Promo Terbatas Ditutup Sewaktu-waktu

Hari
Jam
Menit
Detik

Penulisan Naskah Buku Ajar Berhenti di Tengah Jalan, Berikut Penyebab dan Solusinya 

Penulisan naskah buku ajar berhenti di tengah jalan, mungkin menjadi hal yang familiar bagi dosen. Menulis buku bagi kalangan dosen adalah sebuah proses panjang. Dalam proses tersebut, ada banyak sumber daya dibutuhkan. Kadang berhenti di tengah jalan. 

Hal ini tentu perlu menjadi perhatian. Sebab menulis dan menerbitkan buku ajar secara kontinyu sangatlah penting. Terlebih, buku ajar bisa mendukung keberhasilan pembelajaran. Sebab menjadi pegangan mahasiswa selama mengikuti perkuliahan. Jadi, bagaimana solusinya? Berikut informasinya. 

Penyebab Proses Penulisan Naskah Buku Ajar Berhenti

Buku ajar adalah karya tulis ilmiah (KTI) dalam bentuk buku yang berisi kumpulan materi perkuliahan berdasarkan RPS (Rencana Pembelajaran Semester). Buku ajar disusun dosen sesuai dengan RPS mata kuliah yang telah disusun. Kemudian ditujukan untuk mahasiswa. 

Sesuai standar, buku ajar tersebut juga harus memenuhi jumlah halaman minimal. Supaya bisa terbit dengan ISBN, minimal terdiri dari 49 halaman. Pada beberapa penerbit buku, ada permintaan untuk melebihkan batas minimal 49 halaman tersebut. 

Lalu, kenapa penulisan buku ajar berhenti di tengah jalan? Hal ini tidak terlepas dari beberapa faktor penyebab. Seperti: 

1. Waktu untuk Menulis Buku Lebih Terbatas 

Menulis buku ajar membutuhkan konsistensi. Sayangnya, nyaris semua dosen di Indonesia kesulitan meluangkan waktu untuk konsistensi tersebut. Kesibukan akademik yang padat dan tingginya sumberdaya waktu untuk tugas pendidikan serta penelitian. 

Memperparah keterbatasan waktu dosen dalam menulis buku ajar dan buku ilmiah lainnya. Ditambah dengan beban administrasi yang tinggi. Selain itu, ada banyak dosen yang menerima tugas tambahan dan tentu memberikan PR tambahan agar bisa meluangkan waktu menulis buku ajar. 

2. Terbebani dengan Jumlah Halaman yang Tinggi 

Dosen di Indonesia secara umum menghasilkan publikasi ilmiah dalam 3 bentuk. Yaitu artikel pada prosiding, artikel pada jurnal, dan menerbitkan naskah buku ilmiah. Dalam 3 jenis publikasi ilmiah tersebut, jumlah halaman terbanyak ada pada menulis buku. 

Sesuai penjelasan sebelumnya, buku yang ditulis dosen baru diakui dalam BKD dan kenaikan jabatan akademik jika terbit ber-ISBN. Sekaligus memenuhi standar lain yang ditetapkan Kemdiktisaintek. Supaya terbit dengan ISBN, naskah buku minimal terdiri dari 49 halaman. 

Jumlah halaman ini tentu berkali-kali lipat lebih tinggi dibanding jumlah halaman artikel ilmiah, yang rata-rata ada di belasan halaman saja. Memenuhi standar jumlah halaman menjadi PR besar bagi dosen. 

Terlebih, buku ajar disusun berdasarkan RPS yang isinya kumpulan materi untuk rata-rata 16 kali pertemuan dalam kurun satu semester. Menjelaskan materi yang terbatas tentu akan meningkatkan kesulitan mengejar jumlah halaman minimal. Sehingga penulisan naskah buku ajar berhenti karena kesulitan tersebut. 

3. Pembahasan Harus Menarik dan Perlu Elemen Visual 

Target pembaca buku ajar yang disusun oleh dosen, adalah kalangan mahasiswa. Selain mempengaruhi gaya bahasa penulisan dibuat populer dan menarik. Juga ada kebutuhan untuk menambahkan elemen visual di dalamnya. 

Misalnya menambahkan grafik, tabel, ilustrasi, dan elemen visual lain. Sehingga beban mengembangkan naskah lebih tinggi. Sebab tidak hanya pemaparan materi dalam bentuk teks. Namun, perlu dilengkapi juga dengan elemen visual. 

Meski teknologi semakin canggih dan ada banyak platform AI bisa membantu membuat elemen visual. Tentunya tetap membutuhkan dosen untuk menggunakan platform AI tersebut. Hal ini tentunya butuh waktu, tenaga, dan sumberdaya lain yang dimiliki dosen. 

4. Terkendala Referensi 

Penulisan naskah buku ajar berhenti juga tidak selalu karena kesibukan akademik dosen yang super padat. Bisa juga karena faktor di luar sumber daya waktu tersebut. Salah satunya akses referensi. 

Pertama, referensi yang dibutuhkan bisa jadi sangat terbatas. Sebab memang ada beberapa topik pada suatu bidang keilmuan yang jarang diteliti. Sehingga publikasi ilmiah pada topik-topik tersebut masih sangat sedikit. 

Kedua, akses ke referensi yang sulit. Bisa karena kesulitan menemukan referensi di perpustakaan kampus, toko buku terdekat, toko buku daring, website jurnal, database jurnal seperti SINTA hingga Scopus, dan sebagainya. 

Selain itu, kesulitan akses ke referensi juga bisa karena kendala biaya. Sebab pada beberapa referensi terpublikasi dalam media close access. Sehingga harus berlangganan dan seringnya cukup mahal. Dosen bisa saja kesulitan untuk membayar biaya langganan tersebut tanpa bantuan perguruan tinggi. 

Baca juga: 10 Aplikasi untuk Mencari Referensi Buku Berkualitas

5. Editing di Tengah Proses Menulis 

Faktor berikutnya yang juga menjadi sebab kenapa penulisan naskah buku ajar berhenti adalah distraksi dari editing. Proses editing dan penyuntingan mandiri, emang masih menjadi bagian dari penulisan buku ajar. 

Hanya saja, kadang ada dosen yang buru-buru melakukan editing dan penyuntingan tersebut. Maksud hati, mungkin ingin meringankan beban editing di tahap akhir. Sebab harus membaca ulang naskah buku ajar yang berlembar-lembar. 

Namun, editing dan penyuntingan di tengah proses penulisan naskah bisa menjadi sumber distraksi. Dosen bisa kehilangan fokus untuk menulis, sehingga pengembangan naskah lebih lambat dari sebelumnya. Bahkan kehilangan fokus sama sekali. 

Selain itu, editing dan penyuntingan tersebut bisa membuat ide menghilang. Sehingga kesulitan untuk melanjutkan penulisan naskah. Inilah kenapa editing dan penyuntingan paling disarankan dilakukan di tahap pasca penulisan. Naskah buku wajib dipastikan sudah selesai, baru memulai tahap tersebut. Bukan sebaliknya. 

6. Menunggu Waktu dan Suasana Hati untuk Menulis 

Sebab berikutnya yang rentan membuat naskah buku ajar tidak diselesaikan adalah menunggu waktu dan suasana hati (mood) mendukung. Beberapa dosen, mungkin memasukan kegiatan menulis naskah buku ajar pada agenda harian. 

Namun, ada lebih banyak dosen yang tidak melakukan hal tersebut. Kemudian merasa nyaman dengan pilihan menunggu waktu luang. Kesibukan akademik, disusul beban administrasi akademik. Dijamin menyita waktu dan tenaga. 

Jika menunggu waktu luang, maka hanya akan ada sedikit. Bahkan nyaris tidak ada waktu luang sama sekali. Kondisi ini yang membuat kegiatan menulis sama sekali tidak bisa dilakukan. Naskah tidak ada progres sama sekali meski sudah beberapa bulan. 

Tak hanya itu, mood untuk menulis juga menjadi acuan. Padahal dengan tingginya kesibukan sebagai dosen. Suasana hati sulit dijaga tetap positif dan kondusif. Sehingga rentan memilih istirahat dibanding memanfaatkan waktu luang dengan menulis naskah buku ajar. 

7. Kehilangan Motivasi 

Penulisan naskah buku ajar berhenti, juga bisa karena dosen kehilangan motivasi. Misalnya, motivasi awal menulis buku ajar adalah untuk memenuhi target BKD. Sayangnya sampai jadwal BKD dirilis Kemdiktisaintek, naskah tidak selesai. Sehingga tidak bisa diklaim dalam LKD di SISTER. 

Hal ini bisa memberi dampak berkepanjangan, kehilangan motivasi untuk melanjutkan naskah. Sebab ada pemikiran, di jadwal BKD periode berikutnya belum tentu naskah sudah selesai. Dosen pun mempertimbangkan sumber SKS lain dan meninggalkan naskah buku ajar tersebut. 

Baca juga: Membangun Produktivitas Dosen Dalam Menulis

8. Perfeksionis 

Draft naskah buku ajar, mungkin masih ada kekurangan. Secara umum, hal ini normal. Hanya saja, pada beberapa dosen kekurangan tersebut bisa dipandang sebagai kecacatan sebab cenderung perfeksionis. 

Pandangan seperti ini bisa membuat naskah enggan dilanjutkan. Sebab merasa kecacatan sudah parah dan tidak bisa diperbaiki. Padahal di mata editor penerbit, rekan sejawat, dan pandangan orang lain. Belum tentu demikian. 

9. Takut Menghadapi Proses Panjang Penerbitan

Tidak hanya proses menulis buku ajar yang panjang dan berliku. Pada proses penerbitannya pun tidak kalah panjang dan tidak kalah berliku serta berkelok-kelok. Penerbitan buku ajar tidak hanya sampai di tahap mengirimkan naskah ke penerbit. 

Akan tetapi juga ada proses editorial yang kemudian menghasilkan beberapa kemungkinan. Mulai dari naskah diterima, tapi ada revisi. Sampai, kemungkinan naskah ditolak, sehingga menurunkan kepercayaan diri dosen untuk menerbitkannya. 

Proses panjang penerbitan yang juga menyita waktu maupun perhatian dosen, bisa dipandang sebagai beban kerja baru. Sehingga banyak dosen memilih tidak melanjutkan naskah saat ketakutan menghadapi penerbitan dialami. 

Kenapa Buku Ajar Penting Segera Diselesaikan, Bukan Terus Ditunda? 

Penulisan naskah buku ajar berhenti begitu saja, bisa karena terbiasa menunda. Bisa juga karena alasan lain, karena memang sesuai penjelasan sebelumnya ada banyak faktor yang mempengaruhi. 

Meskipun begitu, naskah buku ajar tetap harus diselesaikan. Kenapa? Alasannya cukup beragam. Pertama, buku ajar bagian dari kewajiban akademik dosen. Yakni dalam kewajiban mengembangkan bahan. Kewajiban ini harus bisa ditunaikan oleh dosen. 

Kedua, buku ajar menjadi pegangan mahasiswa mengikuti perkuliahan. Sehingga keberadaannya sangat penting sebagai penunjang kelancaran proses pembelajaran. Kemudian mempengaruhi kualitas hasil pembelajaran tersebut yang lebih optimal. 

Ketiga, buku ajar menjadi bahan ajar yang wajib diterbitkan dosen dengan ISBN. Sehingga akan terdistribusi secara luas, secara nasional ke seluruh wilayah Indonesia. Sehingga bisa mendukung peningkatan mutu pembelajaran di seluruh perguruan tinggi Indonesia. 

Keempat, buku ajar menjadi bagian dari bukti kompetensi dan kepakaran dosen. Sukses menerbitkan buku ajar, menunjukan dosen kompeten menjalankan tugas mengembangkan bahan ajar. 

Sukses menerbitkan buku ajar sesuai RPS mata kuliah yang diampu, menjadi bukti kepakaran dosen pada bidang keilmuan yang ditekuni. Sehingga bisa menguatkan reputasi akademik dosen tersebut. 

Selain beberapa alasan tersebut, masih banyak alasan lainnya. Salah satunya alasan untuk melanjutkan naskah buku ajar adalah untuk menghindari beban pikiran. mengerjakan sesuatu yang tidak pernah diselesaikan, harus diakui bisa menjadi beban pikiran. 

Hal ini  berlaku juga untuk menulis naskah buku ajar maupun buku ilmiah lainnya. Solusinya, adalah dengan diselesaikan. Diusahakan, bukan menunggu wangsit atau keberuntungan. Sebab naskah tersebut tidak mungkin selesai sendiri. Tidak mungkin juga diselesaikan dosen lain. 

Draf Buku Ajar Tidak Harus Sempurna untuk Mulai Dikonsultasikan

Salah satu alasan yang membuat penulisan naskah buku ajar berhenti adalah mengalami kendala di tengah proses tersebut. Misalnya kendala akses referensi, kendala meluangkan waktu, kesulitan memenuhi standar jumlah halaman minimal, dll. 

Kendala yang ditangani seorang diri oleh dosen, tentunya akan terasa lebih berat. Dosen juga akan merasa sendirian, tidak memiliki support system memadai. Oleh sebab itu, para dosen bisa mempertimbangkan untuk mengakses layanan pendampingan profesional. 

Misalnya dengan mengakses layanan konsultasi menulis dari penerbit maupun dari pihak lainnya. Sehingga mendapat pendamping yang membantu menemukan solusi atas kendala-kendala penulisan buku ajar. 

Konsultasi menulis pun bisa dilakukan kapan saja saat merasa ada kendala dalam melanjutkan naskah. Jadi, jangan menunggu sudah terampil menulis buku ajar. Jangan pula menunggu naskah buku ajar yang terhenti memiliki kesempurnaan. Akses layanan tersebut segera. Sehingga penulisan naskah buku ajar terhenti bisa dihindari. 

FAQ (Frequently Asked Questions)

1. Mengapa penulisan naskah buku ajar sering berhenti di tengah jalan?

Penulisan buku ajar dapat terhenti karena berbagai faktor, seperti keterbatasan waktu, kesulitan memenuhi jumlah halaman, kendala referensi, kehilangan motivasi, perfeksionisme, hingga kekhawatiran menghadapi proses penerbitan.

2. Apa penyebab dosen sulit meluangkan waktu untuk menulis buku ajar?

Kesibukan akademik, tugas pendidikan dan penelitian, beban administrasi, serta tugas tambahan dapat membuat dosen kesulitan menyediakan waktu secara konsisten untuk menulis buku ajar.

3. Apakah naskah buku ajar harus sempurna sebelum dikonsultasikan?

Tidak. Draf yang masih memiliki kekurangan tetap dapat dikonsultasikan. Artikel justru menyarankan dosen mengakses layanan konsultasi ketika mengalami kendala, tanpa harus menunggu naskah menjadi sempurna terlebih dahulu.

4. Bagaimana cara mengatasi naskah buku ajar yang terhenti?

Dosen dapat mengidentifikasi penyebab utama kendala, menjaga konsistensi menulis, tidak terlalu fokus pada kesempurnaan draf, dan mempertimbangkan konsultasi atau pendampingan profesional ketika mengalami kesulitan dalam melanjutkan naskah.

5. Kapan dosen sebaiknya menggunakan layanan konsultasi menulis?

Konsultasi dapat digunakan kapan saja ketika dosen mengalami kendala dalam melanjutkan naskah. Tidak perlu menunggu sampai naskah selesai atau sempurna untuk mendapatkan pendampingan.

Referensi:

  1. Ratri, C. (2025). Kenapa Banyak Orang Gagal Menulis Buku Pertamanya sampai Selesai? Diakses pada 22 Oktober 2026 dari https://www.carolinaratri.com/2025/06/gagal-menulis-buku.html
  2. Icha. (2019). Naskah Buku Tak Pernah Selesai, Mungkin 5 Ini Penyebabnya. Diakses pada 22 Oktober 2026 dari https://www.stilettobook.com/naskah-buku-tak-pernah-selesai/
  3. Trim, B. (2023). Mengapa Banyak Dosen Tidak Menulis Buku Teks Sendiri? Diakses pada 22 Oktober 2026 dari https://penulispro.id/blog/mengapa-banyak-dosen-tidak-menulis-buku-teks-sendiri/
  4. Penerbit Deepublish. [@penerbitbukudeepublish]. (2026, Sept 29). ​Coba ngaku… siapa di sini dosen yang naskahnya di laptop:…[Foto]. Instagram. https://www.instagram.com/p/Dd3frbRgWL3/ 

Rekomendasi Artikel Lainnya