Dosen di Indonesia, tentunya sangat familiar dengan buku ajar. Buku ajar menjadi salah satu jenis buku ilmiah yang memang umum disusun oleh dosen. Hanya saja, dosen perlu memahami juga kapan waktu menyusun buku ajar yang terbilang tepat.
Sebab, tidak hanya buku ajar yang perlu ditulis dan diterbitkan oleh dosen. Selain itu, masih banyak dosen yang belum rutin menerbitkan buku ajar. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kesibukan akademik hingga kendala dalam penulisan buku ajar. Berikut informasinya.
Kapan Sebaiknya Dosen Mulai Menulis Buku Ajar?
Memiliki tujuan menulis buku ajar, menjadi motivasi terbaik. Sebab dengan tujuan yang jelas inilah, dosen bisa lebih mudah melewati seluruh tahap menulis buku ajar. Sehingga tidak bingung harus mulai darimana, harus mengonversi bahan ajar mana, dan sebagainya.
Setiap dosen memiliki kondisinya sendiri-sendiri. Namun, perlu mengenal berbagai waktu menyusun buku ajar yang terbaik. Diantaranya adalah:
1. Belum Pernah Menerbitkan Buku Ajar
Waktu terbaik pertama, adalah untuk dosen yang belum pernah menerbitkan buku ajar. Sesuai ketentuan, dosen memang bisa mengembangkan berbagai jenis bahan ajar. Bukan hanya dalam bentuk buku ajar.
Misalnya mengembangkan bahan ajar dalam bentuk modul pembelajaran, video edukasi, animasi yang berisi penjelasan materi sesuai RPS, podcast edukasi, dan lain sebagainya.
Namun, bahan ajar tersebut sifatnya lokal. Artinya, hanya bisa dibaca dan dijadikan pegangan mahasiswa yang diampu dosen di perguruan tinggi. Sehingga perlu menerbitkan buku ajar agar bahan ajar yang disusun bisa diakses mahasiswa perguruan tinggi lain. Manfaatnya bisa lebih luas dan tanpa batas.
2. Ingin Memperluas Jangkauan Pembaca
Sesuai penjelasan sebelumnya, buku ajar menjadi salah satu bahan ajar yang wajib diterbitkan oleh dosen. Bahkan sesuai ketentuan, wajib terbit dengan ISBN yang membuatnya bisa didistribusikan ke seluruh wilayah Indonesia.
Standar ini memungkinkan buku ajar yang ditulis dosen tidak hanya dibaca mahasiswa yang diampu. Akan tetapi mahasiswa lain dari perguruan tinggi lain dan diampu dosen lain. Keberadaan buku ajar membantu mereka mengikuti perkuliahan dan mematangkan pemahaman materi. Sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai.
Baca juga: Cara Menentukan Target Pembaca Sebelum Menulis Buku Akademik agar Isi Lebih Tepat
3. Ingin Mendukung Kelancaran Pembelajaran di Pendidikan Tinggi
Belum semua dosen bisa produktif menulis buku ajar. Sebab banyak yang menyusun bahan ajar lain karena dipandang praktis. Misalnya menyusun modul pembelajaran. Dosen cukup menyusun berdasarkan RPS dan dicetak, lalu dibagikan ke mahasiswa.
Bisa juga dibuat dalam format digital, sehingga selesai disusun dikirim ke mahasiswa melalui email atau kontak WhatsApp. Berbeda dengan buku ajar yang wajib diterbitkan. Sehingga ada proses pemilihan penerbit, masuk tahap editorial, revisi, dan seterusnya.
Namun, dibalik proses panjang dan kerumitan tersebut. Buku ajar yang disusun dosen bisa mendukung kegiatan pembelajaran di perguruan tinggi lain. Sekaligus bermanfaat bagi lebih banyak mahasiswa. Sehingga ikut mendorong pemerataan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia.
4. Memenuhi Ketentuan Proporsi dalam BKD
Waktu menyusun buku ajar berikutnya adalah ketika perlu memenuhi ketentuan proporsi maupun target BKD. Dalam BKD, dosen ada target kinerja minimal 12 SKS per semester.
Diikuti ketentuan proporsi sebesar 9 SKS dari tugas pendidikan dan penelitian. Menulis buku ajar bisa dilakukan untuk memenuhi target proporsi 9 SKS tersebut. Maupun untuk memenuhi target 12 SKS. Sebab per buku ajar punya bobot 5 SKS.
5. Dalam Masa Mempersiapkan Kenaikan Jabatan Akademik
Menulis buku ajar juga bisa dilakukan untuk kebutuhan persiapan pengembangan karir akademik. Sebab menjadi salah satu sumber poin angka kredit. Yakni masuk dalam penilaian AK Konversi. Semakin rutin menerbitkan buku ajar, semakin cepat AK Kumulatif menuju jenjang berikutnya bisa dipenuhi.
Teknik Menulis Buku Ajar dalam 3 Kondisi Secara Efektif
Setelah memahami pilihan waktu menyusun buku ajar yang tepat. Maka penting juga untuk memahami berbagai kondisi yang menentukan teknik penulisan naskahnya. Setiap dosen memiliki kondisi berbeda-beda dan akan menentukan penulisan buku ajar dimulai dari mana.
Sekaligus mempengaruhi durasi penulisannya butuh waktu berapa lama. Berikut adalah penjelasan rincinya:
1. Kondisi Naskah 1: Menulis dari Nol
Kondisi yang pertama, dosen masih belum memulai penulisan naskah buku ajar. Namun sudah memiliki RPS, dan belum mengembangkan bahan ajar jenis apapun. Baik itu modul, buku pedoman perkuliahan, dll.
Dalam kondisi ini, dosen bisa menyusun naskah buku ajar dengan mengacu pada RPS dan dimulai dari halaman pertama dan bab pertama. Estimasi waktu penulisan naskah berkisar antara 6-12 bulan, tergantung pada banyak faktor.
Misalnya dengan kesibukan akademik dosen, akses referensi untuk pengembangan materi, dan lain sebagainya. Dosen yang mengalami kesulitan bisa mengakses layanan konsultasi menulis, sharing dengan dosen lebih senior, hingga mengikuti pelatihan penulisan buku ajar. Sehingga naskah bisa segera diselesaikan.
Baca juga: Panduan Menulis Buku Ajar sesuai Format dan Disajikan dengan Prinsip Pedagogis
2. Kondisi Naskah 2: Sudah Memiliki Bahan Ajar untuk Dikonversi
Kondisi kedua, dosen tidak hanya memiliki RPS. Akan tetapi juga memiliki bahan ajar. Baik itu dalam bentuk modul, maupun slide presentasi untuk memaparkan materi perkuliahan di kelas.
Dalam kondisi ini, dosen dianjurkan untuk melakukan konversi. Misalnya mengubah modul pembelajaran menjadi naskah buku ajar. Sehingga selain mengandalkan RPS, juga lebih mudah mengembangkan naskah dengan mengacu penjelasan di dalam modul tersebut.
Konversi menjadi buku ajar memberi efisiensi dalam proses pengerjaan. Estimasi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan naskah antara 3-6 bulan. Durasi lebih singkat karena sudah ada RPS dan sudah ada penjabaran sedikit dari bahan ajar yang akan dikonversi.
3. Kondisi Naskah 3: Merevisi atau Memperbaharui Buku Ajar Lama
Kondisi ketiga, dosen tidak menulis naskah buku ajar dari nol. Tidak juga berencana melakukan konversi bahan ajar lain menjadi naskah buku ajar. Akan tetapi melakukan pembaharuan data dari buku ajar lama ke naskah buku ajar baru.
Pembaharuan ini lebih sederhana, karena hanya perlu mengubah data lama ke data baru. Perubahan seperti ini pun menjadi hal lumrah. Sebab kegiatan penelitian rutin dilakukan. Temuan yang didapatkan akan mempengaruhi materi perkuliahan.
Pembaharuan bahan ajar, termasuk dalam bentuk buku ajar tentunya penting untuk dilakukan. Pada kondisi ini, estimasi waktu menyusun buku ajar relatif lebih singkat. Berkisar antara 1-2 bulan saja.
Tidak Ada Aturan Baku, tapi Ada Pola yang Bisa Diikuti
Dalam waktu menyusun buku ajar, kemudian bagaimana teknik yang ideal diterapkan. Secara umum tidak ada ketentuan baku dalam dua aspek ini. Dosen bisa leluasa menentukan kapan perlu menyusun buku ajar. Sekaligus menentukan teknik penulisan mana yang dirasa ideal, sesuai kondisi yang dihadapi.
Buku ajar nantinya akan menjadi pegangan mahasiswa. Sehingga memudahkan mereka memahami materi perkuliahan. Hal ini menunjukan arti penting keberadaan buku ajar bagi mahasiswa, agar mutu proses dan hasil pembelajaran yang diikuti lebih optimal.
Jadi, para dosen perlu meningkatkan motivasi untuk menyusun dan menerbitkan buku ajar. Sharing dengan rekan sejawat, aktif mengikuti pelatihan, hingga mengakses layanan konsultasi menulis dari pihak profesional bisa sangat membantu. Sehingga tidak lagi bertanya-tanya kapan waktu menyusun buku ajar yang tepat. Dosen bisa mulai segera.
FAQ (Frequently Asked Questions)
Ya. Jika selama ini dosen hanya memiliki bahan ajar seperti modul, video edukasi, atau bahan pembelajaran lainnya, buku ajar dapat dikembangkan agar materi tersebut memiliki jangkauan pembaca yang lebih luas.
Tidak ada satu waktu yang berlaku untuk semua dosen. Buku ajar dapat mulai disusun ketika dosen belum pernah menerbitkan buku ajar, ingin memperluas jangkauan pembaca, mendukung pembelajaran, memenuhi target BKD, atau mempersiapkan kenaikan jabatan akademik.
Artikel memperkirakan penulisan dari nol membutuhkan sekitar 6–12 bulan, tergantung kesibukan akademik, akses referensi, dan faktor lainnya.
Dosen dapat berdiskusi dengan rekan sejawat, mengikuti pelatihan penulisan buku ajar, atau mengakses layanan konsultasi menulis untuk membantu menentukan langkah dan menyelesaikan naskah.
Referensi:
- Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. (2025). Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 63/M/KEP/2025 Tentang Petunjuk Teknis Layanan Pembinaan dan Pengembangan Profesi dan Karier Dosen. https://lldikti4.kemdiktisaintek.go.id/wp-content/uploads/2025/03/Salinan-Kepmendiktisaintek-Nomor-63_M_KEP_2025-1-compressed-1.pdf
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2021). Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 12/E/KPT/2021 Tentang Pedoman Operasional Beban Kerja Dosen. https://lldikti6.id/wp-content/uploads/2022/02/Salinan-Kepdirjendikti-tentang-PO-BKD_compressed.pdf
- Afton, Z. (2026). Berapa Lama Menyusun Buku Ajar dari Materi Kuliah? Diakses pada 23 Oktober 2026 dari https://penerbitkbm.com/berapa-lama-menyusun-buku-ajar-dari-materi-kuliah/
- Mengapa Dosen Perlu Menulis Buku? (n.d). Universitas Prasetiya Mulya. Diakses pada 23 Oktober 2026 dari https://www.prasetiyamulya.ac.id/office/publishing/mengapa-dosen-perlu-menulis-buku/








