Tahap awal dalam proses menulis buku ilmiah adalah menentukan jenis buku tersebut. Sehingga dosen perlu menentukan buku ajar atau buku monograf yang akan disusun? Sebab keduanya meski sama-sama buku ilmiah dan wajib ditulis oleh dosen. Namun menjadi dua jenis buku yang berbeda.
Penentuan jenis buku ilmiah sebaiknya dilakukan dari awal. Sehingga memudahkan dosen dalam proses penyusunan naskah, baik dari tahap persiapan hingga tahap penulisan itu sendiri. Berikut informasinya.
Menentukan buku ajar atau monograf menjadi hal krusial di tahap awal penyusunan buku. Lalu, kenapa memilih jenis buku dosen tersebut dikatakan sangat penting? Alasannya sangat beragam.
Pertama, jenis buku ilmiah yang jelas membantu menentukan tujuan penulisan buku yang jelas juga. Apakah bertujuan untuk diklaim dalam tugas pendidikan atau penelitian di pelaporan BKD? Apakah disusun untuk menjadi pegangan dosen dalam mengajar, atau pegagan mahasiswa saat mengikuti perkuliahan?
Kedua, memudahkan dosen dalam menentukan dasar acuan penulisan. Jika jenis buku sudah ditentukan dari awal maka memudahkan dosen menyiapkan dasar penulisan. Pada buku ajar, dosen bisa menyiapkan RPS.
Sedangkan pada buku monograf, dosen bisa menyiapkan data dan laporan penelitian. Selain itu, memudahkan dosen menyiapkan panduan penulisan yang dibutuhkan. Sebab setiap buku ilmiah punya tata cara penulisan hingga struktur yang berbeda.
Ketiga, memudahkan dosen dalam menyusun outline atau kerangka. Sebab struktur buku ajar dan monograf berbeda secara signifikan. Pada buku ajar ada susunan materi dilengkapi soal atau tugas. Sedangkan buku referensi fokus pada pembahasan beberapa topik di suatu bidang keilmuan.
Baca juga: Buku Monograf: Panduan Lengkap Memahami Karakteristik dan Cara Menyusunnya
Lalu, apakah ada risiko jika menentukan buku ajar atau monograf tidak dilakukan dari awal oleh dosen? Jawabanya adalah ada. Dosen bisa saja keliru, struktur buku monograf bisa dianggap sebagai struktur buku ajar. Dampaknya antara lain:
Risiko yang pertama, tentunya naskah buku yang strukturnya keliru tersebut tidak bisa diterbitkan. Pihak penerbit bisa menolak naskah karena tidak sesuai dengan standar penerbitan buku ajar atau buku monograf karena saling tertukar.
Risiko kedua, pasca naskah ditolak penerbit dan diketahui penyebabnya adalah kekeliruan struktur yang tertukar. Maka mau tidak mau dosen harus menulis ulang. Proses menulis sampai dua kali tentu pemborosan sumber daya waktu, tenaga,dan biaya yang dimiliki oleh dosen.
Membantu memilih jenis buku dosen yang sesuai. Yakni menentukan buku ajar atau monograf yang akan disusun tanpa risiko saling tertukar. Berikut ciri-ciri antara dua buku ilmiah tersebut:
| Aspek Perbedaan | Buku Ajar | Buku Monograf |
| Sumber Penulisan | RPS (Rencana Pembelajaran Semester) | Hasil penelitian, misalnya berbasis laporan penelitian dosen |
| Pembaca (Pengguna) | Mahasiswa (target pembaca utama) | Dosen (target pembaca utama) |
| Lingkup Penggunaan | Menjadi pegangan mahasiswa mengikuti perkuliahan dan saat belajar mandiri | Menjadi pegangan dosen saat mengajar dan menjadi referensi untuk penelitian, penulisan KTI, dll. |
| Isi Naskah Buku | Susunan materi pembelajaran sesuai RPS dan relevan dengan mata kuliah yang diampu oleh dosen. Isi naskah juga dilengkapi latihan soal atau latihan tugas | Satu topik di suatu bidang keilmuan yang relevan dengan bidang keilmuan atau kepakaran dosen |
Baca juga: Perbedaan Buku Monograf, Buku Ajar, Buku Referensi beserta Ciri-Cirinya
Bagaimana jika dosen masih bingung menentukan buku ajar atau buku monograf? Supaya tidak kesulitan maupun kebingungan, maka bisa menjawab beberapa pertanyaan mendasar di bawah ini:
Pertanyaan pertama untuk dijawab adalah sumber data (informasi) penulisan naskah darimana? Sebab dilihat dari acuan penulisan, terdapat perbedaan signifikan antara buku ajar dengan buku monograf.
Sesuai penjelasan sebelumnya, buku ajar disusun dosen mengacu pada RPS yang disusun menjelang awal semester baru. Sehingga isi naskah adalah rincian dan penjelasan materi yang tercantum seluruhnya di dalam RPS tersebut.
Sementara itu, untuk buku monograf seluruh informasi bersumber dari hasil penelitian. Adapun data tambahan dan penunjang bisa mengandalkan data dari berbagai referensi ilmiah kredibel yang digunakan.
Jadi, saat ini dosen punya sumber data buku ilmiah dalam bentuk RPS atau laporan penelitian? Setelah menjawab pertanyaan ini, maka akan lebih mudah menentukan buku ajar atau monograf.
Pertanyaan kedua untuk dijawab para dosen adalah apa tujuan dari menulis buku? Setiap dosen tentunya punya tujuan berbeda-beda saat menulis buku ilmiah. Bisa karena ingin memenuhi AK Kumulatif kenaikan jabatan akademik.
Sehingga memilih buku yang poin angka kredit paling sesuai kebutuhan. Jika ingin poin tinggi, maka buku monograf bisa dipilih karena bernilai 40 poin angka kredit. Sementara buku ajar 20 poin.
Ada juga yang bertujuan menyediakan bahan bacaan bagi mahasiswa sebagai pegangan kuliah dan belajar mandiri. Dalam tujuan ini, menyusun buku ajar tentunya menjadi pilihan paling tepat.
Jadi, kenali dengan baik tujuan saat ini apa? Kemudian, sesuaikan jenis buku ilmiah yang relevan dengan tujuan tersebut. Sehingga meminimalkan kesalahan penentuan jenis buku.
Pertanyaan ketiga, berkaitan dengan BKD. Apakah buku yang akan ditulis untuk memenuhi target BKD per semester? Atau untuk memenuhi target kewajiban khusus per 3 tahun sekali?
Dosen dengan jabatan akademik yang mencakup Asisten Ahli, Lektor, dan Guru Besar. Bisa memenuhi kewajiban khusus tersebut dengan menerbitkan buku ajar. Sehingga buku ajar bisa dipilih jika mengejar BKD pada kewajiban khusus.
Sebaliknya, jika dosen ingin memenuhi target BKD dan jadwal pelaporan sudah dekat. Maka dosen bisa leluasa memilih antara buku ajar atau monograf. Sebab keduanya sama-sama punya bobot SKS yang sama, yaitu 5 SKS per judul buku.
Pertanyaan lainnya untuk memudahkan penentuan jenis buku untuk ditulis dosen adalah ingin menyediakan buku untuk siapa? Atau, target pembacanya siapa? Sebab buku ajar disediakan untuk mahasiswa, sedangkan monograf untuk dosen. Setiap dosen tentunya punya jawaban tersendiri atas pertanyaan ini.
Bagi para dosen yang masih ragu menentukan buku ajar atau monograf. Kemudian, ketika naskah sudah disusun dan masih bingung naskah tersebut masuk ke jenis buku ajar atau buku monograf?
Maka bisa cek jenis naskah sebelum kirim penerbit dengan memperhatikan beberapa ciri yang dijelaskan di atas. Sekaligus membaca panduan penulisan yang disediakan perguruan tinggi.
Langkah lain sebagai solusi praktis, adalah menggunakan layanan Konsultasi Menulis dari Penerbit Deepublish. Sehingga akan dibantu mengecek ciri-ciri naskah cocok jadi buku ajar atau justru lebih cocok menjadi buku monograf. Informasi mengenai layanan dan cara mengaksesnya bisa mengunjungi website maupun akun media sosial resmi Deepublish.
Buku ajar disusun berdasarkan RPS dan ditujukan terutama sebagai pegangan mahasiswa. Sementara itu, monograf umumnya berbasis hasil penelitian dan membahas satu topik sesuai bidang keilmuan atau kepakaran dosen.
Dosen dapat melihat sumber informasi, tujuan penulisan, kebutuhan BKD, serta target pembaca. Jika sumber utamanya RPS dan ditujukan untuk mahasiswa, buku ajar lebih sesuai. Jika berbasis hasil penelitian dan membahas satu topik keilmuan, monograf dapat dipertimbangkan.
Buku ajar mengacu pada Rencana Pembelajaran Semester (RPS), sedangkan monograf bersumber dari hasil penelitian dosen yang dapat dilengkapi dengan referensi ilmiah pendukung.
Buku ajar memiliki mahasiswa sebagai target pembaca utama, sedangkan buku monograf ditujukan terutama untuk dosen dan dapat digunakan sebagai referensi dalam penelitian maupun penulisan karya tulis ilmiah.
Kesalahan menentukan jenis buku dapat membuat struktur naskah tidak sesuai dengan standar jenis buku yang dituju. Akibatnya, naskah berisiko ditolak penerbit dan dosen perlu melakukan penulisan ulang sehingga waktu, tenaga, dan biaya terpakai lebih banyak.
Referensi:
Publikasi ilmiah yang dimiliki oleh para dosen tentunya memerlukan dukungan penerbit kredibel. Termasuk saat menerbitkan…
Yogyakarta, 15 September 2026 — Penerbit Deepublish menerima kunjungan dari Politeknik Negeri Bali dalam rangka…
Penerbit Deepublish melalui program Kerjasama Institusi telah menjalin kemitraan dengan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia.…
Selama proses menyusun naskah buku ilmiah, tidak sedikit dosen yang merasa rendah diri atau minder…
Penerbit Deepublish sukses menyelenggarakan Webinar “Kupas Tuntas Karakteristik Jurnal Bereputasi untuk Meningkatkan Peluang Publikasi” pada…
Salah satu strategi untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi penulisan buku referensi adalah dengan berkolaborasi. Sehingga…