Keterampilan dosen dalam menulis buku ilmiah, tentunya tidak hanya perlu dikembangkan secara mandiri. Namun juga didukung pengembangannya oleh perguruan tinggi yang menaungi. Sehingga menyelenggarakan program penulisan buku dosen perlu dilakukan.
Melalui program penulisan inilah, para dosen bisa mengakses kegiatan pelatihan menulis buku. Kemudian mendapat dampingan, fasilitas, dan aspek lain sesuai kebutuhan. Sehingga produktivitas menulis buku bisa optimal, dan kualitas naskah juga tidak tertinggal. Lalu, bagaimana cara menyelenggarakannya? Berikut informasinya.
Program penulisan buku dosen adalah rangkaian kegiatan, pelatihan, pendampingan, dan aspek lain yang menunjang para dosen dalam mengasah keterampilan serta produktivitas menulis naskah buku ilmiah.
Sebagai sebuah program, maka rincian kegiatan di dalamnya juga lebih beragam. Bahkan bisa disebut komprehensif. Umumnya, mencakup kegiatan pelatihan menulis buku untuk optimasi keterampilan menulis para dosen.
Disusul dengan layanan pendampingan selama proses menulis, praktek menulis naskah dengan umpan balik dari pakar, pendampingan memilih penerbit, hingga pendampingan selama proses penerbitan naskah buku yang selesai disusun dosen.
Sehingga melalui program ini, dosen tidak hanya diberi pelatihan untuk meningkatkan keterampilan menulis buku. Namun juga didampingi dalam proses menulis hingga menghasilkan terbitan atau publikasi buku ilmiah.
Pelaksanaan program penulisan buku dosen biasanya dalam beberapa bentuk. Seperti workshop menulis buku ilmiah tertentu, misalnya workshop menulis buku ajar. Kemudian bisa dalam bentuk hibah penerbitan buku, pelatihan menulis buku hasil kerjasama dengan pihak eksternal seperti penerbit buku, dan sebagainya.
Melalui penjelasan tersebut, bisa dipahami bahwa dalam penyelenggaraan program penulisan buku membutuhkan sumber daya yang beragam. Sekaligus dalam jumlah tidak sedikit. Lalu, apa manfaat dari program ini? Secara umum, manfaat dirasakan oleh dosen sekaligus perguruan tinggi yang menaungi. Berikut penjelasannya:
Bagi dosen, program penulisan buku bisa menjadi sarana untuk mengasah keterampilan menulis. Bahkan secara gratis. Sehingga bisa membantu dosen menghemat biaya dibanding ikut pelatihan mandiri.
Keterampilan dalam menulis buku dan KTI jenis lainya, adalah keterampilan krusial bagi dosen. Sebab dalam tri dharma, setiap tugas pokok berkaitan erat dengan menghasilkan publikasi ilmiah. Maka pelatihan menulis sangat penting untuk diikuti rutin oleh dosen.
Dalam menulis naskah buku dan mengurus penerbitannya. Dosen sering sekali berhadapan dengan berbagai kendala dan permasalahan. Sehingga rentan naskah buku berhenti di tengah jalan, salah pilih penerbit, hingga naskah gagal diterbitkan.
Mencegah hal ini terjadi di kalangan dosen yang dinaungi. Maka dalam program penulisan buku dosen perlu mencakup layanan pendampingan. Sehingga dosen bisa didampingi ahlinya dalam menulis naskah dan menerbitkannya. Tujuannya agar ada bantuan profesional untuk mengatasi setiap kendala yang dihadapi dosen.
Pelatihan penulisan buku tentunya diharapkan bisa berdampak pada peningkatan kuantitas dan kualitas penerbitan buku. Melalui pelatihan ini, dosen semakin terampil menulis naskah buku ilmiah.
Sehingga bisa segera diselesaikan, kemudian semakin terampil pula dalam memilih penerbit buku. Dosen pun tidak menghadapi kendala berarti dalam proses penerbitan. Jika terus berkelanjutan, maka akan ada lebih banyak buku ilmiah sukses diterbitkan para dosen.
Manfaat selanjutnya, melalui pelatihan menulis buku berkelanjutan. Maka dosen semakin sering menulis dan menerbitkan buku. Sehingga ikut mendorong pemenuhan BKD. Dosen pun bisa menghindari sanksi akademik.
Disusul dengan engembangan karir akademik yang lebih optimal. Dosen bisa dengan mudah memenuhi AK Kumulatif. Sekaligus memenuhi syarat lain untuk mengajukan usulan kenaikan jabatan akademik.
Sejalan dengan hal tersebut, perguruan tinggi bisa lebih mudah meraih nilai akreditasi tinggi. Sebab semakin banyak dosen dengan jabatan akademik tinggi, khususnya Guru Besar. Maka lebih mudah memenuhi indikator SDM unggul dan berkualitas dalam penilaian akreditasi.
Memahami program penulisan buku dosen adalah program kompleks, komprehensif, dan perlu dijalankan berkelanjutan. Maka penyelenggaraannya tidak bisa asal-asalan. Dibutuhkan persiapan untuk menunjang kesiapan optimal agar pelaksanaannya lancar dan tujuan utama bisa dicapai.
Bagi pengelola perguruan tinggi yang berencana menyelenggarakan program penulisan buku. Maka berikut rincian tata caranya:
Tahap pertama yang perlu dilakukan perguruan tinggi adalah memetakan kondisi penulisan buku. Artinya, perguruan tinggi perlu melakukan pendataan pada kuantitas dan kualitas publikasi berbentuk buku ilmiah di semua fakultas atau program studi (prodi).
Sehingga bisa diketahui, fakultas dan prodi mana saja yang terbilang produktivitas tinggi, sedang, dan paling rendah. Kemudian melakukan analisis untuk mengidentifikasi faktor yang menyebabkan perbedaan produktivitas tersebut.
Hal ini bisa memberikan data, engenai kebijakan di fakultas dan prodi yang sukses memiliki produktivitas tinggi. Kemudian, kebijakan tersebut tidak ada di fakultas dan prodi lain dengan produktivitasnya lebih rendah.
Disusul dengan data yang menyebabkan produktivitas kurang optimal di sejumlah fakultas maupun prodi. Sehingga bisa mendata daftar faktor penyebab, kendala para dosen, dan kebutuhan para dosen agar bisa lebih produktif lagi.
Tahap kedua dalam pelaksanaan program penulisan buku dosen adalah menentukan tujuan program tersebut. Bisa juga dipahami sebagai tahap menentukan target yang akan dicapai.
Target ini harus jelas, realistis, dan tentunya terukur untuk memudahkan evaluasi. Misalnya ada target untuk meningkatkan keterampilan dosen menulis buku ilmiah. Hasilnya bisa dilihat dari semakin banyak naskah buku diterima penerbit, revisi skala kecil, dan indikator capaian lain yang relevan.
Target tersebut juga bisa dalam bentuk peningkatan kuantitas penerbitan buku di setiap fakultas dan prodi. Sehingga semakin tinggi jumlah penerbitan buku. Maka semakin menunjukan program berjalan baik dan sesuai tujuan awal.
Setiap perguruan tinggi bisa menetapkan target berbeda-beda, sebab menyesuaikan kondisi dan kebutuhan setiap dosen yang dinaungi. Sekaligus dengan mempertimbangkan aspek lain yang relevan. Pastikan target tersebut jelas, agar dosen juga memiliki pemahaman yang sama.
Begitu juga dengan mitra yang digandeng dalam pelaksanaan program penulisan buku dosen tersebut. Selain itu, harus realistis. Jangan berlebihan dan perfeksionis, pastikan menetapkan target yang lebih mudah dicapai sebagai tahap awal. Baru kemudian di periode program berikutnya dikembangkan lagi dan begitu seterusnya.
Dalam menyelenggarakan program penulisan buku dosen, seringkali ada keterbatasan sumberdaya dari perguruan tinggi. Selain dari SDM, sarana dan prasarana, juga dari minimnya pengalaman menyelenggarakan program pelatihan.
Oleh sebab itu, dalam kondisi ini sebaiknya tidak dijalankan mandiri. Melainkan menggandeng mitra yang terbuka dalam mendukung perguruan tinggi melaksanakan program pelatihan menulis.
Ada banyak penerbit maupun perusahaan di bidang dan bentuk lain yang bisa digandeng. Silahkan mencari yang potensial, memiliki visi misi sejalan, ada kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak, mendukung kegiatan yang relevan dengan kebutuhan perguruan tinggi, dan pertimbangan lainnya.
Baca juga: Penerbit Deepublish sebagai Mitra Publikasi Akademik untuk Dosen dan Perguruan Tinggi
Tahap keempat dalam persiapan penyelenggaraan program penulisan buku dosen adalah menyusun rencana kegiatan di dalam program tersebut. Program penulisan sebaiknya berisi kegiatan yang relevan atau tepat. Yakni sesuai kebutuhan para dosen.
Dalam program tersebut, tentunya tidak selalu cukup diisi dengan satu kegiatan. Bisa jadi perlu dikombinasikan untuk manfaat yang lebih nyata. Misalnya menyusun rencana kegiatan workshop menulis buku ajar, referensi, monograf, kemudian juga book chapter.
Dilanjutkan dengan pelatihan penerbitan naskah. Mencakup materi mengenai cara memilih penerbit, bagaimana menghadapi revisi dari editor penerbit, bagaimana mendapat pendanaan untuk proses penerbitan buku, dan seterusnya. Disusul dengan kegiatan pendampingan selama proses menulis naskah hingga penerbitan.
Tahap selanjutnya adalah menyusun timeline atau jadwal seluruh daftar kegiatan yang sudah ditentukan sebelumnya. Kemudian menyusun jadwal untuk kegiatan lanjutan di periode berikutnya.
Sebab program penulisan buku dosen tidak bisa hanya sekali waktu. Dosen juga butuh pelatihan berkelanjutan. Selain itu, perguruan tinggi juga akan merekrut dosen pemula. Sehingga mereka perlu segera ikut pelatihan untuk menunjang pelaksanaan tri dharma, khususnya dengan luaran berupa penerbitan buku ilmiah.
Baca juga: Mengenal Mentor dan Pendampingan Menulis Buku, Mana dan Kapan Dosen Membutuhkannya?
Tahap berikutnya adalah menyiapkan sistem atau teknik untuk membantu memantau jalannya program. Disusul dengan teknik untuk memantau progres naskah buku yang disusun dosen pasca mengikuti kegiatan pelatihan, workshop, dan sebagainya di dalam program penulisan buku dosen.
Sistem pemantauan ini penting untuk melakukan pendataan mengenai efektivitas program, kendala, dan faktor yang membuat target capaian belum bisa diraih. Begitu juga dengan dampak program pada produktivitas dosen menulis naskah buku. Pemantauan juga memberi motivasi dosen untuk lebih konsisten menulis.
Sistem pemantauan tidak harus dibuat canggih dan kompleks. Bisa dimulai dengan sistem pemantauan atau monitoring dan evaluasi sederhana. Misalnya form yang diisi oleh setiap dosen, pimpinan fakultas, kepala prodi, dan pihak berwenang. Kemudian dimasukan di dalam tabel pendataan di Ms Excel.
Dalam menerbitkan naskah yang sudah diselesaikan para dosen. Ada baiknya perguruan tinggi juga menjalin kerjasama dengan pihak eksternal. Yakni bekerjasama dengan perusahaan penerbit buku ilmiah.
Sehingga naskah buku yang disusun dosen bisa segera dikirim. Sekaligus menjadi skala prioritas penerbit tersebut. Hal ini penting untuk membantu penerbitan yang lebih efisien. Sehingga dosen bisa segera fokus ke naskah buku berikutnya dan menjalankan tri dharma seperti biasanya.
Menyelenggarakan program penulisan buku dosen, sekali lagi butuh sumber daya dan persiapan yang baik. Oleh sebab itu, agar setiap perguruan tinggi bisa menyelenggarakannya perlu bekerjasama dengan berbagai pihak.
Sebagai rekomendasi, pengelola perguruan tinggi bisa mengakses program Kerjasama Institusi dari Penerbit Deepublish. Melalui program ini, perguruan tinggi bisa menjalin kerjasama dalam pelaksanaan program penulisan buku bersama Deepublish.
Sehingga bisa saling membantu, saling memberi akses fasilitas, dan kebutuhan sumber daya menjadi lebih memadai untuk dipenuhi. Penyelenggaran lebih lancar dan hasil yang ditargetkan perguruan tinggi bisa lebih mudah dicapai.
Anda yang tertarik mengakses Kerjasama Institusi dari Deepublish. Bisa mempelajari dulu skema kerjasama dan detail lainnya. Jadi, silahkan mengunjungi halaman Layanan Kerjasama Institusi B2I.
Program ini dapat membantu dosen meningkatkan keterampilan menulis, memperoleh pendampingan dalam proses penulisan dan penerbitan, serta meningkatkan produktivitas penerbitan buku ilmiah.
Program penulisan buku dapat mendukung produktivitas publikasi dosen, pemenuhan BKD, pengembangan karier akademik, serta membantu perguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas SDM untuk mendukung akreditasi.
Langkah awalnya adalah memetakan kondisi penulisan buku di setiap fakultas atau prodi, termasuk kuantitas publikasi, kualitas karya, kendala dosen, dan kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas.
Target yang jelas dan terukur memudahkan perguruan tinggi mengevaluasi keberhasilan program, misalnya melalui peningkatan jumlah naskah yang diterima penerbit, kualitas naskah, atau jumlah buku yang diterbitkan.
Referensi:
Ebook ajar untuk blended learning menjadi salah satu bahan ajar yang ideal digunakan. Sebab, bisa…
Jika diperhatikan, nyaris semua penerbit menyediakan panduan kirim naskah buku ke penerbit yang bersangkutan. Hal…
Dosen di Indonesia, tentunya sangat familiar dengan buku ajar. Buku ajar menjadi salah satu jenis…
Penulisan naskah buku ajar berhenti di tengah jalan, mungkin menjadi hal yang familiar bagi dosen.…
Hasil atau temuan dari kegiatan penelitian dosen, diketahui wajib untuk disebarluaskan. Salah satunya melalui publikasi…
Dalam kegiatan penerbitan buku, kegiatan tersebut tidak berhenti saat buku resmi terbit dan bisa diakses…