Mengubah Laporan PkM Menjadi Buku Ber-ISBN: Optimasi Capaian Luaran dan Kinerja Akademik Dosen

Mengubah Laporan PkM Menjadi Buku Ber ISBN Optimasi Capaian Luaran dan Kinerja Akademik Dosen

Menyusun laporan PkM menjadi buku, tentunya menjadi langkah yang perlu dipertimbangkan oleh para dosen. Tujuannya agar hasil kegiatan PkM (Pengabdian kepada Masyarakat) tersebut bisa diakses dan dimanfaatkan masyarakat luas. 

Kegiatan dan hasil PkM yang diterbitkan menjadi buku juga bisa menginspirasi dan memotivasi dosen lain. Mulai dari menentukan kegiatan PkM hingga optimasi capaian luaran dalam PkM tersebut. Lalu, seperti apa tata cara mengonversi laporan PkM menjadi buku? Berikut informasinya. 

Manfaat Menulis dan Menerbitkan Buku PkM 

Secara umum, luaran kegiatan PkM bisa dalam bentuk karya tulis ilmiah (KTI). Baik dengan ketentuan perlu dipublikasikan oleh dosen pelaksana PkM. Misalnya publikasi di jurnal PkM dan menerbitkan buku referensi atau monograf. Maupun tidak dipublikasikan, misalnya laporan PkM. 

Memahami bahwa penerbitan buku berisi kegiatan PkM tidak bisa diklaim di laporan BKD (LKD). Lalu, apa manfaat yang didapatkan dosen ketika bersusah payah mengubah laporan PkM menjadi buku? Berikut beberapa diantaranya: 

1. Menyebarluaskan Hasil Kegiatan PkM 

Kegiatan PkM tentunya jangan sampai hanya berakhir sebagai laporan PkM. Sebab hanya akan dibaca rekan sesama dosen dan mahasiswa di satu naungan perguruan tinggi. 

Selain itu, jangan hanya diterbitkan ke jurnal karena akan dibaca oleh masyarakat ilmiah saja. Padahal masyarakat awam bisa jadi juga membutuhkannya untuk menambah pengetahuan dan wawasan. Maka penting untuk disebarluaskan dalam bentuk buku juga. 

2. Menyediakan Referensi dan Pegangan Pembelajaran  

Buku ilmiah yang disusun dosen, baik dari hasil penelitian maupun PkM bisa menjadi referensi kredibel. Sehingga membantu dosen lain, mahasiswa, dan peneliti mendapatkan referensi yang relevan dengan kebutuhan. Sekaligus terbitan terkini. 

Jadi, hasil kegiatan PkM sebaiknya dioptimalkan menjadi buku ilmiah. Sehingga bisa menyediakan referensi kredibel bagi akademisi dan peneliti lain. Bagi mahasiswa, buku ini juga bisa dijadikan pegangan mengikuti perkuliahan. 

3. Meningkatkan Portofolio Publikasi Ilmiah Dosen 

Manfaat ketiga, mengubah laporan pkM menjadi buku membantu dosen membangun portofolio publikasi ilmiah yang lebih optimal. Sebab bisa menjadi rekam jejak publikasi berbentuk buku. Jadi, dosen tidak hanya menerbitkan buku hasil pengembangan bahan ajar dan penelitian. Akan tetapi juga PkM. 

4. Menunjang Reputasi Akademik Dosen 

Menerbitkan buku ilmiah, termasuk hasil konversi laporan PkM bisa menguatkan reputasi dosen. Sebab menjadi bagian dari membangun identitas sebagai dosen profesional. Sekaligus ahli di suatu bidang keilmuan. Sehingga rutin menerbitkan buku bisa membantu dosen memiliki reputasi akademik yang kuat. 

5. Mengasah Keterampilan Menulis Buku 

Konversi laporan kegiatan PkM menjadi buku ilmiah juga butuh keterampilan menulis. Semakin sering melakukan konversi tersebut, semakin terasah keterampilan dosen dalam menulis. Sehingga dosen bisa lebih produktif menghasilkan karya tulis. Baik terbit di prosiding, jurnal, buku, maupun media massa. 

6. Mendorong Kegiatan Tri Dharma para Dosen 

Menerbitkan buku ilmiah hasil konversi laporan PkM juga bisa menjadi motivasi dan inspirasi rekan sejawat. Karya tersebut akan menggugah minat dosen lain melakukan hal serupa. Sehingga bisa mendorong mereka lebih giat menjalankan tri dharma dan mengoptimalkan capaian luaran. 

7. Memberikan Sumber Passive Income 

Manfaat lainnya, tentu saja dari potensi passive income. Menerbitkan buku menjadi bentuk publikasi ilmiah yang memberi penghasilan tambahan bagi dosen. Yaitu melalui royalti. Jadi, semakin rutin dilakukan, semakin rutin pula menerima royalti. Seranjang buku masih terjual, selama itu pula royalti diterima. 

Tahapan Mengembangkan Laporan PkM Menjadi Naskah Buku

Berbagai manfaat mengubah laporan PkM menjadi buku. Tentuya memberi motivasi bagi para dosen untuk menerapkannya langsung. Namun, bagaimana alur prosesnya? Berikut detail langkah-langkahnya: 

1. Menyesuaikan Struktur Laporan PkM Menjadi Struktur Buku 

Tahap awal untuk mengubah laporan kegiatan PkM menjadi naskah buku adalah melakukan penyesuaian struktur. Pada tahap pertama ini, dosen perlu menganalisis persamaan dan perbedaan struktur laporan PkM dengan struktur buku. 

Kemudian, pahami juga perbedaan dan persamaan isi di beberapa bagian utama dan wajib ada. Selanjutnya, menentukan bagian mana saja dari laporan PkM yang dipertahankan dan masuk ke naskah buku. Sekaligus yang sebaliknya. 

Sebab dalam proses konversi ini, ada beberapa bagian dari laporan yang perlu dihapus. Misalnya bagian halaman pengesahan, lembar persetujuan, surat tugas, dan sejenisnya. 

Kemudian, bagian tertentu juga dipertahankan. Misalnya pendahuluan, hasil PkM dan pembahasan, dan sebagainya. Hanya saja memang perlu ada penyesuaian judul bab dan judul subbab maupun turunannya. Sehingga sesuai dengan standar judul pada buku. 

2. Menyusun Kerangka Tulisan 

Tahap kedua setelah proses penyesuaian struktr adalah menyusun kerangka tulisan. Laporan PkM mungkin bisa disusun dosen tanpa kerangka. Sebab termasuk jenis KTI dengan jumlah halaman terbatas, rata-rata di belasan lembar saja. 

Namun, lain soal dengan naskah buku ilmiah. Sesuai standar, untuk terbit ber-ISBN minimal ada 60 halaman. Sedangkan sesuai ketentuan Kemdiktisaintek, untuk buku referensi dan monograf minimal di 125 halaman. 

Jumlah halaman yang besar menuntut dosen mengembangkan setiap bab secara optimal. Sehingga menunjang agar tetap fokus pada topik dan pembahasan bsa mendalam, kerangka tulisan perlu disusun. 

3. Proses Menulis Buku Hasil Konversi Laporan PkM 

Tahap ketiga dalam mengubah laporan PkM menjadi buku adalah proses menulis naskah itu sendiri. Kerangka tulisan yang disusun sebelumnya bisa dikembangkan dosen secara sistematis. 

Mulai dulu menulis bab pertama dan subbab turunanya. Setelah selesai, baru beralih ke bab kedua, bab ketiga, dan seterusnya sampai bab terakhir. Penyusunan menyesuaikan kerangka memastikan berjalan sistematis dan terencana. 

Sebelum menulis, dosen paham betul akan membahas tentang apa. Sehingga bisa menyiapkan referensi hingga ilustrasi yang dibutuhkan. Selain itu, mengembangkan laporan kegiatan PkM menjadi buku juga lebih terfokus berkat kerangka tersebut. Sehingga tidak membahas topik yang kurang penting dan tidak ada relevansinya. 

4. Mengubah Judul 

Tahap keempat dari proses konversi laporan PkM menjadi buku adalah mengubah judul. Bisa juga disebut menyesuaikan judul. Sehingga tidak ada perubahan terlalu besar antara judul laporan PkM dengan judul buku hasil konversi. 

Sebab dosen mempertahankan beberapa kata maupun frasa. Namun, bisa juga sebaliknya jika dirasa perlu merubah total judulnya agar sesuai standar judul buku. Judul pada buku cenderung lebih menarik dan atraktif. Sebaliknya, judul laporan PkM cenderung kaku atau bisa juga disebut monoton. 

Dalam mengubah judul, dosen bisa memposisikan diri sebagai pembaca. Judul buku ilmiah yang seperti apa agar masyarakat tertarik membacanya? Menggunakan kata dan frasa yang unik dan menarik bisa dilakukan. Namun, pastikan judul tersebut tetap mempresentasikan isi buku dengan benar. Bukan clickbait. 

5. Tahap Editing dan Penyuntingan

Setelah mengembangkan kerangka selesai dilakukan. Tahap berikutnya dalam konversi laporan PkM menjadi buku adalah editing dan penyuntingan. Apa yang ditulis di dalam naskah, tentunya akan ada kesalahan. Baik kesalahan teknis penulisan, tata bahasa, ejaan, dll. 

Jadi, setelah selesai menulis buku sampai bab terakhir. Sebaiknya tidak langsung dikirim ke penerbit. Namun diperiksa dulu. Yakni dibaca ulang, jika menjumpai kesalahan bisa dikoreksi. Selanjutnya merapikan naskah agar lebih enak dilihat dan nyaman dibaca. 

Editing dan penyuntingan mandiri bisa meningkatkan mutu naskah hasil konversi. Sehingga bisa memperbesar peluang diterima editor buku pada penerbit yang dituju. Kemudian, sekalipun ada revisi besar kemungkinan revisi skala kecil. 

6. Proses Penerbitan 

Tahap akhir adalah menerbitkan naskah buku hasil konversi laporan PkM. Pertama, dosen perlu memilih penerbit yang tepat. Selain kredibel, juga harus berpengalaman menerbitkan buku ilmiah. Tujuannya agar terbit sesuai standar Kemdiktisaintek. 

Meskipun buku referensi dan monograf hasil konversi laporan PkM tidak bisa diklaim ke BKD. Namun, memastikan terbit sesuai standar penerbitan buku ilmiah sangat penting. Sehingga bisa terlihat tetap profesional dan layak dijadikan referensi oleh rekan sesama dosen, mahasiswa, dan peneliti. 

Setelah menentukan penerbit yang akan dituju, pahami ketentuan pengiriman naskahnya. Jika sudah dikirim, maka ikuti proses penerbitan yang berjalan. Misalnya saat ada revisi, segera dikerjakan jangan ditunda agar cepat terbit. 

Baca juga: Mengubah Karya Ilmiah Menjadi Buku di Deepublish, Tertarik?

Tips Mengembangkan Luaran PkM dalam Bentuk Penerbitan Buku Ilmiah 

Dalam mengubah laporan PkM menjadi buku, tentunya para dosen akan menghadapi banyak kendala. Menulis buku tidak mudah, saat mengonversi KTI nonbuku menjadi buku pun tidak bisa dikatakan mudah. 

Namun, untuk menunjang proses konversi laporan PkM menjadi buku berjalan lancar. Para dosen bisa menerapkan beberapa tips di bawah ini: 

1. Memiliki Tujuan Jelas dan Spesifik 

Dalam konversi laporan kegiatan PkM menjadi buku, dosen tentunya akan menghadapi banyak kendala. Kendala dan tantangan ini bisa saja membuat dosen menyerah. Mencegahnya, dari awal perlu menetapkan tujuan yang jelas dan spesifik. 

Misalnya ingin hasil kegiatan PkM terbit ke seluruh wilayah Indonesia. Bisa juga tujuan lainnya. Adanya tujuan membuat semangat menulis stabil dan kendala yang menghadang bisa diatasi. 

2. Mengasah Keterampilan Menulis 

Tips kedua, dosen perlu rutin mengasah keterampilan menulis. Semakin terampil, semakin memudahkan dosen mengonversi laporan PkM menjadi naskah buku siap terbit. Keterampilan ini bisa diasah melalui pelatihan rutin. 

Sekaligus menulis secara konsisten dan membangun budaya membaca. Jadi, silahkan mulai aktif mengikuti pelatihan. Kemudian aktif juga menulis dan membaca berbagai jenis tulisan dan topik yang disukai. 

3. Konversi Berdasarkan Kerangka 

Tips ketiga, setiap kali melakukan konversi KTI. Termasuk ada laporan PkM, pastikan menyusun kerangka tulisan. Kerangka tulisan membantu meningkatkan efisiensi penulisan. Sehingga naskah cepat selesai karena terarah dan penulisan lebih sistematis. 

4. Pahami Strategi Penyesuaian Substansi Naskah 

Tips keempat, pastikan untuk memahami betul strategi dalam mengubah laporan PkM menjadi buku. Khususnya secara substansi. Sesuai penjelasan sebelumnya, dosen perlu memahami bagian apa saja pada laporan yang perlu dipertahankan dan sebaliknya. 

Sehingga dari awal bisa diketahui mana saja yang akan dikembangkan menjadi bab-bab dalam naskah buku. Hal ini bisa memberi efisiensi dalam proses konversi, sekaligus menghindari kesulitan dan pembahasan atau isi naskah sama seperti laporan PkM. 

5. Gunakan Jasa Profesional Jika Diperlukan

Dosen tentu memiliki kesibukan akademik yang padat. Maka ada kalanya tidak memiliki waktu yang memadai untuk melakukan konversi sendiri. Dalam kondisi ini, jangan ragu meminta bantuan jasa profesional. Gunakan jasa konversi laporan PkM menjadi naskah buku siap terbit. 

Melalui beberapa tips tersebut, maka bisa menunjang kelancaran mengubah laporan PkM menjadi buku. Baik diubah menjadi buku referensi maupun monograf. Dosen pun bisa meningkatkan produktivitas publikasi ilmiah dan menguatkan reputasi akademik, baik sebagai dosen hingga kepakarannya di bidang apa. 

Baca juga: Jasa Parafrase Online dan Konversi KTI Murah

FAQ (Frequently Asked Question)

1. Mengapa laporan PkM perlu dikembangkan menjadi buku?

Laporan PkM yang dikembangkan menjadi buku dapat memperluas penyebaran hasil pengabdian, menyediakan referensi bagi akademisi dan mahasiswa, meningkatkan portofolio publikasi, serta memperkuat reputasi akademik dosen.

2. Bagaimana cara mengubah laporan PkM menjadi buku ilmiah?

Mengubah laporan PkM menjadi buku dilakukan dengan menyesuaikan struktur laporan ke format buku, menyusun kerangka tulisan, mengembangkan isi, menyesuaikan judul, melakukan editing, lalu menerbitkannya melalui penerbit yang kredibel.

3. Apa kendala dosen saat mengubah laporan PkM menjadi buku?

Beberapa kendala yang sering muncul adalah keterbatasan waktu, kesulitan mengembangkan laporan menjadi pembahasan yang lebih luas, kurang memahami struktur buku, serta belum terbiasa melakukan konversi KTI menjadi buku ilmiah.

Referensi:

  1. Rubrik BKD 2021. (2021). Universitas Brawijaya. https://serdos.ub.ac.id/wp-content/uploads/2021/07/Rubrik-BKD-2021.pdf
  2. Standar Luaran Pengabdian Kepada Masyarakat. (2024). Universitas Esa Unggul. https://kpm.esaunggul.ac.id/wp-content/uploads/2025/08/9-Standar-Luaran-Abdimas.pdf
  3. Pengabdian kepada Masyarakat. (n.d). Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. https://magisterdikdas.ustjogja.ac.id/pengabdian-kepada-masyarakat/
  4. Nisa, K. (2026). Tata Cara Mengubah Hasil Pengabdian Masyarakat Menjadi Buku Ilmiah.  Diakses pada 3 Agustus 2026 dari https://penerbitdeepublish.com/publikasi-buku/mengubah-hasil-pengabdian-masyarakat-menjadi-buku-ilmiah/
  5. Tips Konversi KTI Menjadi Buku Referensi/Book Chapter. (n.d). Akademi Merdeka. Diakses pada 3 Agustus 2026 dari https://akademimerdeka.com/blog/tips-konversi-kti-menjadi-buku-referensi-book-chapter
  6. Tips Konversi KTI Menjadi Buku Ilmiah Populer. (2023). Mitkom Indotama. Diakses pada 3 Agustus 2026 dari https://mitkomindotama.com/blog/tips-konversi-kti-menjadi-buku-ilmiah-populer-1675618721

Rekomendasi Artikel Lainnya