Dalam tugas pengajaran, dosen di Indonesia memiliki kewajiban mengembangkan bahan ajar. Baik itu mengembangkan bahan ajar berbentuk modul, diklat, hingga buku ajar. Masing-masing bahan ajar tersebut punya karakteristik khas tersendiri.
Lalu, sudahkah Anda memahami perbedaan modul dan buku ajar? Meski sama-sama jenis bahan ajar, akan tetapi keduanya menjadi jenis yang berbeda. Ada banyak aspek yang membuatnya tidak sama satu dengan lainnya. Perbedaan ini tentunya perlu dipahami dosen untuk menghindari kesalahan penyusunan. Berikut informasinya.
Apa Itu Modul Pembelajaran?
Perbedaan modul dan buku ajar, tentunya perlu dimulai pembahasannya dengan definisi masing-masing. Dalam KBBI, modul memiliki beberapa definisi. Dalam konteks pengembahan bahan ajar, modul adalah unit kecil dari satu pelajaran yang dapat beroperasi sendiri.
Secara umum, modul atau modul pembelajaran adalah salah satu jenis bahan ajar yang berisi materi pembelajaran spesifik dan disusun untuk memudahkan peserta didik (mahasiswa) melakukan pembelajaran mandiri.
Modul umumnya disusun oleh pendidik, yakni guru di tingkat sekolah dan dosen di tingkat perguruan tinggi. Pada ruang lingkup pendidikan tinggi, modul disusun oleh dosen pengampu mata kuliah.
Sehingga isinya membahas satu atau beberapa materi pembelajaran dari mata kuliah yang diampu oleh dosen. Umumnya, satu modul untuk mendukung satu hingga beberapa kali pertemuan saja. Sekaligus dirancang untuk mendukung mahasiswa belajar mandiri tanpa dampingan dosen.
Apa Itu Buku Ajar?
Supaya lebih mudah memahami perbedaan modul dan buku ajar, maka perlu mengetahui juga definisi dari buku ajar. Buku ajar adalah salah satu jenis buku ilmiah yang berisi kumpulan materi pembelajaran yang disusun sistematis dengan latihan soal dan ditujukan sebagai pegangan mahasiswa selama pembelajaran (perkuliahan).
Buku ajar umumnya disusun dosen berdasarkan RPS. Isinya seluruh materi yang ada dalam RPS tersebut. Sehingga satu buku ajar bisa menjadi pegangan mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan suatu mata kuliah dalam kurun waktu satu semester.
Buku ajar disusun dosen untuk dibaca dan dijadikan pegangan oleh para mahasiswa. Khususnya sebagai pegangan saat mengikuti perkuliahan. Sehingga bisa membantu mahasiswa dalam memahami materi yang dibahas bersama dosen. Buku ajar didesain untuk pembelajaran terbimbing.
Perbedaan Modul dan Buku Ajar
Melalui penjelasan sebelumnya, mungkin sudah mulai dipahami apa saja perbedaan modul dan buku ajar. Namun, untuk lebih memahami perbedaan secara menyeluruh dari dua bahan ajar tersebut. Berikut detail perbedaan dilihat dari sejumlah aspek:
1. Tujuan Penulisan
Pertama yang menjadi pembeda antara modul pembelajaran dengan buku ajar adalah tujuan penulisan oleh dosen. Umumnya, dosen menyusun modul dengan tujuan menyediakan bahan ajar untuk satu sampai beberapa kali pertemuan.
Sekaligus menjadi pegangan mahasiswa saat harus belajar mandiri di luar jam perkuliahan. Sehingga modul penting untuk disusun dosen agar memudahkan mahasiswa memahami materi perkuliahan.
Sementara itu, tujuan penulisan buku ajar sedikit berbeda. Umumnya, dosen menyusun buku ajar untuk menyediakan pegangan pembelajaran bagi banyak mahasiswa.
Tidak hanya mahasiswa yang diampu, tapi juga mahasiswa dari perguruan tinggi lain. Sebab buku ajar diterbitkan ber-ISBN. Standar dan karakteristik ini, membuat buku ajar punya target pembaca lebih luas dibanding modul.
2. Penggunaan
Hal kedua yang menjadi perbedaan modul dan buku ajar adalah penggunaan. Sesuai penjelasan sebelumnya, modul pembelajaran ditujukan sebagai pegangan mahasiswa saat belajar mandiri.
Beberapa modul juga bisa dijadikan pegangan mahasiswa saat mengikuti perkuliahan. Sehingga bisa menjadi sumber tambahan selain dari apa yang disampaikan oleh dosen.
Sementara untuk penggunaan buku ajar lebih spesifik. Yakni menjadi pegangan mahasiswa saat mengikuti perkuliahan. Sehingga digunakan mahasiswa untuk pegangan dalam pembelajaran terbimbing atau dengan dampingan dosen.
Buku ajar tidak didesain untuk pembelajaran mandiri, meski memang tetap bisa digunakan mahasiswa untuk hal ini. Sebab di dalamnya memuat penjelasan materi dan disusul latihan soal atau tugas. Sehingga tetap butuh penjelasan tambahan dari dosen.
3. Struktur Penulisan
Meskipun sama-sama bahan ajar dan sama-sama wajib disusun oleh dosen yang mengampu mata kuliah relevan. Namun, struktur penulisan pada modul dan buku ajar terdapat perbedaan signifikan. Secara umum, struktur penulisan modul pembelajaran adalah sebagai berikut:
Bagian Awal
1. Lembar pengesahan
2. Kata Pengantar dan/atau Prakata
3. Petunjuk Bagi Pembaca
4. Deskripsi Mata Kuliah
5. Daftar isi, daftar tabel, dll.
Bagian Isi
1. Kegiatan belajar pertama (pertemuan pertama), kedua, dan seterusnya
2. Capaian pembelajaran khusus
3. Sub pokok materi bahasan
4. Latihan soal dan lembar kerja
Bagian Akhir
1. Daftar pustaka
2. Glosarium
3. Lampiran
4. dst..
Sedangkan struktur penulisan untuk buku ajar secara umum, adalah sebagai berikut:
Bagian awal
1. Prakata (Preface)
2. Pendahuluan (Introduction)
3. Daftar isi
4. Daftar-Daftar Pendukung (daftar tabel, daftar gambar, daftar lampiran, dll)
Bagian Isi
1. Tujuan Instruksional
2. Batang Tubuh: Bab dan Sub-bab
3. Persamaan Matematis
4. Tabel dan Gambar
5. Latihan dan Contoh Soal
6. Bahan Pengayaan
7. Daftar pustaka
Bagian Akhir
1. Lampiran
2. Indeks
3. Glosarium
4. dst…
Struktur penulisan yang berbeda tentunya menyesuaikan dengan standar masing-masing jenis bahan ajar. Pada modul, kadang tidak dilengkapi latihan soal dan penugasan. Sehingga isinya fokus membahas materi pembelajaran sesuai RPS.
4. Substansi Pembahasan
Perbedaan modul dan buku ajar selanjutnya adalah dari substansi pembahasan. Sesuai penjelasan sebelumnya, pembahasan di dalam buku ajar lebih mendalam dan kompleks.
Seluruh materi dari satu mata kuliah yang akan disampaikan dosen dalam satu semester, menjadi isi dari buku ajar. Inilah alasan satu buku ajar bisa dijadikan pegangan perkuliahan mahasiswa selama satu semester penuh.
Sebaliknya, modul pembelajaran fokus pada materi dalam pertemuan terbatas. Rata-rata antara satu pertemuan saja atau di atasnya sedikit. Namun, tidak sampai seluruh materi dalam satu semester tercantum di dalam satu modul.
Inilah alasan, dalam satu semester dosen bisa menyusun beberapa modul pembelajaran. Sebab satu modul hanya untuk beberapa kali pertemuan, bahkan hanya satu pertemuan saja. Sehingga pertemuan berikutnya menggunakan modul lain.
5. Ketentuan Penerbitan
Selanjutnya yang menjadi perbedaan modul dan buku ajar adalah ketentuan penerbitan. Modul pembelajaran tidak perlu diterbitkan secara luas oleh dosen pengampu mata kuliah yang menyusunnya.
Modul tersebut disusun oleh dosen untuk dibaca mahasiswa internal perguruan tinggi. Sehingga setelah selesai disusun, dosen bisa membagikan modul kepada mahasiswa sebagai pegangan pembelajaran. Umumnya, modul tersebut juga gratis.
Lain halnya dengan buku ajar, sesuai ketentuan Kemdiktisaintek wajib diterbitkan. Bahkan ada standar tambahan yang harus dipenuhi dosen. Mulai dari dasar penyusunan harus RPS dari mata kuliah yang diampu dosen, terbit ber-ISBN, dicetak dalam ukuran UNESCO, jumlah halaman minimal 49 lembar, dll.
Standar tersebut wajib dipenuhi saat menerbitkan buku ajar. Tujuannya agar buku tersebut diakui dalam pelaporan BKD, sehingga membantu dosen memenuhi target kinerja. Sekaligus bisa masuk dalam proses penilaian angka kredit untuk kenaikan jabatan akademik dosen.
6. Besaran Bobot SKS dalam BKD
Selanjutnya yang menjadi perbedaan modul dan buku ajar adalah bobot SKS dalam BKD. Sesuai penjelasan sebelumnya, modul dan buku ajar sama-sama bahan ajar yang wajib dikembangkan oleh dosen.
Penyusunannya diartikan sebagai kinerja dosen dalam tugas pendidikan dan pengajaran (pelaksanaan pendidikan). Sehingga bisa diakui dalam pelaporan BKD, tentunya dengan memenuhi standar Kemdiktisaintek lainnya.
Bedanya, bobot SKS antara modul dengan buku ajar berbeda. Buku ajar punya bobot 5 SKS. Sedangkan modul pembelajaran di 2 SKS. Modul juga bisa membantu dosen mendapat bobot 5 SKS selama berisi metode pembelajaran studi kasus, pembelajaran berbasis proyek, dan sebagainya sesuai ketentuan Kemdiktisaintek.
7. Besaran Poin Angka Kredit
Hal lain yang menjadi perbedaan modul dan buku ajar adalah nilai angka kredit. Sejalan dengan BKD, angka kredit untuk buku ajar lebih tinggi. Yakni mencapai 20 poin angka kredit jika mengacu pada regulasi di tahun 2025. Sedangkan angka kredit modul maksimal di 5 poin saja.
Baca juga: Template Modul Pembelajaran dan Tips Membuatnya
Mana yang Sebaiknya Ditulis oleh Dosen?
Setelah memahami secara rinci apa saja perbedaan modul dan buku ajar. Maka muncul pertanyaan baru. Bahan ajar mana yang sebaiknya ditulis oleh dosen dan dijadikan prioritas?
Dalam dunia akademik, dosen berkewajiban mengembangkan bahan ajar. Apapun jenis bahan ajar tersebut. Jadi, secara regulasi tidak ada aturan mana yang harus ditulis lebih dulu. Baik modul maupun buku ajar, sama-sama penting untuk disusun dosen.
Hanya saja, karena beberapa perbedaan yang dijelaskan sebelumnya. Maka dalam menentukan skala prioritas, para dosen bisa mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan akademik.
Bagi dosen, lebih dianjurkan menulis modul pembelajaran lebih dulu dibanding buku ajar. Alasannya beragam. Pertama, modul umumnya hanya membahas satu materi sehingga beban penulisan lebih ringan dibanding buku ajar.
Kedua, modul pembelajaran tidak perlu diterbitkan. Jadi, setelah selesai disusun oleh dosen dan dijilid atau disediakan dalam format digital (misalnya format PDF). Maka bisa langsung diberikan kepada mahasiswa untuk pegangan perkuliahan sampai belajar mandiri.
Jadi, untuk memenuhi kebutuhan bahan ajar yang mendesak. Menyusun modul pembelajaran bisa diprioritaskan. Sebab durasi penyusunan lebih pendek, sehingga setelah selesai disusun bisa langsung digunakan untuk menunjang pembelajaran.
Hanya saja, menulis modul pembelajaran sebaiknya tidak menjadi pemberhentian final dalam mengembangkan bahan ajar. Modul tersebut bisa dikonversi dosen menjadi buku ajar, kemudian diterbitkan sesuai standar penerbitan buku dan standar Kemdiktisaintek.
Buku ajar tersebut, bisa didistribusikan secara luas sehingga bisa menunjang pembelajaran lebih banyak mahasiswa di Indonesia. Selain itu, dalam BKD dan penilaian angka kredit bobotnya juga lebih tinggi. Sehingga bisa menjadi strategi dosen segera memenuhi target BKD dan akselerasi pengembangan karir akademik.
Tak hanya itu, menulis dan menerbitkan buku ajar membantu dosen dikenal lebih luas. Sehingga bisa memperluas relasi dan meningkatkan kemungkinan berkolaborasi. Disusul dengan dampak positifnya bagi reputasi akademik dosen dan perguruan tinggi yang menaungi.
Menerbitkan buku yang bisa diakses masyarakat luas, ikut mendorong pengembangan perguruan tinggi. Sebab menjadi bentuk kinerja akademik institusi. Kemudian ikut dinilai dalam proses akreditasi, klasterisasi, dan disusul penilaian pemeringkatan institusi.
Jadi, setelah memahami perbedaan modul dan buku ajar. Para dosen bisa menyusun strategi untuk menyusun modul terlebih dahulu. Kemudian dikonversi menjadi buku ajar, agar berbagai manfaat yang sudah dijelaskan bisa didapatkan.
FAQ (Frequently Asked Questions)
Modul fokus satu atau beberapa pertemuan untuk pembelajaran mandiri, sedangkan buku ajar memuat seluruh materi RPS satu mata kuliah dan diterbitkan resmi ber-ISBN.
Modul berisi lembar pengesahan, kata pengantar, submateri, latihan, dan lampiran; buku ajar memiliki pendahuluan, bab/sub-bab, latihan soal, bahan pengayaan, daftar pustaka, glosarium, dan indeks.
Satu modul pembelajaran memiliki bobot 2 SKS dan dapat memberikan maksimal 5 poin angka kredit (AK) dalam BKD. Sedangkan satu buku ajar memiliki bobot 5 SKS dan dapat memberikan hingga 20 poin AK, sehingga lebih mendukung pelaporan BKD dan kenaikan jabatan akademik.
Disarankan membuat modul dulu karena lebih cepat selesai, bisa digunakan langsung mahasiswa, lalu dikonversi menjadi buku ajar untuk manfaat akademik lebih luas.
Referensi:
- Kementerian Pendidikan Tinggi dan Kebudayaan. (2021). Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 12/E/KPT/2021 Tentang Pedoman Operasional Beban Kerja Dosen. https://serdos.ub.ac.id/wp-content/uploads/2021/07/PO-BKD.pdf
- Rubrik BKD 2021. (2021). Universitas Brawijaya. https://serdos.ub.ac.id/wp-content/uploads/2021/07/Rubrik-BKD-2021.pdf
- Perbedaan Buku Ajar, Modul, dan Diktat, Pilih Mana? (2023). Universitas Medan Area. Diakses pada 21 Juli 2026 dari https://bpmpp.uma.ac.id/2023/02/02/perbedaan-buku-ajar-modul-dan-diktat-pilih-mana/
- Memahami Perbedaan Buku Ajar dan Modul. (2021). Bintang Madani. Diakses pada 21 Juli 2026 dari https://bintangpustaka.com/memahami-perbedaan-buku-ajar-dan-modul/
- Penerbit Deepublish. [@penerbitbukudeepublish]. (2025, Augs 05). Masih bingung bedanya buku ajar dan modul?…[Foto]. Instagram.https://www.instagram.com/p/DM-B2QAJ0MC/?img_index=1
- Rendra, E. (2022). Panduan Pembuatan Modul Pembelajaran di Lingkungan Pendidikan Geografi Universitas Siliwangi Tasikmalaya. Universitas Siliwangi. https://geografi.unsil.ac.id/wp-content/uploads/2022/07/Panduan-Pembuatan-Modul-Pembelajaran-Di-Lingkungan-Program-Studi-Pendidikan-Geografi-Universitas-Siliwangi-Tasikmalaya.Pdf
- Panduan Penulisan Buku Ajar Universitas Muhammadiyah Surakarta. (2021). Muhammadiyah University Press. https://bukuajar.ums.ac.id/static/panduan/Buku_Pedoman_Buku_Ajar_2021-2022.pdf








