Dalam menulis buku ajar, para dosen bisa mempertimbangkan untuk memiliki mentor. Mentor menulis buku ajar memberi banyak manfaat bagi dosen. Sebab memberikan dampingan, masukan, dan aspek lain yang menunjang kelancaran penulisan naskah. Bahkan hingga proses penerbitan.
Hanya saja, sukses menulis buku ajar dengan pendampingan mentor ternyata tidak mudah dilakukan. Banyak dosen yang masih kesulitan untuk menemukan mentor menulis yang tepat dan yang bersedia. Jadi, bagaimana solusinya? Berikut informasinya.
Buku ajar yang ditulis oleh dosen didasarkan pada RPS OBE yang telah disusun. Selain itu, harus mengikuti ketentuan format penulisan, sistematika, gaya bahasa, sampai pada standar penerbitan.
Dalam menulis buku ajar tersebut, dosen sering menghadapi berbagai kendala. Mulai dari kesulitan memulai naskah buku ajar, writer’s block, hingga keterbatasan waktu. Kendala ini kadang tidak memungkinkan untuk dihadapi sendiri oleh dosen. Sehingga perlu bantuan mentor menulis buku ajar. Berikut beberapa alasan dosen perlu mentor menulis:
Alasan yang pertama, karena dampingan dari mentor bisa membantu dosen menyusun buku ajar secara sistematis. Dosen bisa lebih paham alurnya bagaimana. Sehingga tidak kesulitan untuk menentukan awal mula menulis darimana dulu.
Sejalan dengan hal tersebut, dosen bisa sekaligus memahami standar penulisan buku ajar. Mulai dari dasar acuannya RPS OBE, format dan sistematika penulisan, standar penerbitannya, dan sebagainya.
Buku ajar disusun dosen untuk dibaca dan dijadikan pegangan pembelajaran oleh mahasiswa. Isinya memaparkan materi pembelajaran sesuai dengan ketentuan atau rencana pembelajaran di RPS.
Kadangkala dosen kesulitan dalam menyajikan materi agar menarik tapi tetap jelas dan bisa dipahami mahasiswa. Keberadaan mentor bisa membantu hal tersebut. Dosen bisa mendapat dampingan dan arahan agar penyajian materi bisa lebih tepat. Sekaligus bisa terlihat menarik di mata mahasiswa.
Dampingan dari mentor menulis buku ajar akan membantu dosen menyusun buku ajar sesuai karakter dari kurikulum OBE. Seperti memastikan isi naskah relevan dengan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), dan aspek lainnya.
Memastikan keselarasan ini tidak selalu mudah bagi dosen. Terlebih jika belum terbiasa menulis buku ajar berbasis RPS OBE. Peralihan dari kurikulum lama bisa menyulitkan dosen melakukan perubahan ketentuan materi dan aspek substansi lainnya.
Baca juga: Mengenal Unsur dan Metriks Utama pada RPS Berbasis OBE
Dalam menulis buku ajar dan buku ilmiah lainnya, dosen tentu cenderung subjektif. Misalnya menilai naskahnya sudah disusun dengan baik. Sehingga merasa sudah layak terbit. Namun aktualnya bisa malah kebalikannya.
Hal ini tentu meningkatkan risiko naskah sulit menembus editorial penerbit buku yang dituju. Jadi, penting sekali untuk memiliki mentor menulis buku ajar. Sebab mentor akan memberikan umpan balik secara objektif. Baik ketika membantu editing dan penyuntingan maupun saat proses penyusunan serta penerbitan.
Dalam proses menulis naskah buku ajar, tentunya dosen bisa saja melakukan kesalahan. Misalnya keliru memilih referensi yang ternyata terbitan sudah lama, banyak typo (kesalahan ketik), banyak kalimat tidak efektif, jumlah halaman kurang, dll.
Kesalahan ini bisa dihindari dengan berbagai cara. Salah satunya mendapat arahan dari mentor menulis buku ajar. Sebab naskah akan dibantu diperiksa sehingga kesalahan bisa langsung diketahui, kemudian dibantu untuk perbaikan.
Mentor yang dipilih bisa dari rekan sejawat yang lebih berpengalaman, maupun dari kalangan Profesor. Pengalaman panjang menulis buku ajar dan riwayat publikasi ilmiah yang sudah luar biasa. Tentu bisa menjadi teladan dan sumber motivasi. Keberadaan mentor bisa memberi motivasi untuk produktif menulis buku ajar.
Alasan lainnya kenapa mentor menulis penting untuk dosen saat menulis buku ajar, adalah mendapat bantuan dalam proses penerbitan. Salah satunya dalam memilih penerbit agar tidak keliru atau terjerat penerbit abal-abal.
Sebab keliru memilih penerbit, mutu naskah menjadi kurang optimal. Selain itu, riskan terbit tanpa memenuhi seluruh standar Kemdiktisaintek. Dampaknya, buku ajar tidak bisa diklaim ke BKD dan tidak menambah poin angka kredit.
Baca juga: Rekomendasi Penerbit Buku Terbaik di Indonesia
Memiliki mentor menulis buku ajar memang penting sesuai penjelasan di atas. Maka, para dosen tidak perlu ragu untuk memiliki mentor. Namun, pastikan memilih mentor yang memang tepat. Sekaligus mentor tersebut bersedia memberikan dampingan dan bimbingan.
Lalu, bagaimana dosen bisa mendapatkan mentor yang tepat? Terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menemukan mentor menulis. Berikut beberapa diantaranya:
Mencari mentor yang memberi pendampingan menulis buku dosen bisa lewat komunitas penulis dosen. Banyak dosen masuk dan membentuk komunitas. Kemudian aktif membahas berbagai hal di dalamnya, termasuk menulis dan menerbitkan buku ajar.
Para dosen bisa bergabung dalam komunitas tersebut untuk berkenalan dengan lebih banyak dosen yang aktif menerbitkan buku ajar. Sehingga salah satu diantaranya bisa diminta menjadi mentor menulis buku ajar.
Lalu, bagaimana dosen bisa menemukan komunitas penulis akademik tersebut? Bisa dari perguruan tinggi tempat mengabdi. Sangat mungkin para dosen membentuk komunitas penulis lintas fakultas. Kemudian, bisa juga mencari di media sosial, organisasi profesi, kegiatan webinar, workshop, dll.
Cara kedua untuk terhubung dengan mentor menulis buku ajar yang potensial adalah ikut kegiatan workshop kepenulisan. Bisa juga disebut kegiatan pelatihan menulis buku ajar.
Dalam kegiatan tersebut, dosen berkesempatan bertemu rekan sejawat yang sama-sama menjadi peserta. Sekaligus berkenalan dengan narasumber atau pemateri yang biasanya dosen senior dan sudah berpengalaman menulis buku ajar.
Workshop atau pelatihan menulis, seringnya membentuk grup diskusi di WhatsApp atau Telegram. Jadi, dosen bisa tahu kontak masing-masing. Langkah selanjutnya, dosen bisa membangun komunikasi dengan peserta dan pemateri workshop.
Sehingga bisa menemukan calon mentor yang ideal dan menyampaikan keinginan untuk diberi pendampingan menulis buku dosen. Selain menentukan pilihan dengan riwayat komunikasi yang terjalin. Dosen juga perlu mengecek riwayat publikasi buku ajar yang dimiliki. Jangan sampai memilih mentor yang sama-sama dosen pemula.
Cara ketiga untuk mendapatkan mentor menulis buku ajar, dosen bisa ikut program kelas menulis. Apakah berbeda dengan workshop atau pelatihan? Meski sama-sama mengasah keterampilan menulis, keduanya tetap berbeda.
Umumnya kelas menulis menjadi program dalam durasi lebih panjang. Kemudian materi yang dibahas juga lebih beragam dan mendalam. Sehingga dosen yang bergabung perlu komitmen untuk mengikuti seluruh kelasnya. Baik daring, luring, maupun hybrid.
Nilai tambah selain materi kepenulisan yang lebih komprehensif. Dosen juga bisa lebih akrab atau dekat dengan pemateri yang tentu dari kalangan dosen senior maupun praktisi dunia kepenulisan yang sudah berpengalaman.
Dalam kelas tersebut, dosen juga bisa terhubung dengan peserta lain yang sesama dosen. Bisa jadi bertemu dosen lebih senior dan lebih paham dunia penulisan dan penerbitan buku ajar. Sehingga bisa menemukan beberapa calon mentor potensial.
Perguruan tinggi tempat dosen mengabdi bisa jadi juga menyediakan program mentoring. Jadi, par dosen pemula bisa mengakses program ini untuk mendapat dampingan dari senior dalam menulis hingga menerbitkan buku ajar.
Cara ini menjadi pilihan yang cukup mudah diakses para dosen. Bahkan ada peluang mendapatkan fasilitas konsultasi menulis buku gratis. Jadi, jika perguruan tinggi yang menaungi menyediakan program ini. Maka jangan ragu untuk ikut serta, sebab menjadi bagian dari program dukungan optimasi kinerja akademik dosen.
Cara berikutnya untuk menemukan dan terhubung dengan calon mentor menulis buku ajar adalah meminta langsung dari relasi yang dimiliki. Selama menempuh studi hingga menjadi dosen, tentu ada relasi akademik yang dimiliki.
Para dosen bisa meminta bantuan relasi tersebut untuk menjadi mentor. Misalnya, kebetulan salah satu kenalan adalah dosen dan sudah lebih senior. Bisa menimbang untuk meminta dosen tersebut menjadi mentor.
Contoh lain, jika dosen punya kenalan penulis profesional atau editor penerbit buku ilmiah. Maka bisa juga meminta menjadi mentor. Permintaan ini bisa saja diterima dan dosen bisa mendapatkan mentor dari orang yang sudah dikenal. Sehingga lebih leluasa dalam mengakses dampingan hingga sharing seputar kepenulisan.
Cara berikutnya, dosen bisa memperluas jaringan dan meningkatkan potensi terhubung dengan mentor menulis lewat seminar dan konferensi ilmiah. Ikut serta dalam dua kegiatan ilmiah tersebut bisa dipertimbangkan.
Sebab dosen bisa terhubung dengan rekan sejawat, kemudian peneliti dari berbagai lembaga penelitian, dan sebagainya. Sehingga salah satu atau beberapa diantaranya bersedia menjadi mentor menulis buku ajar.
Cara lainnya untuk mendapatkan mentor dalam menulis buku ajar, adalah memanfaatkan program mentoring dari penerbit. Biasanya penerbit yang fokus melayani penerbitan buku ilmiah karya para dosen menyediakan layanan ini.
Salah satunya adalah Penerbit Deepublish melalui layanan Konsultasi Menulis. Para dosen yang ingin konsultasi menulis buku gratis sekaligus mendapat pendampingan menulis secara intensif. Maka bisa mengakses layanan ini di Deepublish.
Melalui beberapa cara tersebut, maka dosen bisa menemukan mentor menulis buku ajar. Sekaligus mendapat manfaat lain, seperti mengakses layanan pendampingan menulis buku dosen dan sebagainya. Menulis dan menerbitkan buku ajar pun menjadi lebih efektif serta tentunya efisien.
Mentor dapat berasal dari dosen senior, profesor, rekan sejawat yang berpengalaman, editor penerbit buku, maupun praktisi yang memahami proses penulisan dan penerbitan buku ilmiah.
Pendampingan mentor dapat membantu menyusun alur buku secara sistematis, meningkatkan kualitas penyajian materi, memberikan umpan balik objektif, mengurangi kesalahan penulisan, serta membantu memilih penerbit yang tepat.
Mentor membantu memastikan isi buku ajar selaras dengan kurikulum OBE, seperti keterkaitan materi dengan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), dan kebutuhan pembelajaran mahasiswa.
Dosen perlu mempertimbangkan pengalaman mentor dalam menulis dan menerbitkan buku ajar, rekam jejak publikasi, kemampuan memberikan masukan, serta kesesuaian bidang keilmuan dengan naskah yang dikembangkan.
Dosen dapat menemukan mentor melalui komunitas penulis dosen, workshop kepenulisan, kelas menulis, program mentoring kampus, relasi akademik, seminar ilmiah, maupun program mentoring dari penerbit.
Referensi:
Dalam proses menerbitkan buku ilmiah, seorang dosen tentunya perlu teliti memilih penerbit buku akademik. Pasalnya,…
Menyusun laporan PkM menjadi buku, tentunya menjadi langkah yang perlu dipertimbangkan oleh para dosen. Tujuannya…
Kewajiban akademik dosen di Indonesia, bukan sekadar melaksanakan tugas pokok sesuai isi tri dharma. Sejalan…
Proses menulis buku ilmiah oleh para dosen di Indonesia, ternyata tidak hanya menghasilkan referensi dan…
Penerbit Deepublish berkolaborasi dengan LPMPP UBT, Tarakan sukses menyelenggarakan Webinar "Penulisan Modul Ajar dan Buku…
Penerbit Deepublish berkolaborasi dengan Universitas Jabal Ghofur (Unigha), Aceh sukses menyelenggarakan Webinar “Teknik Penulisan Buku…