Menulis buku ajar sangat dianjurkan dilakukan secara sistematis. Tujuannya agar memudahkan proses penulisan dan juga menjaga pembahasan tetap runtut sesuai alur logika keilmuan. Maka, para dosen perlu memahami tahapan membuat buku ajar tersebut.
Menyusun naskah buku ajar secara sistematis terdengar repot. Sebab dosen perlu meluangkan waktu untuk memahami tahapan tersebut apa saja. Baru kemudian masuk ke proses penulisan. Namun, menulis secara bertahap sangat penting. Berikut informasinya.
Apa Saja Tahapan Membuat Buku Ajar?
Kebanyakan dosen memahami tahapan membuat buku ajar dimulai dari menyusun RPS dan/atau modul pembelajaran. Namun, selain beberapa tahapan inti tersebut banyak dosen yang melupakan pentingnya persiapan menulis buku ajar yang matang.
Jadi, secara garis besar tahapan menulis buku ajar terbagi dalam 3 bagian. Tahap pertama adalah tahap persiapan, kemudian tahap penulisan, dan ditutup dengan tahap penerbitan naskah buku ajar tersebut.
Pada setiap tahapan ini terdiri dari beberapa kegiatan yang perlu diketahui dan juga diterapkan oleh para dosen. Tujuannya agar mendukung kelancaran penulisan dan penerbitan. Sebab pada prosesnya dosen sering berhadapan dengan banyak tantangan dan kendala.
Meski menjadi agenda akademik rutin, tidak sedikit dosen yang terseok-seok menyelesaikan naskah buku ajar. Jadi, menyusunnya secara sistematis menjadi langkah antisipasi risiko tersebut.
Kegiatan dalam Tahap Persiapan Menulis Buku Ajar
Tahapan membuat buku ajar dibuka dengan tahap persiapan. Persiapan menjadi tahapan penting dan sayangnya banyak dosen mengabaikannya. Sebab memang bisa menyita waktu. Namun jika sudah terbiasa, pelan-pelan bisa diselesaikan lebih cepat.
Tahap persiapan membantu menunjang kelancaran penulisan buku. Sehingga mencegah risiko writer’s block, terkendala perangkat yang error, dan risiko lainnya. Meski risiko tetap bisa terjadi, akan tetapi dengan persiapan yang baik maka bisa meminimalkannya. Berikut beberapa kegiatan yang harus dilakukan dosen di tahap persiapan:
1. Menentukan Tujuan Penulisan Buku AjarÂ
Persiapan pertama yang perlu dilakukan oleh dosen adalah menentukan tujuan dari penulisan buku ajar. Meski akan bermuara pada bentuk pelaksanaan tugas pengembangan bahan ajar dan sifatnya wajib.
Namun, dosen disarankan tetap menentukan tujuan yang lebih relevan dengan kondisi dan kebutuhan. Misalnya untuk memenuhi target BKD. Jadi, dosen harus menulis secara efektif dan efisien agar tidak ketinggalan jadwal pelaporan BKD.
Contoh tujuan lain untuk memaksimalkan AK Kumulatif, karena buku ajar memberi sumbangsi ke AK Konversi. Kemudian bisa juga untuk menyediakan pegangan bagi mahasiswa yang diampu selama kuliah, kontribusi bahan ajar untuk mahasiswa di Indonesia, dll. Tujuan ini akan menjadi motivasi terbaik agar fokus menulis.
2. Membaca Buku Panduan Penulisan Buku AjarÂ
Persiapan kedua dalam tahapan membuat buku ajar adalah membaca panduan penulisan buku ajar. Panduan ini biasanya disediakan perguruan tinggi yang menaungi dosen dan disarankan untuk dibaca sebelum mulai menulis.
Kenapa? Yakni untuk membantu dosen memahami ketentuan dan standar penulisan buku ajar bagaimana. Sebab buku ajar tersebut harus memenuhi standar etika profesi dosen, etika publikasi ilmiah, dan standar Kemdiktisaintek agar masuk BKD dan penilaian angka kredit.
Dosen bisa saja lupa sehingga tertukar dengan buku ilmiah lain, misalnya buku monograf. Membaca panduan di awal mencegah hal tersebut. Sekaligus memastikan dari segi format, sistematika, substansi, dan detail lain sesuai ketentuan umum buku ajar.
3. Membaca Dokumen Regulasi Publikasi Ilmiah DosenÂ
Persiapan ketiga, dosen perlu mempertimbangkan untuk membaca dokumen regulasi terkini. Khususnya yang berkaitan dengan publikasi ilmiah dosen. Sebab akan mempengaruhi penulisan dan penerbitan buku ajar.
Setiap tahunnya, regulasi pada dunia akademik dan profesi dosen sangat dinamis. Mengantisipasi ada kesalahan dalam penulisan dan penerbitan buku ajar yang tidak sesuai regulasi. Maka membaca dokumen regulasi perlu dilakukan.
4. Menyiapkan RPS Sesuai Kurikulum OBEÂ
Buku ajar yang bisa diklaim dalam laporan BKD adalah sesuai RPS dari mata kuliah yang diampu dosen. Jadi, sebelum menulis buku ajar dosen harus menyusun RPS berbasis kurikulum OBE dan sudah disahkan pihak berwenang di perguruan tinggi. Jika RPS belum siap, buku ajar belum bisa disusun dosen.
Baca juga: Apa Itu Kurikulum OBE? Kelebihan dan Cara Implementasinya
5. Menentukan Menulis dari RPS atau Konversi Modul PembelajaranÂ
Tahapan membuat buku ajar berikutnya pada sesi persiapan adalah menentukan penulisan darimana. Secara umum, ada dua pilihan. Pertama, dosen menulis dari PS berbasis OBE. Kedua, dosen mengonversi modul pembelajaran menjadi buku ajar. Setiap pilihan menentukan proses penulisan, jadi perlu ditentukan dari awal.
6. Menyiapkan Kerangka Buku AjarÂ
Persiapan berikutnya, dosen bisa menyusun kerangka buku ajar. Sesuaikan dengan standar sistematika penulisan yang dijelaskan di buku panduan serta dokumen regulasi terkini jika ada. Kerangka perlu disiapkan dari awal agar durasi menulis lebih efisien.
7. Mencari dan Memilih ReferensiÂ
Persiapan selanjutnya, dosen perlu mencari dan memilih referensi untuk menunjang pengembangan materi di buku ajar. Referensi pastikan memenuhi 3 kriteria utama. Yakni relevan dengan materi buku ajar, kredibel, dan terbitan terkini. Manfaatkan akses gratis dari kampus ke indeksasi jurnal, perpustakaan, dan sebagainya.
8. Menyiapkan Perlengkapan dan Peralatan MenulisÂ
Selanjutnya, dosen bisa menyiapkan kebutuhan perlengkapan dan peralatan menulis buku ajar. Mulai dari perangkat elektronik, aplikasi olah kata yang akan digunakan, hingga meja kerja dan ruang menulis. Sebab menulis butuh kondisi dan situasi kondusif.
9. Menyusun Jadwal MenulisÂ
Persiapan lain yang jangan sampai ketinggalan adalah menyusun jadwal menulis. Dosen pemula hingga senior memiliki agenda akademik super padat. Kondisi ini rentan membuat naskah buku terbengkalai dan lama selesai. Jadi, menyusun jadwal menulis membantu dosen konsisten. Meski hanya 30 menit sehari atau per minggu.
Kegiatan dalam Tahap Penulisan Naskah Buku Ajar
Setelah melewati tahap persiapan, tahapan membuat buku ajar yang kedua adalah tahap penulisan itu sendiri. Tahap penulisan diisi dengan proses mengembangkan kerangka yang sudah disusun dosen di tahap persiapan.
Dalam menyusun naskah buku ajar, dosen juga dianjurkan melakukan beberapa kegiatan secara bertahap dan sistematis. Berikut penjelasan detailnya:
1. Mengembangkan Bab Buku Secara BertahapÂ
Dalam tahap menulis buku ajar, maka pengembangan kerangka di tahap persiapan perlu dilakukan bertahap. Memudahkan penyusunan secara efektif dan efisien dosen bisa mulai dari bab pertama, setelah selesai baru ke bab kedua, dan seterusnya.
2. Menambahkan Elemen VisualÂ
Buku ajar akan memandu dan menjadi pegangan mahasiswa mengikuti perkuliahan. Maka sangat dianjurkan dibuat menarik dan informatif agar menggugah minat baca. Jadi, menambahkan elemen visual perlu dilakukan. Mulai dari hanya sekadar tabel, kemudian grafik, ilustrasi, dan elemen visual lain yang dirasa relevan.
3. Menyusun Latihan Soal dan TugasÂ
Buku ajar tidak hanya terdiri dari pemaparan materi sesuai RPS. Namun dilengkapi latihan soal. Jad, setelah mengembangkan isi bab. Silahkan mulai menyusun latihan soal atau tugas. Bisa menjadikan isi RPS sebagai dasar acuan agar tetap berbasis OBE.
4. Menyusun Daftar PustakaÂ
Tahap penulisan berikutnya adalah menyusun daftar pustaka. Gunakan gaya sitasi sesuai buku panduan buku ajar atau buku panduan penerbitan yang disediakan penerbit. Manfaatkan aplikasi manajemen referensi seperti Mendeley, Zotero, dan sejenisnya agar lebih tepat dan cepat.
5. Melakukan Editing dan PenyuntinganÂ
Tahapan membuat buku ajar di sesi penulisan juga mencakup proses editing dan penyuntingan mandiri. Mulai dari membaca ulang naskah yang disusun dan mengoreksi setiap kali ada kesalahan yang dijumpai. Supaya objektif, dosen bisa memberi jeda 1-3 hari setelah naskah selesai disusun.
Kegiatan dalam Tahap Penerbitan Buku Ajar
Tahap akhir di dalam tahapan membuat buku ajar adalah tahap penerbitan. Dalam proses penerbitan, dosen tidak bisa asal mengirimkan naskah ke penerbit buku. Ada beberapa hal yang harus dilakukan dan diperhatikan agar penerbitan tepat serta berjalan lancar. Diantaranya adalah:
1. Mencari dan Memilih Penerbit yang TepatÂ
Tahap pertama di proses penerbitan, dosen perlu mencari dan memilih penerbit yang tepat. Utamakan penerbit kredibel dan resmi, supaya terjamin bisa memilih penerbit anggota IKAPI.
Kemudian, pilih yang sudah berpengalaman menerbitkan buku ilmiah karya dosen agar sesuai standar Kemdiktisaintek. Perhatikan pula kualitas layanan, fasilitas penerbitan, hingga biaya penerbitannya. Pilih yang tidak hanya kredibel, tapi juga sesuai kondisi dan kebutuhan dosen.
Baca juga: Jasa Pengurusan ISBN : Dua Alternatif Pilihan Penulis
2. Membaca Panduan Penerbitan yang Disediakan PenerbitÂ
Sebelum mengirim naskah buku ajar ke penerbit tujuan, cek dulu panduan penerbitan. Jika tidak ada, maka bisa menghubungi kontak narahubung yang disediakan penerbit. Tujuannya untuk memastikan naskah sudah sesuai ketentuan penerbit tersebut.
3. Mengirimkan Naskah Buku Ajar
Tahap berikutnya adalah mengirimkan naskah buku ajar yang sudah disusun. Dilengkapi dokumen yang diminta penerbit. Seperti surat pernyataan keaslian naskah dan dokumen lainnya.
Proses pengiriman mengikuti prosedur yang ditetapkan penerbit karena berbeda satu sama lain. Ada yang dikirim di portal khusus, email, kontak WhatsApp, dll. Jadi, silahkan mencari tahu dan menyesuaikan.
4. Mengikuti Proses Pemeriksaan Editor hingga RevisiÂ
Penerbit kredibel akan menjalankan proses editorial. Umumnya naskah buku akan diperiksa editor untuk ditentukan diterima atau tidak. Kemudian ada revisi atau tidak. Kebanyakan penerbit buku ilmiah juga bekerjasama dengan pakar untuk melakukan peer review agar aspek substansi memenuhi standar bidang keilmuan.
Hasil di tahap ini bisa revisi, baik skala kecil atau besar. Bisa juga tanpa revisi sama sekali. Jika ada revisi, dosen perlu segera mengerjakannya agar penerbitan lancar. Terlalu lama durasi revisi membuat jadwal terbitnya mundur, dan tentu bisa merugikan dosen sendiri.
5. Membaca dan Menyepakati MoU dengan PenerbitÂ
Dalam proses penerbitan akan ada penandatanganan MoU. Pastikan ada tahap ini dan baca isinya sebelum membubuhkan tanda tangan. Sehingga hak dan kewajiban penulis maupun penerbit jelas serta transparan.
6. Proses Desain, Cetak, dan JilidÂ
Tahap berikutnya masuk ke proses desain untuk cover hingga layout buku. Biasanya hasil desain dikirim ke penulis dulu untuk acc atau revisi. Baru kemudian ada proses pengajuan ISBN oleh penerbit dan Hak Cipta. Selanjutnya naik ke proses cetak dan jilid.
7. Proses Distribusi dan PemasaranÂ
Tahap akhir dari proses penerbitan buku ajar adalah distribusi dan pemasaran. Pada tahap ini, bisa dibantu penerbit sepenuhnya. Namun jika penulis berkeinginan menangani sendiri juga diperbolehkan.
Memahami seluruh tahapan membuat buku ajar membantu dosen mempersiapkan diri dengan lebih baik. Sehingga dari awal memahami betul ada proses panjang dalam menerbitkan buku ajar.
Tujuannya agar dosen bisa melewati seluruh proses tersebut, sehingga buku ajar segera terbit dan bisa dibaca para mahasiswa. Sekaligus tentunya agar bisa segera diklaim dosen dalam laporan BKD.
FAQ (Frequently Asked Questions)
Langkah awal dimulai dengan menentukan tujuan penulisan, membaca panduan penulisan buku ajar, memahami regulasi publikasi ilmiah, menyiapkan RPS berbasis OBE, menyusun kerangka, memilih referensi, serta membuat jadwal menulis.
RPS menjadi dasar penyusunan materi agar buku ajar sesuai dengan mata kuliah yang diampu dan mendukung capaian pembelajaran berbasis OBE. Buku ajar yang digunakan untuk kebutuhan akademik perlu disusun berdasarkan RPS yang telah disahkan perguruan tinggi.
Kerangka buku ajar disusun berdasarkan sistematika yang sesuai panduan penulisan dan regulasi yang berlaku. Kerangka membantu dosen menjaga alur pembahasan tetap runtut serta mempermudah pengembangan setiap bab.
Referensi yang digunakan sebaiknya relevan dengan materi, berasal dari sumber kredibel, dan merupakan publikasi terbaru. Referensi dapat diperoleh melalui jurnal ilmiah, perpustakaan, maupun akses akademik yang tersedia.
Elemen visual seperti tabel, grafik, dan ilustrasi membantu mahasiswa memahami materi. Sementara latihan soal atau tugas membantu mengukur pemahaman mahasiswa terhadap materi yang telah dipelajari.
Dosen sebaiknya memilih penerbit resmi dan berpengalaman menerbitkan buku ilmiah. Selain kredibilitas, perhatikan juga kualitas layanan, proses editorial, fasilitas penerbitan, dan kesesuaian dengan kebutuhan penulis.
Referensi:
- Pedoman Penerbitan Buku Ajar. (2025). University Press Universitas Esa Unggul. https://universitypress.esaunggul.ac.id/wp-content/uploads/2025/04/Pedoman-Membuat-Buku-Ajar-EDIT.pdfÂ
- Panduan Menulis Buku Ajar yang Menarik dan Berkualitas. (n.d). Penerbit Widina. Diakses pada 30 Juli 2026 dari https://www.penerbitwidina.com/panduan-menulis-buku-ajar-yang-menarik-dan-berkualitas/
- 5 Tahapan Penyusunan Naskah Sebelum Dikirim ke Penerbit Buku Ajar. (2022). Bintang Madani. Diakses pada 30 Juli 2026 dari https://bintangpustaka.com/5-tahapan-penyusunan-naskah-sebelum-dikirim-ke-penerbit-buku-ajar/








