaikan tren tersebut agar buku yang diterbitkan disambut baik oleh pembaca. 

Sebagai editor, tentunya perlu mempertimbangkan tren tersebut karena akan mempengaruhi angka penjualan buku. Hal ini akan berdampak pada profit penerbit tempatnya bekerja. 

6. Keterampilan Manajemen Waktu

Selanjutnya, editor penerbit buku juga harus memiliki kualifikasi berupa kemampuan manajemen waktu yang baik. Kenapa? Sebab ketika menjalankan tugasnya di sebuah penerbitan, biasanya tidak hanya menangani satu naskah. 

Editor bisa diberi tanggung jawab melakukan editing dan penyuntingan beberapa naskah sekaligus. Jika manajemen waktu buruk, editor bisa kurang disiplin dan punya kebiasaan menunda. 

Hal ini membuat produktivitas atau kinerjanya rendah yang tentu merugikan penerbit. Selain itu, penulis juga ikut dirugikan. Pasalnya nasib naskah tidak kunjung dikomunikasikan karena kerja editor yang lambat dan kurang profesional. 

Baca juga: 7 Teknik Manajemen Waktu yang Banyak Digunakan

7. Menguasai Bahasa Asing 

Penerbit buku kadang menerima naskah dalam bahasa asing, kemudian juga menerbitkan buku hasil terjemahan. Baik untuk buku ilmiah maupun nonilmiah sehingga editor perlu menguasai bahasa asing yang relevan. 

Misalnya, penerbit buku ilmiah yang juga melayani penerbitan book chapter internasional. Maka tentunya naskah atau kumpulan KTI di dalamnya disusun dengan salah satu bahasa PBB. 

Jika menguasai bahasa asing yang relevan, maka editor bisa tetap menjalankan tugasnya. Sehingga menunjang kelancaran penerbitan naskah dalam bahasa asing. Adapun bahasa asing apa yang perlu dikuasai editor, tentunya menyesuaikan dengan kebutuhan penerbit yang bersangkutan. 

8. Memahami Kode Etik Penyuntingan Naskah 

Kualifikasi lainnya, editor sebuah penerbit buku harus memahami kode etik penyuntingan naskah. Kode etik ini seperti editor mengetahui penulis naskah untuk menunjang kelancaran komunikasi. Misalnya terkait nasib naskah, proses revisi, dll. 

Kemudian, editor bukan penulis naskah. Sehingga secara etika, naskah yang disunting disusun oleh penulis lain. Tujuannya agar tetap objektif dan bisa menjalankan tugas secara profesional tanpa konflik kepentingan. Hal serupa berlaku untuk kode etik penyuntingan lainnya. 

Kualifikasi Khusus atau Tambahan untuk Editor di Penerbit Buku Ilmiah

Dalam dunia penerbitan buku ilmiah, yaitu buku berisi hasil penelitian yang umumnya disusun oleh dosen maupun peneliti profesional. Maka biasanya editor penerbit buku ilmiah tersebut wajib memenuhi kualifikasi khusus. 

Bisa juga disebut kualifikasi tambahan yang membuatnya bisa atau dipastikan kompeten melakukan editing serta penyuntingan naskah buku ilmiah. Diantaranya adalah: 

1. Kualifikasi Akademik Minimal Lulusan Pascasarjana 

Buku ilmiah di Indonesia, sesuai dengan aturan pemerintah disusun oleh ahli dan mayoritas oleh kalangan dosen. Sementara itu, kualifikasi akademik dosen di Indonesia minimal lulusan Magister atau S2. 

Maka penting sekali untuk penerbit merekrut editor yang juga lulusan pascasarjana. Baik itu lulusan S2, S3, maupun bekerjasama dengan dosen di suatu perguruan tinggi untuk menjalankan peran sebagai editor. Kesesuaian kualifikasi akademik ini penting, agar sama-sama paham aturan penelitian dan publikasinya. 

2. Menekuni Bidang Keilmuan yang Relevan dengan Bidang Buku 

Berikutnya, editor untuk penerbit buku ilmiah sebaiknya melakukan penyuntingan pada buku di bidang keilmuan yang relevan. Misalnya, editor merupakan lulusan Magister Ilmu Akuntansi, maka ideal menyunting naskah dengan topik di bidang akuntansi dan yang relevan. 

Relevansi ini penting, untuk memastikan substansi pembahasan sesuai dengan ilmu di bidang akuntansi. Kredibilitas substansi menjadi lebih terjamin. Inilah alasan penerbit perlu bekerjasama dengan dosen agar bisa memiliki editor dengan kesesuaian bidang keilmuan yang memang sangat beragam. 

3. Memahami Struktur dan Aturan dalam Penulisan Buku Ilmiah 

Selanjutnya, editor penerbit buku ilmiah juga harus memahami ketentuan terkait struktur penulisan dan aturan lain dalam penulisan buku ilmiah. Hal ini penting, karena buku ilmiah masuk ke dalam kategori KTI yang terikat dengan berbagai aturan. 

Selain itu, secara umum struktur buku ilmiah berbeda dengan buku nonilmiah. Misalnya di buku ilmiah ada halaman daftar isi, daftar pustaka, bab pertama selalu membahas pendahuluan yang mencakup topik penelitian dan latar belakang pemilihan topik tersebut, ada halaman lampiran, dan sebagainya. 

Baca juga: 15 Teknik Menulis Buku Ilmiah yang Ideal Diterapkan Akademisi

4. Memiliki Literasi Referensi Ilmiah 

Editor di sebuah penerbit buku ilmiah juga harus memiliki literasi atau pengetahuan terkait referensi ilmiah. Buku ilmiah wajib disusun dengan referensi yang relevan kredibel, dan terbitan terkini. 

Tanpa referensi yang memenuhi kriteria mendasar tersebut, isi pembahasan bisa diragukan. Selain itu, editor juga harus memahami apa saja jenis-jenis dari referensi ilmiah. Biasanya referensi yang memang kredibel, terutama publikasi ilmiah. Seperti artikel prosiding, artikel jurnal, buku ilmiah, website resmi pemerintah, dll. 

Sebagai catatan tambahan, penerbit buku ilmiah bisa menetapkan kualifikasi khusus lainnya. Sehingga selain kualifikasi yang dijelaskan di atas, bisa jadi ada tambahan yang ditetapkan penerbit yang melakukan rekrutmen. 

Batasan Tanggung Jawab Editor dalam Penyuntingan Buku

Dalam menjalankan tugas sebagai editor penerbit buku, sering sekali ada kesalahpahaman dalam tugas dan tanggung jawab. Artinya, banyak penulis yang menilai tugas serta tanggung jawab editor penerbit cakupannya luas. Padahal ada batasan jelas, dan editor tidak bisa menggeser atau menggantikan posisi penulis. 

Pertama, editor di sebuah penerbit bertugas untuk membantu mengecek dan mengevaluasi naskah buku agar menjadi naskah lebih berkualitas. Sehingga lebih layak untuk terbit karena bisa memenuhi standar penerbitan secara umum. 

Kedua, editor juga bertugas memberikan masukan atau permintaan revisi kepada penulis. Mencakup revisi aspek teknis penulisan, penyajian data, pemaparan topik atau data, dan aspek pembahasan lainnya. 

Jadi, tugas editor sebatas pada dua hal utama tersebut. Sehingga tidak mencakup membuat ide penelitian penulis, menggantikan seluruh proses menulis, memperbaiki konsep dasar dari naskah buku. Semua poin ini masih menjadi tugas dan tanggung jawab penulis buku. 

Pastikan Naskah Anda Ditangani Editor Profesional!

Menulis buku ilmiah bagi dosen dan penulis manapun, pastinya bukan hal mudah. Sekaligus bukan suatu kegiatan yang bisa diselesaikan dalam durasi singkat. Tidak sedikit yang butuh waktu berbulan-bulan sampai naskah bisa dirampungkan. Itu pun lengkap dengan proses jatuh bangunnya. 

Naskah yang disusun tersebut, tentunya ada kemungkinan masih kurang untuk diterbitkan. Oleh sebab itu, perlu editorial profesional, ketat, dan menyeluruh. Peran dari editor penerbit buku menjadi sangat krusial. 

Oleh sebab itu, para dosen dan penulis peru memastikan penerbit yang dituju memiliki editor profesional. Sehingga penilaian naskah objektif dan mampu menyempurnakan naskah tersebut. Supaya saat dibaca oleh masyarakat luas, isinya mudah dipahami dan bermanfaat bagi mereka. 

Memastikan naskah buku ditangani editor profesional. Maka bisa mempergunakan jasa penerbitan dan pendampingan dari Penerbit Deepublish. Editor bersertifikasi dan berpengalaman siap menangani naskah secara objektif, transparan, dan profesional. 

FAQ (Frequently Asked Questions)

1. Apa saja kemampuan utama yang harus dimiliki editor penerbit buku?

Terdapat tiga kemampuan utama, yaitu keterampilan bahasa, keterampilan menulis, dan keterampilan membaca kritis.

2. Apa kualifikasi pendukung yang perlu dimiliki editor buku?

Beberapa kualifikasi pendukung meliputi pendidikan yang relevan, pengalaman, kemampuan komunikasi, ketelitian, manajemen waktu, pemahaman tren pasar buku, kemampuan bahasa asing, serta pemahaman kode etik penyuntingan.

3. Apa kualifikasi khusus editor untuk buku ilmiah?

Editor buku ilmiah idealnya memiliki kualifikasi akademik minimal pascasarjana, menguasai bidang keilmuan yang relevan, memahami struktur dan aturan penulisan buku ilmiah, serta memiliki literasi referensi ilmiah.

4. Apakah editor bertanggung jawab memperbaiki seluruh isi naskah buku?

Tidak. Tugas editor adalah mengevaluasi naskah dan memberikan masukan atau permintaan revisi. Ide penelitian, proses penulisan, dan konsep dasar naskah tetap menjadi tanggung jawab penulis.

5. Apa perbedaan editor buku biasa dan editor buku ilmiah?

Editor buku ilmiah membutuhkan kualifikasi tambahan karena perlu memahami bidang keilmuan, struktur buku ilmiah, aturan penulisan, serta referensi ilmiah yang relevan dan kredibel.

Referensi:

  1. Ningrum, A. (2026). 10 Cara Menjadi Editor Buku dari Pemula hingga Profesional. Diakses pada 13 Oktober 2026 dari https://bukunesia.com/pengetahuan/cara-menjadi-editor-buku/
  2. Chesson, D. (2026). How to Become a Book Editor: What You Need to Know. Diakses pada 13 Oktober 2026 dari https://kindlepreneur.com/how-to-become-a-book-editor/
  3. Tertarik Menjadi Editor? Ini Skill Penting untuk Kerja di Penerbitan Buku. (2026). Jobstreet. Diakses pada 13 Oktober 2026 dari https://id.jobstreet.com/id/career-advice/article/skill-editor-buku
  4. Riskian, N. (2020). Belajar Menjadi Editor Profesional. Diakses pada 13 Oktober 2026 dari https://um.ac.id/belajar-menjadi-editor-profesional/
  5. Proses dan Kebijakan Editorial. (n.d). Unived Press. Diakses pada 13 Oktober 2026 dari https://jurnalunived.com/index.php/UniveDPress/ProsesdanKebijakanEditorial 
  6. Artrisdiyanti, R. O., & Putri, V. K. M. (2023). 7 Kode Etik Penyuntingan Naskah. Diakses pada 13 Oktober 2026 dari https://www.kompas.com/skola/read/2023/03/11/110000669/7-kode-etik-penyuntingan-naskah?page=all

Rekomendasi Artikel Lainnya