Cara Mengubah Hasil Hibah Penelitian Menjadi Buku dalam 6 Langkah

Cara Mengubah Hasil Hibah Penelitian Menjadi Buku

Memahami bagaimana cara mengubah hasil hibah penelitian menjadi buku adalah hal penting bagi dosen. Sebab jika hasil penelitian hanya dipaparkan dalam bentuk laporan penelitian dan publikasi di jurnal ilmiah. Maka jangkauan pembacanya lebih terbatas. 

Ditambah, dosen hanya bisa mendapatkan satu sumber angka kredit dari kegiatan penelitian yang telah dilakukan. Sehingga laporan hasil penelitian dan luaran wajib yang diraih, bisa dipertimbangkan untuk dikonversi menjadi buku ilmiah. Berikut informasinya. 

Cara Mengubah Hasil Hibah Penelitian Menjadi Buku

Salah satu cara mengubah hasil hibah penelitian menjadi buku adalah dengan dikonversi menjadi buku ilmiah. Misalnya menjadi buku monograf, bisa juga menjadi buku referensi. Lalu, bagaimana cara konversi penelitian menjadi buku ilmiah? Berikut langkah-langkahnya: 

1. Melakukan Penyesuaian Struktur 

    Langkah pertama dalam proses konversi hasil penelitian menjadi buku referensi maupun buku ilmiah lain adalah penyesuaian struktur. Secara umum, hasil penelitian dalam bentuk artikel jurnal disusun dengan struktur IMRaD (Introduction, Methods, Results, dan Discussion). 

    Pada buku ilmiah, tentunya memiliki struktur yang berbeda. Yakni terdiri dari beberapa bab, subbab, subsubbab, dan seterusnya. Jumlah halaman juga lebih banyak, minimal 49 lembar agar bisa terbit dengan ISBN. Maka tahap pertama adalah mengubah struktur IMRad tadi menjadi struktur umum buku ilmiah. 

    Pada tahap ini, dosen menyusun rencana bagian mana saja di dalam hasil penelitian yang disesuaikan strukturnya dan yang tidak. Misalnya, bagian Results dan Discussion dikembangkan menjadi beberapa bab dan subbab. Sebab dua bagian inilah yang paling memungkinkan untuk dikembangkan strukturnya. 

    2. Menyusun Kerangka Buku 

      Setelah memahami bagian apa saja di dalam hasil penelitian yang diubah strukturnya. Maka untuk memudahkan proses konversi, para dosen bisa mulai menyusun kerangka buku ilmiah yang dituju. 

      Jika berencana menyusun buku referensi dari penelitian maka bisa mulai menyusun kerangkanya. Kerangka ini akan membentuk perubahan struktur hasil penelitian menjadi buku secara lebih jelas. Selain itu, kerangka membantu memberi efisiensi dalam proses konversi sehingga naskah bisa segera diselesaikan. 

      Baca juga: Buku Monograf Hasil Penelitian? Begini Cara Membuatnya

      3. Menyusun Jadwal Mengembangkan Kerangka Buku 

        Langkah ketiga dalam tata cara mengubah hasil penelitian menjadi buku setelah menyusun kerangka, adalah menyusun jadwal menulis. Kenapa? Jadwal menulis penting untuk disusun dosen karena membantu bisa konsisten. 

        Menulis naskah buku yang bersumber dari hasil penelitian butuh waktu lebih lama. Pasalnya, dari segi jumlah halaman saja sudah berbeda cukup jauh. Maka untuk meminimalkan naskah hasil konversi tidak selesai-selesai. Jadwal menulis yang jelas dan realistis sangat penting. 

        Para dosen bisa menyusun jadwal dengan mengikuti kesibukan akademik yang dimiliki. Tidak masalah menulis sekali seminggu atau hanya 30 menit per sesi menulis. Selama konsisten sesuai jadwal tersebut, maka naskah terus berprogres dan pada akhirnya bisa selesai. Bukan terbengkalai. 

        4. Mengubah Judul 

          Langkah keempat dalam konversi hasil penelitian menjadi buku adalah mengubah judul. Tahap ini dilakukan setelah naskah diselesaikan, sebab bisa memastikan judul yang disusun mempresentasikan isi buku hasil konversi. 

          Judul hasil penelitian dalam bentuk laporan sampai artikel jurnal memang kaku dan kental dengan kesan ilmiah. Judul seperti ini berbeda dengan standar judul buku ilmiah yang harus punya kemampuan menarik minat baca masyarakat. Jadi, judul buku harus dibuat lebih luwes dan menggugah minat baca. 

          Berikut adalah beberapa strategi yang bisa diterapkan agar judul buku hasil konversi menarik: 

          • Memastikan topik utama masuk dalam judul. 
          • Memberi kata-kata yang menunjukan target pembaca secara spesifik. Misalnya, jika buku ditujukan untuk pemula (mahasiswa dan dosen pemula) maka bisa tambahkan istilah “Pemula”, “Dasar”, “Tingkat Dasar”, “Ramah Pemula”, dan sejenisnya. 
          • Menambah power word untuk memberi efek menarik dan menggugah minat baca. Seperti “Efektif”, “Ampuh”, dan sebagainya. 
          • Memberi keunikan pada judul buku, sehingga membuatnya berbeda dengan buku lainnya. Seperti menggunakan istilah “Panduan Praktis”, “Kitab Sakti”, dan sebagainya. 

          5. Editing dan Penyuntingan Mandiri 

            Setelah naskah selesai disusun dan judul sudah selesai dibuat. Maka tahap berikutnya adalah proses editing dan penyuntingan mandiri. Berikan jeda agar dosen bisa lebih objektif. Kemudian membaca ulang askah, koreksi saat ditemukan kesalahan, dan seterusnya sampai bab terakhir. 

            6. Penerbitan Naskah Buku Hasil Konversi 

              Tahap akhir dalam cara mengubah hasil hibah penelitian menjadi buku adalah proses penerbitan. Pada tahap ini, para dosen bisa mulai mencari dan memilih penerbit yang dirasa tepat. 

              Yakni penerbit yang sudah berpengalaman menerbitkan buku ilmiah atau buku pendidikan. Serta berpengalaman menerbitkan buku karya dosen agar sesuai standar Kemdiktisaintek dan diakui. 

              Baca juga: Buku Hasil Penelitian: Contoh, Pentingnya, dan Cara Membuat

              Tantangan Mengubah Penelitian Menjadi Buku

              Dalam penerapan cara mengubah hasil hibah penelitian menjadi buku, tentunya tidak selalu berjalan mulus. Para dosen bisa berhadapan dengan sejumlah tantangan dan kendala. Diantaranya adalah: 

              1. Kesulitan Mengubah Gaya Bahasa

                Tidak hanya struktur hasil penelitian yang berubah. Dalam proses konversi menjadi buku ilmiah juga terjadi perubahan gaya bahasa. Gaya bahasa pada buku dibuat lebih semiformal untuk membuatnya enak dibaca dan menarik di mata para pembaca. 

                Hanya saja, mengubah gaya bahasa dari satu jenis KTI ke jenis KTI buku ilmiah bukan hal mudah. Apalagi dosen lebih sering menyusun KTI di luar buku ilmiah. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri. 

                2. Kebingungan Menentukan Isi Naskah Buku 

                  Dalam proses konversi hasil penelitian menjadi buku ilmiah, terdapat proses penyaringan data yang akan dicantumkan. Tidak semua data di dalam hasil penelitian harus masuk ke dalam naskah. 

                  Khususnya data tertentu yang dinilai sensitif dan bukan untuk publik luas. Hanya saja, tidak sedikit dosen yang masih kesulitan menentukan hal ini. Yakni belum bisa menentukan apa saja yang bisa dan tidak bisa dicantumkan ke naskah buku. 

                  3. Rentan Terjadi Self Plagiarism 

                    Secara umum, konversi hasil penelitian menjadi buku dilakukan setelah hasil penelitian terpublikasi. Jika proses konversi cenderung copy paste isi artikel jurnal, laporan hasil penelitian, dan luaran lainnya yang sudah terpublikasi. Maka akan rentan terjadi self plagiarism. 

                    Hal ini tentu harus dihindari karena tetap dianggap plagiat. Hanya saja, karena adanya keterbatasan perbendaharaan kata, kesulitan menentukan mana yang harus masuk naskah buku, dan sebab lainnya. Self plagiarism menjadi tantangan yang sulit dihindari oleh dosen. 

                    4. Keterbatasan Sumber Daya 

                      Konversi hasil penelitian menjadi buku butuh sumber daya lebih. Mulai dari waktu lebih untuk mengembangkan naskah artikel jurnal yang hanya 5 halaman menjadi paling tidak 49 halaman. Kemudian butuh pendanaan, karena menerbitkan buku hasil konversi tidak selalu gratis. Keterbatasan sumber daya bisa menjadi kendala. 

                      Solusi Praktis Mengembangkan Hasil Penelitian Menjadi Buku 

                      Menyusun buku referensi maupun buku monograf dari hasil penelitian memang bukan hal yang mudah. Sehingga tidak sedikit dosen kesulitan menerapkan cara mengubah hasil hibah penelitian menjadi buku. 

                      Jika Anda, mengalami situasi serupa maka jangan hanya berpangku tangan. Bisa menggunakan jasa profesional untuk membantu proses konversi hasil penelitian menjadi buku ilmiah siap terbit ber-ISBN. 

                      Penerbit Deepublish menyediakan layanan Konversi KTI yang membantu mengubah hasil penelitian menjadi buku ilmiah. Melalui layanan ini, konversi dikerjakan tim berpengalaman dan bersertifikasi. Sehingga para dosen bisa fokus menjalankan tugas akademik lainnya. 

                      FAQ (Frequently Asked Questions)

                      1. Apakah hasil hibah penelitian bisa dijadikan buku?

                      Ya, hasil hibah penelitian dapat dikembangkan menjadi buku ilmiah seperti buku referensi atau buku monograf. Konversi ini memungkinkan hasil penelitian menjangkau pembaca yang lebih luas dibandingkan hanya dalam bentuk laporan penelitian atau artikel jurnal.

                      2. Mengapa dosen perlu mengubah hasil penelitian menjadi buku?

                      Mengubah hasil penelitian menjadi buku membantu memperluas diseminasi ilmu pengetahuan serta memberikan peluang tambahan untuk memperoleh angka kredit dari publikasi buku ilmiah.

                      3. Apa saja strategi membuat judul buku ilmiah yang menarik?

                      Beberapa strategi yang bisa diterapkan antara lain memasukkan topik utama dalam judul, menyesuaikan dengan target pembaca, menggunakan power word, serta membuat judul yang unik dan mudah diingat.

                      4. Apakah mengubah penelitian menjadi buku bisa menyebabkan self plagiarism?

                      Ya, jika penulis hanya menyalin isi artikel atau laporan penelitian tanpa pengembangan dan penyesuaian, maka dapat berisiko menimbulkan self plagiarism. Oleh karena itu, isi artikel harus disesuaikan ulang saat penyusunan buku. Anda bisa menggunakan layanan konversi KTI Penerbit Deepublish, yang mengubah hasil penelitian menjadi naskah buku dan bebas self plagiarism.

                      5. Apakah buku dari hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan ajar?

                      Ya. Buku hasil penelitian dapat dikembangkan menjadi buku referensi atau bahan ajar yang digunakan dalam kegiatan perkuliahan. Namun, perlu diingat bahwa hasil penelitian tersebut harus disesuaikan berdasarkan RPS untuk menyusun buku ajar.

                      Referensi:

                      1. Aribowo, E. K. (2023). Begini Cara Mengubah Hasil Penelitian menjadi Buku dengan 6 Langkah. Diakses pada 7 April 2026 dari https://www.erickunto.com/2023/02/begini-cara-mengubah-hasil-penelitian-menjadi-buku-dengan-6-langkah.html
                      2. Istiqomah. (n.d). Mengubah Laporan Hasil Penelitian Menjadi Buku Ilmiah. https://repositori.kemendikdasmen.go.id/19254/1/Makalah-Menyusun%20Buku%20Ilmiah%20dari%20Laporan%20Hasil%20Penelitian.pdf
                      3. Amelia, L. (n.d). KTI dan Ego: Apa yang Sebenarnya Kamu Tulis? Diakses pada 7 April 2026 dari https://nasmedia.id/blog/kti-dan-ego-apa-yang-sebenarnya-kamu-tulis/
                      4. 10 Tantangan Mengubah Karya Ilmiah Menjadi Buku beserta Cara Mengatasinya. Ruang Akademisi. Dikutip dari https://ruangakademisi.com/tantangan-mengubah-karya-ilmiah-menjadi-buku/

                      Artikel Penulisan Buku Pendidikan